NovelToon NovelToon
Dikejar Om Seksi

Dikejar Om Seksi

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:695.5k
Nilai: 5
Nama Author: Erin FY

Mutia, Gadis Manis itu merasa Tuhan begitu menyayanginya, selain sang mama, kini ia juga di hadapkan dengan seorang Om-om mesum yang tidak lain adalah bosnya sendiri. Kedua orang tersebut bagaikan bayangan diri sendirinya, apapun yang ia lakukan pasti tidak pernah terlepaa dari pantauan mereka.

Namun semua berubah saat ia bertemu dengan Raga, pegawai baru yang tidak diragukan lagi ketampanannya.

Lantas bagaimana kisah Mutia selanjutnya? Akankah si Bos membiarkan ia dekat dengan lelaki lain?

Akan ada banyak kejahilan serta kisah seru lainnya, jangan ketinggalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erin FY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuyang Pemakan Hati

Dikejar Om Seksi

"Berhentilah bersikap berlebihan, Pak. Hubungan kita hanya sebatas pekerjaan."

Denis yang semula merebahkan tubuhnya di sofa, mulai bangkit dan duduk bersandar di samping Mutia.

"Berapa kali aku harus jelaskan bahwa aku jatuh cinta padamu, Mbak Mut?" ucap Denis dengan menatap Mutia lekat.

"Cinta? bapak yakin ini cinta?" tanya Mutia dengan sedikit mengulas senyum, senyum meremehkan lebih tepatnya.

"Aku yang tahu persis keadaan hatiku, Mbak Mut."

"Dan aku juga tahu persis bahwa kamu hanya penasaran kepadaku, Pak."

"Penasaran?" Denis menyipit.

"Iya, Bukankah sesuatu yang sulit di dapatkan itu amatlah menantang? dan mungkin itu juga yang sedang bapak rasakan. Bapak bisa dapat wanita model apapun yang bapak mau, bahkan lihat saja tadi, apa sebending aku dengan wanita yang mirip dakocan itu?

Persis dengan ucapannya, aku hanya bocah ingusan, Pak. Tak seberharga itu hingga membuat bapak bisa jatuh cinta bahkan hanya dalam hitungan minggu. Mungkin saja selama ini tak pernah ada yang menolak bapak, hingga akhirnya aku membuat bapak kesal karena penolakan."

Suasana mendadak hening, Denis dan Mutia saling tatap dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, sebuah senyuman terbit dari bibir Denis.

Dahi Mutia mengeryit, bingung tentang hal apa Denis tersenyum?

"Apa kamu sebegitu cintanya padaku hingga seolah-olah bisa mengartikan rasaku, Mbak Mut? tapi sayangnya, pengartianmu itu salah.

Tak pernah ada suatu alasan mutlak tentang cinta, dan itu berlaku untuk siapapun, termasuk aku. Lagi pula, apakah lelaki sepertiku juga tak berhak mengalami rasa cinta?

Aku tak akan memaksamu untuk percaya, Mbak Mut. Tapi yang jelas, rasaku ini tulus adanya. Jika kamu memang butuh pembuktian, sebutkan saja tanggal kapan kamu siap, maka dengan senang hati aku akan bawakan penghulu kemari." Denis mengakhiri ucapannya dengan terkekeh, sedang Mutia mulai mencabik, kesal karena Denis selalu punya jawaban untuk mendebatnya.

"Satu lagi, Mbak Mut, aku anggap ucapanmu ini karena kamu sedang cemburu."

Mutia menatap tajam ke arah Denis, tak terima dengan tuduhan sepihaknya. "Cemburu? bagian mana dari kata-kataku yang bilang aku cemburu?" tanyanya dengan ekspresi sama.

"Saat kamu menyebut Sheila seperti dakocan, aku rasa kamu cemburu," ucap Denis santai dengan mengedipkan mata ke arah Mutia.

"Terserah apapun pendapatmu, Semerdekamu ajalah, Pak!" Mutia berdiri, hendak melangkah tapi lagi-lagi tertahan.

