NovelToon NovelToon
Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Ibu Tiri Kesayangan Dan CEO Idiot

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Ibu Tiri / Orang Disabilitas
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rere ernie

“Lepaskan aku! Kalian gila ya?!” Suara Liora menggema di dalam mobil.

Di seberangnya duduk seorang anak kecil, usianya sekitar enam tahun. Wajahnya terlalu tenang dan dingin untuk anak seusianya. Anak itu mengangkat wajahnya sedikit, menatap Liora seperti orang dewasa yang sedang menilai bawahan yang tidak kompeten.

“Aku butuh kamu.” Ucap Keivan.

“Apa maksudmu butuh aku?”

Keivan menyandarkan punggungnya lalu melipat tangan kecilnya. “Kamu akan jadi ibu tiriku, menikahlah dengan Papaku.“

Keivan, bocah jenius dari keluarga Salendra, tumbuh di tengah situasi keluarga yang rumit. Ayahnya... Dewangga, seorang pria 35 tahun mengalami cedera otak yang membuatnya menjadi penyandang disabilitas intelektual (tunagrahita) dan memiliki perilaku seperti anak berusia lima tahun (Idiot). Di tengah perebutan hak waris keluarga Salendra, Liora terseret dalam rencana pernikahan yang tidak pernah ia inginkan.

Akankah Liora bersedia menjadi ibu tiri sekaligus istri bagi pria penyandang disabilitas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter — 7.

Mansion itu terasa jauh lebih tenang setelah Dewangga tertidur. Liora keluar dari kamar dengan langkah pelan agar tidak membangunkan pria itu. Begitu pintu tertutup, Codet yang berjaga di depan langsung menghela napas lega.

"Terima kasih, Nyonya."

"Aku cuma menemani dia tidur."

"Bagi Nyonya mungkin begitu. Tapi bagi kami, itu pencapaian besar."

Liora hanya mengangguk pelan, ia berjalan menyusuri koridor mansion yang panjang. Rumah itu terlalu besar untuk dihuni hanya beberapa orang. Di sepanjang lorong tergantung foto-foto keluarga yang tertata rapi. Langkahnya berhenti di depan sebuah foto besar.

Seorang pria dewasa berwajah tampan berdiri dengan setelan jas hitam, di sampingnya seorang wanita cantik tersenyum hangat. Dan di tengah mereka berdiri seorang bocah laki-laki yang tidak lain adalah Keivan.

Mata Liora berpindah ke sosok Dewangga dalam foto itu. Tatapan pria itu sangat tajam, tegas dan berwibawa. Sangat berbeda dengan Dewangga yang sekarang selalu ribut meminta es krim dan takut ditinggalkan sendirian.

"Foto itu diambil sebelum kecelakaan."

Suara dingin Keivan terdengar dari belakang.

Liora sontak menoleh, bocah itu rupanya sudah kembali dari rumah utama.

"Kamu muncul tanpa suara."

"Aku berjalan seperti biasanya."

"Terserah." Liora mengangkat bahunya.

Keivan berdiri di sampingnya dan ikut menatap foto tersebut, dan untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara. Mata Keivan tertuju pada sosok wanita yang tersenyum hangat di dalam foto.

"Itu Mama." Nada suaranya tetap tenang, tetapi kali ini terdengar lebih pelan.

"Papa sangat mencintainya."

Liora memilih diam dan mendengarkan.

"Kecelakaan itu bukan kecelakaan biasa."

Liora menoleh. "Apa maksudmu?"

"Seseorang sengaja melakukannya." Keivan tetap menatap foto tersebut.

Koridor mendadak terasa lebih sunyi, dan bulu kuduk Liora seketika berdiri.

"Mama meninggal hari itu."

Liora menatap bocah itu sekilas, kini ia melihat Keivan sebagai anak kecil yang kehilangan keluarganya. Bukan sebagai bocah jenius yang menculik seseorang demi mencarikan ibu tiri untuk ayahnya. Liora melihat kesedihan yang selama ini tersembunyi di balik wajah sok dewasa bocah itu.

