Syafira Andriani terjerat siluman ular yang dendam dan benci padanya, akibat kesalahan yang tak ia sengaja, ia harus terjebak di dalam sebuah istana yang di penuhi dengan ular-ular berbisa, ular-ular itu bukan ular-ular biasa, mereka semua adalah siluman ular yang begitu mengerikan di mata gadis berusia 20 tahun tersebut.
Syafira yang phobia dengan ular hidup dalam ketakutan di istana yang megah dan menawan itu, ia sangat takut dengan sekelilingnya, di sana tak ada satupun orang yang ia kenali.
Bagaimana hidup Syafira selanjutnya, apa kesalahan yang sudah ia perbuat? lalu apakah Syafira bisa keluar dari istana dan terlepas dari jerat siluman ular tersebut?
Penasaran dengan kelanjutan kisahnya! jangan lupa pantengin terus dan ikuti kelanjutannya. Dan jangan lupa pula beri dukungan agar author bisa lebih semangat!
Jangan lupa follow akun media sosial author!
Tik-tok:makhlukangkas4
Ig: makhluk_angkas4
Snack Video: Makhlukangkas4
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifdetul Faihak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelidiki Maura dan Lucas
Pangeran William mengerutkan alis."Mencurigakan? Mencurigakan gimana?"
Selama pangeran Wiliam tinggal seatap dengan Maura tak terbesit rasa kecurigaan di hatinya.
Maura terlihat seperti Maura yang biasa di kenali semua orang, tak ada sesuatu yang mencolok yang ia tampilkan.
"Mencurigakan aja gitu. Dari apa yang aku lihat tadi, aku perhatikan Lucas dan Maura itu punya hubungan jauh dari kata teman biasa, aku yakin ada sesuatu yang tersembunyi yang kita tidak tau. Aku ngajak kamu ke sana biar misteri ini bisa terungkap"
Pangeran Wiliam terdiam, ragu untuk kembali singgah di kawasan musuh yang setiap hari membuatnya terus khawatir. Takut sewaktu-waktu pihak musuh menyadarinya dan membunuhnya.
"Wiliam, kenapa diam aja, apa kau ragu untuk ke sana lagi. Kau sudah hidup di sana dalam waktu yang gak sebentar, apa kau masih takut mati seperti pertama kali kau di kirim ke sana?"
"Jelas tidak, aku tidak takut sama apapun, apalagi sama mereka" bantah cepat pangeran William.
Harga diri harus pangeran Wiliam junjung tinggi, tidak mau harga dirinya hancur di depan kakaknya.
Gengsi pangeran William mengungkap kalau ia takut untuk kembali ke sana alhasil ia memutuskan sesuatu yang membuat jantungnya tak aman.
"Kalau kau beneran tidak takut, seharusnya kau tidak mundur dari ini semua. Tunjukkan kalau kau memang laki-laki, jangan mundur sebelum perang di mulai!" Tegas pangeran Andara.
Pangeran Wiliam diam seribu bahasa, terjebak dalam permainannya sendiri, kini ia tidak bisa mundur ia terlanjur setuju.
"Ayo kita berangkat, ini adalah waktu yang pas untuk menyelidiki kebenaran yang telah lama terpendam" ajak pangeran Andara penuh semangat.
"Mengapa harus malam hari seperti ini kak, kenapa gak besok aja?" Ujar pangeran William membuntuti kakaknya yang berjalan di depan.
Malam-malam pergi ke kawasan musuh menguji nyali, mereka hanya pergi dengan membawa sebilah pedang. Tidak ada senjata tajam lagi yang mereka bawa untuk bekal di jalan.
"Kalau menunggu matahari terbit kelamaan, aku ingin malam kita cari tau tentang Maura dan Lucas. Karena habis ini aku akan kembali ke alam manusia lagi, istri ku lagi mengandung aku tidak bisa meninggalkannya" sahut pangeran Andara.
Pangeran William menelan ludah, keputusan kakaknya tak dapat di ganggu gugat karena sudah bulat.
Rasa cinta pangeran Andara untuk Syafira menjadikan pangeran Andara tak terlalu mementingkan apapun yang ada di istana, yang ada di pikirannya hanyalah Syafira yang lagi berada di alam manusia tanpa pengawasan.
"Kak beneran Syafira hamil, sejak kapan dia hamil, kenapa aku baru tau?" Sedikit terkejut pangeran William.
Kabar baik itu belum terdengar ke telinga para petinggi istana, pangeran Wiliam saja terkejut hebat atas berita kehamilan Syafira.
"Jadi gini ceritanya waktu itu...."
Flashback on.
Di malam yang sama ketika Syafira menangkap langsung pengkhianatan pangeran Andara dan Maura.
Pangeran Andara tak sadar akan hal itu, ia keluar dari kamar Maura setelah wanita ular itu tidur lelap.
Mengusap tubuhnya dengan kasar, tanda kalau pangeran Andara risih dengan Maura.
Pangeran membuka kamarnya, tercekat sekejap karena tidak ada wanita yang ia cinta di dalam.
