"Saat matahari tak bersinar lagi, bagaimana rembulan akan bercahaya"
Begitu halnya yang terjadi pada Naura dan Hasan, belajar ikhlas itulah kata yang ditanamkan keduanya di hati walau sangat berat dalam melaluinya. mampukah bertahan? atau menyerah dengan kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmania Hasan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah chat
CAPTER 27
SEBUAH CHAT
Subuh baru saja terdengar saat Naura tiba-tiba tersentak dari tidurnya, entah apa yang membangunkan wanita itu. Cepat ia turun dan berjalan ke kamar mandi kendati kepalanya masih terasa berat.
Saat keluar dari kamar mandi ia berjalan pelan ke jendela kamar, menyingkap gorden untuk memastikan hari sudah terang ataukah masih gelap.
“Masih gelap, jam berapa ini?” gumamnya seorang diri dan menutup kembali gorden.
Berjalan ia menuju gantungan baju yang berada di dekat meja rias untuk mengambil mukenah yang ia gantung di sana bersama dengan pakaian yang ia kenakan. Namun sebelum mengambil mukenah itu ia melirik ke jam dinding yang berada di seberang tembok.
“Sudah subuh ternyata,” ucapnya.
Di gelarnya sajadah lebih dulu sebelum mengenakan mukenah warna gold yang ia minta sebagai mas kawin dulu pada Hasan. Entah apa yang membuat hatinya berdesir tiap kali mengenakan mukenah itu, namun yang pasti bayangan wajah sang suami senantiasa mendatangi. Bahkan aroma tubuhnya seolah menyelimuti dirinya, lekas Naura mengangkat kedua tangan untuk menunaikan sholat.
Naura baru saja menjatuhkan keningnya pada sajadah untuk bersujud syukur, mengikuti apa yang selalu dilakukan Hasan setiap selesai berdo’a kala dering ponsel berbunyi. Terus Naura menempelkan keningnya, mengabaikan bunyi ponsel. Seperti yang diajarkan Hasan, Naura mengucapkan do’a sujud syukur dalam hati. Tak lupa setelah itu ia juga menyebut nama suaminya, Hasan.
Selepas mengangkat kembali muka dan mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang kanan Naura bangkit segera. Ia tidak sabar ingin mengangkat panggilan masuk dari Hasan. Sayangnya panggilan itu terputus sebelum Naura meraih ponsel. Lekas jemarinya membuka riwayat panggilan video, sambil tiduran lagi ia menunggu sambungan. Tidak melepas mukenah yang ia kenakan tadi.
Hasan kala itu berjalan memasuki flat, cepat ia naik menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia mengangkat panggilan itu. Berbicara sambil berjalan ke tempat tidur setelah melempar tas duluan ke atas kasur.
"Iya Dek, tadi mas nyoba miscall tapi nggak diangkat! Kok nggak langsung diangkat? Adek sakit kah?" tanya Hasan dibuat tidak tenang.
"Nggak kenapa-napa, cuma tadi masih sholat yang mau ngangkat telepon!" seru Naura.
"Oh mas pikir ada apa kok Adek nggak ngangkat teleponnya mas?!" ujar Hasan, lega hatinya.
"Suamiku Sayang, kapan pulangnya?" rengek Naura bertanya hal itu lagi, sedikit bersedih pula.
Hasan menghela nafas, menekan jidat dengan tangan kiri sebelum menatap lagi layar ponsel dan melempar senyum. Runtuh ketegarannya tiap kali Naura bertanya demikian. Naura tak sabar, terus ia menuntut Hasan buka mulut.
"Do’ain mas ya Sayang, semoga revisi minornya lekas kelar! Kalo kelar mungkin akhir bulan depan mas pulang!" kata Hasan dengan suara datar, menahan tekanan batin yang nyaris berada di ujung.
"Benarkah?!" seru Naura. Hasan hanya mengangguk dan melempar senyum.
Kembali, Naura membuka mulut tapi tidak merengek seperti yang tadi. Raut wajahnya juga tak terlihat sedih, mungkin ucapan Hasan barusan menyirami kelayuan hatinya karena merindu.
"Suamiku ... Itu kenapa kamu pelihara kumis sama jenggot?!" tanya Naura agak ragu-ragu. Menunjuk dagunya sendiri seolah itu dagu Hasan saja.
