Pernikahan selama sepuluh tahun tidak bisa membuat dirinya mengandung walaupun dengan melakukan inseminasi buatan.
Karena keluarga suami yang menginginkan ahli waris akhirnya menyingkirkan dirinya dengan memberikannya sebuah perusahaan sebagai kompensasi perceraiannya dengan sang suami.
Bagaimana kelanjutan hidupnya setelah diceraikan oleh suaminya?
Apakah Nikita menemukan kembali cinta dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sindya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Chapter 27.
Setelah membilas bersih tubuh istrinya, Kenzo mengenakan baju buthtub ke tubuh Nikita lalu menggendong wanitanya. Ia pun mendudukkan Nikita di atas sofa untuk memakaikan baju santai berupa dress longgar untuk ibu hamil dari bahan katun yang sangat nyaman untuk Nikita.
Tapi sebelumnya itu, Kenzo membaluri istrinya dengan minyak kayu putih agar Nikita tidak mudah masuk angin.
Memang kebiasaan Nikita yang senang memakai minyak kayu putih sehabis mandi membuat Kenzo mengerti bahwa istrinya senang dengan aroma itu.
Nikita sedikit heran dengan dress yang dipakainya itu belum pernah ia lihat.
"Dressnya cantik sekali, aku baru melihatnya. Apakah kamu sengaja membelikan untukku?" Nikita memulai obrolan untuk memecahkan kesunyian diantara mereka.
"Apakah kamu marah padaku sayang?" Tanya Nikita menatap lekat suaminya yang sedang menyisir rambutnya yang panjang.
"Hmm!" Jawaban singkat dari mulut suaminya membuat Nikita makin keki.
Lagi-lagi tuan Kenzo hanya menggeleng saja tanpa suara." Kalau begitu bicaralah padaku seperti biasanya sayang. Apakah kamu sedang mengajarkan anakmu dengan bahasa isyarat agar dia gagu?" Canda Nikita.
"Nikita!" Bentak Kenzo membuat Nikita tersentak.
"Mengapa kamu membentakku?"
"Jangan coba-coba kamu menyumpahi putraku gagu!" Tuan Kenzo mengomeli istrinya.
"Kenzo, aku sedang bercanda sayang. Aku tidak serius mengucapkannya, apa lagi mendoakan dia menjadi anak cacat. Mana ada orangtua yang menginginkan anaknya cacat." Nikita menjelaskan kesalahpahaman Kenzo atas candaannya.
"Pilihlah kata-kata candaan yang masuk akal. Jangan mengucapkan hal tabu yang akan mendatangkan petaka pada bayiku." Ucap Kenzo datar.
"Sudahlah!" Terimakasih sudah mengurusku. Aku mau tidur." Lagi-lagi Nikita merajuk.
Niatnya ingin mencairkan suasana kaku diantara mereka, malah salah kata dalam berucap.
"Kamu belum makan malam, sekarang kita makan malam dan setelah itu, kamu boleh tidur."
"Makan saja sendiri, aku tidak mau." Ucap Nikita ketus dari balik selimut.
"Bukan untukmu tapi untuk bayiku. Jika kamu ingin tidak menginginkan bayi itu, biarkan aku yang akan mengurusnya. Mungkin setelah bayi itu lahir, aku akan memproses perceraian kita. Ambil perusahaanku yang manapun kamu suka, yang ada di Indonesia ini.
Aku sudah muak denganmu, wanita keras kepala dan ambisius." Ucap Kenzo makin membuat Nikita terperanjat.
"Oh, jadi kamu memberikan perhatianmu padaku, menjagaku selama ini dan melakukan apapun untukku demi bayi ini?" Baiklah aku terima permintaan anda tuan Lorenzo dan sekarang keluar dari rumahku karena mulai saat ini kita bisa bercerai. Aku akan memberikan bayi ini setelah ia lahir. Lagi pula siapa yang mau memiliki anak darimu. Lagi pula kamu yang tergila-gila kepadaku bukan aku tuan Kenzo yang terhormat.
Tidak perlu menawarkan perusahaanmu, karena aku sudah puas dengan satu perusahaan yang aku dapat dari mantan suamiku." Ujar Nikita penuh amarah.
"Baiklah!" Terserah padamu." Ucap Kenzo dengan mata menyalang.
Nikita membuka dress yang di pakaikan oleh Kenzo padanya lalu melemparkan dress itu di wajah Kenzo. Bawa dress ini dan apa pun milikmu yang kamu berikan kepadaku. Aku memang tidak menginginkannya apa lagi mencintaimu." Ucap Nikita dengan suara yang menggema di seluruh kamarnya.
