NovelToon NovelToon
Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Gadis Tanpa Nasab & Putra Ningrat

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:2.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Kirana Pramudya

Ketika cinta berdiri di persimpangan antara Kasta dan Strata sosial rasanya sangat pelik. Itulah yang dirasakan Indi dan Satria. Bagaimana tidak, semua itu karena Indi adalah seorang gadis tak bernasab, sementara Satria Bima Negara adalah putra Ningrat.
Tidak ada yang lebih menyedihkan bagi Indi ketika tahu bahwa nasabnya mengikuti Bundanya, bukan Ayahnya. Sejak itu dia mengira keluarganya yang bahagia hanya fatamorgana.
Apakah cinta berbeda kasta dan strata ini akan berlabuh? Bisakah Satria yang berdarah biru menerima Indi yang tak memiliki nasab?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jujur dengan Keluarga Hadinata

Malam itu juga, Satria mengemudikan mobilnya menuju ke kota Gudeg, kota Jogjakarta. Keputusan Satria sudah bulat, dia tidak akan kembali pulang ke rumah. Dia akan menikahi Indi dengan atau tanpa restu Ramanya.

"Selama ini Satria selalu menuruti apa yang Rama mau. Sekolah di tempat yang Rama pilihkan, tidak boleh sembarangan berteman, harus melakukan seluruh pakem dan berbagai tradisi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Satria ingin melakukan apa yang Satria kehendaki. Satria juga tahu apa yang baik untuk Satria."

Ketika mengemudikan mobilnya sesekali Satria mengusap kasar wajahnya. Sekarang, Satria sudah meninggalkan semuanya. Pemuda itu menjadi sebatang kara sekarang. Satria berpikir jika keadaannya seperti ini apakah Indira dan keluarganya sudi untuk menerimanya? Pekerjaan pun akan Satria tinggalkan, dia akan memulai dari awal. Mencari pekerjaan baru lagi.

"Kalau keadaanku seperti ini, mungkinkah kamu, ayah, dan bunda akan menerimaku, Dik? Tidak ada lagi putra ningrat karena aku sudah melepaskannya. Aku hanya seorang Satria, tidak memiliki apa pun untuk dibanggakan. Walau sesungguhnya sejak dulu, aku memang tidak membanggakan apa pun. Putra ningrat dan darah biru justru membebaniku."

Itu ungkapan hati Satria. Ada kalanya berdarah biru justru membebaninya. Benar budaya itu murni dan adiluhung, mencerminkan identitas satu suku bangsa. Akan tetapi, jika ada beberapa pakem dan bersifat kekolotan yang sifatnya menjerat.

Untung saja Satria pergi bukan dengan tangan kosong. Melainkan pemuda itu sudah memiliki rumah sendiri di Jogjakarta, rumah yang diberikan oleh Eyang dari Bu Galuh. Jadi, sekarang Satria akan menuju ke rumah itu. Dia ingin istirahat sejenak, dan esok hari Satria akan mengunjungi keluarga Hadinata. Satria ingin jujur dan juga mengatakan bagaimana keadaannya sekarang.

...🍀🍀🍀...

Keesokan Harinya ....

Tidak mudah bagi seorang pria datang ke rumah keluarga gadis yang dia cintai dengan keadaan tanpa daya. Keadaan yang jauh berbeda ketika dulu Satria datang untuk kali pertama bersama Rama dan Ibunya. Sekarang, Satria hanya seorang diri dengan keadaan yang tidak lagi sama.

Akan tetapi, Satria akan membesarkan hatinya sendiri. Jika niatnya tulus dan cintanya suci, Satria siap untuk bertanggung jawab. Asalkan dia datang dulu dan mengatakan yang sesungguhnya terlebih dahulu.

"Assalamualaikum," sapa Satria dengan membuka gerbang teralis kediaman Hadinata.

Kebetulan saat itu ada adiknya Indi yang sedang berada di Pendopo rumahnya dengan kakak sepupunya yaitu Lintang. Irene tentu sudah mengenal Satria, sehingga Irene mempersilakan Satria untuk duduk terlebih dahulu.

"Mas Satria yah? Nyariin Mbak Indi yah?" tanya Irene.

Sementara Lintang turut menundukkan kepala sejenak, menyapa Satria yang kala itu datang dengan busana rapi berupa celana bahan berwarna hitam dan kemeja batik lengan pendek. Datang ke rumah keluarga Hadinata harus sopan. Oleh karena itu, Satria memilih mengenakan kemeja batik.

"Iya, sekalian dengan Ayah dan Bunda kalau ada Dik Irene," balas Satria.

Akhirnya Irene memanggilkan orang tuanya dan Indi. Kemudian Irene berpamitan untuk ke rumah Eyangnya bersama dengan Lintang.

"Assalamualaikum Ayah dan Bunda," sapa Satria ketika Ayah Pandu dan Bunda Ervita keluar dari dalam rumah.

"Waalaikumsalam, Nak Satria," balas Ayah Pandu dan Bunda Ervita bersamaan.

"Tumben?" tanya Bunda Ervita.

Di saat bersamaan, Indi turut keluar dan menemui Satria. Sehingga di tempat duduk yang terbuat dari kayu jati jepara di pendopo itu mereka duduk bersama. Satria sebenarnya bingung akan memulai semuanya darimana, tapi sebagai pria, dia harus maju. Langkahnya sudah sejauh ini. Sehingga, Satria tidak ingin mundur lagi.

"Iya Ayah dan Bunda," jawab Satria.

Sebagai orang tua, Ayah Pandu dan Bunda Ervita tahu bahwa ada kegelisahan di wajah Satria. Oleh karena itu, Ayah Pandu berusaha untuk bertanya.

