“Cinta tidak memberikan apa pun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apa pun selain cinta itu sendiri. Terluka dalam pemahaman tentang cinta. Berdarah dengan penuh ikhlas dengan penuh sukacita.”
Bagaimana memulai rumah tangga jika sama sekali tidak ada cinta? Hanya mendasarkan hubungan pada kompromi dan rasa hormat. Itu yang dijalani Ravendra Jaya Wardhana dan Medhina Kartika. Menjalani rumah tangga hanya sekadar formalitas, tidak ada rona dalam rumah tangganya. Kenyataan makin pelik karena Medhina masih begitu mencintai mantan kekasihnya, Andreas Saputra. Dalam upaya menggapai rumah tangga yang bahagia, Ravendra justru akan merelakan istrinya itu untuk kembali bersama dengan mantan kekasihnya lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di antara Kau dan Aku
“Apakah guling ini harus ada kau dan aku?” tanya Ravendra sembari melirik dua buah guling yang sudah disusun dengan sedemikian rupa untuk menjadi sekat yang akan memisahkan antara pasangan suami istri itu.
Mendengar pertanyaan yang diutarakan oleh suaminya, Medhina merasa bingung dan gugup. Namun, bagaimana lagi, hatinya belum mengizinkannya untuk bisa menerima sepenuhnya suaminya itu. Masih ada masalah besar di dalam hatinya sendiri yang tidak terselesaikan. Medhina sendiri juga tidak tahu kapan dia membereskan hatinya sendiri.
“Iya,” jawab Medhina pada akhirnya.
“Sampai kapan?” tanya Ravendra kemudian.
“Sampai semuanya sudah menjadi jelas,” jawab Medhina lagi.
Namun, di dalam hatinya, Medhina merasa lebih baik karena Ravendra mau mengajaknya berbicara. Daripada hanya diam, semuanya menjadi canggung dan serba salah. Begini komunikasi seperti ini walaupun tidak lancar, tapi jauh lebih baik daripada hanya sekadar diam seribu bahasa. Sebatas menerka di dalam hati dan bibir tak mampu berucap.
Ravendra menghela nafas kasar, kemudian melihat kembali pada dua guling itu. Heran sebenarnya. Sebab, pikir Ravendra jika sekadar hanya bersentuhan dan tidak sampai melakukan hubungan suami istri bukankah tidak masalah. Sentuhan fisik juga dibutuhkan untuk mendekatkan seseorang. Namun, bagaimana jika sang istri yang terlebih dahulu membuat batas.
“Sebenarnya, aku tidak masalah … tapi, apakah iya suami dan istri kala tidur pun harus ada batas tegas yang memisahkan antara kau dan aku? Kita harusnya saling mengenal, berusaha untuk menyelesaikan semua yang terjadi di masa lalu dan memulai masa depan bersama. Kisah masa lalu boleh usai, sementara kisah di masa depan akan segera berjalan. Jikalau terus seperti ini, rasanya aku pun pesimis,” tegas Ravendra.
Dalam pikirannya, Ravendra hanya berpendapat bahwa ketika sudah melangkah untuk satu awal yang baru, memang sebaiknya untuk melupakan semua yang terjadi di masa lalu. Tanpa menutup lembaran masa lalu, yang baru tidak akan pernah datang. Jika ada rasa saling terbuka, mau untuk mengenal satu sama lain, semuanya akan menjadi lebih baik. Sayangnya, untuk kali ini Ravendra seolah sudah merasa pesimis dengan kehidupan pernikahannya. Pernikahan yang baru hitungan jari, tetapi Ravendra seakan menerawang jauh ke depan bahwa pernikahannya akan terasa suram.
Medhina sendiri juga merasa serba salah. Ingin memulai yang baru, tetapi hatinya masih enggan. Hatinya masih mendamba pria yang lain. Medhina mengakui sepenuhnya, dalam pernikahan ini jikalau ada yang salah itu adalah dirinya. Namun, Medhina belum bisa berbicara jujur mengenai perkara pelik di hatinya kepada Ravendra.
“Maaf,” balas Medhina dengan menundukkan wajahnya.
Hanya kata maaf saja yang bisa terucapkan. Sementara tidak ada aksi yang bisa Medhina lakukan.
“Lalu, bagaimana dengan kita ke depannya? Di antara kau dan aku, apakah akan selalu seperti ini atau bagaimana?” tanya Ravendra.
Dengan bertanya, setidaknya Ravendra bisa mendengar jawaban dan sudut pandang dari Medhina. Ravendra tidak ingin berlaku egois, tetapi juga dia memerlukan kejelasan mengenai kehidupan rumah tangga yang mereka jalani berdua.
