Sebelum membaca perhatikan umur, ya!
21+
Mantan Tapi Menikah??
Kok bisa?
Meskipun hubungan asmara Marvel dan Celine sudah berakhir, tapi mereka memutuskan tetap menikah. Marvel terpaksa menikahi Celine hanya karena mewujudkan permintaan nenek. Tidak ada yang tahu kalau Marvel dan Celine menikah di atas perjanjian yang tidak tertulis. Hanya satu tahun, sebab Marvel masih menunggu wanita lain yaitu Jeny.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MTM 27- Kedinginan
27
"Bisa-bisanya hujan deras begini dia tidak kembali ke rumah. Apa Celine mau mati kedinginan di sana?"
Marvel langsung keluar dari ruang kerjanya. Ketukan kaki Marvel yang terkesan buru-buru membuat mata semua orang tertuju padanya.
"Kau sudah tau di mana istrimu? Kau mau menjemputnya 'kan?"
"Ntahlah, terakhir kali Celine ada di taman belakang, setelah itu dia ntah pergi kemana, aku rasa Celine ada di rumah kayu, Nek." Marvel menyambar lampu senter yang tersimpan rapi di lemari.
"Kenapa dia kesana sendirian? Padahal dia bisa mengajak Elma ke sana. Marvel cepat jemput Celine, nenek tidak mau terjadi sesuatu padanya. Jangan sampai hal buruk menimpa istrimu itu."
"Hem." Marvel menghembuskan nafas di udara, ia berusaha tetap tenang agar tidak memarahi Celine nanti.
Tidak perduli sederas apa hujan di luar sana, tidak perduli secepat apa petir menyambar langit di langit malam itu, Marvel tetap berlari menembus hujan dan dinginnya angin malam.
"Semoga Tuhan melindungi ke dua cucuku." Nenek mencemaskan Marvel yang pergi tanpa membawa jas hujan.
***
Sementara Celine
Suara petir membangunkan Celine dari tidurnya, ketika ia membuka mata hari sudah mulai gelap. Hujan yang melanda di petang itu mengurungkan niat Celine untuk kembali ke rumah utama. Celine sengaja menunggu hujan reda, tapi ternyata semakin malam hujan turun semakin deras.
"Aku takut sekali, kenapa lampunya tidak menyala?" Celine menekan saklar lampu yang tertempel di dinding, tapi alat itu sama sekali tidak berfungsi, kini ia terkurung di ruangan yang gelap gulita.
Suara petir menggelegar di malam sunyi berhasil membuat Celine menangis, kali ini ketakutannya berlipat ganda dari takut yang ia rasakan ketika terjebak di lift waktu itu. Dan keadaan ini justru membuat Celine teringat Marvel.
"Dia tidak mungkin menjemputku," lirih Celine dengan air mata berderai di pipi.
Dinginnya angin malam menyelimuti tubuh Celine. Air hujan yang masuk dari bagian atap yang bocor pun sudah membasahi rambut dan bajunya. Dalam kegelapan seperti ini, Celine berjalan meraba dinding berusaha mencari sudut yang lebih aman untuknya.
Celine duduk di lantai. Tubuhnya sudah menggigil karena kedinginan. Celine menekuk kedua lutut dan memeluknya erat, hanya cara itu yang bisa sedikit menghangatkannya.
"Ayah, aku takut sendirian di sini, tolong jemput aku," ucap Celine lirih.
Suara petir yang menggelegar membuat Celine menjerit histeris, bahkan refleks menutup mata dan telinga, terjebak di malam sunyi sangat menakutkan. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah menunggu sampai besok pagi.
.
.
.
.
.
Hanya cahaya lampu senter yang tidak terlalu besar menjadi satu-satunya alat penerang jalan bagi Marvel. Jalan setapak yang tersembunyi diantara semak belukar menjadi tempat kakinya berpijak, sekujur tubuhnya sudah basah kuyup diguyur air hujan, tapi tetap tidak menyurutkan niatnya untuk menjemput Celine.
"Celine....!"
"Celine kau di mana?"
Brak!!!
Marvel menendang pintu bersamaan dengan suara petir yang nyaris memekakan telinganya.
Celine tersentak, ia merasa mendengar suara Marvel memanggil namanya.
"Marvel tidak mungkin menjemputku," lirih Celine dengan bibir bergetar kedinginan. Celine bahkan tidak mau membuka matanya.
Marvel menyoroti setiap sudut ruangan. Sampailah ia menemukan sosok yang dicarinya. Celine tampak duduk dengan wajah yang terbenam diantara kedua lututnya. Sepertinya Celine belum menyadari kehadirannya. Wanita itu tidak sedikitpun melihatnya. Tapi meskipun begitu Marvel sudah bisa bernafas lega lagi.
Dengan masih memakai stelan kantor ia mendekat dan jongkok di depan Celine.
"Bodoh!" ucap Marvel sambil menepuk pelan kepala Celine. Celine langsung mengangkat kepala melihatnya.
"Ma-Marvel?" Celine tidak tahu harus berkata apa, ia merasa bersyukur karena ada yang datang menjemputnya. Dan itu Marvel. Kali ini Marvel menyelamatkan dirinya lagi.
"Kau bukan anak kecil yang tidak tahu jalan pulang 'kan? Atau kau lebih betah tinggal di rumah ini?"
Celine menggeleng lemah. Kali ini Celine tidak berniat mendebat Marvel, ia hanya menangis seperti anak kecil yang dimarahi ayahnya.
"Kau sudah berhasil membuat semua orang mencemaskanmu." Marvel masih fokus menatap mata Celine.
"Ma-maaf...," jawab Celine sambil memeluk erat tubuhnya sendiri.
"Sudahlah, sepertinya hujan sudah mulai reda. Lebih baik kita pulang atau kita berdua terjebak di sini sampai besok pagi."
Marvel berdiri tapi matanya masih fokus melihat Celine. Kening Marvel mengkerut bahkan kedua alisnya hampir menyatu saat memelihat Celine kedinginan dan kesulitan berdiri. Hal itu membuat Marvel tidak tega melihatnya.
Marvel membuka kemeja kerjanya lalu ia pakaikan menutupi punggung Celine.
"Sudah basah, tapi setidaknya itu lebih baik daripada bajumu itu," ucap Marvel sambil membantu Celine berdiri.
Celine terkejut melihat Marvel, tapi langsung menunduk karena malu melihat tubuh Marvel hanya dilapisi kaos tipis saja. Lihatlah, otot-otot tubuh Marvel tercetak sempurna.
"Seharusnya tidak perlu. Kau pun kedinginan 'kan?"
"Aku tidak apa." Marvel meletakkan senter di tangan Celien. "Pegang ini."
"Kau saja yang membawanya, aku takut kita tersesat."
Tapi, Marvel tidak menjawab, ia berbalik arah memunggungi Celine.
"Naiklah." Mebel sedikit membungkukkan badan.
"Tidak aku jalan saja."
"Untuk kali ini jangan membantah."
"Baiklah." Celine tidak punya pilihan selain naik ke punggung Marvel.
***