masa lalu terkadang bisa membuat semua di masa depan berantakan. dia yang berasal dari masa lauku, dia yang sudah lama aku lupakan. datang lagi tanpa pemberitahuan.
aku harus bagaimana menanggapi perjodohan ini. setauku dia mencintai wanita lain dan bukannya aku. tapi ini permintaan mendiang ibuku
apa aku boleh menjadi anak yang tidak patuh akan permintaan terakhir ibuku...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiapuma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saling menguatkan
Aku membongkar kardus bertulis berkas. Menyebar nya di seluruh ruang tamu.
"Selama 5 bulan ini aku udah diem aja ya. Tapi kamu nggak bisa kayanya selesain masalah kamu sendiri." Kataku sambil melempar kemeja kemeja Keenan.
"Huwaaaaaaah." Aku berteriak untuk menghilangkan rasa kesalku.
"Nana." Keenan yang panik langsung menahanku.
"Kita harus selesain semua masalah ini." Kataku menatap matanya.
"SEKARANG." Kataku singkat padat dan jelas.
Aku melepas paksa tangannya yang menahanku tadi dan duduk di kursi ruang tamu. Keenan mengikuti duduk di depanku.
Aku bangkit lagi dan mengambil map milik Keenan dan memberikan map itu padanya.
Keenan menatapku sedih. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Aku mau mendengar sesuatu dari mulutnya.
"Dari mana aku harus mulai ya." Katanya menjambak rambutnya sendiri.
"Ya kakak jelasin lah. Sebenernya hubungan kakak sama Jasmine itu apa. Terus kenapa kakak malah nikah sama aku dan bukannya sama Jasmine. Aku tau perjanjian itu di buat sebelum kita menikah tapi nggak laju kakak ngelanjutin hubungan kakak sama Jasmine dan aku." Keenan menatapku dengan mata sayu. Aku tau dia pasti cape banget, tapi hati aku lebih cape.
"Aku yakin kamu udah baca ini kan. Jadi aku nggak perlu jelasin lagi hubungan aku sama Jasmine. Kita udah putus sebelum pernikahan, dan aku minta dia untuk nggak pernah ketemu kamu lagi. Aku juga nggak bilang kalau kamu istri aku ke dia karna aku punya alasan aku sendiri. Aku nggak mau dia ganggu kamu, aku nggak mau dia hancurin rumah tangga kita. Udah selesai kan masalahnya." Aku tercengang mendengar penjelasan Keenan yang sangat singkat.
"Tapi kakak masih ketemu Jasmine kan? Masih chat Jasmine kan!" Kataku sedikit berteriak.
"Aku punya tanggung jawab ke Jasmine. Untuk menghidupi dia sampai batas perjanjian itu selesai." Keenan masih berusaha tenang dari tadi.
Tapi seakan akal sehatku juga nggak sanggup untuk Nerima penjelasan dia.
"Nana jujur aku cape Banget dari kemaren aku kurang tidur. Jadi gini aja biar ini semua cepet selesai. Kamu maunya apa?" Tanya Keenan sambil menyandarkan badannya pada kursi.
"Aku mau kamu berhenti ketemu sama Jasmine. Berhenti kasih dia barang barang yang dia mau. Kasih dia uang untuk kehidupan dia dan jangan pernah hubungin dia lagi. Apa kamu sanggup?" Kali ini giliran aku yang mengunci tatapan matanya padaku.
"Aku di ancam. Kalo aku berhenti hubungi dia. Dia bakal sebarin kalau aku sugar dady dia." Jawab Keenan pelan.
"It's ok. Memang kenapa kalau jadi sugar dady? Toh kalian sama sama di untungkan. Lagian gosip nggak mutu kaya gitu juga cuma bertahan sebentar kok. Kalo ada gosip lain juga mereka bakal pindah bahasan. Kamu juga nggak bangkrut kalau nama kamu ada dimana mana. Dan aku juga yakin dia takut, karna nama dia juga hancur. Kenapa sih kamu mau di bodohin sama dia!" Aku menatapnya kesal.
"Atau jangan jangan kamu memang cinta sama Jasmine." Kataku tepat menusuknya.
Keenan menatapku tajam dan mengepalkan tangannya erat menahan amarahnya lagi.
"Kenapa kakak diem aja sekarang!!" Teriakku padanya.
"Aku juga manusia sama kaya Jasmine. Aku istri kamu." Aku berdiri menatapnya kesal.
"Gini aja. Sekarang Kakak pilih aku atau Jasmine." Aku sudah nggak sanggup menahan air mataku lagi.
Keenan yang ku tanya malah hanya diam dan tidak mau menatapku. Menunjukkan kalau dia bahkan nggak akan bisa memilih.
"Memang bener kata papa aku, nggak seharusnya pertahankan pernikahan saat udah nggak ada cinta." Kataku yang memilih meninggalkan Keenan.
"Nana." Keenan menatapku saat pintu lift hampir tertutup.