Spontan tangan kiri Hasan menyentuh kumis, lalu mengusap jenggotnya sendiri. Ia berkaca pada kamera ponsel, memperhatikan dengan seksama dan barulah menyadari memang ada perubahan pada penampilannya kini. Kesibukan membuatnya lupa mengurus diri, karena yang ada di kepala hanya bagaimana menyelesaikan desertasi supaya bisa kembali berkumpul bersama istri yang sudah tak kuasa menunggu.
"Loh jawab!" desak Naura.
"Mas sibuk Sayang ... Nggak sempat yang mau cukur .... di kepala mas ini isinya cuma desertasi sama Adek, biar cepat bisa balik! Bukan cuma Adek yang kangen mas di sini berasa kayak tiap hari ngitung waktu, kapan bisa pulang...." ungkap Hasan dengan raut wajah sedihnya.
Oh, sungguh hati Naura runtuh mendengarnya terlebih lagi dengan raut wajah sedih sang suami. Matanya tiba-tiba terasa panas menahan air mata agar tidak terjatuh dan membuat suasana bertambah sedih saja.
“Nanti kalo ada waktu senggang mas cukur biar kelihatan lagi gantengnya,” lanjut Hasan. Namun Naura langsung angkat bicara; menimpali omongan Hasan yang barusan.
"Oh, jangan dicukur ... Biarkan itu tumbuh terus!" kata Naura bertolak belakang dengan ekspresinya yang tadi.
"Loh kenapa?!" tanya balik Hasan.
"Iya biarkan saja ... Nggak usah dicukur! Nanti kalo sudah di sini aku yang cukur!" kata Naura bersemangat.
"Emang Adek bisa?!" lanjut Hasan bertanya lagi.
"Nggak bisa, tapi nanti aku belajar! So jangan dicukur itu kumis sama jenggot!" ujar Naura mengulangi.
"Oke, tapi kayak gimana nanti penampilannya mas?!" seru Hasan. Membayangkan ia bagaimana penampilannya nanti dengan kumis dan jenggot semakin tebal menutupi wajahnya.
"Ah mas cukur aja ya, Dek?!" seru Hasan saat membayangkan bagaimana dirinya.
"Nggak boleh! Awas kalo dicukur!" ancam Naura tegas.
"Ya Allah, galaknya!" seru Hasan menggoda Naura.
“Biarin! Sekali aku bilang jangan dicukur makan nggak boleh dicukur! Aku pantau tiap hari terhitung sejak hari ini!” imbuh Naura tegas bersuara, kembali pada sifat aslinya.
“Iya Sayang ... iya....” seru Hasan hanya untuk menyenangkan hati sang istri.
Obrolan seputar kumis dan jenggot teruslah berlangsung hingga Hasan mengubah topik. Seperti biasanya ia akan bertanya bagaimana kesehatan pak Malik lebih dulu, berlanjut pada kondisi perusahan dan juga butik dan fashion blog Naura. Tiga kunyuk juga tidak pernah absen dari pertanyaan Hasan, apa saja yang dilakukan Andik dan Ilyas seharian serta kabar Ilham dan Veny
Naura tidak pernah bosan menanggapinya apalagi jika sampai pada cerita Andik dan Ilyas yang hampir tiap hari berdebat seolah menjadi hiburan baginya.
Lain Naura lain juga Hanis di lantai satu. Ia yang baru saja selesai sholat setelah tadi sempat antri kamar mandi kini leya-leya di atas kasur. Istirahat sebentar sebelum terjun ke dapur seperti biasanya. Iseng, Hanis mengambil ponsel dari balik bantal.
Senyum terjalin manakala menyalakan ponsel dan melihat fotonya bersama Andik. Andik sendiri tidak tahu jika foto mereka berdua sudah dijadikan wallpaper layar beranda oleh Hanis. Mungkin jika tahu laki-laki itu jungkir balik sangking senangnya. Hanya mungkin, jangan dibayangkan ya!.
Ada beberapa notifikasi masuk dan salah satunya dari nomor kontak tak dikenal. Dahi Hanis menyatu, penasaran dari siapa dan apa isi chat itu lekas jemarinya membuka chat tersebut. Tidak ada pesan yang tertulis, hanya dua foto terkirim. Jemari Hanis lekas menyentuhnya; mendownload dua foto yang dikirim.
