Ivan mengira perjodohan ini hanyalah candaan kakeknya saja, bagaimana dia bisa mengira itu serius, saat kakeknya mengatakan akan menjodohkan dirinya dengan seorang gadis bernama Diana. Dia seorang gadis bisu, tidak berpendidikan. Bahkan kata orang di desanya, gadis itu gila. Hingga dia pun setuju. Ternyata kakeknya benar-benar serius. Seorang gadis dari desa yang bisu, benar-benar datang ke rumahnya dan bertunangan dengannya.
Bagaimana perjodohan mereka? Akankah bisa berlanjut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Pembawa Sial
Diana memandang sayu jalanan yang dilewati, untuk kedua kalinya dia menumpang di mobil Polisi sebagai tersangka.
Bukan aku mengabaikan tugasku. Tapi kerja kerasku bertahun-tahun ini akan sia-sia, jika identitasku terbuka.
Diana mengetik pesan untuk Tim nya, agar berusaha lebih keras untuk membuat nenek Zunea bertahan.
^^^Saya sangat mengandalkan kalian semua, saat ini saya sangat berharap kalian bisa membuat nenek Zunea bertahan. Secepatnya saya akan ke sana, saat ini saya ada kendala.^^^
Keadaan kritis Nyonya Zunea sedang kami tangani, dok. Kami akan berusaha lebih keras lagi, untuk nenek Zunea. Tapi, beliau secepatnya harus ditangani.
"Anda boleh berkomunikasi saat kita sampai di kantor polisi, Nona Diana. Tolong kerjasamanya," tergur salah satu petugas kepolisian.
Diana terpaksa menyimpan handponenya kembali.
Ya Tuhan ... aku mohon, beri nenek Zunea kekuatan.
***
Atas laporan Veronica, Diana dijebloskan ke jeruji besi. Karena Kepolisian mengetahui Diana bisu, pihak kepolisian memperbolehkan Diana menggunakan handphonenya. Hanya itu dengan ketikan di layar handphone cara mereka berkomunikasi.
Urusan Diana dengan timnya saat ini cukup, Diana memikirikan cara, supaya dia bisa keluar dari jeruji besi ini secepatnya.
Nizam!
Diana teringat sosok pengacara paling hebat di kota ini, Diana yakin bukan hal sulit bagi Nizam untuk mengeluarkan dirinya dari tempat ini.
Diana mulai mengetik kata pada handphonenya, dan dia perlihatkan kata yang tertulis di layar handphonenya pada petugas kepolisian.
^^^Bolehkan saya menghubungi seseorang?^^^
Petugas kepolisian mengira Diana ingin menghubungi pihak keluarganya. “Silakan,” ucapnya.
Diana segera mengirim pesan untuk pengacara Nizam, jika Nizam bisa mengeluarkannya secepat mungkin dari sini, dia bisa melakukan tugasnya tanpa harus mengungkap identitas asli dirinya.
“Mana orang yang mencoba membunuh ibuku!?” Teriakkan lantang itu memecah kesunyian.
“Ibu, tahan diri bu.”
Diana menoleh kearah pintu masuk, terlihat Yudha dan wanita yang seumuran Rani memasuki ruangan yang sama dengannya, hanya saja dirinya terhalang oleh jeruji.
“Bagaimana ibu bisa menahan diri Yudha! Ada orang yang mencoba membunuh nenekmu! Kalau kamu di posisi ibu, bagaimana kamu bisa tenang melihat orang yang berusaha membunuhku?”
Yudha terlihat frustasi. Satu sisi dia tidak percaya kalau Diana melakukan hal yang seperti Veronica tuduhkan, namun melihat keadaan neneknya membuat Yudha juga tidak bisa berpikir lebih jernih lagi.
“Dasar Wanita licik kamu! Apa untungmu mencelekai ibuku?”
“Jika kau berhasil membunuh ibuku, tidak ada untung bagimu! Yang ada itu adalah permulaan dari segala penderitaanmu!"
"Aku anaknya! Tidak akan melepaskanmu sedikit jua pun!"
