"Aku cantik, lo mau apa??" (Evelyn Radistya)
"Lo emang cantik daripada gue, tapi lo gak akan bisa merebut Tristan dari gue." (Atalia Prameswari)
"Aku laki-laki mapan, masih muda dan tampan, kenala harus memilih barang bekas kalau yang ori bisa didapat." (Tristan Wijaya Ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BATU MALANG
ATA
Setelah perdebatan panjang, akhirnya aku mengiyakan berangkat malam itu juga ke Malang. Pengen tabok tuh cowok tapi sayang, jadi gimana dong. Tristan main seenaknya saja, sampai aku pulang dari seminar ia malah menonton TV dan bejibaku dengan laptop, bukan pindah kamar. Aku langsung membersihkan diri dan sholat maghrib, tanpa menunggunya. Setelah beribadah, Tristan memintaku packing karena ia sudah memesan villa di Batu.
Aku mengomel dan menolak, gila aja badan capek banget diajak langsung ke Batu, tapi dengan ancamannya yang gak mau booking kamar lain, aku pun menurutinya. Dengan menggunakan taksi online, kami meluncur ke Villa batu. Selama perjalanan aku tidur, meski tidak pulas tapi lumayan lah. Apalagi aku tidur berbantal pahanya Tristan ya meskipun kaki meringkuk. Samar kudengar Tristan telpon dengan Arik, mama, atau ngobrol dengan pak sopir. Kurang lebih dua setengah jam kami tiba di Villa Batu.
"Mau kamar yang mana?" tanya Tristan sambil menarik koper.
Aku menoleh seketika dan memicingkan mata, "Kita tidur di kamar berbeda, awas aneh-aneh."
Tristan melongo namun detik berikutnya ia tertawa terbahak, ya memang aku harus tegas mau bagaimanapun dia laki-laki, masih ada sisi buayanya, meskipun akan menikahiku.
Ia mendekat lalu menyentil keningku, "Aduh," pekikku kesakitan.
"Gak usah mikir aneh-aneh, aku sayang kamu, gak bakal buka segel sebelum halal. Ayo cepetan, mau kamar mana?"
"Ya bisa tembus pemandangan luar," jawabku masih mengusap kening. Aku memilih kamar atas, di depan kamar seperti ada kursi dan meja yang bisa digunakan melihat pemandangan luar. Malam ini meskipun agak mendung tapi pemandangannya cantik dari cahaya lampu kota Batu.
"Besok mau ke mana?" tanya Tristan yang muncul tiba-tiba, sambil memberikan jaketnya padaku.
"Googling dulu deh," jawabku asal, karena ini pengalaman pertamaku ke kota ini. Kesan pertama yang kutangkap sangat menyenangkan. Suasana sangat dingin dan aku yakin kalau pagi sangat menyejukkan.
"Jangan jutek napa," pinta Tristan sambil merangkul pundakku.
"Aku tuh bukannya jutek sama kamu, cuma lagi kesel aja."
"Kenapa?"
"Aku gak suka kamu lihat video-video itu, trus ditambah foto sama Evelyn, belum lagi dia tih sok dekat banget dengan mama."
Kulihat ekspresi bingungnya, apalagi kalimat terakhir mungkin belum tahu kalau Evelyn senekat itu.
"Mama? kok jadi bawa mama? Aku gak pernah mengenalkan mama sama perempuan lain selain kamu."
Aku menghela nafas sebentar, lalu duduk di kursi dan menyodorkan ponselku. Menyodorkan roomchat ku dengan Evelyn.
"Wah.....niat banget kayaknya nih cewek," Tristan ikut geram.
"Seneng?" tanyaku memancing reaksinya.
"Enggak sama sekali, udah dibilang aku sama sekali gak tertarik sama dia Sayang, yang aku mau itu kamu. Cuma kamu."
"Janji?"
"Janji."
Yah aku percaya, omongan Tristan memang bisa dipegang, mungkin kemarin aku lagi sensitif dan takut secara berlebihan akan tingkah Evelyn yang cenderung nekad.
Keesokkan pagi....
Aku memakai kaos panjang, celana jeans dan sepatu kets putih. Rambut aku kuncir, sepintas aku masih seperti gadis kuliahan yang akan pergi kencan. Ya ...satu hari ini aku gunakan liburan bareng Tristan, menjelajahi wisata Kota Batu, besok siang kami baru pulang ke Jakarta.
Kami keluar villa menuju Jatim Park 1, aneka wahana kita coba. Mulai dari yang level anak-anak hingga ekstrem. Aku puas sekali, sudah lama juga tidak refreshing di tempat hiburan seperti ini.
Di tengah permainan kami menyempatkan mengisi tenaga dengan makan pop mie, aura bahagia tampak jelas di wajahku. Ah pokoknya hari ini seneng banget.
Menjelang malam, seusai sholat Maghrib Tristan mengajakku ke alun-alun Kota Batu. Ada biang lala, dan aku memaksa Tristan untuk naik. Yes...dia mau.
Naik biang lala beres, kita kuliner makan ketan dan wedang jahe di pujasera dekat alun-alun. Aku memesan ketan original sedangkan Tristan memesan ketan duren.
Lanjut wisata kita ke BNS, seharian ini aku menguras kantong Tristan, ha..ha..tapi si sultan mah B aja, bahkan sepulang dari BNS kita menyempatkan beli oleh-oleh kripik buah, meski tokonya juga hampir tutup.
"Makasih," ucapku sambil memeluknya.
"Sama-sama, nanti setelah nikah aku bakal ajak bulan madu. Mau ke mana?" tanyanya sambil mengeratkan pelukan.
Aku mendongak, menatap wajah gantengnya. "Terserah, pokok sama kamu," ujarku manja.
Cup
Aku menikmati ciuman di kening, terasa hangat dan sayang banget kayaknya sama aku, dan aku bersyukur dicintai lelaki seperti Tristan. Aku mengeratkan pelukan, rasanya tak rela kalau dia sampai tergoda dengan Evelyn.
Yah ...perempuan itu menjadi momok dalam hubunganku, aku sangat khawatir dia nekad akan berbuat sesuatu, karena dilihat dari chatnya menunjukkan target berikutnya adalah Tristan, bos muda yang belum berhasil ia taklukkan.
yg jelas ditunggu kelanjutannya