"Foto apa ya?!” Gumannya tak sabar menunggu loading yang masih berputar. Ia berpikir itu dari seorang teman, bisa jadi teman di kampung halaman, pikirnya.
Namun rasa penasaran itu berubah seketika, semua perasaan bercampur menjadi satu. Ia membisu menatap layar foto, dadanya berdegup kencang sangking tegangnya.
Tak lama dari ia membuka foto datanglah chat berikutnya, masih dari nomor asing yang sama. Kali ini bukanlah sebuah foto melainkan sebuah pesan. Ya, sebuah pesan bernada ancaman sekaligus pemerasan.
Hanis tidak membalas, ia langsung menghubungi nomor kontak tersebut lantaran tahu siapa pengirim pesan ancaman sekaligus pemerasan tersebut. Rupanya di ujung sana Boy sudah standby dengan ponselnya. Lekas laki-laki itu mengangkat panggilan tersebut, kemudian menyapa Hanis dengan santai.
"Gimana sama yang aku kirim? Suka nggak? Atau malah kaget?" tanyanya bernada mencibir.
"Biasa aja!" jawab Hanis ketus.
"Oh ya? Mungkin kalo sekarang biasa aja tapi gimana ya kalo foto itu menyebar?! Kira-kira apa masih biasa aja tanggapannya?!" seru Boy mengancam.
"Aku pastikan Kamu bakal masuk penjara!" sahut Hanis segera.
"Oh iya?! Terus gimana sama reputasimu di masyarakat, di kampus misalkan?! Gimana sama orangtuamu?! Kakakmu yang sok ngancam aku itu juga? Cewek bodoh! Silahkan saja laporin ke polisi dan bersiap-siaplah karena tidak hanya aku yang mendapat hukuman! Kamu juga bakal dapat hukuman ... hukuman sosial! Nggak bakal ada laki-laki yang mau menikahimu!" kata Boy menakuti Hanis.
Tentu semua perkataan yang tadi dilontarkan Boy merasuk ke dalam otak Hanis, memenuhi rongga kepala dan juga hatinya. Pikiran bagaimana tanggapan orang-orang yang mengenalinya, teman-teman kampus, kedua orang tua serta Andik yang kemarin mengajak menikah; pastilah mereka kecewa dan bahkan yang terburuk akan membencinya.
"Kenapa diam? Benar kan apa yang aku bilang tadi? Kamu nggak punya pilihan lagi selain berikan aku uang sejumlah yang aku minta nanti siang! Jika tidak ... Tunggulah kehancuran dirimu!" kata Boy mengancam lagi.
Tidak ada tanggapan dari Hanis, ia malah memutuskan panggilan yang ia buat. Pikirannya semakin berkecamuk, memikirkan bagaimana foto itu diambil serta bagaimana jika benar Boy menyebarkan. Apalagi perihal uang yang diminta, terus ia berpikir bagaimana caranya mendapatkan sejumlah uang yang diminta Boy. Meminta pada kedua orangtuanya tentu tidak mungkin karena baru dua minggu ia yang mendapat uang bulanan.
Mata Hanis melirik ke laptop yang tergeletak di atas meja, terlintas dipikirannya untuk menjual laptop itu namun jumlah uang yang didapat pastilah kurang membuat ia mengurungkan niatnya tersebut.
"Darimana aku bisa dapat uang lima juta dalam setengah hari?!" gumannya bertambah bingung.
Hanis melompat dari tempat tidur, agak berlari ia menuju kamar mandi. Selang beberapa saat Hanis kembali ke kamar. Bersamaan dengan dibukanya pintu kamar sebelah Hanis menutup pintu kamar. Ternyata itu tak lain adalah Ilyas yang keluar, seperti biasa hendak melaksanakan tugas hariannya sebelum berangkat kerja. Tak seberapa lama Andik juga keluar, ia segera berjalan ke depan gudang hendak mengambil alat bersih-bersih rumah. Melihat dapur masih kosong ia masuk ke sana, sekedar memastikan saja.
"Tumben belum ada penampakan di sini?!" gumannya merasa aneh saja. Tapi Andik tak berniat memanggil kaum hawa, ia pikir sebentar lagi mereka akan keluar dan memulai kesibukan.
Di kamar Hanis duduk di tepi kasur, kedua tangannya menopang kepala yang tertunduk; berat dan buntu yang ada. Terus ia memarahi diri sendiri, akibat kebodohannya kini itu menjadi bencana untuk dirinya sendiri. Tepat saat Hanis hendak bangkit kedua bola matanya tak sengaja melirik ke gelang tangan. Terbersit olehnya untuk menggadaikan gelang tangan itu.
