Langkah yang ku tempuh sudah terlalu jauh, tetapi sepertinya tidak berujung...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Astirai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Kemudian Bram mengarahkan
mobilnya ke sebuah mall yang memang menyediakan kuliner cukup komplit. Setelah
memarkirkan mobilnya, berdua berjalan ke arah pintu masuk.
“Kamu gak trauma kan
masuk ke mall..??” Tiba-tiba Bram bertanya.
“Maksudnya...???” Tanya
Renata heran
“Yaaaa.... siapa tahu
kamu trauma keseleo lagi kayak dulu.. haa....” Bram tertawa
“Ihhh....” Renata
mencubit lengan Bram. Renata merasa malu, karena itulah pertama kali Bram
memeluk dirinya gara-gara kakinya sakit keseleo.
“Auuu.... sakit!!! Mesra
dikit dong kalau nyubit!!!” Bram mengelus lengannya yang dicubit Renata.
“Biarin...!!!” Jawab
Renata cemberut.
“Ehhh... tapi
ngomong-ngomong kalau kamu keseleo lagi aku gak keberatan lho... kan bisa meluk
kamu lagi.... haaaaa...”
“Mas.... nyebelin
sih...!!!” Renata kembali akan mencubit Bram dan mukanya memerah karena malu.
Tapi sebelum kesampaian, tangan Bram lebih dulu menangkap tangan Renata dan
menggenggamnya erat.
“Naaahhhh.... kan kalau
gini aman...” Bram mengedipkan sebelah matanya. Renata masih tetap cemberut.
Mereka tetap berjalan dan tangan Renata masih di genggaman Bram. Renata
sebenarnya merasa risih dengan perlakuan Bram, tapi untuk menarik tangannya,
dia takut Bram tersinggung.
Mereka berdua berjalan
pelan-pelan menyusuri mall sambil sesekali Bram bercanda.
Bram
terlihat sangat bahagia bisa berjalan di malam minggu dengan Renata. Saat
keduanya asyik berjalan, tiba-tiba...
Bram terlihat sangat
bahagia bisa berjalan di malam minggu dengan Renata. Saat keduanya asyik
berjalan, tiba-tiba...
“Mas Braaammmm......!!!” Ada
suara cewek yang sedikit berteriak memanggil Bram. Bram dan Renata menoleh ke
arah suara cempreng itu. Terlihat seorang cewek berlari kecil ke arah Bram dan
Renata.
“Kamu..... sama siapa di
sini???” Bram mengerutkan dahinya.
“Sasa janjian sama teman-teman,
tapi sampai sekarang gak nongol-nongol. Sasa males nungguin. Kali saja mereka
gak jadi datang..” Jawab Sasa cemberut. Renata diam saja, dia tidak tahu siapa
cewek cantik yang ada di depannya ini.
“Mas.....” Kata Sasa
sambil melirik ke arah Renata. Bram tahu maksud adiknya.
“Eh.... kenalin Ren, ini
adik bontotku yang paling cerewet”
Renata tersenyum sambil
mengulurkan tangannya.
“Renata... boleh panggil
Rena saja...” Renata masih tersenyum
“Sasa mbak... Adik mas
Bram yang paling cantik hee....” Bram
menoyor kepala adiknya, yang dibalas cubitan di lengannya oleh adiknya.
“Kamu sama siapa tadi
Sa..?” Tanya Bram
“Dianter pak Supri, tapi
pak Supri langsung pulang..”
“Terus sekarang....?”
“He.... Boleh gak ikut mas
Bram sama mbak Rena...?” Tanya Sasa dengan muka yang dibuat sedih, sambil
menggoyang-goyangkan tangan kakaknya dengan kolokan. Renata sangat gemas
melihat wajah imut Sasa dan ingin mencubit pipinya.
“Boleh aja... yuk gabung
biar rame....” Jawab Renata tiba-tiba.
“Bener mbak...? gak gangguin...???”
Tanya Sasa dengan wajah girang sambil memegang kedua tangan Renata
“Ya enggak donk, emang gangguin
kenapa... Kapan lagi kita bisa jalan bareng..?” Renata masih tersenyum, dia
tertarik dengan Sasa yang cantik, sepertinya anaknya asyik dan kocak.
“Mas Bram...????” Tanya
Sasa melihat kakaknya dengan berharap kakaknya mengijinkan untuk ikut.
“Ayuuukkk.... tapi jangan
bawel ya... Awas kalau bawel, mas buang ke selokan..!!!”
“Siap bos... tapi kalau
minta sesuatu boleh donk....” Jawab Sasa dengan sikap hormat sambil nyengir
kegirangan.
“Diiihhhh.... maunya..” Kata
Bram sambil menarik hidung adiknya. Sasa teriak kesakitan.
“Heh.... anak cewek
teriak-teriak... Malu... Kayak di hutan aja!!!”