"Syafira, Syafira kamu di mana, fira"
Berulang-ulang kali pangeran Andara memanggil nama istrinya sebab dia menghilang dadakan dari tempat tidur.
Pangeran mencari ke seluruh penjuru kamar tapi tetap saja tidak ada. Keresahan tiba-tiba muncul, hilangnya Syafira secara dadakan menyebabkan pangeran Andara kebingungan.
"Kemana Syafira, kenapa dia gak ada di kamar. Apa dia melarikan diri?"
Firasat buruk pun datang menghantui, alih-alih dugaan kabur dari istana tiba-tiba muncul.
Upaya Syafira untuk melarikan diri selalu di gagalkan pangeran Andara. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau Syafira berhenti mencoba apa yang dia inginkan.
"Tidak, aku tidak akan biarkan Syafira pergi, dia tidak boleh pergi"
Dengan panik pangeran Andara bergegas mencari istrinya yang di rasa melarikan diri.
Di malam yang gelap pangeran Andara berlari keluar dari istana demi mencari Syafira seorang diri.
Tidak akan pangeran biarkan Syafira meninggalkannya di tengah cinta yang membara di hati.
"Syafira, Syafira kamu di mana, Syafira kamu ada di sini kan"
Dalam gelapnya malam pangeran Andara berteriak-teriak memanggil nama gadis yang menghilang dadakan dari istana.
"Syafira, Syafira, Syafira kamu......."
Ucapan pangeran Andara terhenti, menatap tajam ke sebelah barat.
Perlahan-lahan pangeran Andara mendekati sosok yang tersenyum penuh arti di dekat pohon beringin.
"Siapa kau?"
"Pangeran carilah istri mu segera, dia sedang hamil, dia tengah mengandung anak mu" ucap seorang nenek-nenek bungkuk memegang tongkat kayu.
Mata pangeran Andara membulat sempurna."APA, SYAFIRA HAMIL!"
Sontak pangeran Andara terkejut, penuturan nenek-nenek tua mengguncang dunia.
"Benar pangeran, istri mu sedang hamil muda, kau harus menjaganya, jangan sampai musuh mengetahui keberadaan anak mu yang ada di rahim istri mu, karena bisa saja mereka membunuhnya, tidak akan mungkin mereka biarkan anak itu lahir ke dunia ini" peringatan keras nenek-nenek bungkuk.
Pangeran Andara mematung, rasa ingin bertemu dengan istrinya langsung meningkat, kabar baik itu membuat pangeran ingin segera menemukan Syafira.
"Baik, aku pasti akan menjaganya, tapi tolong beri tau aku, di mana dia sekarang. Apa dia lari ke arah sini?"
Mulut nenek bungkuk terkunci rapat, sorot mata tajam itu menciptakan tanda tanya di benak pangeran Andara.
"Istri mu pulang kembali ke tempat asalnya, percuma kau mencarinya di seluruh hutan ini karena tidak mungkin kau temukan. Cari lah dia di alam manusia, dia ada di sana"
Pangeran Andara mengangguk patuh, walau secuil tapi pangeran tetap mendapatkan informasi terkait keberadaan Syafira.
"Terima kasih nek, terima kasih sudah memberitahu ku"
Nenek-nenek bungkuk hanya mengangguk."Sama-sama pangeran, senang membantu mu. Tapi aku mencium tanda-tanda bahaya yang mengancam istri mu. Aku memprediksi kalau anak di rahim istri mu tidak akan sampai lahir ke dunia ini"
Mata pangeran Andara langsung melotot."Apa maksud mu!"
Hardikan keras meluncur, amarah langsung memuncak, nenek-nenek tua itu begitu berani memutuskan sesuatu yang belum terjadi.
Memvonis Syafira yang bukan-bukan telah berakibat fatal, sebab emosi pangeran Andara langsung meningkat tajam.
"Pangeran, aku hanya memprediksi, aku tidak tau apa itu benar terjadi atau tidak"
Senyum penuh ejekan yang meluncur di wajah nenek-nenek bungkuk makin membuat pangeran Andara meledak-ledak.
Nenek-nenek bungkuk itu begitu berani, tanpa sadar ulahnya membuat wajah pangeran Andara menghitam menahan amarah.
Jika saja bukan karena nenek-nenek itu yang telah membantu pangeran Andara mengetahui lokasi Syafira saat ini, maka sudah pasti nenek-nenek bungkuk itu tidak akan bisa melihat dunia lagi.
Walau semarah apapun akan pangeran Andara tahan karena ia juga masih tau caranya balas budi.
"Jika kau tidak bisa menjaganya dengan baik maka sudah pasti dia akan lenyap di tangan musuh mu sendiri hahaha" tawa menggelegar memenuhi hutan.
Nenek-nenek bungkuk itu menghilang setelah berhasil membuat darah pangeran Andara mendidih.
"Kurang ajar, beraninya dia membuat ku tertekan!" geram pangeran Andara mengepal kuat tangannya.