Pikiran Hanis sedikit melonggar seketika, otaknya berputar dengan lancar setelah mendapat solusi. Tidak hanya gelang yang akan ia gadaikan, agar jumlahnya tak kurang anting serta kalung yang ia kenakan juga akan digadaikan jika perlu.
Cepat-cepat tangan Hanis menyambar ponsel untuk menghubungi temannya bernama Ika. Dia berniat mengajak temannya itu untuk menemaninya pergi ke kantor pegadaian. Syukurlah Ika tidak menolak dan Hanis mengiming-imingi wanita itu dengan segelas es di kantin.
"Ok, tapi pagi ya soalnya jam setengah sepuluh aku ada kelas!" kata Ika.
"Siap, ketemuan dimana ini? Apa aku susul ke rumahmu?!" tanya Hanis.
"Nggak usah, aku jemput kamu aja! Toh aku kan bawa motor! Jam tujuh kamu sudah harus siap, aku berangkatnya dari rumah jam tujuh!" jawab Ika tidak ingin Hanis kerepotan memesan ojek.
"Ok, habis ini aku share lock ke Kamu!" kata Hanis sebelum mengakhiri panggilan telepon.
Di luar kamar Andik yang tengah bersih-bersih mulai sadar jika tidak ada yang keluar baik itu Hanis ataupun Naura. Kakinya melangkah ke depan kamar Hanis, mengetuk pintu kamar.
"Iya!" sahut Hanis dari dalam kamar kemudian segera meletakkan ponsel dan berlari ke pintu.
"Kakak!" serunya cukup kaget mendapati Andik berdiri di depan pintu. Khawatir pembicaraannya di telepon terdengar.
"Kalian emang janjian nggak ke dapur?!" tanya Andik.
"Oh iya maaf, tadi masih ada kerjaan!" jawab Hanis dan keluar dari kamar. Melewati Andik yang masih berdiri di tempatnya.
Langkahnya agak cepat manakala berjalan ke dapur khawatir Naura sudah mau selesai masaknya. Ia kurang fokus padahal Andik tindak menyebut namanya melainkan dengan kata lain. Kedua alis Andik kawin saat memperhatikan langkah cepat Hanis menuju dapur. Tak disadari ia juga melangkah ke sana, menyusul Hanis yang tidak perlu ditemani.
"Nis, coba kamu tegok ke atas! Kenapa Mba nggak turun?!" perintah Andik.
"Emm ... Aku nggak pernah ke sana...." kata Hanis menolak.
"Lah masak aku?!" seru Andik menunjuk dirinya sendiri.
"Kalo gitu ayo temani aku ke sana!" pinta Hanis.
Belum juga disetujui tangan Hanis sudah menyambar pergelangan tangan Andik, menyeret laki-laki itu keluar dari dapur dan membawanya menaiki tangga. Begitu sampai di depan kamar tangan Hanis melepaskan genggamannya, ia menoleh ke samping.
"Kak, diketuk apa gimana?!" tanyanya bingung.
"Gimana ya?! Oh Kamu intip gih lewat balkon itu!" kata Andik pelan, telunjuknya diarahkan ke balkon yang terhubung ke rooftop.
Segera Hanis melangkah, ia mencoba mengintip ke dalam kamar melalui cendela besar yang berada di balkon. Berhubung cendela itu masih tertutup rapat oleh gorden Hanis pun terpaksa mengambil kursi. Kemudian menaruh kursi itu di bawah lubang angin-aging. Andik datang menghampiri setelah melihat Hanis berjuang mengintip ke dalam. Melihat Hanis kurang sedikit untuk bisa mencapai angin-angin Andik pun seketika mengangkat tubuh Hanis. Hanis terkaget, spontan ia menundukkan pandangannya.
"Cepetan lihat, kamu berat ini!" perintah Andik sekedar menggoda saja.
Hanis mengernyitkan hidung beserta mulutnya sebelum kembali mengintip ke dalam lewat celah tersebut.
"Tidur nyenyak Kak," kata Hanis setelah berhasil mengintip ke dalam.
