Sejak kami kedatangan tetangga baru, kampung yang begitu tenang kini berubah menjadi mengerikan. Semua orang takut keluar rumah ketika malam. Makhluk tak kasat mata tidak pernah berhenti datang siang maupun malam. Bahkan mereka mengambil nyawa orang-orang satu per satu.
Kami bahkan tidak tau apa penyebabnya. Tiba-tiba sakit dan langsung di kabarkan sudah meninggal. Bahkan di tubuh mayat mempunyai bekas telapat tangan yang berwarna keunguan.
Pertanda apa semua ini, aku yang mempunyai kemampuan mengobati, tidak bisa berbuat apapun. Meski aku sering melihat makhluk tak kasat mata, tetapi aku begitu takut. Karena energi mereka begitu besar.
Apa yang harus aku lakukan?
Apa yang harus dilakukan warga di kampungku?
Kami merasa takut ketika setiap bulan, berjatuhan korban yang meninggal. Kepanikanku bertambah ketika adikku sakit, aku khawatir adikku akan seperti korban lain yang hanya mengalami sakit demam dan langsung meninggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UNI NANNI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan Seram
"Luis..." terdengar suara seseorang memanggil namaku.
"Idar...." nama adikku, juga di panggil.
"Kemarin nak, temani aku di sini. Aku kesepian.." katanya kembali.
"Kak, aku takut," kata idar, memelukku dengan erat.
Piring di dapur, terdengar pecah. Aku dan adik-adikku tetap menutup mata.
"Luis, buka pintunya" suara ayahku yang berteriak.
Aku membuka mataku dengan cepat, dan berlari ke arah pintu.
"Luis, ayah sudah pulang," kata ayahku, yang membuat aku yakin. Tetapi, sebelum membuka pintu, aku pastikan dulu di jendela. Ternyata benar, ayahku dan pak ali yang berada di luar.
Aku membuka pintu, sambil bernapas lega. Akhirnya ayahku pulang.
"Luis, kau kenapa lama sekali? Sudah tidur?" Tanya ayahku ketika pintu sudah di buka.
"Ayah, aku takut," kata idar yang berlari memeluk ayahku.
"Ada apa ini, kalian semua kenapa?"
"Tamrin, aku pulang juga. Istri dan anakku pasti ketakutan juga," kata pak ali yang pergi.
Aku menutup rapat rumahku, dan menguncinya.
"Luis, kau apakan adikmu. Buat dia takut?" Tanya ayahku dengan suara tinggi padaku.
"Bukan kak luis yah, kami mendengar suara seseorang yang memanggil namaku dan kak luis," jawab idar.
Ayahku semakin erat, memeluk kedua adikku. Aku yang melihatnya, cukup iri. Aku sudah besar, tidak akan di peluk lagi.
"Yah, kenapa lama sekali. Kami hampir mati karena ketakutan," kataku dengan marah, tetapi bukan itu yang membuatku marah. Aku iri dengan adik-adikku.
"Maaf, banyak kejadian aneh di rumah pak ahmad," kata ayahku, yang membuat aku bingung.
"Kejadian aneh seperti apa?" Tanyaku dengan penasaran.
"Sudah kak, jangan bahas apapun lagi. Aku takut," kata idar yang membuat ayahku tidak jadi bercerita.
"Kalian semua tidur, biar ayah yang jaga," kata ayahku, yang di balas anggukan oleh adik-adikku.
"Tapi, kenapa ada bau aneh. Seperti bau kencing," kata ayahku kembali.
Aku melihat ke celanaku, celanaku basah. Padahal, aku sama sekali tidak kencing.
"Kok, celanaku basah. Aku tidak kencing," kata idar yang membuatku juga heran.
Aidil tertawa, membuat aku dan idar melihat ke celanan adikku. Ternyata, di saat berpelukan tadi, aidil kencing. Mungkin karena takut.
"Kalian semua kencing?" Tanya ayahku, sambil melihat kami bergantian.
"Tidak yah, aku tidak ngompol," kataku dengan cepat. Aku sudah besar, mana mungkin ngompol di celana. Memalukan.
"Tidak apa-apa, kalian mungkin sangat takut," kata ayahku, yang tidak mendengar perkataanku. Aku kesal dan pergi ke kamar, menganti celana.
Tetapi, sebuah tulisan berwarna merah di kaca jendela membuat aku terkejut. Ayah, idar, dan aidil, berlari ke kamar.
