Pelukan Rio membuat rasa traumatik dalam diri Diana Lorenza berangsur mereda. "Ri-rio?
"Iya, aku Rio ... apa kau masih mengingatku?Aku anak kecil gila yang pernah berjanji padamu 'I promise you that i never leaves you until my life ends, and i will always trying to prove to the whole world, that our love will come true in a marriege'. Dan percayalah, anak kecil gila itu pasti akan membuktikan janjinya." Rio semakin memperat pelukannya.
Diana terdiam, membiarkan dirinya hanyut dalam hangat dan nyamannya pelukan Rio.
Namun, bisakah Rio menepati janjinya itu?
Akankah Rio bisa membahagiakan Diana yang hidupnya terus dirudung kemalangan?
Sementara Rio sendiri sudah dijodohkan dengan sepupunya!
Mungkin saja ini hanya sebatas kebahagiaan semu untuk Diana!
Follow ig: @poel_story27
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poel Story27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilanda Frustasi
"Tuhan, aku harus bagaimana? Siapa yang akan mengurus nenek jika aku dipenjara?" Diana bermonolog dalam hatinya yang dipenuhi keresahan.
Dia tidak bisa membayangkan, jadi seperti apa neneknya yang lumpuh itu jika hidup tanpa dirinya.
Diana menggelengkan kepala. "Tidak, aku tidak boleh dipenjara. Aku tidak bisa meninggalkan nenek sendirian."
Memikir nasib neneknya itu, membuat Diana bertekad mencari cara untuk lolos. Sayangnya gudang tempat ia dikurung tidak memiliki jendela, yang bisa ia gunakan untuk kabur.
Sebuah ide muncul di pikiran Diana saat ia melihat sebuah lemari buruk, itu bisa ia gunakan sebagai pijakan.
Diana menggunakan linggis yang masih tersimpan di dalam hoodie untuk mencongkel plafon, dia naik ke atas lalu turun di bagian dapur, dan akhirnya selamat keluar dari pintu belakang.
Diana tahu saat ini sebagian besar warga tengah berkumpul di rumah ketua RT. Jadi dia aman, dan bisa memanfaatkan sedikit kesempatan itu kembali ke rumah Mela.
Kali ini Diana berhasil membongkar pintu belakang rumah Mela, tanpa ada yang melihat.
Diana yang sadar waktunya tidak banyak, bergegas menuju kamar yang ditempati sang nenek untuk membawanya pergi.
"Nenek ...." Lutut Diana langsung lemas saat mengetahui neneknya tidak ada di tempat, sementara kursi rodanya masih ada di sana.
Seketika itu juga manik mata gadis ini berkaca-kaca, lalu air matanya tumpah begitu saja menganak sungai. Diana pikir, neneknya pasti sudah dibawa oleh orang suruhan Darius.
Diana bingung, dia tidak tahu ke mana orang suruhan Darius membawa neneknya, meski begitu Diana masih bertekad menemukan keberadaan sang nenek, tidak peduli apa pun resikonya.
Diana menghela napas panjang untuk menguatkan diri, tidak ada semangat yang luntur, dan harapan hari esok yang lebih baik masih ada. Diana keluar dari rumah tersebut, dan melanjutkan pencarian terhadap neneknya
***
"Dayen!" panggil Rio, matanya menyusuri setiap sisi gudang, tapi tidak menemukan sosok gadis yang dia cari.
Saat itu juga perasaan Rio jadi tidak enak, dan ia langsung mendesah frustasi saat melihat plafon yang sudah jebol.
Rio dan ketua RT pemilik rumah meninggalkan gudang, mereka mencari di mana keluarnya Diana.
Bapak ketua RT itu terkejut, saat melihat pintu belakang dapurnya dalam kondisi terbuka, dan itu artinya Diana sudah berhasil meloloskan diri.
Rio melihat ke atas, dia hanya bisa mendesah berat saat melihat plafon di sudut dapur itu telah jebol.
Rio menatap kesal pada ketua RT, dia tidak habis pikir. "Ini kesalahanmu, Pak ... harusnya kau tidak mengurung Diana di sini. Mengapa kalian tidak menahannya di depan saja!"
"Hanya itu pilihan terbaik yang bisa aku ambil, karena para warga tidak bisa menahan emosi, dan terus ada memprovokasi agar gadis itu dipukuli," jawab ketua RT itu lesu.
Dalam hal ini ketua RT tersebut termasuk orang yang harus menanggung kerugian, karena plafon rumahnya telah dirusak oleh Diana.
Rio berdecak, dia segera meninggalkan dapur untuk menemui Laura yang menunggu di ruang tamu.
Dahi laura berkerut saat melihat Rio datang dengan langkah tergesa-gesa, ditambah lagi wajah pemuda tampan itu tampak memerah menahan kesal.
"Apa yang terjadi? Di mana Diana?" Laura berdiri dari tempat duduknya dan langsung bertanya.
Rio bahkan tidak sempat mengatur napas. "Diana sudah pergi. La, kumpulkan semua pengawal terbaik, Diana harus ditemukan hari ini juga, dia pasti dalam bahaya."
Laura mengangguk, lalu kedua orang itu bergegas meninggal rumah ketua RT tanpa memedulikan apa pun lagi.
Di dalam mobilnya Rio masih gelisah, dia takut Diana berhasil ditangkap orang suruhan ibu tirinya atau mungkin Darius.
"Demi Tuhan Diana, kau ada di mana? Mengapa sesulit ini untuk menemukanmu." Rio mengacak-acak rambutnya saking frustasi.
Bersambung.
Sambil nunggu hasil Rio mencari Diana, yuk kita lihat dulu visual pemainnya.
Mario Richard, 25-tahun.
Diana Lorenza, 25-tahun.
Laura Purnama, 25-tahun.
Galvin Arkananta Richard, 19-tahun.
Gita Alivia Morelli, 19-tahun.
Segitu dulu ya untuk visualnya, sampai jumpa di bab selanjutnya man-teman.
Salam hangat @poel_story27. Kiss and Hug
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
tp klu tdk ada peran si ibu tiri pasti tdk seruu.