Novel ini masih dalam tahap revisi ya, Kak? Jadi maaf kalau tulisan masih berantakan. 🙏 Udah Revisi bab 1-23 ya, Kak. Yuk Cek.....
Andini terpaksa menikah dengan Rico karena di desak oleh Dinda. Itu semua karena Dinda belum bisa memberikan keturuan pada Rico. Pernikahan Rico dan Dinda selama sepuluh tahun belum juga dikaruniai keturunan. Dengan terpaksa dan tanpa cinta Rico mau menerima permintaan Dinda untuk menikah dengan Andini.
Akankah Rico bisa menerima Andini dan mencintai Andini, setelah Andini memberikan buah hati untuknya? Atau sampai kapan pun Rico tidak bisa menerima kehadiran Andinni sebagai istri keduanya, sekaligus sebagai pengganti Dinda, setelah Dinda pergi menghadap Sang Khalik karena sakit yang tidak bisa disembuhkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hany Honey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Setelah kejadian semalam, Andini benar-benar tidak bisa tidur nyenyak. Dia mengingat semalam diajak mengobrol dengan seorang wanita yang tak kasat mata. Mungkin hanya halusinasi Andini saja, tapi bagi Andini itu terasa begitu nyata. Andini juga merasakan pelukan wanita itu, genggaman tangannya yang dingin pun masih Andini rasakan.
Andini berniat pergi ke makam Dinda pagi ini setelah selesai memasak dan membuatkan teh untik suaminya. Tapi, seperti biasa Bi Ana yang selalu menyiapkannya di meja makan.
Andini sampai di makam Dinda, dia berjongkok, membersihkan nisan Dinda dari debu dan kotoran lalu menciumnya. Andini memang sangat menyayangi Dinda, seperti kakaknya sendiri.
"Mbak, maafkan aku. Karena, mungkin suatu hari aku akan menyerah. Aku tidak bisa, Mbak. Aku akui, aku sangat mencintai Mas Rico, tapi tidak untuk Mas Rico. Aku tidak bisa terus-terusan begini, Mbak. Hidup dengan suami yang tidak mencintaiku. Jangankan mencintaiku, menganggapku ada pun tidak. Aku tidak akan pergi jika Mas Rico menganggap aku ada, meski tanpa mencintaiku,” ucap Andini dengan lirih.
Sudah cukup lama Andini berziarah ke makam Dinda dan mendoakannya. Andini langsung pulang, karena sudah agak siang. Dia juga harus siap-siap untuk ke cafe, dan sebelum ke cafe, dia juga harus memandikan Arsyad, juga menyuapinya.
Seusai memandikan Arsyad, dan mendandaninya, Andini menggendong Arsyad keluar kamar. Seperti biasa sebelum berangkat kerja Andini menyuapi Arsyad dulu. Andini melihat Rico yang sedang sarapan di ruang makan. Tapi, dia berlalu begitu saja, menghiraukan Rico tanpa menyapanya. Padahal tadi ia melewatinya saat mengambil bubur Arsyad yang ada di meja makan.
Andini dengan telaten menyuapi Arsyad. Dengan lahap Arsyad memakan bubur yang ia buatkan tadi sekalian waktu memasak untuk sarapan Rico.
“Uh ... pinternya anak ibu? Makan yang lahap, biar cepat gede, ya? Eh tapi kalau cepat gede nanti ibu sama siapa mainnya?” ucap Andini.
Rico mendekati Andini yang sedang menyuapi Arsyad. Senyumannya terlihat, dan tumben sekali Andini melihat senyuman Rico yang tidak terpaksa. Dia langsung mendekati dan mencium pipi Arsyad yang sedang berada di gendongan Andini. Arsyad langsung meminta gendong pada papanya, mau tidak mau Andini memberikan Arsyad pada Rico.
“Ayo sayang, satu suapan lagi?” Arsyad sepertinya bahagia sekali, dia makan begitu lahap, apalagi dia disuapi ibunya dengan digendong papanya. Andini membersihkan mulut Arsyad yang sedikit belepotan.
“Ndin, kamu kerja hari ini?” tanya Rico.
“Iya, Mas,” jawab Andini.
“Yah, ibu kerja, Syad,” ucap Rico sambil mencium pipi Arsyad.
“Kan ibu kerja untuk kamu, Sayang,” ucap Andini. “Mas ke kantor juga hari ini?” tanya Andini.
“Iya, tapi sedikit siangan sih,” jawab Rico. “Ya sudah kamu siap-siap gih, biar Arsyad sama aku, aku berangkat agak siangan kok,” ucap Rico.
“Ya sudah, aku siap-siap dulu, Mas. Arsyad sama papa dulu ya, Sayang,” ucap Andini dengan mencium pipi Arsyad.
Andini pamit dengan Arsyad dan Rico untuk ke kantor. Andini sengaja berangkat lebih awal dari biasanya, karena dia ingin pekerjaannya cepat selesai, dan agar tidak terlalu kesorean bertemu dengan Bayu.