“Rumah tangga adalah perkara antara kau dan aku, kita. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Suami membutuhkan istri, begitu pula sebaliknya. Namun, sekarang … keadaannya berbeda. Seolah hanya aku yang menginginkan pernikahan ini dan tidak denganmu. Jika, kamu mengira bahwa aku belum melupakan Arsyilla, kamu salah … sepenuhnya aku sudah melupakan dan mengikhlaskannya. Hanya saja, hubunganku dengannya dan suaminya justru menjadi lebih baik dan akrab walau sudah tidak ada ikatan antara aku dan dia. Jadi, aku memang dari semula berniat untuk memulai semuanya dari awal denganmu. Itu adalah tentang aku … tetapi, aku juga tidak tahu bagaimana tentangmu hingga ada garis batas yang begitu tajam di antara kau dan aku?”
Ravendra sekali lagi berbicara dengan panjang lebar. Dia menjelaskan semuanya bahwa jika Medhina masih mengira bahwa dia masih mengharapkan Arsyilla, mantan kekasihnya, maka semua itu tidak benar. Ravendra tidak akan mengambil keputusan untuk menikah jika hatinya sendiri belum beres. Ravendra mengambil langkah besar dalam hidupnya yaitu untuk menikah karena dia yakin bahwa kisahnya dengan Arsyilla sudah usai.
Medhina diam. Dia juga bingung harus berbicara dan menjelaskan semuanya dari mana. Hanya saja, Medhina sepenuhnya yakin bahwa apa yang dikatakan Ravendra barusan sangat benar. Ya, Medhina setuju jika pernikahan adalah tentang dirinya dan Ravendra. Mereka berdua yang berbeda kepala, berbeda latar belakang, tetapi bisa menerima satu sama lain, membuat harmonisasi yang padu dalam sebuah hubungan yang dijalin dengan hati.
“Jadi, apa yang kamu mau? Apakah kita akan selalu seperti ini?” tanya Ravendra lagi.
“Maafkan aku … aku juga tidak tahu harus bagaimana. Hanya saja, jika pernikahan ini begini adanya, semuanya adalah salahku,” jawab Medhina.
Buliran air mata pun segera menitik dari kedua matanya yang sayu. Medhina sepenuhnya mengakui bahwa semuanya ini adalah murni kesalahannya. Salahnya yang masih mengharapkan Andreas, salahnya yang tidak bisa terbuka dengan Ravendra, salahnya yang membuat batas yang begitu tajam, dan juga salahnya yang menganggap pernikahan ini hanya sebuah bentuk kompromi.
“Tidak … kita masing-masing memiliki andil. Bahagia dan tidaknya rumah tangga kita, kita yang tentukan. Berhasil dan tidaknya rumah tangga kita, kita juga yang tentukan. Jika harus berbenah, mari kita benahi bersama. Atau kamu masih membutuhkan waktu lagi?” tanya Ravendra.
Pria itu berusaha mengulur lagi kesabarannya. Akan memberikan waktu untuk Medhina. Dia akan buktikan bahwa kesabaran akan berbuah manis. Semoga saja tekad Ravendra untuk mengulur lagi kesabarannya dengan memberikan waktu untuk Medhina akan berhasil dan berbuah manis.
“Iya,” balas Medhina pada akhirnya.
“Baiklah … ambil waktu sebanyakmu. Hanya saja, jika kamu pergi bekerja, kamu terbang kemana pun tolong kabari aku. Pesawat yang kamu tumpangi dan nomor penerbangannya, bandara yang kamu datangi, dan juga hotel tempat kamu menginap. Aku tidak meminta apa-apa. Aku akan menunggumu, hanya saja kabari aku semua itu,” pinta Ravendra.
Mendengar apa yang diminta oleh Ravendra seakan Medhina diingatkan lagi dengan kesalahannya. Jika suaminya sudah begitu baik dan sabar, maka Medhina pun harus bisa menyesuaikan diri. Medhina akan menuruti dan menyanggupi apa yang diminta oleh suaminya itu.
“Baiklah … aku akan selalu memberi kabar, tiap kali aku terbang,” balas Medhina dengan menyeka air matanya di sudut matanya.
“Hmm, baiklah … ya sudah, tidurlah. Jadi, aku akan menunggumu dan juga menunggu kabar darimu. Kamu terbang kemana pun, cukup beritahu aku di mana kamu berada. Jangan mengingkari janji kali ini.”
Sampai pada akhirnya, mungkin hanya ini saja yang Ravendra minta. Cukup dengan Medhina yang mau berbagi kabar ketika dia bekerja. Sebab, Ravendra sangat khawatir kala Medhina bekerja, terbang dari satu pulau ke pulau yang lain tanpa memberi kabar kepadanya. Yang Ravendra hanya kabar, semoga di lain waktu Ravendra bisa meminta Medhina untuk membuka hatinya dan mempersilakannya masuk dan memenuhi hatinya yang dengan sosok dirinya. Semoga saja.
Biar nggak putus komunikasi juga dan medina serta anak2nya bisa di perhatikan juga tiap harinya..
tapi dhina segampang itu lebih mempercayai orang lain, ragu dengan masa lalu suaminya, dhina cinta mu memang tulus tapi hati mu tidak ikhlas pada suamimu
.
utk Indi & Satria tdk dilanjut thor
terima kasih thor utk cerita indahnya.