Sampai di kamar aku mengemasi baju bajuku. Keenan nggak mau memilih antara aku dan Jasmine. Jadi lebih baik aku yang pergi kan.
Setelah mengemas, aku segera turun ke ruang tamu lagi. Aku nggak mungkin dong pergi membawa mobil yang Keenan kasih ke aku. Sedangkan mobilku di bawa adam karna dia yang harus berangkat paling pagi.
"Kamu Mau kemana? Liat nggak sekarang udah jam berapa?" Katanya yang masih duduk di tempat tadi.
Aku nggak mau menghabiskan energi juga air mata untuk laki laki yang bahkan nggak pernah memikirkan aku bahkan sedikit saja.
Aku mencoba membuka pintu yang ternyata sudah terkunci. Aku mencoba menggunakan sidik jariku untuk membuka pintu. Tapi pintunya tetep nggak bisa terbuka.
"Kalo kamu mau pergi besok aja ya. Jangan cari bahaya." Setelah mengatakan itu Keenan berjalan menuju lift.
"Jadi kakak bener bener pilih Jasmine kan? Makasih banyak udah mau nampung Nana selama ini." Suaraku bergetar dengan kata kataku sendiri.
"Nana, do you love me?" Keenan mengunci tatapanku.
"Secinta apapun aku ke kakak, kalau kakak nggak cinta sama aku, kalo kakak nggak pernah peduli sama aku. Untuk apa?" Aku nyaris berteriak padanya.
"Tapi kalo kamu cinta sama aku. Kenapa kamu nggak pernah bilang duluan kalo kamu cinta sama aku?" Keenan berucap lirih.
"Kamu bahkan nggak pernah bilang Nana sayang kakak. Atau aku kangen kakak. Atau sarangheo, I love you. Kenapa selalu aku yang bilang i love you duluan. Baru kamu bakal bilang i love you too. Kenapa cuma aku yang tiap hari bilang aku sayang kamu. Tapi kamu nggak pernah." Ucap Keenan frustasi.
Mendengar kata kata Keenan aku malah menangis tapi juga tertawa. Apa dia kekanakan?
"Aku pernah bilang kan. Kalo cinta aku ke kakak dari dulu nggak akan berubah. Kalo aku nggak cinta sama kakak mana mungkin aku masih disini sampe detik ini. Kakak pikir kekuatan dari mana kalau bukan karna cinta? Nana nikah sama kakak bukan cuma karna permintaan mama, Nana juga nggak butuh uang kakak." Aku berhenti sebentar karna air mataku mengganggu ku bicara.
"Nana cinta sama kakak. Nana sayang kakak. Nana juga nggak mau pisah. Nana kangen kakak. Nggak ada satu detik pun Nana nggak mikirin Kakak." Aku terduduk, kakiku nggak kuat lagi menopang tubuh.
Saat itu aku bisa merasakan Keenan memelukku.
"Nana cinta sama kakak. Tapi Nana tau kakak nggak akan pernah cinta sepenuhnya sama Nana." Aku mengangkat kepalaku dan menatap Keenan.
"Kamu jahat tau nggak. Bukan sekali dua kali kamu tolak aku. Berkali kali aku cemburu sama kamu. Tapi kamu nggak pernah ngerti." Aku mengusap air mataku aku sadar Keenan mungkin nggak pernah cinta sama aku. Mungkin selama ini dia terpaksa.
"Sekarang cinta siapa yang harusnya di pertanyakan?" Kataku padanya.
"Nana. Aku minta maaf ya. Aku nggak peka selama ini. Kasih aku satu kesempatan lagi. Kali ini aku janji bakal berhenti sepenuhnya dari Jasmine. Kita udah saling janji kan bakal jadi penguat satu sama lain. Nana aku mohon kasih aku satu kesempatan lagi." Keenan menggenggam kedua tanganku.
"Aku kasih kakak satu kesempatan. Dengan syarat kakak beresin semua urusan kakak sama Jasmine."
Please jawab ia. Please, aku berharap banget keenan bakal cinta juga sama aku. Aku berharap rumah tangga aku ini untuk selamanya.
"Nana aku pasti bakal lakuin yang terbaik untuk memperbaiki hubungan ini ya. Aku janji." Keenan kali ini berhasil meyakinkanku.
"Tapi aku mau tinggal terpisah dulu sama kakak." Kataku pelan yang membuat Keenan terkejut.
"Ya, aku nggak akan larang kamu. Tapi kamu harus tinggal di rumah mama ya. Aku janji, begitu urusan aku sama Jasmine selesai aku bakal jemput kamu ya. Ya, ma cherie." Keenan mencium tanganku.
"Ia kak. Nana percaya kakak." Kataku berusaha meyakinkan diriku sendiri.
Apakah aku sudah benar? Apakah aku terlalu bodoh? Kenapa aku terlalu mudah untuk Keenan.
.
.
.
.
.
.
.
To be continued
13.08.2020
Nadiapuma
Cinta itu apa sih menurut kalian?