Menghindar dari pernikahan dengan healing ke timur tengah, siapa sangka justru ia membuat sang pangeran jatuh cinta dan menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Nova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
Saat ini, Zayn, Rania, Ratu Latifa tengah berada di dalam kamar hotel sang ibu. Setelah tadi datang ke resepsi pernikahan, Ratu Latifa meminta untuk berbicara dengan Zayn dan Rania. Dan akhirnya, disinilah mereka berada. Di dalam kamar deluxe room yang ditempati oleh Ratu Latifa.
Zayn terus menggenggam jemari sang istri. Ia paham jika Rania tengah gelisah saat bertemu dengan sang ibu.
Zayn duduk berdampingan dengan Rania, sementara ratu Latifa duduk di hadapan mereka. Matanya menyorot ke arah pasangan suami istri tersebut.
" Apa yang ingin ibu bicarakan ? Jika ibu ingin memisahkanku dengan Rania, maka bisa kupastikan itu tidak akan pernah terjadi " ucap Zayn tegas dan penuh penekanan.
Ratu Latifa menatap Zayn dengan tatapan tak terbaca. Ia kemudian menghela nafasnya.
" Zayn... Apa kau sudah tidak menganggap ibumu ini, Nak ? Sampai-sampai kau merahasiakan pernikahan kalian ? " tanya Ratu Latifa, suaranya terdengar lirih dan penuh kekecewaan.
" Maafkan aku, ibu... Hanya saja, jika aku memberitahu ibu dan ayah. Apakah kalian akan merestui hubungan kami ? Sementara aku tahu jika kalian sudah menjodohkanku dengan Aisha. Asal ibu tahu, aku tidak pernah mencintai Aisha. Aku hanya menganggapnya seperti adikku sendiri. Selain itu, seharusnya ibu tahu jika Kemal dan Aisha itu saling mencintai " jelas Zayn panjang lebar.
Ratu Latifa kembali menghela nafasnya.
" Ya, Kemal sudah mengatakannya " ucap sang ratu.
" Lalu, apa tanggapan ibu ? " selidik Zayn.
Ratu Latifa menarik nafas dalam-dalam.
" Awalnya, ibu sempat menentang hubungan Kemal dan Aisha. Tapi kemudian, ibu menyadari jika perasaan tidak bisa dipaksakan. Yang paling penting adalah kebahagiaan kalian. Ibu tidak ingin egois. Sudah cukup berkaca pada masa lalu, ibu tidak ingin kalian menjadi korban keegoisan orang tua " beber ratu Latifa.
Ia menerawang kembali ke masa lalu. Masa-masa saat ia dulu dijodohkan dengan sang suami yang merupakan seorang putra mahkota yang juga merupakan kekasih dari sahabatnya sendiri.
Ya, dulu sebenarnya Ratu Latifa adalah sahabat dari Hana, ibu kandung Zayn. Hana memiliki hubungan dengan Pangeran Abbas, yang merupakan putra satu-satunya dari Raja Salman. Otomatis Pangeran Abbas adalah putra mahkota kerajaan.
Pangeran Abbas menikahi Hana tanpa restu dari orang tuanya. Bahkan setelah hubungan mereka diketahui, tetap saja pernikahan mereka dirahasiakan dari khalayak ramai dan justru Pangeran Abbas dijodohkan dengan Latifa, yang merupakan anak seorang pejabat kerajaan.
Latifa tak kuasa menolak, karena desakan orang tuanya. Begitu pula dengan Pangeran Abbas. Statusnya sebagai putra mahkota membuatnya harus menerima perintah orang tuanya demi nama baik kerajaan.
Pangeran Abbas menerima perjodohan itu, dengan syarat pernikahannya dengan Hana direstui. Akhirnya, pernikahan mereka memang direstui namun publik hanya mengetahui jika istri Pangeran Abbas adalah Latifa. Tidak ada yang mengetahui jika Latifa hanyalah istri kedua dari Pangeran Abbas. Bahkan saat Zayn lahir pun, publik hanya mengetahui jika yang melahirkan Zayn adalah Latifa.
Walaupun begitu, Latifa sangat menyayangi Zayn sebagaimana anak kandungnya sendiri. Apalagi, lambat laun ia mulai mencintai sang suami.
Jika Latifa mulai mencintai Pangeran Abbas, lain halnya dengan suaminya itu. Bagi Pangeran Abbas, Latifa hanyalah istri di atas kertas. Tak pernah ada rasa cinta kepada istrinya itu karena semua cintanya telah ia berikan kepada Hana dan Zayn.