"Sayang, kamu lupa dengan panggilan manismu tadi?"

Mutia melihat ke arah Denis, lelaki itu bahkan tak hanya mengedipkan mata, tapi juga memonyongkan bibirnya seperti orang hendak mencium.

Mutia makin keki, sembari menghentakkan kaki, dia pergi meninggalkan Denis yang justru terbahak.

Sesaat kemudian suasaan hening lagi, Denis pontang-panting menuju kamar mandi. Mutia yang tadi tak sengaja masih memperhatikannya langsung tertawa puas.

'Mampus! umpat Mutia sembari terkekeh.

***

Lagi-lagi Mutia harus berlarian menuju tempat kerjanya. Semalam, sang mama memaksanya untuk melihat hasil video sang mama yang asyik berjoget-joget ala tiktokers hingga larut. Alhasil, Mutia bangun kesiangan dan berkejar-kejaran dengan waktu sekarang.

Mutia sedikit bernapas lega saat tak melihat Denis pagi ini. Setidaknya pagi ini dia terhindar dari hukuman bos mesumnya itu.

Namun, ada hal yang sedikit mengusiknya, apa Denis masih sakit hingga dia tak muncul pagi ini? jangan-jangan dia harus di opname karena kekurangan cairan. Pelan tapi pasti, tanpa Mutia sadari dia mulai terbiasa akan hadirnya Denis, ada rasa kehilangan saat Denis tak datang menganggunya. Benarkah dia sudah jatuh cinta?

Usai melakukan briefing pagi, seperti biasa Rani, Bagas dan Mutia kembali ke gudang. Di saat penutupan tahun seperti ini kerjaan mereka amatlah banyak. Banyak stok baju yang harus di laporkan dengan segera.

"Sayang, kenapa handphonemu gak aktif?"

Suara tiba-tiba diarah pintu masuk membuat semua aktifitas di gudang berhenti. Rani dan Bagas yang semula menghitung stok di lemari bawah tiba-tiba berdiri dan melongok ke si sumber suara.

Mutia langsung melotot tajam, Denis sendiri tiba-tiba tersadar dengan ucapannya. Saat masuk tadi dia tidak melihat Rani dan Bagas, jadi sontak saja dia memanggil Sayang ke arah Mutia.

"Hmm ... hei, Kuyang! ngapain bengong aja?" ucap Denis lagi mencoba menetralkan terkejutannya.

"Kuyang?" tanya Rani lirih.

"Iya, Kuyang, emang kamu pikir saya manggil apaan?" tanya Denis dengan sikap sok tega.

Rani dan Bagas terdiam, mereka tak berani menjawab lagi. Bosnya itu sudah menunjukan muka garang, mereka tak mau menjadi korbang semprotannya.

"Hei, Kuyang kepala peyang! Keruanganku sekarang! Kamu telat kan tadi?" Denis beralih melihat ke arah Mutia.

Usai mengatakan itu, Denis berlalu dari sana. Mutia menyusul dengan mengerucutkan bibir. Sebal dengan kelakuan Denis.

Mutia mengetuk pintu, menunggu ijin dari dalam.

"Masuk!" sahutan dari dalam terdengar.

Mutia masuk dengan ekspresi yang masih sama.

"Kenapa mulutnya begitu?" tanya Denis yang sudah berdiri di depan mejanya.

"Bapak seenaknya saja panggil saya kuyang, emangnya saya hantu?" omel Mutia dengan menatap tajam.

"Lah terus aku mau bilang apa? kamu sendiri kan yang gak mau dipanggil sayang kalau di sini? jadi, apa salahku?"

"Ya, gak harus kuyang juga, aku masih pemakan nasi, bukan hati!"

"Lah, gak sadar? padahal kamu sudah jadi pemakan hatiku loh." Denis menaik turunkan alis menggoda Mutia. Gadis itu makin sebal saja melihat Denis tak merasa bersalah sedikitpun.

"Ngapain aku dipanggil ke sini?"

"Buat ngasih hukuman."

"Aku cuma telat lima menit, kerjaan digudang lagi banyak, apa gak ada toleransi?"

