Maharaya, sosok gadis yang tak pernah mendapatkan kasih sayang dari ibunya.
Tiap hari dia diharuskan mengalah pada Mira, adiknya. Hanya karena statusnya sebagai seorang kakak.
Bahkan ketika kekasihnya direbut oleh Mira dia tetap diam.
Arga, adalah pria yang telah dicampakkan oleh Mira, karena profesinya yang hanya seorang tukang ojek online. Arga mendekati Maharaya, dan keduanya pun menjalin hubungan.
Akan tetapi tanpa di sadarinya dia memiliki satu
rahasia yang bahkan dia sendiri pun tidak mengetahuinya. Dan tanpa diketahui siapapun, ternyata Arga juga menyimpan satu rahasia.
Rahasia apa yang sebenarnya dimiliki oleh MAHARAYA dan Arga. Dan apakah akhirnya keduanya benar-benar bersatu. Bagaimana reaksi Mira ketika rahasia mereka akhirnya terungkap?
Ikuti kelanjutan kisahnya dalam
Hanya Karena Aku Anak Pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pergi
"Itu tidak benar, Pak. Itu tidak benar. Bapak bohong. Bapak bohong bilang kalau tidak sayang pada Raya."
Bukan hanya Raya, bahkan Bu Lusi dan Mira juga tak percaya bahwa ternyata Pak Hamid tidak pernah menyayangi Raya.
"Ibu... Raya juga sayang sama Ibu. Tidak apa-apa kalau Ibu tidak sayang sama Raya. Bilang sama Bapak, Bu. Raya mau tetap di sini. Raya mau nurut sama Ibu. Tidak apa-apa kalau Raya harus tetap mengalah sama Adik, Bu...?" Raya beralih ke Bu Lusi. Tapi Ibunya melengos dan tak peduli sama sekali, membuat Raya frustasi.
"Adik... Adik tahu kan kalau Kakak sayang sama Adik? Kakak selalu mengalah sama Adik. Iya kan? Kakak selalu memberikan apa yang Kakak punya. Iya kan? Bahkan semua pacar Kakak pun, Kakak tidak pernah menahan mereka jika Adik mau. Iya kan?!" Raya beralih ke Mira. Walaupun Raya tahu Mira membencinya, tapi Raya masih berharap sedikit saja adiknya itu berbelas kasih padanya.
"Huh... Mengalah, Kakak bilang. Apa Kakak lupa, Kakak bahkan mempermalukan aku di depan Kak Rizwan?!" Raya menggeleng. Itu adalah pertama kalinya Raya tidak mengalah.
"Kakak tahu Kakak salah untuk hal itu. Kakak minta maaf, Dek. Kakak janji tidak akan mengulanginya lagi!" Raya terus memohon.
"Telinga Kakak itu budeg, ya?! Kakak tidak paham juga jika kehadiran Kakak itu sudah tidak diharapkan? Huh... Bagaimana rasanya saat Kakak tahu, kalau semua kasih sayang yang Kakak terima selama ini adalah palsu?!" ucap Mira seraya berkacak pinggang. Dia seolah mendapat kesempatan untuk mengeluarkan segenap uneg-unegnya.
"Sudah. Cukup!" Mas Bejo, yang ternyata baru dia ketahui bahwa itu adalah Kakaknya itu, menarik tangan Raya agar tak lagi berlutut.
"Sekarang kau tahu kan apa arti kehadiranmu bagi mereka? Tak lebih dari sekedar sumber uang yang menghidupi mereka. Untuk apa kau masih ingin tetap bersama mereka?!" ucap Mas Bejo.
"Itu tidak benar, Mas. Mungkin Bapak memang lagi marah. Besok Bapak pasti baik lagi...?" Raya masih ingin bertahan.
"Maharaya...!! Apa kau tidak paham bahasa manusia?!" bentak Pak Hamid. "Lalu dengan cara apa saya harus mengusirmu?!"
Raya menggeleng tidak percaya. Bapaknya bahkan sudah menggunakan kata "saya" untuk memanggil dirinya. Tidak ada lagi panggilan "Bapak".
"Ayo kita pergi. Jangan jadikan dirimu pengemis yang tak punya harga diri," ucap Mas Bejo lagi sambil menggandeng tangan adiknya untuk segera pergi.
"Barang-barang Raya...?" potong Raya.
"Kau tidak akan membutuhkan barang-barang sampah itu. Kakak dan Daddy sudah menyediakan apa pun yang kau butuhkan di rumah kita!" ucap Mas Bejo, yang bahkan membiarkan begitu saja tas kerja Raya tertinggal di kursi.
Raya pun mengangguk. "Sebentar, Kak," Raya berhenti. Dia menoleh ke arah Pak Hamid yang bahkan tak mau menoleh padanya.
"Bapak...?" Raya ingin memeluk Pak Hamid untuk yang terakhir kalinya, tapi dia sama sekali tidak menyangka jika Pak Hamid justru menghindar, lalu berlalu menuju ke kamarnya.
Brak...
Suara pintu yang tertutup keras membuat Raya terlonjak. Bukan hanya telinganya. Hatinya pun sakit. Terasa sesak di dadanya, membuat air matanya kembali berlinang.
