Aku dan Dia, dipertemukan Tuhan dengan status sebagai 'MUSUH BEBUYUTAN'.
Hari pertama masuk sekolah menengah atas, Aku dan Dia sudah menjadi couple 'TOM AND JERRY'.
Setiap hari kita ribut dan bertengkar tiada henti.
Sampai suatu hari...
Kita adalah MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH.
Pernikahan yang seumur jagung, tapi berdampak luar biasa sampai usiaku kini 25 tahun.
Hingga suatu ketika, Tuhan mempertemukan kita kembali di cottage sebuah kota yang jauh dari keramaian kota.
Pertemuan yang membuka kembali kenangan lama Aku dan Dia. Semua kisah lama, akankah mendekatkan kembali Aku dengan JANDAKU dimasa lalu?
🙏🙏🙏Mohon dukungannya di MUSUH BEBUYUTAN TAPI MENIKAH, please...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANDAKU (7) Senang Atau Sedih?
Pagi indah, berboncengan dengan seorang gadis manis yang selalu kupuja dalam khayalan.
Lebay! Memang! Tapi itulah kenyataannya.
Hatiku bermekaran. Taman bungaku yang lama gersang kini bertaburan kuncup bunga yang siap merekah.
Agak gamang, tapi bodoh jika aku menyia-nyiakan kesempatan langka ini.
Alifah baru bertunangan, coy! Belum resmi milik tunangannya sepenuhnya.
Jadi, aku berhak berharap bisa kembali membangun rumah tangga yang sesungguhnya dengan Alifah.
Selama janur kuning belum melengkung, aku dan si Bryan itu masih memiliki kans yang sama.
Kami masih bisa bersaing mendapatkan hati Alifah, tentunya. Dan aku..., siap untuk berjuang meraih hati Alifah kembali.
Bomat dia udah tunangan juga! Bodo amat apakah dia mencintai si Bryan selebgram yang sering wara-wiri di fyp aplikasi tiktokku dalam kurun waktu beberapa bulan ini karena joget pargoy dan freestyle ala-ala boyband Korea yang sedang hits di masa kini.
Hiks Tuhanku! Kenapa kesempatan berduaan dengannya hanya sekejap kurasa? Bolehkah kuminta waktu tambahan lebih sedikit lagi?
Cekiit... brrt brrrt... brt
"Yah? Mogok, Tot?"
Hiks, doaku diijabah!
"Kayaknya agak bermasalah dikit! Bentar ya, Lif...! Gue periksa dulu!"
"Jahat ga ya gue kalo tinggalin lo sama motor butut ini sendirian di jalan?" ledeknya dengan senyuman nakal.
"Jahat pake banget, itu mah!" jawabku dengan bibir cemberut. Pura-pura marah.
"Hahaha...! Ya ampun, Gatot! Lo sensi banget sih, jadi orang!"
"Ya kali', gue bela-belain nganter. Cuma gegara motor mogok, terus ditinggalin gitu aja! Kejamnya dirimu, tak berperasaan!"
"Hahaha...! Apa lo sendiri ga kejam selama ini sama gue?" timpalnya sembari tertawa lebar.
"Gue kejam? Kapan?" tanyaku dengan mata fokus pada wajah cantiknya yang makin menggemaskan.
"Ah, pura-pura bodoh padahal blo'on!"
"Nah, lo khan tau gue kayak gitu!"
Alifah tertawa lagi. Kali ini tangannya menepuk punggungku cukup keras.
"Dih, pake pegang-pegang!?!"
Kami tertawa. Rasanya dunia milik berdua. Indahnya luar biasa.
Aku dibantu Alifah menuntun sepeda motor butut yang kusewa tujuh puluh lima ribu seharian itu.
Menyesak, tapi mengenak.
Alifah melirik jam di pergelangan tangannya.
"Telat ya?" tanyaku tapi dijawab gelengan kepala.
"Baru pukul tujuh dua puluh. Keretaku baru akan datang pukul sembilan!" jawabnya membuatku menghela nafas.
"Berarti masih bisa dong nih temenin gue cari bengkel di jalan?"
"Assyiap, Imut!"
"Hehehe..., makasih Belut!"
Aku dan Dia tertawa. Sepertinya hari ini adalah hari paling bahagia bagiku. Apakah begitu juga sebaliknya bagi Alifah? Entah.
Treeet... treeet... treeet...
Ponselnya berdering. Ada panggilan telepon membuat Alifah segera mengambil benda kecil ajaib itu dari tas kecilnya.
"Iya, hallo!?" jawabnya agak lemas.
Aku hanya bisa menelan saliva. Sepertinya sang tunangan yang menghubunginya.