"Kenapa keluarga Agung membawa perempuan seperti ini ke kota ini?! Sejak kedatanganmu selalu saja membawa masalah untuk kami semua!”
Ibu Yudha terus melampiaskan kemarahannya pada Diana.
Yudha sangat terpuruk, dia hanya diam saja membiarkan ibunya terus memaki-maki Diana.
“Selamat malam, Pak. Saya Nizam, pengacara Nona Diana.” Nizam menyalami salah satu petugas kepolisian.
“Wow, dia sudah menyiapkan diri untuk bebas dari tuntutanku,” ucap ibu Yudha. Tatapan matanya begitu sinis pada Pengacara Nizam.
“Saya tahu Anda pengacara hebat, tapi siapapun yang membela dia, saya akan terus berjuang! Dan Saya tidak takut dengan Anda! Saya pastikan klien Anda akan merasakan ganjaran yang setimpal dari saya!” ucapan ibu Yudha sangat berapi-api.
Dengan tenang Nizam mendekati lawan bicaranya. “Saya akan membuktikan, kalau klien saya tidak melakukan hal yang kalian tuduhkan,” ucap Nizam.
“Semua tuduhan Anda belum terbukti, Nyonya!”
“Ini bukan sekedar tuduhan! Kami punya bukti dan saksi, semua buktinya sangat jelas! Tuan Nizam pengacara yang terhormat!” Ibu Yudha terus meluapkan kemarahannya.
Drtttt!
Yudha merasakan handphonenya berdering, terlihat pada layar nama Ivan, Yudha segera mengangkat panggilan Ivan. “Iya, Van?”
"Nenekmu masih bertahan saat ini, tapi keadaanya sangat mengkhawatirkan."
"Terus bagaimana?"
“Keadaan nenekmu semakin kritis Yud, secepatnya harus dilakukan operasi.”
"Ya lakukan sekarang Van! Wakili aku!"
"Tidak bisa, dokter bedah yang hebat itu belum datang."
"Apa?!"
“Apa mereka akan melakukan operasi?”
“Entahlah, Van. Tim masih menunggu kedatangan dokter itu. Tapi, hingga saat ini dokter hebat itu juga belum datang, aku sedari tadi terus menerus menghubunginya, tapi tidak ada jawaban. Untuk persetujuan lain, sebaiknya kalian segera ke sini.”
Yudha segera menyudahi pembicaraannya dengan Ivan, dia meraih tangan ibunya. “Bu, ayo kita kembali ke Rumah Sakit, saat ini dokter di sana berhasil membuat nenek masih bertahan."
Diana menegakkan wajahnya mendengar pasiennya masih bertahan.
"Nenek selamat?"
"Nenek masih ada. Tapi, keadaan nenek semakin memburuk.”
Mendengar keadaan nenek Yudha yang memburuk, Diana semakin sedih.
“Memburuk? Apa mereka tidak melakukan apa-apa untuk nenek?"
“Operasi belum bisa dilakukan.”
“Kenapa belum? Bukankah kamu sudah meminta bantuan pada dokter bedah yang hebat itu?”
“Dokter itu sampai saat ini tidak bisa dihubungi, aku juga tidak tahu, bu. Ivan sudah berusaha menghubunginya, tapi—” Yudha menggelengkan kepalanya. "Kita ke Rumah Sakit bu, nenek lebih penting."
Yudha dan ibunya bergegas pergi menuju Rumah Sakit. Sedang Nizam menggelengkan kepala melihat kepergian ibu dan anak itu.
Bagaimana dokter hebat bisa datang untuk melakukan tugasnya, kalian saja mengurung dia di sini.
“Huhhh!” Nizam membuang napasnya begitu kasar.
Secepat yang dia bisa, Diana menuliskan kata pada layar handphonenya dan memperlihatkannya pada pengacara Nizam.
^^^Bisa keluarkan aku dari sini secepatnya?^^^
“Akan aku usahakan.”
^^^Tolong urus semuanya, hingga selesai. Secepatnya aku harus keluar dari sini. Ada nyawa yang harus aku selamatkan.^^^
"Sebentar, aku akan secepatnya mengeluarkanmu dari sini."
