Elvira Pranata berada dalam situasi yang sulit. Ia baru saja kehilangan saahabatnya yang meninggal menjelang hari pernikahan, namun Ia juga harus menjalankan wasiat sang sahabat untuk menjaga keluarganya saat itu.
Bahkan tak hanya itu. Calon suami dari Mita_sahabat Elvira pun menjadi begitu bergantung padanya untuk segala hal.
Bayu 25tahun. Saat itu divonis lumpuh akibat kecelakaannya bersama sang calon istri. Ia terngiang ucapan terakhir Mita agar Bayu menjaga Elvira, hingga apapun yang terjadi hanya Elvira yang selalu ada dalam memorinya.
Hingga akhirnya dengan segala perjuangan, pihak keluarga menikahkan mereka berdua. Tak hanya karena wasiat, tapi karena Bayu begitu membutuhkan El saat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Surliandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PLIS 27
Elvira sudah begitu kehilangan moodnya. Sejak kejadian tadi ia melakukan semua pekerjaan dengan muka masam dan jarang tersenyum seperti biasa, bahkan ketika ia memandikan Bayu ia sama sekali tak menatap suaminya meski sejenak. Bayu merasa tak nyaman dan merasa bersalah padanya.
“Elvira?” panggil Bayu dengan lembut ketika El tengah menggosok bahunya saat itu.
“Iya, Bang? Ada apa?”
“Masih kesal gara-gara bakso?”
“Bukan perkara baksonya, Abang. Tapi mama yang kenapa sampai segitunya gara-gara itu?” cebik Elvira yang masih berusaha menahan kekesalan didalam hatinya. Ia beberapa kali manarik hembuskan napasnya hanya untuk tak terpancing emosi denga napa yang baru saja terjadi.
“Udah lah, lagi-lagi El yang salah. Coba makan ditempat aja tadi,” imbuhnya yang kemudian meraih handuk dan menutup bagian tubuh Bayu yang mulai kedinginan. Ia juga mengelapi bagian yang masih sangat basah dengan handuk lain dan membawanya keluar untuk ia gantikan pakaiannya.
Suasana sore itu cukup dingin dengan rintikan gerimis yang membasahi halaman rumah besar itu. Tampak dari kaca, dan Bayu memperhatikannya sembari mengenakan sebuah sweater yang dipakaikan oleh Elvira padanya agar tak kedinginan.
Bayu duduk di kursi biasa saat itu dengan kaki ditaruh disebuah alat terapi getar dibagian bawah telapak kakinya. Getaran dari terapi megnetik itu cukup kuat, tapi Bayu tetap tak bisa merasakannya sama sekali saat ini.
“Bisa dinaikin getarannya?” pinta Bayu pada El saat itu.
“Ngga bisa, ini udah kenceng. Perlahan seperti ini aja, nanti lama kelamaan pasti terasa kok.” El langsung berdiri dan meraih handuk saat itu dan masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Bayu dengan alat terapinya.
Bayu kembali menatap luar jendela saat itu, sembari berusaha mencari sela dimana rasa yang akan menjalar keseluruh kakinya. Ia bersandar di bahu kursi dengan tatapan kosong dan berusaha tak mengisinya dengan ratapan dari semua kemalangan yang ada. Harus bangkit meski sulit.
Satu yang belum terwujud saat ini adalah ketika ia ingin ke makam Mita, tapi waktu dan tenaga belum mengizinkannya. Jika terlalu lelah, ia akan mimisan setelahnya.
“Bayu didalam?” panggil mama Lita dari luar.
“Masuk, Ma.” Dan mama membuka pintu untuk masuk kedalam menemui sang ptutra. Sayangnya wajah Bayu saat itu sedikit masam seakan kurang nyaman dengan kehadiran sang mama.
“Kamu marah dengan kejadian tadi?”
“Elvira belum makan siang itu demi menemani dan memastikan Bayu kenyang terlebih dahulu, tapi Mama menghancurkan mood makannya.” Jawaban Bayu begitu datar terdengar. Mama sampai tak tahu harus menjawab apa lagi saat ini padanya.
“Apa yang membuat kamu begitu menggilainya? Dan bahkan Seolah dengan cepat kamu melupakan MIta begitu saja,”
“Bukankah Mama juga mempertanyakan kenapa Bayu memilih Mita? Setelah dapat penggantinya, Mama kembali bertanya.”
“Bayu_”
“Jika tak ada Elvira, mungkin Bayu sudah depresi atau bahkan gila saat ini. Suara Elvira yang membuat Bayu membuka mata, bukan mama.” Bayu terlalu jujur hingga ia menyakiti perasaan mamanya sendiri saat itu. Ia begitu dingin terhadap mama kandungnya sendiri, tapi memang begitu sakit menjadi seorang Bayu saat ini.
“Jangan terlalu berlebihan, Bayu. Dia kekanak-kanakan, hanya karena bakso sampai seperti itu pada mama.”
“Tak salah, bahkan dia yang meminta maaf pada Mama sebelum diminta. Dia tak melawan,” tatap Bayu tetap pada jendela dan gerimis yang semakin deras menjadi hujan.