Rico sempt berpikir ingin mengikuti Andini pergi bekerja, dan ingin tahu di mana Andini bekerja. Di cafe mana. Tapi, sayangnya dia belum mandi, belum siap-siap, dan Arsyad masih ingin bersamanya.
Rico terpaksa harus berangkat ke kantor agak siang. Arsyad tidak mau lepas darinya, dan dia terpaksa menunggu jadwal Arsyad tidur siang. Biasanya Arsyad jam sepuluh pagi sudah mengantuk dan tidur, karena dia bangun sangat pagi.
“Ric, siang sekali kamu berangkatnya? Gak sekalian habis makan siang saja tadi? Lusuh banget wajahnya? Kenapa?” tanya Bayu saat melihat Rico baru saja datang ke kantor.
“Arsyad gak mau lepas dariku. Pagi-pagi sekali istriku sudah berangkat kerja. Padahal aku ingin mengikuti dia karena ingin tahu dia bekerja di mana, tapi Arsyad maunya sama aku terus,” jelas Rico.
“Aku kira lusuh gak bertenaga gitu karena gak dikasih jatah istrimu?” canda Bayu.
“Dih apaan, sih! Nyentuh dia saja enggak? Tujuh bulan aku gak pernah nyentuh dia selama dia ada di rumah!” jawab Rico.
“Kamu normal gak sih?”
“Ya normal, Bay. Tapi gak tahu, Bay. Aku gak bisa saja nyentuh dia, gak bisa sama sekali gak bisa,” jawab Rico. “Apa memang harusnya aku pisah dengan dia? Daripada aku terus menyakitinya?” imbuh Rico.
“Hey ... jaga mulut kamu kalau bicara?! Mau bagaimanapun, dia itu ibu dari anakmu, istrimu yang sah, pilihan yang terbaik dari Dinda! Jangan macem-macem kamu ngomongnya!” tutur Bayu gemas.
“Semalam aku sedikit berselisih dengan dia. Aku tanya dia kerja di mana, dia gak jawab. Aku memaksa dan sedikit bicara keras, dia malah kabur, pergi dari rumah, tengah malam pula,” ucap Rico.
“Lalu kamu gimana?”
“Aku khawatir Bay. Aku nungguin dia mondar-mandir di teras seperti orang gila, sampai jam satu lebih dia baru pulang,” jawab Rico.
“Itu tandanya kamu cinta! Kamu bisa sebucin itu saat dia menghilang, tapi kamu bilang gak bisa nyentuh dia, gak bisa cinta sama dia. Bullshits tahu, Ric! Basi omongan kamu itu! Sok jual mahal. Dulu gimana bisa sampai jadi anak sama dia? Kalau gak ada rasa gak akan jadi anak! Ah sudah, aku gak mau lama-lama ngomong sama batu! Susah, diam aja gak ada greget dan geraknya sama sekali. Mending aku selesaikan pekerjaanku, lalu aku ketemuan sama temanku,” ucap Bayu.
“Yang pemilik cafe itu? Gimana udah nikah belum?” tanya Rico dengan antusias.
“Iya, pemilik AR Caffe. Dia sudah menikah, Ric. Tapi, gak masalah sih, kan aku masih dianggap sebagai kakaknya. Seenggaknya kalau dia ada masalah pasti dia cerita sama aku, sama ibuku, karena aku juga sudah anggap dia seperti adikku sendiri. Ya aku juga lebih nyaman dia jadi adikku,” jelas Bayu.
“Berarti dia bukan jodoh kamu, Bay. Bukan yang terbaik untuk kamu,” ucap Rico.
“Iya, sih. Tapi sayang, suaminya gak cinta sama dia. Kasihan ya? Gak tahu gimana ceritanya, sudah sampai punya anak, tapi suaminya gak cinta, mungkin dijodohin sama orang tuanya kali,” ucap Bayu.
“Ya sudah temui saja nanti, tanya kenapa bisa sampai suaminya gak cinta,” ucap Rico.
“Iya, emang nanti aku mau menemuinya, jam tiga. Makanya aku pengin nyelesein dulu pekerjaan aku ini,” jawab Bayu. “Kamu mau ikut, Ric?” tanya Bayu.
“Gak lah, takut ganggu kamu, sudah ah aku mau kerja,” jawab Rico sambil berlalu meninggalkan Bayu ke ruangannya.
Rico berpikir sejenak, dia masih memikirkan teman Bayu yang katanya pemilik Cafe itu. Rico ingat kemarin kopi yang ia minum di sana seperti kopi buatan Andini. Ada kemungkinan Andini bekerja di cafe milik temannya Bayu.
“Mungkin saja, ya mungkin Andini bekerja di sana? Aku harus ke sana nanti, saat Bayu ke sana menemui temannya,” gumam Rico.