Aluna Mahira biasa dipanggil Luna seorang gadis pendiam dan cantik. Terpaksa menikah dengan Robby karena sebagai jaminan pelunas hutang keluarga yang tak seberapa. Jika Lina tak bersedia maka keluarganya akan diusir dari rumah dimana mereka tinggal sekarang. Pernikahan yang seharusnya bahagia, malah menjadikan Luna bagai seorang babu di keluarga mertua. Tak ada pembelaan sedikitpun dari sang suami.
Akankah Luna memilih bertahan atau melepaskan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenangan Jiel
"Kakak, kenalan dong" seorang anak kecil menghampiri Jiel yang tengah berteduh di bawah pohon rindang. Dia sendirian.
Jiel menoleh ke arahnya.
Jiel yang saat itu liburan karena lulus sekolah dasar ke rumah kakeknya. Kakek Wibisono.
"Idih, kakak ganteng banget" sapanya dengan suara cadel. Dan dia dengan beraninya mencubit pipi Jiel yang saat itu sedikit embul.
Jiel yang saat itu suasana hatinya sedang kalut karena tengah dimarahi mama akibat tak mau makan, menjadi semakin marah karena cubitan gadis kecil itu.
Dia menangis ketika dimarahi Jiel.
"Kakak ganteng jahaaaatttt," dia pun menangis dengan keras.
Jiel bingung cara mendiamkannya.
"Kakak jahaaatt...huaaaaa.....," tangisannya bertambah keras.
"Diam dong! Ntar dikira tak nakalin loh" seru Jiel.
"Kakak nakal, sukanya mayah-mayah" gadis kecil masih dengan tangisannya.
"Diam dong. Nih kakak punya permen" Jiel menyerahkan sebungkus permen buatnya.
"Makasih kakak" ucapnya sembari mencium pipi Jiel. Jiel tak kuasa menghindar.
"Nama kamu siapa? Kok sendirian?" tanya Jiel pada akhirnya.
"Maula..." jawabnya dengan suara cadel.
"Maura?" diapun mengangkat jempolnya.
"Kakak pintal" tawanya terdengar renyah di telinga Jiel.
"Kakak namanya sapa?"
"Azriel...tapi bisa kamu panggil kakak Jiel aja" bilang Jiel.
Itulah awal perkenalan Jiel dengan Maura sosok gadis kecilnya.
Selama liburan itu Jiel sering bermain dengannya.
"Kakek, Maura nya ada?" tanya Jiel suatu pagi.
"Ada, masuk aja Jiel" Jiel kecil pun telah akrab dengan kakek Gunadharma.
"Makasih kek"
Saat masuk, didapatinya Maura tengah makan disuapin oleh pengasuh.
Selama di sana Jiel belum pernah ketemu dengan sosok orang tua Maura. Hanya kakek Gunadharma yang ada di sana.
Semenjak saat itu jika liburan sekolah Jiel selalu minta ke rumah kakek Wibisono.
Diajak liburan keluar negeri pun ditolak oleh Jiel.
Dua kali liburan Jiel masih bertemu dengan sosok kecil Maura.
Hingga suatu pagi, saat Jiel hendak ke rumah keluarga Gunadharma, didapati rumah itu telah kosong dan halaman depan hancur berantakan. Bahkan gerbang yang tinggi menjulang itu pun ikutan hancur.
Jiel kecil balik ke rumah kakek dengan raut muka kecewa.
Sejak saat itu Jiel kehilangan jejak gadis kecil yang centil.
.
Tuan Gunadharma telah menyelesaikan pidatonya di atas mimbar.
Dirinya meminta pengawalnya untuk mengantar ke arah tempat duduk Jiel.
"Haiii Jiel, kamu datang juga?" sapanya.
"Wah, kakek masih ingat saja" Jiel menyalami kakek Gunadharma.
"Ingat lah. Kakek sudah anggap kamu bagai cucu sendiri" ujarnya terkekeh.
"Apa kabar kakek kamu?" serunya.
"Sehat kek" jawab Jiel.
"Enak dia sekarang, tinggal ongkang-ongkang kaki aja. Perusahaan sudah kamu pegang kendalinya" ucap kakek Gunadharma.
"Kakek kan juga sudah ada tuan David. Waktunya kakek juga istirahat" tanggap Jiel.
Sampai sekarang sepengetahuan Jiel perusahaan Samudera Grub kendali utamanya masih dipegang oleh kakek Gunadharma.
"He...he...." kakek Gunadharma hanya menanggapi dengan senyuman.