Tuan Kenzo makin bingung dengan sikap Nikita yang tidak mau mengalah sama sekali kepadanya. Ia tidak menyangka wanita yang selama ini membuat dirinya tergila-gila ternyata sangat berbanding terbalik dengan Nikita yang ia temui sebelas tahun yang lalu.
Wajah ramah Nikita yang membuat ia tidak bisa tidur malam dengan nyenyak, kini hanya membuat tidurnya makin tersiksa karena sifat keras kepalanya sang istri. Wanita ini memiliki hati yang terbuat dari batu. Bibirnya tersenyum namun hatinya menyeringai seperti iblis.
Tuan Kenzo terpaku pada tempatnya, ia ingin sekali meninggalkan wanita ini, namun hatinya tidak sanggup karena kehamilan Nikita.
Logikanya mengikuti amarahnya namun hatinya terus membujuk dirinya agar tetap disamping wanita ini.
"Mengapa kamu masih diam di situ, bukankah tadi aku meminta kamu tinggalkan rumahku?" Nikita masih saja menantang suaminya.
"Aku akan keluar dari rumahmu sampai anak kita lahir." Ucap Kenzo lalu memiilih tidur di sofa panjang di dalam kamar Nikita.
Nikita mengambil obat tidur yang biasa ia simpan di dalam laci dekat dengan tempat tidurnya. Ia kemudian meminumnya. Kenzo tidak tahu apa yang dilakukan Nikita karena ia hanya tahu Nikita meminum obat untuk kehamilannya saja.
Setelah membaca buku berapa saat, Nikita baru terlelap. Tuan Kenzo bangun dan menutupi tubuh Nikita dengan selimut karena Nikita tadi membuka dress miliknya.
"Nikita, bagaimana bisa kamu berubah seperti ini semenjak dipaksa bercerai dari bajingan itu. Apakah dari dulu kamu juga memperlakukan Aryo yang sama seperti kamu padaku selama ini?" Ujar Kenzo lirih.
Iapun tidur disebelah Nikita karena ingin lebih dekat dengan bayinya.
"Jika kamu sudah hadir di dunia, Daddy akan membawamu pergi dari ibumu sayang. Dia sedikitpun tidak mencintai kita berdua. Dia lebih memikirkan karirnya ketimbang kita sayang." Bisik tuan Kenzo di perut besar istrinya.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Usia kandungannya sudah delapan bulan lebih, Nikita mulai gelisah saat tidur. Miring ke kanan lalu miring ke kiri, tetap saja Nikita tidak bisa merasa nyaman.
Kenzo mendekati istrinya dan mulai memijat kaki Nikita yang tampak sedikit bengkak. Tanpa banyak kata, tuan Kenzo menanggalkan baju Nikita dan mulai mengoles minyak gosok yang mengandung aroma terapi agar ibu hamil ini bisa merasa tenang.
Tangan Kenzo mulai merambah ke perut dan mengusap beberapa kali dengan minyak gosok tersebut. Harum aroma terapi yang tercium oleh Nikita mulai merilekskan syaraf-syaraf Nikita yang menegang sejak tadi.
Kini pijatan lembut itu beralih ke punggung dan tengkuk milik Nikita. Jari Kenzo yang begitu lihai memijit tubuh istrinya membuat Nikita sedikit tersenyum.
Jauh dalam hati ibu hamil ini menginginkan suaminya melakukan hal yang lebih karena Nikita tidak menggunakan kain apapun yang menempel di tubuhnya.
Sebenarnya tuan Kenzo ingin melakukan hubungan suami istri pada istrinya, namun tuan Kenzo sengaja membuat istrinya memohon sendiri kepadanya untuk melakukan hubungan itu.
"Apakah sudah lebih baik?" Tanya Kenzo kemudian.
"Belum Kenzo, bagian pahaku sangat pegal, apakah kamu bisa memijatnya?" Pinta Nikita terdengar manja.
Kenzo kembali menuangkan minyak gosok tersebut di ? tangannya lalu mulai memberikan pijatan lembut pada paha istrinya.
"Kenapa tidak dilanjutkan sampai ke ujung paha?" Gumam Nikita membatin.
Kenzo memperlambat gerakannya dan sedikit membuat gerakan-gerakan rangsangan di sekitar ujung paha Nikita.
Nikita menangkap tangan Kenzo lalu meletakkan tepat di atas miliknya yang sensitif.