Cepat Andik menurunkan Hanis kemudian memindahkan kembali kursi pada tempat semula. Berikutnya ia membawa wanita itu turun dari sana segera dan menuntunnya kembali ke dapur.
"Ayo aku bantu masak, tapi jangan yang ribet-ribet biar cepat!" kata Andik mengawali.
Tanpa pengarahan Andik mengambil panci berukuran sedang kemudian mengambil beras dari rice box dengan menekan tombol dan membiarkan wadah di bagian bawah terisi. Hanis menoleh, melihat kesergapan Andik dalam berbagi tugas Hanis pun bergerak cepat tidak mau kalah. Ia mengambil ketel dan mengisi air hingga nyaris penuh kemudian meletakkan ke tungku dan menyalakan kompor.
"Kok ngerebus air?!" tanya Andik penasaran, ia melirik sebentar tadi.
"Buat nanak nasi itu biar lekas matang!" jawab Hanis kemudian melangkah menuju kulkas.
Tidak berpikir lama Hanis mengambil beberapa butir telur ayam, kemudian nugget, satu buah wortel dan brokoli dari dalam kulkas. Ia menaruh semua bahan itu di meja dapur, Andik yang sudah selesai mencuci beras bergeser ke samping Hanis.
Andik bertanya apa yang bisa ia kerjakan selagi menunggu air mendidih. Hanis tidak langsung memberikan tugas, barulah saat menangkap brokoli yang ia taruh tadi Hanis meminta Andik memotong brokoli itu.
"Kayak gimana bentuknya?!" tanya Andik yang tidak tahu.
"Kasih aku contoh dulu!" lanjutnya.
Hanis masih tidak bersuara, ia mengambil telanan dan juga pisau kemudian memberikan contoh pada Andik yang fokus memperhatikan.
"Oh kayak gitu!" seru Andik kemudian mengambil alih.
Selagi Andik memotong brokoli Hanis sendiri mengambil wajan teflon, spatula dan margarin serta minyak goreng yang pasti. Sebelum menyalakan kompor Hanis mencuci telur itu terlebih dulu sebelum memecahkannya. Telur sudah dipecahkan dan ditaruh di mangkok, setelah itu ia mengiris daun bawang untuk campuran telur. Ia juga mengambil satu buah wortel kemudian ia iris kecil-kecil, bersama dengan daun bawang itu ia masukkan potongan wortel ke telur. Dengan cekatan tangannya mengambil sejumput garam, kaldu jamur dan menambah lada, barulah ia mengaduk telur dan bahan lainnya hingga bercampur.
"Itu mau buat apa,Nis?!" tanya Andik melirik ke samping.
"Oh ini mau bikin telur gulung!" jawab Hanis singkat.
Andik tersenyum tapi tidak menoleh ke Hanis, ia bersuara memuji Hanis dengan caranya sendiri. "Aku pikir Kamu bisanya cuma minta uang aja, Nis?! Ternyata cukup pintar soal dapur!" kata Andik yang malah ditanggapi lain oleh Hanis.
Wanita itu melirik, kemudian bersuara. Menanggapi perkataan Andik barusan. Sebenarnya perkataan Andik tidaklah menyinggung dirinya tapi mendengar kata uang keluar dari mulut Andik seketika Hanis teringat dengan ancaman serta pemerasan yang dilakukan Boy.
"Kakak ini terlalu sentimen sama aku," kata Hanis agak datar terdengar.
"Hee ... Sorry!" seru Andik tidak meneruskan.
Begitu halnya dengan Hanis, ia memilih menyibukkan diri dengan membuat masakan ketimbang berbincang dengan Andik. Keheningan seketika tercipta, Hanis mulai menuangkan telur ke teflon yang sudah panas dan diberi margarin sebelumnya. Sambil menunggu dadar telur setengah matang ia mengambil garpu.
Andik tak hentinya melirik, memperhatikan kelincahan Hanis di dapur. Kala itu Hanis menggulung telur yang hampir matang, menggeser hingga ke tepi teflon. Kemudian dengan lincahnya tangan wanita itu mengoleskan margarin dan menuangkan kembali telur ke sisi yang kosong. Setelah bagian bawahnya matang Hanis menggulung telur yang di pinggir ke adonan. Begitu seterusnya hingga mendapati gulungan yang diinginkan dan itu membuat Andik
tergugah untuk membantu. Dan tak berlangsung lama Andik memecahkan keheningan.