***
"Untuk malam ini kita akan tinggal di apartemen Kakak. Besok pagi baru kita pulang ke negara XX!" ucap Mas Bejo. "Bersihkan dirimu. Di kamar atas, sebelah kanan. Kakak sudah menyiapkan keperluanmu di sana!" Raya hanya mengangguk tanpa suara. Hatinya sedang berselimut duka.
Raya melangkah menuju kamar yang dimaksud Mas Bejo. Tuan Abdullah hanya bisa memperhatikan. Hatinya ikut pedih melihat putrinya menangis.
"Sudahlah, Ayah. Raya akan terbiasa nanti!" ucap Mas Bejo.
"Ayah kasihan melihatnya, Ben. Dia benar-benar terpukul!" ucap Tuan Abdullah.
"Raya gadis yang kuat. Dia pasti akan cepat bangkit. Kalau saja orang-orang suruhan si Malik sialan itu tak menyerangnya secara terang-terangan, mungkin Ben bisa memberikan dia waktu untuk menyiapkan hati. Tapi ini...!" Ben menghentikan ucapannya, lalu mengotak-atik ponselnya.
***
Sementara itu, di kamar atas.
Raya memandang sekeliling kamar. Tampak kosong. Hanya ada bed dan meja rias, juga lemari. Tapi semuanya kosong. Tanpa isi. Tapi dia melihat ada dua paper bag di atas ranjang. Raya melihatnya. Salah satunya berisi pakaian. Satu lagi berisi peralatan makeup.
"Tentu saja Mas Bejo tahu yang kubutuhkan. Dia yang selalu menemani ku jika butuh ini itu, di luar jam kerja!" gumam Raya. Dia ingat, Mas Bejo tak pernah keberatan jika dia minta diantar ke mana pun. Bahkan seolah Mas Bejo tahu kapan kebutuhan sehari-harinya sebagai wanita habis, dan selalu menawarkan diri.
"Jadi selama ini dia selalu menjagaku, karena aku ini adiknya? Jadi sekarang aku seharusnya memanggilnya Kakak...?" Raya ingat tadi Mas Bejo menyebut seperti itu pada dirinya sendiri. "Jadi nama Bejo itu kependekan dari Benyamin Jordan?!"
Pantas saja aku sering merasa aneh, karena namanya tidak sesuai dengan wajahnya. Jadi benar kata teman-teman kalau wajah kami mirip?! Dulu Raya tak percaya waktu temannya bilang mereka mirip. "Mirip dari mananya?" begitu pikirnya. Ternyata inilah alasannya: karena mereka kakak-adik.
Jadi sebenarnya betul kata Mira, dia itu yang selalu mengoloknya "bule nyasar"?! Sekarang teka-teki itu terjawab sudah.
***
Sementara itu, di rumah Pak Hamid.
"Ayo makan, Pak. Ini sudah malam...!" Bu Lusi masih membujuk suaminya untuk keluar kamar. Sepeninggalan Raya, suaminya itu masih betah berdiam diri di sana. Hanya duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur, diam, tanpa suara. Hanya sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Sampai kapan Bapak akan terus seperti ini? Anak itu sudah pergi. Sekarang orang hanya akan melihat Mira!" bentak sang istri. Pak Hamid mendongak. Menatap tajam ke arah istrinya.
"Huh... Menurut Ibu apa yang orang akan lihat pada diri Mira?!" tanya Pak Hamid datar.
"Semuanya! Mira cantik, pintar, dan tentu saja berkelas. Dia juga pandai bergaul!" jawab sang istri percaya diri.
"Apa Ibu pikir hanya dengan itu saja cukup untuk orang menoleh padanya? Apa Ibu tidak sadar seperti apa watak Mira? Apa Ibu tahu, apa yang ada dalam diri Raya yang tidak dimiliki oleh Mira? Ketulusan, dan hati yang bersih. Mira tidak punya semua itu!"
"Jangan berpura-pura tidak tahu jika hati anak kita itu dipenuhi sifat iri dengki. Dan itu suatu saat akan menghancurkan dirinya sendiri!" tegas Pak Hamid.
"Lebih baik Ibu makan dengan Mira. Tidak usah menunggu Bapak. Bapak akan makan jika sudah merasa lapar!" ucap Pak Hamid lalu bangkit dan menuju kamar Raya. Dipandangnya sekeliling kamar. Serasa masih ada Raya di sana.
"Maaf... Maafkan Bapak!!" Bapak menangis tersedu sambil memeluk guling yang biasanya menjadi teman tidur Raya. Wanginya, seperti harum tubuh Raya.
"Bapak juga tidak ingin kamu pergi, tapi kamu memang harus pergi. Tempatmu bukan di sini!" ucap Bapak lirih.
Masih terngiang di telinganya cerita dari Tuan Ben tentang Raya, di mana Raya mendapatkan serangan kemarin malam. Juga saat Raya nyaris celaka karena ditabrak mobil. Semua itu bukan kebetulan, bukan kecelakaan, tapi memang ada yang menginginkan kematian Maharaya. Dan Bapak tidak mau itu terjadi. Karena itulah Bapak terpaksa mengusir Raya dengan cara seperti tadi.