"Andai itu bisa" ucapnya lirih. Ada nada sedih dalam suara kakek.
"Kakek" reflek Luna memanggil.
"Yaaaa" kakek Gunadharma pun langsung menoleh ke arah sumber suara.
Sejenak kakek tertegun.
"Siapa?" tatap tajam kakek ke arah Luna.
"Owh dia Aluna Mahira kek, asisten aku" bilang Jiel menengahi karena Luna tertegun melihat sang kakek.
"Owwwhhh..." kakek pun mengulurkan tangan ke arah Luna dan Luna segera mencium pungung tangan yang keriput itu.
"Main-mainlah Jiel. Pintu rumah kakek selalu terbuka untuk kamu" kata kakek.
Jiel pun tersenyum untuk mengiyakan, "Makasih kek" ucap Jiel.
Tuan David menghampiri sang kakek.
"Yah, waktunya istirahat. Ayah jangan capek-capek" ucapnya.
Kakek Gunadharma diam tak menjawab.
"Jiel, jika senggang mampirlah! Kakek pergi dulu. Nikmati pestanya" ucap kakek dengan pengawal bersiap membawanya menjauhi keberadaan Jiel dan Luna.
"Baik kek" ucap Jiel seraya berdiri, menghormati pemilik Samudera Grub yang akan pergi dari pesta. Demikian juga Luna, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Jiel.
"Tuan bos, kapan makannya? Lapar banget perut aku," bilang Luna. Jiel menanggapi dengan tawa.
Pergi dengan Luna, urusannya pasti tak jauh dengan urusan perut.
"Tuh, sebelah sana" arah mata Jiel menunjuk ke arah suatu tempat.
Terlihat beberapa pelayan masuk dengan membawa berbagai menu makanan.
Luna sampai dibuat menelan ludah dibuatnya.
"Bersihkan liur kamu!" suruh Jiel dengan menyodorkan tisu. Luna menurut saja, membuat Jiel terbahak.
Semua yang ada di sana pun menengok ke arah mereka.
Jiel dan Luna kompak menutup mulut.
"Ih tuan bos ngerjain aku ya?" kata Luna berbisik.
"Sudah tau dikerjain, tetap kamu lakukan saja" kata Jiel menahan tawa.
"Jahat" Luna hampir menangis dibuatnya.
"Issshhh kok nangis sih. Sori... Sori...aku hanya becanda" Jiel menyerahkan tisu untuk mengusap air mata Luna.
Tuan David kembali menghampiri meja Jiel.
"Tuan Azriel, makasih sekali sudah menyempatkan waktu untuk datang. Kapan ada waktu, kita bicarakan lagi kerjasama yang sempat tertunda kemarin" kata tuan David.
"Baik tuan, nanti biar discedule oleh sekretaris saya" jawab Jiel.
"Kenapa tak dijadwalkan oleh Nona Luna saja, dia kan asisten anda. Benar kan nona?" senyum nakal terlihat di wajah tuan David membuat Jiel jengah.
'Sialan, wajah aslinya mulai nampak' umpat Jiel dalam hati.
Terlihat senyum terpaksa dari sudut bibir Luna, membuat tuan David memepet Luna.
"Sepertinya nona Luna ini asisten baru anda tuan Jiel?" telisik David.
"Bukan baru sih, tapi memang baru aku ajak" jelas Jiel.
"Owh, makanya dia merasa rikuh aku deketin. Tidak seperti Laura sekretaris anda yang sudah sangat luwes itu" puji tuan David untuk Laura.
Luna diam, demikian juga Jiel.
Pelayan menghampiri meja mereka untuk memberikan layanan makanan.
"Silahkan tuan dan Nona. Selamat menikmati. Jangan lupa, aku tunggu kabar dari anda" tuan David beranjak setelah beramah tamah dengan Jiel. Sikap genitnya kepada Luna tetap saja.
"Sedari tadi kek perginya. Gangguin orang mau makan aja," kata Luna hendak mengambil makanan di depannya.
Melihat menu yang begitu asing, tangan Luna terhenti. Ragu untuk mengambil yang mana.
"Lihat aku!" kata Jiel untuk memberi contoh kepada Luna.
Luna tentu saja belum terbiasa dengan cara makan orang-orang yang biasa disebut orang kelas atas.
"Mau makan aja ribet amat tuan bos" celetuk Luna membuat Jiel menahan tawa. Daripada jadi pusat perhatian lagi, Jiel lebih memilih diam.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
***To be continued, happy reading
Like, komen dan vote nya yaaaaaaa...
Sehat selalu buat semua 💝***