"Sudah selesai, apa lagi?!" kata Andik mengajukan tugas baru.
"Oh, Kakak ambil bawang putih terus kupas habis itu cuci, terus geprek kemudian cincang ya!" kata Hanis memberikan arahan cepat dan padat.
"Habis itu?!" lanjut Andik.
"Ambil teflon sama spatula buat numis!" sambung Hanis menerangkan.
"Ok, aku laksanakan!" sahut Andik meski sebenarnya ia ingin membantu Hanis membuat telur gulung.
Berikutnya ia langsung bergerak, mengambil bawang putih kemudian mengupas. Berhubung hanya dua siung saja jadinya itu tidak memakan waktu. Sesuai arahan setelah dicuci Andik menggeprek dua siung bawang putih itu di telanan dan mencincangnya. Meski tidak segemulai seorang koki setidaknya tangan Andik tidaklah kaku-kaku amat. Ia mengambil panci teflon dan juga spatula kayu. Menuangkan sedikit minyak dan menyalakan kompor, menunggu hingga panas. Senyum sempat terjalin di wajah Hanis kala mencuri pandang, melihat Andik yang nampak ringan bawaannya saat mengerjakan pekerjaan seorang wanita.
"Bisa diandalkan juga Kakak ini!" pujinya.
"Iya dong! Di pondok kan nggak cuma diajari ngaji tapi masalah pekerjaan rumah juga harus bisa ... Karena sejatinya itu semua tak lain tugas seorang suami," tutur Andik.
"Ya ... Dan cewek tugasnya hanya dandan dan melayani suami," sambung Hanis. Meski bukan seorang santri setidaknya ia masih dibesarkan dengan nilai-nilai agama, sekolah pun juga berbasis agama. Jadilah ia sedikit tahu meski kalah pada godaan pergaulan.
Andik tertawa mendengar pernyataan Hanis barusan dan ia tidak lagi bersuara namun fokus dengan tugasnya. Ya, mula-mula ia menuangkan cincangan bawang putih, sambil menunggu layu dan harum baunya ia mencuci brokoli yang sudah ia potong. Dengan cepat Andik memasukkan brokoli itu dan mengaduknya.
"Ini dikasih air nggak?!" kata Andik.
"Iya, kasih setengah gelas aja! Habis itu kasih garam dikit, kaldu jamur sama gula ... Oh jangan lupa kasih lada sama saos tiram!" seru Hanis mengarahkan.
"Siap lady koki!" jawab Andik dan melaksanakan perintah segera.
“Habis itu ambil tepung meizena, ambil sesendok aja tabur ke tumisan terus aduk ya kak ... tapi kalo tumisannya sudah matang!” imbuh Hanis, menambah tugas.
“Tepung meizena?!” seru Andik.
“Iya cari di rak lemari,” sahut Hanis singkat.
Sekali lagi Hanis dibuat tersenyum meski sebenarnya masalah tengah ia hadapi. Selesai dengan racikan bumbu yang tadi diarahkan Hanis dan menunggu hingga tumisan cukup empuk dan menaburkan sesendok tepung meizena laki-laki itu kembali mengajukan pertanyaan.
"Sudah Kakak, bersiap-siap aja yang mau ke sekolah entar telat! Biar aku sisanya yang masak!" kata Hanis memerintah Andik meninggalkan dapur.
Betapa senangnya Andik mendapat perhatian seperti itu, ia tidak membatah melainkan keluar segera dari dapur setelah menyelesaikan tugas yang diberikan.
Sewaktu berjalan keluar Hanis menoleh, memperhatikan punggung Andik dari belakang. Dalam hatinya ia sekali lagi memuji laki-laki itu yang kini nampak tampan di matanya. Tidak seperti dulu yang ia pandang layaknya monster.
Sambil menunggu Ilyas keluar dari kamar mandi Andik menyiapkan baju yang akan ia kenakan dan juga buku-buku ke dalam tas, serta laptop. Kemudian ia keluar dari kamar dan menyambar handuk di depan kamar mandi. Andik berdiri di sana dengan sabar menunggu pintu terbuka, berganti kamar mandi.
"Ngapain Kamu disini,Dik?!" tanya Ilyas kaget saat membuka pintu.
"Kamu pikir aku antri sembako di depan kamar mandi?!" jawab Andik memancing kemarahan saja.
"Pedes banget omonganmu Dik!" keluh Ilyas.
