Cerita Dewasa‼️
Bayangan gelap menyelimuti wanita bernama Sarah. Suaminya, Bagas Aryanaka, mengalami kecelakaan tunggal dan berakhir hilang ingatan. Parahnya lagi, yang lelaki itu ingat hanyalah seberkas memori indah bersama mantan kekasihnya-adik kandung Sarah yang bernama Farah.
Hal tersebut menjadi kesempatan bagi sang ibu mertua untuk turut mengusirnya karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Demi membalaskan dendam dan menuntut hak anaknya. Ia pun memutuskan untuk menyamar sebagai pembantu di rumah keluarga Aryanaka. Sarah berjuang untuk menyembuhkan amnesia Bagas dengan terus berada disisi pria itu, sekaligus, melancarkan aksi liar dengan menggoda sang mantan suami.
Apakah Bagas akan kembali?
atau malah keduanya akan semakin lepas kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Matcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Susu
Derit suara pintu kamar Bagas Aryanaka akhirnya terdengar cukup jelas di telinga Raska yang sudah sangat menunggu lama disana. Ya, setelah tidak sengaja memergoki aksi pergulatan atasannya dengan pembantu baru—Raska dengan cepat memutuskan untuk menunggu di luar kamar saja.
"Daripada gue ikutan dosa 'kan, mending cabut aja deh," begitu pikirnya.
Bagas Aryanaka saat ini telah siap dengan setelan jas berwarna maroon—menambah kesan sexy, sekaligus tegas. Tentu, setiap harinya Raska melihat kerupawanan atasan-nya.
Tetapi, untuk hari ini sepertinya ada yang berbeda. Jika biasanya, jaksa senior itu akan keluar dan menemui Raska dengan raut datar nan gelap. Kini, wajah tersebut tampak lebih bersinar serta terhias senyum tipis disana.
"Oh, kamu sudah ada disini, Raska?" tanya Bagas sekedarnya, sembari masih sibuk mengancingkan lengan jas yang ia pakai.
"Udah dari tadi ege. Lama banget sampe jamuran gara-gara nunggu manusia - manusia yang lagi sibuk bercocok tanam," jawab Raska sinis dalam hati, tentu saja ia tidak berani.
Bisa-bisa, detik itu juga ia dipecat dan ditendang begitu saja.
Jawaban asli atas pertanyaan sang bos, Raska haturkan dengan sopan. "Iya Pak Bagas, saya menunggu Bapak untuk berangkat ke kantor bersama."
Bagas mengangguk saja, kemudian ia memilih untuk membahas jadwalnya hari ini. "Jadwal saya hari ini apa saja Ka? Ada meeting pagi?"
Sambil membuka layar tab dalam genggamannya, Raska pun menjelaskan terkait kegiatan apa saja yang akan dilakukan Bagas.
"Sebenarnya ada meeting pagi jam delapan tadi Bapak. Tapi karena ini sudah lewat dua jam, jadi meeting saya alihkan menjadi nanti siang setelah lunch. Lalu pukul tiga sore Bapak diminta untuk hadir di rapat umum Perusahaan Aryanaka Prima Property."
Kembali Bagas menganggukan kepala, bersikap serius mendengarkan sang asisten membacakan jadwalnya.
"Kamu. Pengertian sekali Raska. Bagus kamu tidak mengganggu waktu saya pagi ini," puji Bagas.
Sebenarnya Raska bingung harus merasa senang atau sedih dengan pujian dari bos-nya itu. Di satu sisi tentu ia suka dirinya di puji sedemikian rupa atas inisiatif yang ia lakukan. Tetapi disisi lain, ia merasa berduka dengan nasibnya yang harus berpikir keras dalam mengatur jadwal Bagas Aryanaka hari ini—bahkan ia pun harus rela menjadi tameng dan menerima segala semprotan amarah dari para jaksa atas ketidakjelasan agenda mereka.
"Terimakasih bapak."
Pada akhirnya Raska hanya mampu merimanya dengan lapang dada. Walaupun dalam benak masih terus bersumpah serapah atas kelakuan Bagas yang pagi-pagi begini sudah berbuat dosa yang harus pula Raska tangani
"Nasib kacung emang."
...****************...
Waktu telah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Keduanya segera turun untuk berangkat ke kantor kejaksaan.
Dalam perjalanannya, setelah sang tuan besar menapakkan kaki di lantai bawah, langsung saja semua pelayan disana bersiap. Kecuali Sarah, si pembantu baru yang tidak menampakan batang hidungnya disana.
Ya, tentu saja. Sarah saat ini pasti sedang terkapar pingsan di ranjang kekuasaan sang tuan.
Bik Umi selaku pembantu senior disana, bergegas menghampiri Bagas. "Permisi Tuan Bagas. Sarapan sudah siap, tadi sudah kami hangatkan."
Sarapan memang telah siap di meja makan sedari pukul tujuh, namun karena sang majikan terlambat, maka para pembantu disana pun mau tak mau harus menghangatkannya agar Bagas tetap berselera.
Akan tetapi, walaupun begitu, ternyata usaha mereka sia-sia saja. Bagas Aryanaka pada akhirnya tetap tidak berselera untuk menyantap hidangan yang ada diatas meja, karena.....