"Luis, ada apa lagi?" Tanya ayahku dengan suara tinggi.
"Kak, jangan buat kita takut. Aku sudah sangat takut tadi," lanjut idar, yang tidak mendengar penjelasanku lebih dulu.
"Yah, ada tulisan mati di jendela," kataku, menunjuk ke arah jendela.
Ayah dan idar, terheran-heran ketika melihatnya.
"Perasaan tadi, tidak ada tulisan apapun,"
"Sudah, biarkan saja. Kalian tidur di kamar ayah saja, nanti bezok baru kita bersihkan tulisan ini," perintah ayah.
****
Kini, pagi sudah datang. Menyilaukan mata dengan sinarnya. Aku terbangun dan melihat jam di dinding. Baru setengah enam, tetapi matahari sudah muncul. Buru-buru aku ke dapur untuk masak.
Aku memperhatikan piringku, tidak ada yang jatuh apalagi pecah. Kemarin, terdengar jelas piring jatuh di dapur.
"Mungkin aku salah dengar," gumanku, menyangkalnya.
Setelah selesai memasak, aku kembali ke kamarku. Tulisan berwarna merah, masih ada di jendela. Aku melapnya, tetapi rian datang mengagetkanku.
"Luis...." kata rian yang tiba-tiba nongol di jendela kamarku.
"Kau membuatku kaget." Kataku sambil mengelus dadaku. Aku bisa merasakan, jangtungku terasa mau melompat dari dalam.
"Kau sedang melap apa?" Tanyanya, yang melihatku. Aku buru-buru, melap semuannya agar dia tidak membacanya.
"MATI" kata rian yang membacanya.
"Apa ini? Kau kenapa menulis kata MATI?"
"Itu bukan urusanmu," kataku dengan cuek.
"Luis, hari ini kau tidak ada acara?"
"Kenapa?"
"Aku dengar, jika terdapat air terjun di kampung ini. Kau bisa, mengajakku ke sana?" Tanyanya, dengan tersenyum manis.
"Luis, aku mohon,"
"Aku tidak bisa, aku sangat sibuk," kataku sambil menutup jendela kamarku. Dan meninggalkan rian yang masih berdiri di sana.
"Kakak bicara dengan siapa?" Tanya idar, yang nongol di depan pintu.
"Ti-" idar langsung melihat ke jendela. Dia pasti sudah melihat rian, idar akan marah padaku.
"Tidak ada orang, kak luis bicara sendiri?" Tanya idar yang membuatku terkejut.
Aku menoleh ke belakang, dan rian sudah tidak ada di sana. Rian memang selalu seperti itu, datang dan pergi secara menghilang.
"Apa hanya perasaanku saja ya?" Gumanku dalam hati.
"Ya sudah, jika kakak tidak mau jawab. Berikan aku uang jajan, aku mau berangkat ke sekolah sekarang," kata idar sambil menyodorkan tangannya.
Aku mengambil uang di laci dan memberikannya padanya. Ayahku juga pergi, dia mengantar aidil ke sekolah. Maklum, adik kecilku itu, tidak mau ke sekolah kalau tidak di antar. Tapi, tidak apa-apa. Sekalian, ayahku juga ke sawah.
Kini, tinggal aku sendirian di rumah. Aku teringat dengan kecurigaan idar tentang rian.
"Kalau begitu, kita buktikan apa kecurigaan adikku benar?" Kataku melangkah ke rumah rian.
Aku mengendap-endap agar tidak ada yang melihatku. Baru di depan teras rumah rian, aku sudah ngos-ngosan. Ternyata, berat menjadi pencuri.
Aku tidak mungkin, masuk lewat pintu. Aku akan mudah ketahuan. Aku memutuskan untuk masuk lewat jendela samping. Tetap sekalu, aku masuk ke jendela dan berada di kamar rian.
Aku melihat sekeling, mencari sesuatu yang aneh. Tetapi, di kamar rian, begitu sempit. Padahal, sejak tetanggaku yang dulu yang menempatinya, kamarnya begitu luas. Sepertinya, kamar rian di bagi menjadi dua.
Aku melihat tembok dari papan, dan terdapat pintu di dekatnya. Aku merasa heran, untuk apa rian membagi kamarnya, memangnya tempat apa di balik tembok papan ini. Terlihat mencurigakan, aku harus membukanya.
"Kebenaran agar segera terbongkar," gumanku dalam hati, sambil mendorong pintu rahasia di kamar rian.