"Ya habisnya udah jelas nungguin situ masih nanya?!" sahut Andik.
"Udah sana! Dasar mulut petasan!" seru Ilyas mencemooh Andik.
Syukurlah Andik enggan menanggapi, ia nyelonong masuk dan mengabaikan Ilyas yang masih menggerutu dan mengomel sepanjang langkahnya menuju kamar.
Di dapur Hanis sudah selesai, segera ia menata sarapan sederhana itu di meja makan lengkap dengan nasi serta air minum. Berikutnya ia menaiki tangga untuk membangunkan Naura yang tampaknya masih tertidur.
Untung Hanis datang membangunkan jika tidak mungkin dia akan telat ke butik. Mendengar suara Hanis memanggil Naura loncat dari tempat tidur. Ia masih tidak memeriksa jam sehingga ia mengira hari masih
pagi dan saatnya bagi dia membuat sarapan.
"Sorry Nis, ketiduran!" kata Naura setelah membuka pintu.
"Kak, sarapannya sudah siap! Kita tunggu di bawah ya!" seru Hanis menyentak Naura.
"Kamu yang masak semuanya?!" seru Naura merasa tak nyaman hati. Hanis melempar senyum sebelum mengangguk sekali.
"Kak, saya turun dulu!" kata Hanis pamit.
"Andik sama Ilyas?!" ujar Naura teringat dua orang itu.
"Lagi siap-siap Kak!" sahut Hanis sebelum turun.
"Oh!" seru Naura dan menutup pintu.
Ia tidak lagi mampir ke tempat tidur melainkan melepas mukenah dan langsung berlari ke kamar mandi untuk bersiap-siap khawatir mereka yang di bawah lama menunggu dirinya.
Pintu kamar mandi belum terbuka, Hanis memutuskan untuk masuk kamar. Diliriknya ponsel yang tergeletak di atas kasur namun ia tidak berniat untuk mengambilnya. Masih trauma ia, takut mendapat chat lagi dari Boy.
Alih-alih menunggu kamar mandi kosong, Hanis melepas perhiasan yang ia kenakan seperti gelang, anting dan kalung. Lalu menyimpannya di kotak aksesoris yag isinya ia keluarkan. Kemudian membuka lemari, mengambil baju dan dilempar ke kasur.
Beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar, memeriksa kamar mandi yang ternyata sudah kosong. Segera ia menyelinap masuk, membersihkan diri dengan cepat agar bisa sarapan bersama.
Setengah jam kemudian semua orang di rumah itu sudah siap, Ilyas sedari tadi menunggu di kursi ruang keluarga. Saat Naura turun dan berjalan mendatangi dirinya Ilyas bergeser, memberi tempat bagi Naura duduk.
"Mana Andik sama Hanis?!" tanya Naura mengawali obrolan mereka pagi itu.
"Masih siap-siap Mba, bentar lagi keluar!" jawab Ilyas.
Benar juga, baru beberapa detik setelah berucap dua orang yang dibicarakan keluar hampir bersamaan. Terlihat mereka sudah rapi terlebih Hanis, ia sudah siap dengan tas punggung warna tosca.
"Ayo buruan sarapan!" kata Naura kemudian bangkit. Bangkitlah Ilyas, menyusul mereka yang berjalan ke ruang makan.
Naura meminta Ilyas memimpin do’a, nyaris tidak ada obrolan pagi itu. Semuanya nampak dikejar waktu, terlebih Andik yang harus berangkat lebih dulu dari yang lain.
Baru saja mereka selesai sarapan dan hendak kembali ke kamar masing-masing untuk mengambil tas terdengar suara bel berbunyi. Itu tak lain suara bel pagar yang menandakan ada seorang tamu di luar sana.
"Tumben ada tamu pagi-pagi?!" seru Naura.
"Saya cek Mba, sekalian mau ngeluarin motor," kata Andik yang sudah mepet waktu ke sekolahnya.
Segera setelah mengambil tas ia berlari ke luar rumah, mengambil motor lebih dulu sebelum menjalankannya dan berhenti tepat di tengah pintu pagar yang terbuka.
Nampak seorang wanita mengendarai motor matic berada di luar pintu pagar. Ia tersenyum begitu melihat sosok Andik dan pintu pagar yang terbuka.
"Maaf cari siapa?!" tanya Andik.
"Ini benar kosnya Hanis?!" tanya Ika balik.