Hana sadar jika Pangeran Abbas juga harus memberikan haknya sebagai suami kepada Latifa. Oleh karena itu, ia meminta Pangeran Abbas untuk mulai membuka hati kepada Latifa.
Ia juga meminta Pangeran Abbas memenuhi kewajibannya lahir dan batin kepada Latifa. Walaupun terasa menyakitkan, tetapi Hana berlapang dada dan merelakan Pangeran Abbas. Semua diterima oleh Hana karena ia tahu, jika Latifa adalah wanita yang baik dan layak bersanding dengan sang suami.
Walaupun sulit, Pangeran Abbas akhirnya menuruti permintaan Hana dengan syarat jika kelak Latifa memiliki anak, hanya Zayn yang bisa menjadi putra mahkota.
Pangeran Abbas bersikukuh menjadikan Zayn putra mahkota. Hal ini dikarenakan ia merasa tidak bisa mengakui Hana sebagai pendampingnya. Oleh karena itu, ia bertekad menjadikan Zayn sebagai putra mahkota sebagai penebus rasa bersalahnya kepada Hana.
Hal ini tak ditentang oleh Latifa. Bahkan kedua orang tua Pangeran Abbas pun tak kuasa menolak keinginan Pangeran Salman. Sehingga akhirnya Zayn didapuk sebagai putra mahkota berikutnya.
Mereka hidup berdampingan, sampai akhirnya Kemal lahir. Dan tak berselang lama, Hana pun meninggal dunia. Semenjak Hana meninggal, Pangeran Abbas yang telah dinobatkan menjadi raja terus berupaya untuk menjadikan Zayn sebagai calon penggantinya kelak.
Sejak kecil, Zayn sudah diberikan pendidikan terbaik. Bahkan ia pun disekolahkan ke luar negri agar ia siap jika nanti harus menggantikan sang ayah mengambil tahta kerajaan.
Jika merasakan lelah, Latifa lah yang selalu menyemangati Zayn. Ia begitu menyayangi Zayn dan menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri. Ia tak pernah membedakan perlakuan antara Zayn dan Kemal.
Selain Latifa, ada pula sang nenek yang selalu mendukung Zayn. Sejak Hana hamil, Nenek Zara lah yang merawatnya. Ia bahagia melihat sang anak begitu bahagia bersama dengan wanita pilihannya. Hanya saja, ia tak bisa melawan kehendak sang suami. Oleh karena itu, hanya dengan merawat Hana ia bisa menebus rasa bersalahnya kepada anak dan menantunya itu.
" Ibu... Ibu... " panggil Zayn sambil menelisik sang ibu yang terlihat melamun.
Ratu Latifa kembali tersadar dari lamunannya. Ia tersenyum saat melihat ke arah Zayn dan Rania.
" Ibu baik-baik saja " ucap Ratu Latifa.
Pandangan matanya melihat ke arah Zayn dan Rania. Tangan Zayn tak lepas sedikit pun menggenggam tangan Rania. Melihat hal itu, Ratu Latifa tersenyum.
" Rania... Ibu tahu, mungkin ini sedikit berat utukmu. Kau berada di posisi yang serba salah. Tapi percayalah, ibu akan selalu mendukung kalian. Apapun yang akan terjadi nanti, ibu harap kau selalu percaya kepada Zayn. Kalian harus saling menguatkan. Sesulit apapun masalah yang datang dalam kehidupan kalian, kalian harus tetap berdampingan seperti ini " nasehat dari Ratu Latifa.
Rania menganggukkan kepalanya. Ratu Latifa membuka kedua lengannya agar Rania masuk ke dalam pelukannya.
Sebelum memeluk sang ratu, Rania lebih dulu menatap Zayn. Setelah Zayn memberi isyarat dengan anggukan kepalanya, Rania pun menghambur memeluk Ratu Latifa.
" Ibu harap kalian selalu bahagia. Seberat apapun jalan yang akan kalian lalui, tetaplah mendampingi suamimu dalam suka dan duka " ucap Ratu Latifa sambil mengusap punggung Rania.
" Terima kasih, yang mulia ratu... "
" Tidak, panggil saja saya ibu. Saat ini, kau juga sudah menjadi anakku " sela Ratu Latifa.
Air mata haru luruh dari sudut mata Rania.
" Terima kasih... Terima kasih ibu " ucap Rania.
Melihat pemandangan itu, Zayn sangat bersyukur karena sang ibu dapat menerima keberadaan Rania sebagai menantunya. Kini pekerjaan rumah terbesar Zayn adalah menghadapi dan mendapatkan restu sang ayah.
Dan sesungguhnya Zayn tahu, jika hal itu tak akan mudah ia dapatkan.