Nizam segera melakukan tugasnya, dengan segala kemampuannya, Diana pun bisa bebas. Nizam segera mengantar Diana segera menuju Rumah Sakit.
***
Di depan ruangan Operasi. Ivan dan Rani sedari tadi menunggu Yudha dan ibunya, keduanya merasa sedikit lega, kala yang mereka tunggu datang juga.
“Jeng Rani.” Ibu Yudha langsung memeluk ibu Ivan.
“Sabar ya jeng Desy, saat ini operasi tante Zunea tengah berjalan, semoga operasi tante Zunea, berjalan lancar.”
"Maafkan kami, tadi aku menemui Diana, aku hanya ingin memastikan wanita itu mendapat hukuman yang pedih!"
Mendengar cerita tentang kejadian sebelumnya yang disebabkan oleh Diana, membuat kemarahan Rani kembali menyala. “Aku sangat heran, sejak kedatangan Wanita udik itu, keluarga kami selalu dalam masalah, kini keluarga jeng Desy juga kena masalah karena ulahnya, dia benar-benar Wanita pembawa sial!” upat Rani.
Yudha menyeret kakinya berjalan kearah Ivan, yang berdiri tidak jauh darinya, terlihat Ivan sangat sibuk dengan handphonenya, sangat jelas Ivan terus berusaha menelepon seseorang.
Melihat Yudha berjalan kearahnya, Ivan menghentikan usahanya sejenak. Dari raut wajah Yudha yang sangat hancur, Ivan sangat mengerti apa keinginan Yudha mendatanginya.
Ivan menggelengkan kepalanya, menjawab bermacam pertanyaan yang terkandung dari sorot mata Yudha yang tertuju padanya.
Bugggg!
Yudha meninju begitu keras tembok Rumah Sakit yang ada di dekatnya, menumpahkan semua kekesalan yang menyelimuti hatinya. Saat genting seperti ini dokter hebat itu malah tidak datang dan tidak bisa dihubungi.
Perhatian Rani terus memandangi lampu operasi yang ada diatas pintu menuju ruang operasi, tiba-tiba lampu itu padam. “Operasinya selesai!”
Ucapan Rani, membuat perhatian Ivan, Yudha, dan Desy tertuju pada pintu ruangan operasi. Tidak berselang lama, pintu terbuka, memperlihatkan sosok Veronica dengan seragam operasinya.
Veronica melepaskan maskernya, wajahnya terlihat begitu sedih. “Saya tidak bisa berbuat apa-apa, tante. Hiksss!” Veronica tersedu.
“Saya tidak pernah menemukan kasus seperti ini tante ….”
Veronica terus terisak, melihat hal itu Rani menarik Veronica kedalam pelukannya dengan sebelah tangannya yang tidak sakit.
“Entah apa yang Diana lakukan pada nenek Zunea, saat aku menangkap basah dirinya ada di ruangan nenek Zunea, nenek sudah—” Veronica tenggelam oleh tangisnya. "Saat itu, monitor menunjukkan garis lurus, nenek hampir pergi meninggalkan kita semua."
"Beruntung aku dan tim yang lain, berhasil membuat nenek bertahan saat itu."
“Maafkan aku tante, karena aku terlambat datang ke ruangan nenek Zunea. Karena ulah Diana, penyakit nenek semakin parah. Kini aku juga tidak bisa berbuat lebih untuk menyelamatkan nenek, maafkan aku ..., operasi nenek juga gagal!” Veronica terus menangis.
Melihat Veronica sekacau itu, Desy berusaha menenangkan Veronica dengan mengusap punggung Wanita itu.
Veronica berusaha menahan tangisnya, dia melepaskan diri dari dekapan Rani, dan menegakkan wajahnya. “Nenek menurun secepat ini? Sepertinya seseorang sengaja meracuni nenek?” Veronica memandangi wajah Rani dan Desy bergantian.
“Kita akan usut semuanya, tante akan balas semua perbuatan dia!” ucap Desy, mantap.
"Diana pasti meracuni nenek dengan obat, sehingga keadaannya seketika melemah."