The Strongest Mr. Max Kendrick!
Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.
Bersumpah akan membalaskan dendam kepada mereka yang telah membunuh kedua orang tuanya.
Rasa sakit, kesedihan, kehancuran akan Max berikan 100x lipat untuk mereka. Dengan kemampuan dan kelebihan yang dia miliki, Max siap menghancurkan siapa saja yang menghalangi nya menjadi debu!
Dengan membentuk Geng bernama The Strongest Warriors, Max akan membuat dunia bertekuk lutut dengannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FixCrazy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Natasha Dalam Bahaya
Max sendiri terus menatap ke arah Fox, dia sedang menunggu jawaban Fox selanjutnya.
Hingga tiba-tiba, ponsel Max bergetar. Dengan cepat Max mengambil ponselnya di saku celana. Terlihat nama Ajax tertera di layar ponsel.
"Halo Jax," Ucap Max setelah mengangkat sambungan telepon.
"Tuan, gawat!" Ucap Ajax dengan panik.
"Jelaskan padaku, jangan membuatku bingung dengan perkataan mu itu!" Ucap Max dengan perasaan tidak menentu.
Max tidak mengetahui dengan pasti, tetapi setelah mendengar ucapan Ajax, tiba-tiba dia merasa sangat gelisah.
"Nona Natasha di culik, orang-orang TSM Group yang bertugas menjaga nya berhasil di lumpuhkan,"
"Katakan padaku, ke arah mana mereka membawa Natasha? Dan katakan pada Vermin untuk melacak GPS yang aku pasang di ponsel Natasha!" Perintah Max dengan cepat.
"Mereka pergi ke arah barat. Vermin telah melacaknya, saat ini keberadaan mereka berada di sebuah hutan dekat Gunung Qin," Jelas Ajax.
Max langsung mematikan sambungan telepon, lalu menatap ke arah Fox.
Fox yang sedari tadi menyimak obrolan Max menatap dengan serius. "Apa yang terjadi?"
"Temanku saat ini di culik, mereka membawanya ke Hutan dekat Gunung Qin,"
Fox menganggukkan kepala. "Aku sedikit memahami rute di hutan tersebut. Sebaiknya kita segera pergi sebelum semuanya terlambat," Ucap Fox dengan serius.
Max menatap ke arah Fox, Fox yang mendapatkan tatapan dari Max segera menjelaskan.
"Di bawah kaki Gunung Qin terletak markas cabang Black Tiger. Mereka tidak akan melepaskan siapa pun yang telah memasuki kawasan kekuasaannnya." Jelas Fox kepada Max.
Max yang mendengar hal itu, mengepalkan tangannya.
"Brakk...." Max memukul pintu toilet dengan keras.
"Kalian benar-benar membuatku marah! Akan aku pastikan kalian semua mati di tanganku kali ini!" Ucap Max yang kemudian berjalan keluar dari toilet tersebut. Fox segera mengikuti Max di belakangnya.
Smith yang berada di meja menemani Felicia, terlihat sangat khawatir. Dia telah mengetahui hal itu dari orang-orangnya.
Hingga Smith akhirnya melihat Max dan Fox yang sedang berjalan ke arahnya.
"Smith bawa Felicia menuju Mansion. Aku akan pergi mengurus semut-semut itu!" Ucap Max dengan cepat.
Felicia sendiri terlihat bingung, bahkan dia sedikit takut untuk menatap ke arah Max.
Max yang melihat Felicia takut padanya, tersenyum dengan ramah. Lalu berjalan ke arahnya.
"Maafkan paman, paman sedang ada urusan. Felicia ikut bersama paman Smith oke?"
"Oke paman, hati-hati. Felicia akan menunggu paman." Ucap Felicia dengan tersenyum.
Max menatap ke arah Smith, lalu melihat ke arah Fox yang menganggukkan kepala.
Fox segera berpamitan kepada Felicia, setelah itu pergi keluar dari restoran bersama Max.
"Biar aku yang menyetir," Ucap Fox dengan tersenyum. Max segera memberikan kunci mobil ke arah Fox.
Terlihat beberapa Bodyguard yang sedang berdiri di samping mobil.
"Tuan." Ucap mereka menyambut kedatangan Max. Max tersenyum, lalu meminta mereka untuk melakukan penjagaan secara ketat.
"Baik tuan," Ucap Bodyguard dnegan membukakan pintu untuk Max.
Max dan Fox yang sudah berada di dalam mobil, segera pergi dari tempat tersebut untuk menuju Hutan dekat Gunung Qin.
*
*
Dua mobil mewah melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah barat.