"Iya, iya. Iya aku khan gak tahu kalau kereta berhentinya hanya beberapa menit saja. Hehehe...! Iya. Ini udah mau ke stasiun buat lanjut ke kota S. Iya, Sayaaang! Alhamdulillah aku ketemu teman lama!... Ini diantar dia ke stasiun. Apa? Cowok! Teman SMA dulu. Bukan! Bukan Firman! Ish, bukan...! Namanya Gatot Subroto. Iya emang kami udah lama gak ketemu! Boro-boro janjian! Iya, iya. Apa? Hm? Papaku kenapa? Oh gitu...! Ya udah, aku harus kejar kereta pagi ini biar bisa segera sampai kota K! Iya. Oke, bye!"
Aku tak bermaksud menguping. Tapi semua terdengar sangat jelas di telinga ini.
"Laporan selesai!" ledekku setelah mata kami saling bertemu pandang.
"Ish, ngeledek deh!"
"Kenapa kesannya kayak yang takut gitu sih sama tunangan? Emang tunangan lo itu turunan macan ya?"
Puk.
Tangannya menepuk bahuku sambil tertawa.
"Dulu waktu nikah sama gue kenapa lo yang pegang kuasa dan gahar banget sama gue!"
"Dih, nikah? Kita ini cuma sepuluh hari tinggal serumahnya! Setelah itu..., kita bubar jalan khan!?"
Aku tersenyum kecut.
Menikah sepuluh hari, harusnya jadi pemecah rekor juga gak tuh!?!
Kami sama-sama diam. Hanya saling mendukung dorong sepeda motor sambil tengok kanan kiri berharap ada bengkel yang sudah beroperasi.
"Tunangan lo tahu, lo pernah nikah?" tanyaku pelan.
Alifah menggeleng.
"Kita ini khan nikah siri. Belum terdaftar juga di Kantor Urusan Agama. Jadi, status gue masih gadis alias single."
"Bukan janda?"
"Apa sih lo, Tot!? Seneng banget sih lo ledekin gue padahal tujuh tahun kita baru ketemu lagi!" ujarnya meradang.
Aku lupa. Aku harusnya dalam mode on mencari perhatian, bukan dalam mode on menebar kebencian.
"Alifah! Boleh gue jujur tentang perasaan gue selama ini? Bahkan sejak sembilan tahun lalu?"
Dadaku berdebar.
Aku, akan ungkapkan perasaanku padanya.
Treeet... treeet... (Kini ponselku yang berdering)
"Ya, hallo?"
...[Hallo, Gatot! Kamu ada dimana? Ini orang bagian pertukangan katanya udah nungguin dari tadi!]...
"Boss! Sorry, motor yang kusewa mogok nih! Maaf, tolong bilangin saya on the way!"
...[Jangan bohong Kau, Anak Muda! Tukangnya justru ada di depan penginapan! Kata si Mbak Resepsionis, kamu udah keluar tadi sebelum jam tujuh sama perempuan! Kau booking cewek rupanya, ya?!]...
Anjrit ni, Boss! Hiks...
"Bukan Boss! Iya, iya. Lagi cari bengkel dulu, Boss! Hallo, hallo? Waduh, koq suaranya hilang hilang ini? Hallo Boss, hallo! Hadeuh jaringan putus-putus! Hallo, Boss?"
Klik.
Sengaja kumatikan panggilan BOS EDAN segera.
Alifah tertawa ngakak dan puas sekali.
"Akal bulus, bohongin boss jaringan putus-putus! Hahaha...!"
Aku dan dia tertawa lagi.
Tak pedulikan kendaraan mulai lalu lalang dan orang lewat sesekali menoleh aneh melihat kami.
Masa bodoh dengan BOSS EDAN yang pasti bakalan mencak-mencak ketika kukembali ke kantor dan kerja lagi, nanti! Yang penting, aku happy!
Akhirnya, bengkel yang kami cari pun ketemu juga. Kutitip motor untuk servis, lalu aku dan Alifah naik becak menuju stasiun kereta yang tinggal beberapa puluh meter lagi.
"Eh, kalo gue chat dibales dong, Lif!" tuturku memberinya penekanan.
"Iya! Kalo gue ga lagi sibuk pastinya gue bales!"
"Sombong amat! Emang tiap hari ada ibu-ibu hamil yang mau lahiran gitu?"
"Ada lah, emangnya bidan cuma ngurusin ibu-ibu lahiran? Ga lah! Ngurusin bayi, gizi balita, ibu-ibu hamil dan menyusui!"
"Uhuk!" Aku terbatuk ketika Alifah mengucapkan kata menyusui.
Tentu saja dia tergelak. Cukup mengerti pada kalimat sensitif yang barusan ia ucapkan.
"Cari istri cepet! Biar bisa menyusu!" bisiknya membuat emosiku meledak dan dia kembali ngakak.
"Lo kira tugas istri itu cuma menyusui doang, Buntelan Kentut!?!" serangku membuat beberapa orang yang ada di stasiun kereta menoleh dan Alifah menyekap mulutku dengan panik.
"Congor lo, kondisikan Gatot Item!" bisiknya jengkel.
Kini aku yang tersipu lalu tergelak.
Hiks! Perpisahan ini pun harus kembali terjadi. Dan aku, harus senang atau sedih?
...❤BERSAMBUNG❤...