Venus Bach, melarikan diri dari mansion milik keluarganya. Ia beruntung karena bertemu dengan seorang wanita paruh baya yang akhirnya mempekerjakan dirinya di rumah menantunya sebagai babysitter untuk cucunya. Redley Smith, putra bungsu Keluarga Smith, jatuh hati pada Venus, babysitter keponakannya. Namun, Venus membentengi dirinya dari makhluk bernama laki-laki. Apakah Red akan berhasil meluluhkan hati Venus? Ataukah semakin membuat Venus menjauh dan menutup dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pansy Miracle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JAUH LEBIH BERARTI
Hari ini Venus kembali keluar rumah. Bukan untuk bekerja melainkan untuk mencari pekerjaan yang baru. Ia tak ingin Mars dan Bertha sampai tahu jika ia sudah dipecat oleh Richardo.
“Susah sekali mencari pekerjaan saat ini,” gumam Venus yang kemudian duduk di bangku taman sambil mengusap peluh yang mulai tampak di dahinya.
Dari tempat yang tak jauh dari sana, Redley terus memperhatikan gerak-gerik Venus. Ia menghela nafasnya beberapa kali dengan helaan yang dalam.
“Apa kamu tak akan menyerah, Ve? Sampai kapan pun kamu tak akan pernah bisa mendapatkan pekerjaan lagi, aku jamin itu,” gumam Redley.
“Red …”
“Pergilah,” kata Redley pada Louvin yang duduk di dekatnya.
“Bukankah ini terlalu kejam untuknya?”
“Kejam? Lalu apa yang telah ia lakukan padaku tak kejam menurutmu? Aku mencintainya, aku menyayanginya dengan tulus, tapi … ia dengan mudahnya menipu lalu meninggalkanku. Ia hanya memanfaatkan kebaikan serta rasa cintaku padanya. Apa kamu tak mengerti?” kata Redley.
Louvin menghela nafasnya kemudian kembali berkata, “Mungkin ia memiliki alasan sampai melakukan hal seperti itu padamu, Red.”
“Alasan?! Ya, alasannya adalah karena ia ingin hidup nyaman bersama pria itu dengan menggunakan uangku.”
“Tapi … kamu bisa melihat kehidupannya saat ini. Bukankah ia hidup dengan biasa-biasa saja, bahkan bisa dibilang kekurangan,” kata Louvin.
“Aku yakin itu karena ternyata suaminya tak bekerja, dan ia telah menghambur-hamburkan uang yang ia ambil dariku,” Redley mengatakannya dengan geram karena kemarahan lah yang selalu muncul ketika mengingat interaksi antara Venus dengan Mars.
Louvin kembali menghela nafasnya dalam, “baiklah, terserah padamu saja. Yang terpenting aku telah mencoba mengatakannya padamu. Aku hanya tak ingin kamu menyesal nantinya.”
“Aku tak akan menyesal atas apa yang kulakukan, Lou. Ia yang bersalah dalam hal ini dan aku hanya menuntut pembalasan.”
Louvin sepertinya tak bisa lagi menasihati Redley. Sahabatnya itu sudah penuh dengan dendam dan kebencian.
***
Bughhh bughh
Venus yang berada di luar rumah sampai malam, untuk menghindari pertanyaan dari Mars dan Bertha, kini justru harus berhadapan dengan seorang pria yang hampir menarik tas miliknya.
“Cepat berikan padaku!!” kata pria itu.
“Aku tak akan pernah memberikan apapun padamu,” kata Venus.
“Berikan aku uangmu, cepat!!”
“Aku saja sedang mencari pekerjaan, mana mungkin aku memberikan uang padamu.”
“Jadi kamu masih tak mau memberikan uangmu padaku?” Pria itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari sakunya dan mulai menghadapkannya pada Venus.
Mata Venus menajam saat melihat hal itu, “Aku tidak takut padamu!”
Pria itu tertawa, “Ah kamu tidak takut pada pisauku, kalau begitu kamu pasti akan takut dengan ini.”
Pria itu kembali merogoh sesuatu dari sakunya dan mengeluarkan sebuah senjata api. Mata Venus membulat saat melihatnya. Namun ia berusaha agar pria di hadapannya itu tak mengetahuinya, lagipula saat itu sudah malam dan tak akan terlihat dengan jelas.
“Aku bisa menembakmu hingga mati, lalu mengambil semua milikmu,” ujar pria itu.
“Kalau begitu silakan tembak aku dan ambil semuanya, aku tidak takut sama sekali.”
Pria itu tertawa kembali, “ternyata kamu adalah wanita yang tak mudah untuk diancam, aku suka. Bagaimana kalau aku memberikanmu pekerjaan, khusus malam ini. Aku akan memberikan uang yang banyak atas pekerjaanmu itu.”
Venua menautkan kedua alisnya dan mulai meyakini bahwa pria itu berniat sesuatu padanya.