"Mereka benar-benar telah membangunkan singa dari tidurnya!" Ucap Cleon dengan geram.
"Apa kali ini bisa di katakan kita akan berpesta?" Tanya Swan dengan menyunggingkan senyum menyeramkan.
"Sepertinya begitu," Jawab Rembrandt dengan mengeluarkan senjata pisau kecil kesayangannya.
Saat ini Cleon, Rembrandt, dan Swan sedang menuju tempat di mana Natasha berada. Mereka terus mengikuti mobil yang di tumpangi oleh Ajax dan Vermin yang bertindak sebagai penunjuk arah.
*
*
Saat ini, di pinggiran ibu kota sebelah barat.
Di sebuah hutan, terlihat seorang wanita muda yang di ikat dengan tambang. Holland sang ketua Black Tiger cabang menyeretnya dengan kejam.
Terlihat Natasha yang terus meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, dia benar-benar merasa sangat ketakutan.
"Apa aku akan mati di sini?" Batin Natasha dengan wajah ketakutan.
Holland yang melihat wajah ketakutan Natasha, terlihat tersenyum bahagia. Dia benar-benar sangat bersemangat dan menikmati raut wajah ketakutan Natasha.
"Aku tidak menyangka akan menemukan wanita sekuat dirimu," Ucap Holland yang menghentikan langkahnya.
Holland menatap ke arah anak buahnya. "Kemarilah, kalian bisa menikmati tubuhnya. Tapi dengan satu syarat, kalian harus membuatnya menangis dan menangis dengan sangat menyedihkan. Aku sangat ingin menikmati setiap rasa sakit dan tangisan yang keluar dari mulutnya," Lanjut Holland dengan tersenyum.
Kelima anak buah yang bersamanya, terlihat sangat bahagia. Mereka berlomba-lomba untuk memenangkannya.
Setelah mendengar hal itu, tubuh Natasha bergetar dengan raut wajah pucat. Dia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan orang seperti mereka yang sangat kejam.
Holland sendiri tertawa keras melihat reaksi tubuh Natasha. "Kau sangat cantik, tetapi sayang aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuh dan bagian dada mu yang kecil itu!" Ucap Holland dengan tersenyum sinis.
Natasha hanya diam dengan pandangan kosong, dia benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk melakukan perlawanan.
Melawan mereka juga percuma, Natasha yang hanya seorang wanita tidak akan mungkin bisa mengalahkan mereka.
"Max.." Natasha mengingat sosok pria yang berjanji akan menjaga dan melindunginya. "Kau bohong Max! Kau benar-benar pria yang menyebalkan." Natasha dengan tersenyum pahit.
Holland menatap tajam Natasha. "Apa kau tau? Semua gara-gara kau! Gara dirimu aku di buang oleh kedua orang tuaku sendiri!" Ucap Holland dengan penuh kemarahan.
Natasha hanya diam tidak menjawab, dia tidak mengerti apa yang di katakan oleh Holland.
"Kau putri dari seorang Marcell Jonathan dan Aurora Hernandez. Mereka yang telah membuat perusahaan kedua orang tuaku hancur, hingga membuat kedua orang tuaku membuangku," Ucap Holland dengan marah.
"Tuan, sebaiknya kita segera pergi menuju markas." Ucap salah satu anak buah Holland.
Holland membalikkan badan menatap anak buahnya dengan tajam.
"Bughhh...." Tinju keras mengenai wajah anak buah yang berbicara kepadanya.
"Sejak kapan kau berani mengaturku hah!"
"Maaf tuan," Ucap anak buah Holland dengan menahan rasa sakit.
"Jika kalian ingin menikmati tubuhnya, kalian bisa menikmatinya di tempat ini."
Kelima anak buah Holland tertawa menatap ke arah Natasha. Dengan perlahan mereka mendekati Natasha yang semakin bergetar ketakutan.
Natasha hanya terus menggelangkan kepalanya. Dia benar-benar merasa hidupnya akan benar-benar hancur.
"Jangan... aku mohon jangan lakukan itu.. Bunuh aku saja! Bunuh!" Teriak Natasha dengan putus asa.
Kelimanya sama sekali tidak mendengarkan permohonan Natasha. Salah satu dari mereka berjongkok di hadapan Natasha yang terduduk di tanah.
Dengan menyentuh rambut Natasha, pria itu menjilat bibir bawahnya penuh dengan n*fsu.
"Mari buat aku puas." Ucap salah satu dari mereka dengan tertawa.
"Tidak....! Max....., tolong aku!" Teriak Natasha saat mereka ingin menciumnya.