Sakitnya dikhianati pria yang dicintainya, membuat Amanda Adelia menjadi frustasi, ia pergi ke club malam dan tidak sengaja tidur dengan seorang pria bernama Brian Marcelino Bramasta. Namun, tidak disangka-sangka pria itu justru paman dari mantannya, Reno Bramasta.
Bagaimana kisah mereka?
follow akun IG othor Marica-Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengakuan Amanda
"Perutnya masih sakit?"
Amanda yang tenggelam dalam lamunan seketika tersentak saat mendengar suara pelan nan tegas milik Brian dan juga usapan lembut tangan pria itu di perutnya.
Helaan napas Amanda terasa begitu berat, mencoba meredam rasa terkejutnya. Setelahnya, ia menoleh, tatapannya langsung bersirobok dengan mata cokelat milik Brian. "Roy yang bilang?" tanya Amanda.
"Dia anak buahku," jawab Brian pelan tetapi penuh ketegasan.
Amanda mengangguk, tak perlu banyak kata, ia sudah tahu makna di balik ucapan sang suami. Roy adalah anak buahnya, jelas dia akan melaporkan hal sekecil apa pun kepada Brian.
"Kamu belum jawab pertanyaanku," kata Brian.
Amanda menghela napas, kemudian berbalik, membuatnya berhadapan langsung dengan Brian. Alih-alih menjawab pertanyaan Brian, Amanda justru berkata hal lain. "Aku mau ngomong."
Brian berdecak saat Amanda tak memberikan keinginannya. Pria itu lantas mengangkat tangannya, dengan gerakan pelan penuh perhitungan, menjepit dagu Amanda di sela jarinya kemudian mengangkatnya, membuat Amanda mendongak dan tatapan mereka pun bertemu.
"Jawab dulu!" kata Brian, suara yang berat seolah menuntut jawaban.
Napas Amanda seketika tercekat melihat tatapan tajam Brian, belum lagi suara tegasnya yang seolah tak menerima bantahan.
"U-dah ng-gak," jawab Amanda dengan tergagap.
Sesaat kemudian Brian menjauhkan tangannya membuat Amanda kembali bisa bernapas dengan lega.
"Sekarang aku mau ngomong," kata Amanda, setelah napasnya kembali teratur.
"Tentang apa?" tanya Brian, suaranya terdengar berat, tetapi penuh perhatian.
"Aku mau jujur sama ibu," kata Amanda. "Aku mau bilang tentang kehamilanku."
Brian terdiam tidak langsung merespon perkataan Amanda. Tatapannya masih melekat pada sang istri, seolah mempertimbangkan sesuatu. Setelah beberapa saat, sebuah pertanyaan keluar dari mulut Brian. "Udah siap?"
Amanda terdiam sesaat sebelum mengangguk pelan, meskipun masih ada keraguan yang ia coba sembunyikan. "Aku akan mencobanya."
Brian mengangguk, menyetujui keinginan sangat istri. Setelahnya, Brian merogoh saku celana, mengambil sesuatu dari dalamnya. Sebuah kotak beludru berwarna biru.
"Pakai ini!" Brian menarik tangan Amanda lantas memakaikan sebuah cincin ke jari manisnya.
Mata Amanda membulat, melihat cincin yang kini melingkar di salah satu jarinya. Ia sangat menyukai benda itu, cincin emas putih dengan permata berbentuk bunga. Sangat indah, tetapi berhasil menciptakan kebingungan. Amanda pun kembali melihat ke arah Brian seraya berkata, "Ini apa?"
"Simbol jika kamu adalah istriku," jawab Brian tanpa berpikir, membuat senyum terukir di bibir wanita itu. "Ayo, temui ibumu," lanjut Brian disambut anggukkan oleh Amanda.
Keduanya pergi dari teras, melangkah kembali ke dalam rumah, berniat untuk menemui Vera yang masih bersama anak-anak lainnya. Amanda sudah membulatkan tekadnya untuk bicara yang sebenarnya pada ibu angkatnya itu.
Sepanjang perjalanan, Brian merangkul pinggang Amanda, bukan hanya sekedar pelukan, tetapi seperti sebuah penjagaan terhadap wanita itu.
Langkah keduanya terhenti di salah satu ruangan rumah itu. Terlihat Vera dan beberapa anak sedang membereskan meja makan.
"Bu." Panggilan Amanda bukan hanya membuat Vera menoleh, tetapi beberapa anak di sana.
"Ada apa, Amanda?" tanya Vera.
Amanda memberikan jeda sesaat untuk menjawab pertanyaan Vera. "Aku mau bicara serius sama Ibu."
Vera yang sedang membereskan sisa makan malam mereka berhenti sejenak, pandangannya lantas berpusat pada Amanda. Melihat ada keseriusan di wajah Amanda, Vera bisa menebak jika ada yang tidak beres dengan anak angkatnya itu.