"Sapa bilang hukuman gara-gara telat? hukuman gara-gara kamu ninggalin aku dan handphonemu gak aktif."

"Ninggalin gimana?"

"Aku jemput kamu, dan kata mama kamu sudah berangkat."

"Emangnya yang nyuruh jemput juga sapa?"

"Gak ada. Aku kan pacar yang peka, mangkanya punya inisisatif," jawab Denis lagi-lagi tanpa dosa.

"Ish, nyebelin banget sih ngomong sama bapak!"

"Masa? aku malah seneng kalau ngomong sama kamu, apalagi kalau deket-deket sama kamu."

"Serah! jadi hukuman apa yang aku terima?"

"Gak banyak cuma nemenin aku di sini." Denis tersenyum sedang Mutia menatapnya tajam.

"Hukuman apa itu? gak profesional namanya," protes Mutia tak terima.

"Lah berarti kamu milih bersih-bersih, boleh. Asal di sini sama aku."

"Ish, nyebelin!" Mutia menghentakkan kaki, dia melangkah menuju sofa dan mendaratkan pinggul di sana.

Denis terkekeh, dia menyusul Mutia dan mengambil tempat duduk di sampingnya.

"Udah sarapan belum, yang?" tanya Denis seraya melihat Mutia. Sedangkan gadis itu tak menyahut bahkan melihat pun tidak.

Denis meraih dagu Mutia, mengarahkannya untuk melihat ke arahnya.

"Aku minta maaf soal di gudang tadi. Kalau boleh jujur, aku lebih suka mereka tahu kalau kita ada hubungan. Aku tidak mau ada yang mengganngu apa yang sudah menjadi milikku, dan itu berlaku juga kepadamu."

Tatapan Denis dan Mutia saling terkunci. Bagi Denis, melihat Mutia sedari dekat seperti ini sudah sangat membahagiakan hatinya.

Mutia sendiri terpaku, tekadang, meskipun tingkah Denis slengek'an, tapi ada beberapa saat di mana Denis tak pernah main-main dengan ucapannya.

"Jangan menatapku sepertiku itu, Sayang. Pertahananku hampir roboh sekarang, jangan sampai aku sarapan dengan cara yang berbeda. Mencicipi Bibirmu misalnya."

Mutia melotot, sontak dia memalingkan wajah. Sedang Denis terkekeh di sampingnya.

Bosnya ini benar-benar mesum ternyata.

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

Hulaaaa ... selamat pagi, Mutia hadir menemani cuti bersamamu.

Selamat libur panjang, semoga harimu menyenangkan.

Kecup jauh untuk kalian semua,😘😘😘

1
Ana Akhwat
ckckckck ...kocak bingits😂
Ana Akhwat
😂😂😂CEO yang lagi menyamar... sedang jatuh cinta
Mul Iani
Lumayan
Asih Dyas rahman
baru sadar ini novel 2021 kenapa gw baca, akhirnya nyesel bacanya nanggung ga dikelarin sampe sethn🤦
Kirana Ayla
kok cpt amat udh tamat aj...kannikahnya blm
Sus Susyla
huhhhhh
Sus Susyla
halalin dlu denis
Sus Susyla
zakki mana y
Sus Susyla
pinter denis
Sus Susyla
klo aku sih..di lamar org ganteng kaya lg..ah g oke mikir lgsg ok aja ...ha..ha
Nora♡~
Yaa..Ampun thor... mana yang lain..
tolong sambung... best nie..tak sabar nak baca...
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa
ayulia lestary
kocak
ayulia lestary
denis kocak juga
ayulia lestary
kyanya menarikk nih. aku mampir ya
Tara
Aduch jadi pengen dikejar om s3xy Nan mapan🤭😉😱🥰🤗🌹🙏
Ita Nuraini
ws tamat kah
Choirul Anna Soenarso
kok gak dilanjutkan Thor,padahal bagus lho
Ita Nuraini
duda damar itu judulx ap y ??
Ciekgu Lhawo
author kmna ni disambung donk crtanya seru ni
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!