“Kiss me!”
Cyra Nadira
Kata orang, keberuntungan akan berpihak pada cewek cantik. Tapi boro-boro beruntung, yang ada malah buntung. Entah sudah ketentuan takdir atau hanya sebatas kebetulan, Cyra harus bertemu sosok pria galak yang selalu bikin jantungan. Untung ganteng, jadi Cyra bisa mengurangi tingkat emosi.
Zaki Salman
Paling anti dengan cewek ceroboh. Anehnya, ia malah terus-terusan terlibat masalah dengan cewek yang bikin kepalanya pusing tujuh keliling. Sampai-sampai ia menyumpah, mendingan kejedot tembok sepuluh kali ketimbang berurusan dengan cewek aneh itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Shu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Dinner
Cyra terbengong saat memasuki ruang makan, isi ruangan seperti disulap, berubah lebih mewah. Meja makan diganti dengan meja panjang berukuran dua kali lipat lebih besar dari meja biasanya. Cyra mendekati meja makan, ia heran menatap meja makan yang sudah dipenuhi dengan beraneka ragam lauk-pauk, semuanya lezat dan aromanya menggugah selera. Bermacam menu menghias meja. Bukan hanya lauk-pauk saja yang menjadi hidangan menarik, buah pencuci mulut yang beraneka ragam dengan susunan semenarik mungkin, serta lilin-lilin yang kecil yang menyala di meja, membuat kesan menawan yang ditawarkan.
Cyra menatap mamanya yang tengah sibuk menyusun hidangan di meja makan. Sibuk memerintah Bik Mey supaya menambah hidangan yang belum tersaji.
“Apa lagi yang belum, ya?” Andini mengitari meja sembari memperhatiakn hidangan dengan seksama. “Oh iya, Bik daun selada sama potongan timunnya mana? Trus buah anggurnya keluarin dari kulkas. Cepet disajikan, pakai keranjang buah, ya! Tarok diujung sana!” Andini menunjuk ujung meja.
“Ya ampun Ma, ini meja udah kepenuhan kali. Mau ditambah apa lagi?” Cyra menatap heran ke arah mamanya.
“Kita akan makan malam sama keluarga Tante Alya, jadi hidangannya harus special.” Andini menjawab sembari kembali menyusun posisi hidangan yang menurutnya kurang pas.
“What? Tante Alya yang di depan rumah kita itu?”
“Iya. Bentar lagi Tante Alya sekeluarga bakalan dateng ke sini.”
Sekeluarga? Itu artinya bersama Zaki juga, dong? Wagelas, kabar gembira! Yess! Cyra girang bukan main.
“Cyra, apa-apaan, sih? Yes yes segala, tanganmu pun petakilan gitu sampe nyamber kuah sop. Tumpah kan jadinya,” protes Andini sambil memukul pelan lengan Cyra.
Loh, jadi kata ‘yes’ yang Cyra teriakkan dalam hati itu meluncur keluar melewati mulut. Perasaan, Cyra hanya berseru dalam hati. duh, nih mulut berkhianat sama tuannya. Cyra menepuk pelan mulutnya. Kalau ketahuan lagi kasamaran kan bisa berabe. Iya kalau mamanya membolehkannya berhubunagn dengan laki-laki, kalau enggak kan gawat. Bisa digantung lehernya di pohon cabe.
Andini menyuruh Bik Mey membersihkan meja yang basah akibat ceceran kuah sop, serta menambah kuah yang berkurang akibat tumpah. Andini semakin terlihat sibuk.
“Mama kok nggak bilang sama aku kalau mau ngundang dinner Tante Alya?”
“Halah, ngapain ngasih tau kamu. Ngebantuin mama di dapur aja enggak, buat apa ngasih tau kamu. Udah sana, kamu tunggu di depan aja. Bikin repot mama aja.” Andini masih sibuk mengurusi meja. “Yang penting kamu nantu ikut duduk di meja makan.”
Cyra beranjak pergi meninggalkan ruang makan. Lalu naik ke lantai dua untuk segera memasuki kamarnya. Cepat-cepat ia menukar kaos oblong dan celana hawai yang ia kenakan dengan dress berwarna biru muda. Dengan tampilan yang demikian, ia akan terlihat cantik untuk dipandang mata. Nggak kayak tadi yang lebih mirip capung kecemplung air.
Cyra juga menyisir rambutnya, menjepit jepitan rambut di sisi kanan kepalanya. Tak lupa memoles wajah dnegan bedak dan sedikit lipglos di bibir.
Detik berikutnya, Cyra nyengir menatap pantulan wajahnya di cermin. Kok, dia jadi sibuk pengen tampil cantik begini? Mendadak Cyra malu sendiri. Rasanya kepingin ngegaplok cicak di dinding yang seperti sedang mengejek dan menertawakannya.
Cyra turun ke lantai bawah saat mendengar suara bel pintu. Hatinya mulai berbunga-bunga. Ahaai… tidak sia-sia bunga-bunga yang bermekaran di hatinya karena yang datang adalah orang-orang yang dia harapkan, tak lain Zaki dan kedua orang tuanya. Cyra masih mematung di ujung anak tangga saat Andini mempersilahkan tamunya masuk.