"Papa menyaksikan saat perlahan-lahan Mama meninggal di dalam mobil." Keivan mengepalkan tangannya pelan. "Dan Papa mengalami cedera otak yang sangat parah, Papa koma cukup lama."

Liora menarik napas dalam-dalam. Entah kenapa, matanya tiba-tiba terasa panas. Selama ini ia mengira hidupnya sudah cukup menyedihkan. Dia memiliki ibu tiri dan saudara tiri yang jahat, ayah kandung yang tak peduli, serta ibu kandung yang masih terbaring di rumah sakit. Namun kini ia sadar, bukan hanya dirinya yang hidup dengan luka. Masih banyak orang lain yang menanggung rasa sakit yang sama, bahkan mungkin lebih berat darinya.

"Saat sadar... Papa sudah tidak sama lagi. Dokter bilang, kemampuan kognitifnya rusak. Secara fisik beliau selamat, tapi ada sebagian dirinya tertinggal pada hari kecelakaan itu. Dokter bilang, Papa mengalami trauma." Keivan tersenyum tipis, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

Dada Liora kembali terasa sesak, kini ia mulai mengerti mengapa semua orang di mansion itu begitu melindungi Dewangga. Dan mengapa Keivan yang masih sangat kecil harus tumbuh terlalu cepat.

“Itulah alasan aku mencarikan seseorang untuk Papa. Seseorang yang bisa menemaninya, sekaligus membantuku mengurus perusahaan.”

Liora langsung mendelik. "Aku bilang, aku nggak mau."

"Sayangnya, sekarang Papa menyukaimu."

"Itu tetap bukan alasan untuk kami menikah."

"Bagiku... alasan Papa menyukaimu lebih dari cukup."

Dasar bocah aneh! Liora memijat pelipisnya.

Sebelum Liora sempat bicara lagi, suasana di luar tiba-tiba berubah. Langit yang sejak tadi cerah perlahan menggelap, awan hitam bergerak menutupi matahari. Tak lama kemudian, terdengar suara angin berembus kencang di luar jendela mansion.

Brsssshh...

Hujan turun mendadak, butiran air menghantam kaca-kaca besar mansion dengan suara yang cukup keras.

"Cuaca hari ini buruk," gumam seroang pengawal yang berdiri tidak jauh dari mereka.

Beberapa pelayan segera menutup jendela-jendela yang masih terbuka. Hujan semakin deras, langit siang berubah suram seperti menjelang malam.

Liora sempat memperhatikan pemandangan itu beberapa detik.

Namun tiba-tiba...

GRAAAARRR!

Kilatan petir menyambar langit, disusul suara gemuruh yang sangat keras.

BRAK!

Dari lantai dua terdengar suara benda jatuh, semua orang langsung menoleh.

"Itu dari kamar Papa!" seru Keivan.

Mereka segera berlari menuju lantai dua. Saat tiba di depan kamar, pintunya sudah terbuka. Dewangga berdiri di tengah ruangan dengan wajah pucat, boneka anjing kesayangannya terjatuh di lantai. Tubuh pria itu gemetar, matanya terlihat panik.

Beberapa pengawal pribadi pria itu berjaga tak jauh dari tempat Dewangga berdiri, tetapi tak seorang pun berani mendekat.

Begitu melihat Liora, Dewangga langsung berlari. "Liora!"

Pria itu memeluknya begitu erat hingga Liora hampir kehilangan keseimbangan. Tubuhnya sempat terdorong ke belakang akibat berat badan Dewangga, tetapi ia berhasil menahan diri dan kembali menyeimbangkan posisinya.

"Ada apa?"

Dewangga tidak menjawab, tangannya justru semakin erat memeluk tubuh Liora. Tubuhnya masih gemetar, Liora akhirnya menyadari jika pria itu sedang ketakutan.

"Kamu takut?" tanya perempuan itu lagi.