Kenzo tersenyum dalam hati karena Nikita sudah menuntun tangannya tanpa kata yang mewakili kata hatinya.
Kenzo menelusuri jarinya di tempat sempit itu dan menari indah dengan ritme dari pelan hingga berubah kasar membuat Nikita mulai mengerang.
Karena tidak kuat juga menahan rasa yang lebih dari itu, Kenzo membenamkan wajahnya di antara dua paha itu dan memainkan lidahnya di bawah sana.
Liukan pinggul Nikita yang menerima setiap rangsangan membuat nafasnya terengah-engah merasakan datangnya nikmat mengusai jiwanya.
"Kenzo, lakukan yang lebih, aku sangat merindukanmu!" Pinta Nikita tanpa malu pada suaminya.
Tuan Kenzo pura-pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Iapun meminta Nikita untuk mengulangi lagi kata-katanya.
"Dasar lelaki bodoh!" Apakah kamu mau aku merendahkan diriku lagi untuk bisa disentuh olehmu?" Kita ini masih suami istri, tidak bisakah kamu mengerti keadaanku saat ini." Ujar Nikita yang sudah kehilangan moodnya untuk bercinta dengan sang suami.
Tanpa ingin mengulangi lagi perkataannya, Nikita mulai marah dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang polos.
"Sial...sial..sial!" Umpat Nikita yang kesal pada suaminya yang sedang mengerjai dirinya.
"Yah, dia marah lagi deh!" Tahu tadi tidak usah banyak tanya, langsung masukin saja." Ucap tuan Kenzo penuh penyesalan.
Ingin rasanya, Kenzo membuka paksa selimut itu, tapi ia takut akan bertengkar lagi dengan Nikita.
*
*
Tidak terasa kandungan Nikita sudah memasuki usia sembilan bulan, itu berarti sebentar lagi Nikita harus mempersiapkan dirinya untuk melahirkan anak pertamanya.
Tidak seperti ibu kebanyakan yang mempersiapkan semua pernak pernik kebutuhan bayinya, Nikita nampak cuek dengan hal-hal seperti itu karena dirinya merasa suaminya yang lebih menginginkan bayi ini daripada dirinya.
"Ade, mungkin mama tidak akan melihatmu setelah kamu lahir ke dunia karena ayahmu akan membawamu pergi dariku. Kebersamaan kita hanya berlangsung beberapa hari lagi.
Semoga kamu tumbuh menjadi anak yang sehat, pintar dan bertanggungjawab seperti ayahmu. Maafkan mama karena pernikahan kami tidak bisa bertahan lama. Mama tidak tahu apakah mama mencintai ayahmu atau tidak.
Jika kamu besar, tolong cari mama sayang walaupun mama tidak bisa membesarkan kamu dengan kasih sayang." Gumam Nikita lirih.
Nikita lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah untuk mempersiapkan kelahirannya. Demikian juga dengan Kenzo yang tetap menjaga Nikita walaupun keduanya sudah tidak lagi semesra dulu.
*
*
Di saat Nikita ingin bangun mengambil air, tiba-tiba ia merasakan kontraksi yang luar biasa.
"Aduh, perutku!" Nikita meringis kesakitan.
"Ada apa Nikita?" Kenzo terkesiap melihat Nikita memegang perutnya yang makin melilit.
"Sepertinya aku mau melahirkan." Ucap Nikita berusaha berdiri.
Saat hendak melangkah, darahnya mengalir begitu saja.
"Nikita, kamu pendarahan, sayang!" Teriak Tuan Kenzo panik.
Kenzo langsung menggendong istrinya dan membawanya ke dalam mobil. Sopir pribadi Nikita siap mengantar pasangan ini ke rumah sakit.
Peluh Nikita makin meluncur deras. Nikita mengigit bibir bawahnya karena tidak ingin memperlihatkan dirinya saat ini lemah, padahal wajahnya sudah sangat pucat.
"Nikita, apakah sangat sakit?" Tanya Kenzo sambil mengelus perut Nikita.
"Ya Tuhan, apakah seperti ini sakitnya ibuku melahirkan aku?" Maafkan aku ibu!" Jika selama ini aku tidak bisa membuat kalian bahagia." Bulir bening itu menetes begitu saja tatkala dirinya mengingat almarhum ibu kandungnya.
"Nikita, apakah kamu masih saja so kuat di depanku padahal aku tahu kamu saat ini sedang merasakan kesakitan yang luar biasa." Gumam Kenzo sedih.
Ketika sudah tiba di rumah sakit.