“Kamu cukup memuaskan aku dan aku akan membayar mahal untuk tubuhmu itu.”
Venus mengepalkan tangannya dan tanpa mempedulikan dirinya serta apa yang akan terjadi ke depannya, ia pun maju lalu dengan cepat ingin memukul pria di hadapannya itu.
Bughhh bughh
Pukulan melesat dengan cepat mengenai wajah dan tubuh pria itu hingga terjerembab ke atas jalan yang begitu sepi.
Venus melihat bahwa yang memukul pria itu tak lain adalah sosok yang sangat ia kenali karena ia pernah tinggal bersama selama beberapa waktu.
“Red,” gumam Venus saat melihatnya.
Redley menoleh ke arah Venus dengan tatapan tajam, bahkan memandang wanita itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan. Venus pun akhirnya bicara.
“Red, terima kasih,” kata Venus.
Namun Redley sama sekali tak mengeluarkan sepatah kata pun, membuat Venus merasa sakit. Redley yang sedari tadi mengikuti langkah Venus pun kini memutar tubuhnya untuk meninggalkan tempat itu.
“Red,” panggil Venus sekali lagi.
“Jangan pernah menyebut namaku lagi karena aku sangat membencinya. Aku harap kita tak akan pernah bertemu lagi dan jika sampai bertemu, anggap saja kita orang asing,” ujar Redley.
“Red.”
“Sudah kukatakan jangan menyebut namaku lagi!! Aku membencimu, kamu seharusnya sadar akan hal itu!”
Venus berdiri diam melihat ke arah Redley yang memunggunginya. Ia sangat tahu kesalahannya begitu besar pada Redley. Pria itu pernah mencintainya, tapi ia justru memanfaatkannya.
“Aku tak akan menyebut namamu lagi, tapi ijinkan aku mengembalikan ini padamu,” Venus membuka tas miliknya lalu mengeluarkan sebuah kartu debit dari dompet miliknya. Kartu itu merupakan kartu khusus di mana ia menyimpan uang yang ia ambil dari Redley.
Redley melihat bahwa Venus menyodorkan sebuah kartu debit padanya. Tangannya dengan cepat meraih kartu tersebut lalu melemparkannya pada Venus.
“Apa kamu kira aku akan memaafkanmu kalau kamu mengembalikannya hah?!” Venus memundurkan tubuhnya kembali saat mendengar Redley berteriak.
Sungguh, ia tak suka mendengar saat Redley berteriak padanya. Ia merindukan sikap Redley yang dulu, Redley yang begitu manis dan penuh dengan cinta dan kasih sayang. Namun, siapa dirinya kini yang berhak mendapatkan hal semacam itu, apa lagi setelah apa yang telah ia lakukan.
Venus mengangkat kartu tersebut, “Memang isi kartu ini belum sebanyak yang ku ambil, tapi aku berjanji akan mengembalikannya. Aku juga tak berharap kamu memaafkanku.”
“Pergilah dan jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku, atau aku akan membuat dirimu dan priamu itu menderita selamanya!” ancam Redley.
Degggg
Ketakutan langsung menjalar dalam diri Venus. Ia mulai memikirkan keadaan Mars, apakah Redley akan menyakiti Mars? Ia tak mau itu sampai terjadi. Mars adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki saat ini dan ia tak mau Mars kembali mengalami hal buruk seperti dulu.
“Aku akan pergi, tapi terimalah kartu ini. Aku minta maaf.”
Venus berlari mendekati Redley kemudian memberikan kartu debit tersebut sebelum akhirnya memutar tubuhnya dan berlari dengan cepat meninggalkan Redley. Ia harus segera pulang untuk memastikan bahwa Mars akan baik-baik saja.
Redley tertawa kecil. Ia menertawakan dirinya sendiri saat melihat reaksi Venus saat mendengar bagaimana ia mengancam pria yang hidup beraamanya itu.
Ternyata pria itu jauh lebih berarti daripada aku. Kamu tak pernah takut dan sedih saat menyakitiku, tapi saat mendengar aku akan menyakiti priamu, kamu langsung berlari untuk melindunginya. - batin Redley.
“Arghhhhh!!!!” Redley berteriak sambil mengepalkan tangannya.
🌹🌹🌹
Terimakasih kak ❤️❤️❤️❤️😍😍😍😍😍
serba tiba2,,serba mendadak,,
yg tadinya gadis lemah biasa,tetiba jd kuat,yg dr awal kbur tak ada hp tetiba pny hp,yg tadinya tak d jelaskan asal muasalnya tetiba pny org kepercayaan d mansion ny😅😂
setiap part macam d kejar deadline, kesannya terburu2 sampe yg baca gak dapat fiel ny,gk masuk k hti,,n jadilah baca nya macam baca berita di koran sbb setiap hal gak ada kesan lebih mendalam n detile ny