"Anak-anak tolong lanjutkan beres-beresnya," suruh Vera.
"Baik, Bu," sahut mereka.
Pandangan Vera kembali beralih pada Amanda dan Brian. Dengan senyuman yang masih terlukis di wajahnya, Vera meminta Amanda dan Brian untuk mengikutinya.
"Ayo ikut Ibu!" ajak Vera disambut anggukkan oleh Amanda.
Vera lebih dulu melangkah kemudian disusul oleh Brian dan Amanda. Tidak ada obrolan di sepanjang perjalanan, hanya ada kesunyian yang semakin membuat atmosfer di tempat itu serasa berbeda.
Kini ketiganya masuk ke dalam salah satu ruangan, tidak lupa Vera mengunci pintu agar tidak ada yang masuk secara tiba-tiba.
"Silahkan duduk!" ucap Vera.
Amanda mengangguk lantas duduk bersama Brian di satu sofa yang sama. Keduanya duduk berseberangan langsung dengan Vera.
"Ada apa, Amanda? Ibu perhatian kamu terlihat gelisah?" tanya Vera yang langsung memecah kesunyian di sana.
Amanda tidak langsung menjawab pertanyaan Vera, ia diam sembari mengumpulkan keberaniannya. Sesaat kemudian, Amanda menghela napas dalam-dalam sebelum mulai berucap.
"Bu, aku sebenarnya sudah menikah dengan Brian," aku Amanda.
"Apa? Kenapa kamu tidak memberitahu ibu sebelumnya?" tanya Vera, ada segurat kekecewaan di nada bicaranya.
"Aku ... hamil sebelum kami menikah," ungkap Amanda lirih nyaris tidak terdengar.
Hening mengambil alih suasana di ruangan itu, tetapi terselip sebuah ketegangan. Amanda menunduk tak mampu menatap Vera, ia terlalu takut untuk melihat reaksi ibu angkatnya itu.
"Anak pria di sampingmu?" tanya Vera berhasil memecah keheningan, tetapi seakan menambah ketegangan di ruangan itu.
Amanda mendongak sekilas, mengangguk dan menunduk kembali.
"Bagaimana bisa? Kamu mengatakan menjalin hubungan dengan Reno, tetapi kamu hamil anak dari pria lain?" kata Vera, suaranya lembut meskipun terdengar meninggi.
Amanda menghela napas berat saat harus kembali mengingat perselingkuhan Reno dan Jolie, tetapi ia harus menceritakan mengenai hal itu. "Aku sudah lama putus sama Reno, Bu. Dia selingkuh sama Jolie."
Amanda lantas menceritakan yang sebenarnya terjadi dan bagaimana dirinya bisa mengandung benih Brian.
Sesaat kemudian Vera menghela napas diikuti gelengan kepalanya. "Ibu tidak membenarkan perbuatan mu Amanda. Tapi ... mau bagaimana lagi. Semuanya sudah terlanjur."
Amanda berdiri dengan hati-hati dan berjalan ke dekat Vera, ia bersimpuh di hadapan ibu angkatnya itu seraya menyatukan kedua tangannya. "Aku minta maaf, Bu. Udah bikin ibu kecewa."
Vera tersenyum, kedua tangannya memegang pundak Amanda, meminta pada anak angkatnya itu untuk berdiri.
"Ibu memang kecewa. Tapi ..." Vera menggantungkan ucapannya dan melihat ke arah Brian dengan senyuman tulus. " Yang terpenting Nak Brian sudah mau bertanggung jawab."
Brian yang masih duduk di kursinya seketika bangun. Ia melangkah ke dekat Amanda, tangannya langsung merangkul pinggangnya lantas menarik wanita itu ke dekatnya.
"Anda tenang saja, Nyonya. Saya akan menjaganya dan saya juga akan memenuhi semua kebutuhan di panti ini," kata Brian dengan tegas.
Vera mengangguk diikuti senyumannya. "Terima kasih."
-
-
Obrolan pun berlanjut ke hal-hal ringan. Hanya Amanda dan Vera, tidak dengan Brian. Pria itu ada di ruangan yang sama, tetapi memiliki kegiatan sendiri, berkutat dengan iPadnya.
Tidak terasa malam semakin larut, Amanda meminta izin untuk pulang. Kini dirinya sudah berada di mobil, duduk bersebelahan dengan Brian. Sesaat hening mengambil alih suasana di antara mereka. Hingga beberapa saat kemudian Amanda membuka obrolan terlebih dahulu.
"Terima kasih karena kamu mau membantu panti," kata Amanda.
Brian tidak langsung merespon perkataan Amanda, ia menoleh ke arah Amanda diikuti senyuman licik. "Itu semua nggak gratis, Bebe. Harus ada bayaran mahal untuk ini."
rupanya hanya anak adopsi koq belagu banget🤣🤣🤣