Dengan perlahan ia menunjuk ke arah jendela, di luar sana hujan masih turun deras. Sesekali kilatan petir membelah langit kelabu, mata Dewangga mulai berkaca-kaca.

"Aku terbangun... Liora nggak ada. Aku mau cari... tapi malah ada suara keras." Lanjut Dewangga dengan suara bergetar.

Petir kembali menggelegar di kejauhan, Dewangga langsung memejamkan mata dan tanpa sadar semakin erat memeluk Liora. Benar-benar seperti anak kecil yang ketakutan saat badai datang.

"Liora pergi ninggalin aku..."

"Nggak."

"Liora pergi!"

"Nggak pergi, aku tadi cuma mau ambil minum."

Dewangga melonggarkan pelukannya, lalu memberi sedikit jarak. Ia menatap Liora dengan wajah ragu, seolah ingin memastikan kebenaran ucapannya. “Benar?”

"Iya."

"Jangan pergi lagi."

Liora menghela napas panjang, tangannya terulur ke atas dan mengusap pelan rambut pria tinggi itu. "Iya, aku akan tetap di sini. Kali ini, aku berjanji.“

Dewangga berkedip beberapa kali, perlahan ketegangan di wajahnya menghilang. "Liora baik..."

Sementara di belakang mereka, Keivan memperhatikan semua itu dalam diam. Tatapannya perlahan berubah, karena untuk pertama kalinya sejak kecelakaan itu terjadi, ayahnya mencari seseorang selain dirinya saat ketakutan. Dan orang itu... adalah Liora.

Apalagi Keivan mendengar janji Liora yang mengatakan tidak akan pergi. Bukankah itu berarti Liora setuju menjadi istri ayahnya dan jadi ibu tirinya?

1
tinie
ooh rombongan pria berkaca mata
pasti bekerja sama dgn ibu tirinya Liora
untk menekan hati dan mental Liora yang paling salam adalah ibunya🤔🤔🤔
tinie
uuh kapan mulai perang ini
antara siapa yang melakukan kecelakaan
dan bagaimana sikap Liora jika tau dewangga sudah sadar sepenuhnya
tinie
keivan anak cerdas
tau jika ada perubahan dari ayahnya
tinie
ayook Liora kamu pasti bisaa
tinie
ooh jadi teriakan itu yang membuat kepalamu sakit
karna mengingat semuanyaa
tinie
jangan jangan saat dirumah sakit
sengaja akan dibunuh kembali
atau ada obat yang tukar🤔🤔
tinie
ahahhkeluarga gila
dihadapan tetua 🏃
tinie
dua kali di cium bocah tua🤣🤣
tinie
semoga dewangga bisa sembuh
Muft Smoker
waah ad udang di balik bakwan niih ,, 😒😒😒😒 ,,
kalo emnk si ibu tiri terlibat baik dg liora maupun dewangga ,, berarti masalah ny gx semudah yg di bayang kn ,,
Muft Smoker
loooo Blum sadar juga kah🤭🤭🤭😂😂😂😂😂😂
Muft Smoker
pov keeivan : tuk sementara dy bukan papa saya yx kak author ,,
malu ny sampe ke ubun2 ,, 😒😒😒😒😒😒😒
Muft Smoker
saya juga penasaran ,, ayoo laa duduk Manis ,, jgn lupa kopi sama popcorn ny ,, 🤭🤭🤭😂😂😂😂
tinie
dia terjebak karna kecelakaan
semoga kamu akan kembali pulih seperti sedia kala
Lovita BM
brati usia Liora masih 🤔😁 berapa kak, lupa usia dewangganya ???
Lovita BM: 23th 😁
total 2 replies
Rita
wah bikin penasaran dan makin tegang
Rita
curhat dan nyindir lgsg depan orang2nya🤣
Rita
😂😂😂😂😂lah mang bener
Rita
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg besar kyk anak kecil yg anak kecil dah mikir terlalu dewasa
Rita
dasar👍👍👍😂😂😂😂😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!