“Abis.... mas Bram jahil
terus sih....” Jawab Sasa cemberut.
Mereka bertiga meneruskan
jalannya menuju tempat makan.
“Kita mau makan dulu, Sasa
mau makan apa..?” Tanya Renata.
“Apa aja dech mbak..,
Sasa ngikut..” Jawab Sasa pasrah.
“Gimana kalau steak mau,
Sasa mau gak...?” Tanya Renata.
“Dia sih jangan ditanya
kalau steak Ren, hobbynya makan itu..?” Bram menjawab sebelun Sasa bicara.
“Ya udah... kita makan
steak dulu ya...” Kata Renata lagi.
Setelah menemukan restauran
yang dituju dan mendapatkan tempat duduk, sambil menunggu pesanan, mereka
ngobrol. Terlihat Sasa mendominasi obrolan dan Renata lebih banyak tersenyum
mendengar omongan Sasa. Tak jarang Bram dan Sasa saling melempar ledekan yang
membuat Renata tertawa.
“Eee.... Sa tadi kamu
nunggu teman-teman atau temannn...?” Tanya Bram menyelidik.
“Teman mas... suer...” Jawab
Sasa sambil mengacungkan dua jari. Sasa tahu, kakaknya pasti cerewet kalau dia
pergi dengan cowok. Bram sangat posesif terhadap adiknya, dan kadang membuat
Sasa kesal. Tapi dia tahu, kalau kakaknya memang sangat sayang pada dirinya.
“Teman cowok..???” Desak
Bram lagi
“Cewek mas.... ishh... mas
Bram malah yang bawel... Gak percayaan sama Sasa...” Sasa cemberut. Renata
tersenyum melihat kakak adik di depannya. Lucu juga muka Sasa yang ngambek.
“Kenapa senyum-senyum
Ren..?” Tanya Bram
“Gaaakkk... liat kalian
berdua lucu, ribut dari tadi..”
“Mas Bram nih mbak... orang
paling bawel sekampung. Mbak Rena kok mau sih jalan sama mas Bram.. Gak pernah
dibawelin mas Bram gitu mbak??” Tanya Sasa tanpa dosa.
“Eeeiittsss.... jangan
salah. Siapa coba yang gak mau sama orang ganteng begini...”
Kata Bram dengan PD nya.
“Diiihhhh.... GR. Mbak Rena
belum pernah ya dibawelin sama mas Bram... duuhhh... pening mbak dengerinnya. Mami
sama mbak Erina aja gak bawel.... ini cowok malahan bawelll...” jawab Sasa. Renata
tertawa kecil sambil mencubit pipi Sasa gemas. Dia suka sama Sasa, serasa kenal
sudah lama, padahal baru saja ketemu.
“Kamu kalau gak
dibawelin, bisa-bisa gak karuan...” Jawab Bram cuek. Pesanan steak pun datang.
“Udah stop dulu ributnya.
Ayuk makan dulu..” Renata menghentikan perdebatan keduanya.
Mereka bertiga menikmati
makanannya dengan diam. Sesekali Sasa melirik ke arah Renata. Dia mengagumi
kecantikan Renata. Gak salah juga mas Bram milih pacar. Udah cantik, baik lagi.
Orangnya juga kayaknya asyik. Kata Sasa dalam hati. Rupanya Bram tahu kalau
Sasa sering melirik Renata.
“Kenapa Sa ngelirik-lirik
terus..???” Tiba-tiba Bram bertanya yang mengagetkan Sasa.
“Eeeehhh.... mbak Rena
cantik banget mas...” Jawab Sasa spontan, membuat Renata menghentikan makannya
dan tersenyum.
“Sasa juga cantik.... mbak
suka...” Jawab Renata tetap tersenyum sambil mengelus pipi Sasa.
Bram pun senang melihat
Sasa dan Renata bisa cocok, padahal baru pertama ketemu. Kembali mereka
melanjutkan makan sampai selesai.
“Mas.... kemarin mas Bram
dah janji sama Sasa kan..??” Tiba-tiba Sasa nyeletuk setelah menyelesaikan
makannya
“Janji....???” Bram
mengerutkan dahinya.
“Ihhh.... sebel... pura-pura
lupa...!” Kata Sasa sambil cemberut
“Apaan....? Mas lupa....!”
“Janji malem minggu jalan....”Sasa
mencoba mengingatkan
“Oooo... kan kamu yang minta,
bukan mas yang janji. Dan sekarang... kan kita sudah jalan juga.”
“Iyaaa... ini karena
kebetulan... dan mas Bram janji mau beliin sesuatu...”
“Nooo.. nooo... mas gak
pernah janji. Kamu jangan ngarang....” Bram menggeleng-gelengkan kepalanya,
membuat Sasa tambah kesal dengan kakaknya.
next