"Saya langsung berangkat saja Bik. Saya kebetulan sudah sarapan tadi di kamar," ucap Bagas tampak sumringah.
Perkataan sang tuan menimbulkan keheranan Bik Umi, juga pembantu - pembantu yang ada disana. Bahkan, sampai Bagas pergi keluar rumah, para pelayan masih bertanya-tanya.
Belum sempat Raska mengikuti jejak Bagas yang telah berjalan terlebih dahulu, Marni mencegahnya untuk kemudian bertanya, "Eh, Mas Raska! Memangnya Tuan Bagas sarapan apa di kamarnya? Mas Raska yang bawa ya? Kita gak ada yang disuruh bawain makanan loh ke atas."
"Kepo banget sih nih pembantu," gerutu Raska pelan sambil memutar bola matanya jengah.
"Hah, gimana mas?"
Sayup-sayup Marni seperti mendengar gumam yang terlontar dari mulut Raska. Begitu pelan, jadi perempuan itu tidak terlalu menangkap kata yang diucapkan.
"Oh, nggak. Saya gak bawa apa-apa. Pak Bagas ada simpenan makanan kali."
"Gak biasanya ya Mas, sarapan apa coba si Tuan?"
Merasa sudah terlalu lama menanggapi ocehan salah satu pembantu kediaman Aryanaka itu. Maka untuk terakhir kalinya Raska berucap, sebelum kemudian langsung tancap gas.
"Minum 'susu' mungkin."
Bukannya menjawab rasa penasaran Marni, celetukan Raska itu malah semakin membuat Marni bertanya-tanya. Ia yang masih diliputi pertanyaan pun akhirnya beralih kepada Bik Umi.
"Susu apa ya Bik? Perasaan Tuan gak pernah deh minum susu."
Bik Umi yang juga sama tidak tahunya, hanya mengangkat bahu, kemudian berbalik menuju dapur—meninggalkan Marni yang masih berdiri disana dengan jiwa kepo-nya.
...****************...
Deru mobil terdengar menjauh meninggalkan halaman rumah besar Aryanaka. Seperti biasa, Raska mengambil duduk di sebelah supir, dan Bagas berada di bangku belakang dengan tab di tangannya.
Dalam keheningan yang tercipta, Raska seketika teringat akan pesan dari tunangan Bagas.
"Ehemm." Berdeham sejenak, Raska menoleh ke belakang, mencoba menarik atensi Bagas yang masih setia tertuju pada pekerjaan.
"Pak, tadi Bu Farah menitip pesan kepada saya. Katanya beliau ingin bapak segera mengaktifkan ponsel, karena Bu Farah sudah menelepon bapak berkali-kali sebelumnya," terang Raska berhati-hati.
Bagas mendengus dingin, "Biarkan saja lah. Paling juga dia mau protes tentang masalah Diharja Group."
Walaupun Farah Putri Diharja adalah tunangan lelaki tersebut, tetapi sepertinya Bagas benar-benar tidak ada niatan untuk mengendurkan sikap. Bahkan, dengan tegas dan berani mengajukan diri untuk mengurus kasus tersebut.
Padahal semua orang tahu, Diharja Group adalah perusahaan milik keluarga Farah. Apa kata orang nanti, ketika Bagas ada di dalam persidangan—sebagai jaksa penuntut umum, yang menuntut calon mertuanya sendiri?
Sungguh profesionalitas Bagas Aryanaka patut diacungi jempol. Pria itu tidak setengah - setengah dalam melakukan pekerjaannya.
Tidak seperti Raska yang berbanding terbalik darinya. Setengah setia, setengah pula berkhianat.
"Tapi maaf...Ehmm, Bapak. Apa tidak sebaiknya Pak Bagas pikirkan lagi? Mengingat Nyonya Suratih pasti tidak akan setuju dengan keputusan tersebut."
Mau bagaimana pun Raska juga telah menjadi antek-antek Suratih, maka ia masih berkewajiban untuk membuat Bagas menuruti apa yang Suratih kehendaki.
"Raska. Sudah berapa kali saya bilang. Urusan pekerjaan saya mutlak milik saya. Ibu saya sekalipun tidak saya izinkan untuk ikut campur."
Beralih menatap tajam Raska, Bagas kembali berujar tegas, "Termasuk kamu! Ingat dimana tempat-mu berada Raska Pramudya."
Merasa sang bos mulai murka, Raska hanya dapat mengangguk patuh. Kembali lelaki itu mengarahkan kepala menghadap depan dengan duduk yang semakin tegak.
Beberapa saat kemudian, Bagas ternyata memanggil Raska kembali. Langsung saja dadanya berdentum keras—takut apabila atasannya itu akan benar-benar memarahinya.
Akan tetapi, dugaannya melenceng jauh. Karena, bukannya mengomel atau memperingatinya lagi dengan tegas—dengan santai, Bagas disana memberi perintah. "Raska, nanti kita berhenti di mini market dulu. Belikan saya susu."
Sontak, Raska tersedak air liurnya sendiri. Merasa de javu dengan kata 'susu'.