Kreek!! Pintu kamar mandi terbuka dan Elvira keluar saat itu. Untung saja El mengenakan handuk kimono hingga tak terlalu minim didepan mama mertua, bahkan Bayu langsung menoleh dan memberi senyum padanya saat itu.
“Eh, Mama. Maaf, Ma… El baru sempet mandi,” jawabnya menundukkan kepala dan lewat malu-malu didepan mama saat itu. El meraih pakaian yang ada di lemari untuk ia bawa lagi ke kamar mandi dan ganti disana, namun tangan Bayu mencegahnya.
“Ma,” panggil Bayu, agar mama yang keluar dari sana segera.
Mama mencebik, melangkahkan kakinya dengan hentakan yang kuat dari kamar itu dan bahkan menutup pintu hingga suaranya membuat EL terlonjak kaget mengelus dada.
“Mama bilang apa?” bisik El pada suaminya. Tapi Bayu tak menjawab, melainkan meminta El mengunci pintu kamarnya saat itu agar ia bebas mengganti pakaiannya tanpa gangguan dari siapapun.
El hanya menurut saat itu, apalagi ketika melihat mood Bayu sedikit berbeda dari sebelumnya. Ia lebih diam, datar, dan tampan menurutnya dengan mode seperti ini hingga ia tanpa sengaja terus menatap wjaah menggemaskan itu. Padahal selama ini biasa saja meski mereka sering jalan bertiga dengan MIta.
“Apa karena dia milik orang? Dan sekarang dia punyaku? Hiks… Punyaku.” Elvira salah tingkah sendiri dengan isi fikirannya saat itu.
“Kenapa?” tanya Bayu ketika meyadari Elvira menatapnya sejak tadi.
“Ehm, engga… Ngga papa. El mau ganti baju, awas,” usirnya pada tatapan mata Bayu padanya saat itu. Namun bukannya menyingkir, Bayu justru semakin intens menatap setiap lekuk tubuh Elvira yang terpampang nyata dengan indah didepan matanya.
El menjadi canggung dengan tatapan Bayu saat itu. Ia menggaruk tengkuknya dan mulai melepaskan kimononya dihadapan Bayu saat itu, berharap ada yang tersengat ketika ia melihat sesuatu. El mulai meraih bra dan akan memakainya, cukup sulit karena tak ia putar terlebih dulu dan harus mengaitkannya dari belakang seperti itu.
Sangking ia tak ingin ribet karena Bayu sejak tadi melihatnya tanpa berkedip dan ia tak mau karena gugup dan bra itu terjatuh memperlihatkan dada polosnya pada Bayu nanti.
Hingga Bayu mengulurkan tangannya hingga El mendekat, membawanya berjongkok membelakanginya saat itu untuk mengaitkan bra yang Elvira pakai. Bahkan Bayu mengecup Pundak Elvira beberapa kali hingga ia memejamkan mata dan menggigit bibirnya sendiri.
“Abang udah,” pinta El yang langsung menyingkir dari Bayu saat itu. Wajah Elvira langsung memerah bagai kepiting rebus dan ia segera membungkus tubuh indah itu dengan sebuah drees panjang dan merapikan diri.
Jantung Elvira berdetak tak karuan rasanya. Entah kenapa Bayu selalu bisa membuatnya seperti ini, dan apakah ia merasakan hal yang sama dengan Elvira. Hanya saja El tak terlalu banyak berharap, karena ia takut harapan itu akan menjadi sesuatu yang sakit nantinya.
“Kita keluar, yuk?” ajak El yang langsung mematikan alat terapi Bayu saat itu. El memindahkan Bayu ke kursi roda, dan ia langsung mendorong kursi roda itu keluar dari kamar mereka berdua.
Keduanya sama-sama sadar jika begitu ingin sebuah pernikahan sempurna yang bisa mmebahagiakan dan memenuhi satu sama lainnya. Tak munafik, karena keduanya sama-sama dewasa. Tapi keadaan membuat semua harus sabar dan menhadapinya secara perlahan.
“Maaf,” ucap Bayu yang kemudian meraih tangan El dipegangan kursi roda itu. Mengusapnya dengan begitu lembut dan ia bawa tangan itu untuk ia kecup dengan begitu mesra penuh kehangatan.
El kemudian duduk dibelakang Bayu dan memeluknya. Duduk di teras belakang menikmati dinginnya udara dengan kehangatan yang mereka ciptakan berdua.
"Demi apapun, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku," ucap Bayu untuk kesekian kalinya. Begitu takut ia jika tak ada Elvira disisinya, yang mampu melepaskannya dalam semua rasa sepi dan takut yang membelenggu dalam hati saat ini.
Elvira hanya menganggukkan kepala yang bertumpu dipundak Bayu saat itu, sesekali menelengkan kepala menatap ekspresi gemas suaminya.
ttep ya
gabisa laper sebentar🤣🤣
mana abang iam comel banget
pinter banget cuma melototin aja mewek anak orang
mana sekarang jd pawang mama lita🤣🤣🤣
si bayu sm el ini umurnya brp si
kok gemes banget🤣🤣
penasaran d dagu el ada apa
co cwit bgt😍😍😍😍😍
aku juga merasa bayu cepet move on ke El
keknya perna suka deh