"Oh Iya, masuk aja!" jawab Andik dan menyuruh masuk.
Segera mobil matic itu melewati pintu pagar, berhenti tepat di depan garasi. Andik menoleh sebentar sebelum minggat dari rumah Hasan dan berkendara agak kencang supaya tidak telat ke sekolah.
Ika turun dari motor, ia nampak takut-takut kala berjalan ke teras rumah. Tangannya memencet bel di dekat pintu dan juga menguluk salam. Bagiamana Naura bisa tahu jika ada tamu datang? Itu karena suara bel pintu dan pagar pintu berbeda. Ilyas mempercepat langkah kaki untuk menemui siapa yang di teras rumah.
Baru saja ia hendak bersuara pintu pagar terbuka, Ilyas menoleh ke arah pintu pagar begitu halnya Ika. Siapa lagi yang datang tiap pagi jika itu bukan Angga? Ya, laki-laki itu selalu datang tepat waktu meski kini suasana hatinya tengah diselimuti awan gelap.
Angga mengangkat tangan kirinya menyapa, Ilyas membalasnya dengan mengangkat tangan juga. Kehadiran teman Hanis terabaikan sesaat, sebelum Ilyas tersadar.
"Maaf, cari siapa?!" tanya Ilyas.
"Saya temannya Hanis," jawab Ika singkat.
"Oh ... Tunggu bentar saya panggil!" kata Ilyas kemudian masuk lagi. Lupa ia mempersilakan Ika masuk sehingga wanita itu berdiri di depan pintu.
Pintu garasi sudah terbuka, mendengar suara mobil dinyalakan Ika cepat-cepat turun dari teras. Memindahkan motornya yang menghadang jalan.
Ilyas keluar bersama dengan Hanis dan juga Naura kala wanita itu memarkir motor ke depan teras rumah Hasan. Hanis menyapanya, "Ika, sorry! " Ika menoleh, melempar senyum dan mendatangi mereka.
Ilyas pamit lebih dulu, cepatlah ia berjalan menuju garasi untuk mengeluarkan motor. Saat melewati mobil Ilyas menghentikan motor dan Angga menurunkan kaca mobil.
"Duluan Mas!" seru Angga mengangkat tangannya.
"Hati-hati!" balas Angga yang juga mengangkat tangan.
Ilyas sudah hilang di balik pintu pagar, kini giliran Hanis yang pamit pada Naura. Dengan berboncengan dua wanita itu meninggalkan kediaman Hasan. Tinggalah Naura yang terakhir berangkat, ia melangkah santai menuju mobil yang sudah siap meluncur.
"Pagi Angga!" sapa Naura saat berada di dalam mobil.
"Pagi juga Nona, sepertinya lagi berseri-seri ini mukanya?!" seru Angga melirik dari kaca spion.
"Kamu ini ada ada aja, perasaan tiap hari emang gini kok!" sahut Naura yang dibuat malu oleh Angga.
"Loh benar ini Nona?!" sambung Angga.
"Ayo buruan, aku ada tugas buat Kamu!" kata Naura memerintahAngga agar lekas menjalankan mobil.
“Tugas? Em ... tugas apa Nona?” tanya Angga sambil menjalankan mobil.
Naura malah tersenyum, menurunkan kaca mobil dan memalingkan muka. Angga melirik, lanjut ia bersuara lagi. Mendesak Naura agar buka mulut, memberitahu tugas apa yang akan diberikan padanya.
“Rahasia, nanti Kamu juga tahu!” jawab Naura malah semakin membuat Angga penasaran saja.
inilah foto yg dikirim,,
Ditunggu up nya .... Sehat selalu, semangat thor /Drool/
Lanjutkan dan tuangkan ide kreatifmu Tor ! 😍
sy anti yg nama'a poligami....apalagi yg dipoligami janda muda yg msh bisa melindungi diri sendiri,,,jgn sedikit" mengatas namakan sunnah mengikuti baginda nabi junjungan kita Muhammad SAW...
pak yai pinter yaaaa,,, anak'a sdh janda trus disodorin sama orang yg akhlak'a baik spt hadan,,,, knapa ga dari hasansh bujang aja djodohiin...
jgn karena ingin anak'a bahagia pak yai relaengorbankan perasaan orang lain....
secara tdk lsg hasan sering mengeluhkan kebiasaan naura