"Kenapa, Satria?" tanya Ayah Pandu sekarang.

"Ayah dan Bunda, begini ... kondisi Satria dan Rama semakin memburuk. Semula Satria memilih sabar, tidak melawan Rama. Akan tetapi, Rama nyatanya memaksakan kehendaknya kepada Satria dengan menjodohkan dengan teman kecil Satria. Namun, Satria menolaknya. Hati kecil Satria hanya memilih dan mencintai Indi. Puncaknya, Satria terusir dari rumah dan tidak berhak dengan nama dan trah Negara yang sebelumnya Satria sandang. Walau dengan keadaan yang berbeda, Satria ingin meminang Indi. Dengan atau tanpa restu dari Rama. Sehingga, kali ini Satria datang dengan merendahkan diri dan hati, Satria memohon kepada Ayah dan Bunda apakah berkenan menerima Satria sebagai pendamping hidup untuk Indi?"

Panjang lebar Satria menjelaskan semuanya. Itu adalah pengakuan yang jujur. Satria yang tidak menutupi bagaimana semua yang telah terjadi. Dia benar-benar datang dengan dirinya yang kosong.

Jujur, Bunda Ervita teringat dengan masa lalunya. Walau dengan kondisi yang berbeda. Dulu, Bunda Ervita terusir dari rumahnya sendiri, pergi jauh dari keluarga dan saudara. Lari ke Jogjakarta dalam keadaan benar-benar nol, tidak memiliki apa pun. Untung saja keluarga Hadinata mempekerjakan dia dan sekarang dia menjadi bagian dari keluarga Hadinata.

"Apa peganganmu ingin menikahi putriku?" tanya Ayah Pandu.

"Sepenuh cinta yang Satria miliki untuk Indi. Cinta yang mau berjuang, cinta yang mau meninggalkan semua yang dimiliki. Cinta ini juga yang akan membuat Satria bekerja keras, mensejahterakan dan membahagiakan Indi."

Satria memberikan jawaban dengan tegas. Cinta tidak bisa mengenyangkan perut. Itu adalah fakta. Namun, dengan cintanya yang besar untuk Indi, Satria berjanji akan bekerja keras dan mensejahterakan Indi. Banting tulang pun Satria siap melakukannya.

"Jika Ramamu datang dan memisahkanmu dengan putriku?" tanya Ayah Pandu lagi.

Satria menggelengkan kepalanya. "Dengan sepenuh hati, Satria tidak akan melepaskan Indi. Satria akan membuat Indi terus ada di sisi Satria. Selamanya," jawab Satria.

"Sanggup kamu menerima kekurangan terbesar Indi, di mana dia tanpa nasab? Tidak mempermasalahkannya di kemudian hari?" tanya Ayah Pandu.

"Satria sanggup menerima. Satria berjanji tidak akan mempermasalahkannya di kemudian hari."

Tidak ada keraguan dalam setiap jawaban yang Satria berikan. Bukan hanya mulutnya yang menjawab, tapi hatinya turut memberikan jawaban. Di hadapan Ayah Pandu dan Bunda Ervita, Satria mengatakan yang sebenar-benarnya m

Hingga akhirnya Ayah Pandu mengambil jeda sesaat. Kalau mempercayai Satria, tentu Ayah Pandu bisa melakukannya. Namun, apakah Indi juga bisa menerima Satria ketika keadaannya sudah berbeda sekarang?

Apakah restu itu akan Satria dapatkah? Bisakah Ayah Pandu dan Bunda Satria menyerahkan Indi untuk dipinang oleh Satria?

1
falea sezi
paham kan jd perempuan jangan gatel klo punya anak di luar nikah anak mu yg kasian wahai perempuan di luar sana paham jangan bisanya ngew... doank trs jadi anak.. anak mu nanggung dosamu apalagi pas nikah pake nasab ibunya
Riry Kasyry Lily
Luar biasa
슈가
Lumayan
Yuni Martopo
Luar biasa
Windy Veriyanti
jika benar dirimu berubah...maka syarat waktu yang Vio berikan akan mampu kamu terima, Thony...
berjuanglah dengan gigih dan tak menyerah, untuk memantaskan dirimu dalam usaha memperoleh cinta Vio...
ingatlah bahwa luka yang kamu torehkan begitu besar dan dalam
Windy Veriyanti
bangsa yang besar adalah yang tak melupakan sejarah bangsanya
Windy Veriyanti
matur nuwun, nggih Author...
aku serasa mengikuti mata kuliah sejarah 🙏👍
jadi nambah wawasan
Windy Veriyanti
benar...
Candi Prambanan adalah peninggalan Kerajaan Medang 👍
Windy Veriyanti
senangnya...😍
sekalian mengenalkan warisan leluhur berupa candi pada twins Nakula & Sadewa 👍
Windy Veriyanti
matur nuwun atas penjelasan tentang malam 1 Suro
menambah wawasan 🙏👍
Windy Veriyanti
indah dan pasti sangat berkesan ketika berkenan menggunakan rangkaian acara adat 👍
Lilik Farihah
/Facepalm/
Windy Veriyanti
Falsafah Jawa yang bermakna dalam 👍
Windy Veriyanti
katanya golongan ningrat, tapi attitude Karina nyungsep gitu 😥😏
Windy Veriyanti
Ibu Galuh is the best 👍
Windy Veriyanti
keren Satria 👍👏
Windy Veriyanti
good Satria 👍
Windy Veriyanti
duhh judesnya rama... 😞
Lilik Farihah
part penuh bawang😭
Farida Tutupo
cerita yang bagus sekali, penuh pesa n moral, terima kasih mbak Kirana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!