Bu Dosen cantik.
Kisah ini menceritakan perjalanan cinta dua anak manusia, antara seorang Mahasiswa yang jatuh cinta dengan Dosen nya sendiri.
Mahasiswa itu bernama Gavindra putera wijaya, sedangkan Dosen itu sendiri bernama Ratih puteri gayatri. Bu Ratih pernah mengalami trauma soal asmara, karena tunangannya meninggal sebelum mereka menikah.
Setelah itu, Bu Ratih bertemu dengan Gavindra saat mengajar di kampus dimana Gavindra kuliah.
Gavindra langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dengan penuh perjuangan Gavin terus mendekati Bu Ratih. Setelah itu, gayung pun bersambut, cinta Gavin diterima.
Tapi perjalanan cinta mereka tidak mulus, karena sebelumnya Bu Ratih sudah dijodohkan dengan laki-laki lain. Sampai akhirnya suatu hari Bu Ratih mengalami kejadian memalukan yang dilakukan oleh laki-laki yang dijodohkan dengannya.
Meskipun Bu Ratih telah mengalami kejadian yang tidak terpuji, Gavindra tetap bersikukuh untuk tetap menikahinya. Akhirnya mereka berdua menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evy erviyanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part : 26 (Cinta kilat Bagas)
...............................
Hari ini Gavin pertama kali diajak Papanya untuk melihat kantor yang nantinya akan dia pegang. Kebetulan jadwal kuliah agak longgar, jadi ia sempatkan buat lihat ke kantor.
Dia berangkat bareng-bareng Papanya. Jarak kantor yang nantinya Gavin pegang dengan rumah lumayan jauh, bila dibandingkan dengan Kantor pusat yang selama ini Papanya pegang. Mungkin memakan waktu seitar satu jam an itu kalau nggak macet.
Dalam perjalanan ke kantor, tak henti-hentinya Pak Indra memberi pengetahuan dan wawasan soal pekerjaan yang akan Gavin pegang.
Pak Indra dengan telaten menerangkan satu persatu soal penanganan dalam pekerjaannya nanti.
"Vin, Kalau kamu masuk dunia bisnis harus siap mental dalam menghadapi segala macam rintangan dan cobaan. Semakin sukses usahamu, semakin banyak saingan dan orang-orang yang ingin menjatuhkan." jelas Pak Indra.
"Iya, Pa."
"Apakah, kamu sudah siap menghadapi jika kelak kamu menjadi seorang pengusaha.?" tanya Pak Indra.
"Harus siap, Pa.! Gavin akan berusaha menghadapi semuanya itu." jawab Gavin.
Tapi disaat Pak Indra ngobrol dengan Gavin, tiba-tiba ponselnya berdering
Bagas.
'Iya, Gas. ada apa?'
'................................'
'Oke, Saya tunggu di kantor cabang.'
'............'
'Baik.'
Kembali Pak Indra masukkan ponselnya. Lalu melihat ke arah Gavin.
"Kenapa Mas Bagas, Pa?"
"Dia pingin ketemu Papa. Ya sudah Papa bilang ketemuan di kantor kamu aja.!" jawab Pak Indra.
"Emang, Mas Bagas sudah tahu kantor Gavin.?" tanya Gavin.
"Sudah lah, Vin. Proyek yang dikerjakan Papa sama perusahaan nya itu kan memang kantor cabang yang nangani. Jadi dia sudah bolak-balik kesana, Nak!" jawab Pak Indra.
"Oh iya, Gavin lupa." jawab Gavin.
Setelah lama diperjalanan, akhirnya sampai juga Gavin dan Papanya dikantor.
Kantornya lumayan besar, halamannya luas, ada tempat parkir mobil dan motor yang terletak berdampingan di sebelah kanan kantor.
Gavin dan Pak Indra turun dari mobil. Banyak sepasang mata melihatnya. Ketika mereka memasuki kantor, sudah banyak karyawan yang sudah datang. Para karyawan memberi salam kepada Pak Indra dengan sopan.
Pak Indra sedari tadi tebar senyum kesemua karyawan yang ada. Pak Indra memang terkenal pimpinan yang bertanggung jawab, sabar serta baik.
Pak Indra mengajak Gavin memasuki sebuah ruangan. Setelah masuk, Gavin takjub dengan desain yang ada di ruangan itu.
Warna dinding putih serta furniture yang mewah. Mata Gavin menjelajahi keseluruh ruangan itu. Ketika melihat sebuah meja kerja yang lengkap dengan peralatan kantor, Gavin tersenyum manis. Disitu ada foto keluarga Mama Papanya, Mahen serta dirinya.
Gavin memgamati semua pemandangan dihadapannya. Pak Indra tersenyum melihat putera kesayangannya itu lagi menikmati apa yang dilihatnya.
"Gimana, Vin. Kamu suka dengan desainnya.?" tanya Pak Indra.
"Suka banget, Pa. Makasih...,! Papa sudah memberikan yang terbaik buat Gavin." jawab Gavin.
"Iya, sama-sama. Nak." jawab Pak Indra sambil menepuk pundak Gavin.
Ketika lagi santai ngobrol, tiba-tiba pintu ruangan ada yang mengetuk.
"Tok..tok...!"
"Maaf, Pak Indra. Pak Bagas dari PT. CIPTA KARYA sudah datang." ucap salah satu dari karyawannya.
"Suruh, langsung masuk saja." jawab Pak Indra.
"Baik Pak." jawabnya lagi.
Selang beberapa menit masuklah seorang laki-laki lengkap dengan pakaian kerja.
"Pagi, Pak.! eh Vin, kamu disini juga.?" ucap Bagas.
"Iya, pagi juga. Gavin sengaja saya ajak untuk melihat-lihat kantor yang nanatinya akan dia kelolah." jawab Pak Indra.
"Iya, Mas. Sambil lihat-lihat suasananya." timpal Gavin.
"Begini Pak, Saya sengaja datang kesini karena ada yang ingin saya sampaikan. Pak Indra masih ingat Ferry maulana. Katanya dia salah satu rekan bisnis Pak Indra. Saya awalnya nggak sengaja ketemu pas acara nikahannya Mas Mahendra. Cuma sekedar say hello saja. Setelah itu saat saya lagi makan siang dengan teman saya, tanpa sengaja juga teman saya itu diantar oleh Pak Ferry. Setelah cerita-cerita, ternyata teman saya itu tak lain adalah simpanan serta orang kepercayaannya. Lebih kagetnya lagi, ternyata teman saya itu siauruh deketin Gavin guna menguras harta Pak Indra. Spontan saya kaget Pak. Saya sempat marah sama teman saya itu, cuma setelah sayantahu alasan kenapa ia melakukan ini, saya jadi tergugah untuk memyelamatkan wanita itu dari jeratan Pak Ferry serta menggagalkan niatannya yang ingin mendekati Gavin." terang Bagas.
"Emm..iya..,iya Gas. Makasih infonya.
Memang sudah dari dulu Ferry maulana itu menjadi saingan terberat saya dalam segala hal. Cuma saya selalu bersikap tenang, makanya dia saya undang diacara Mahen. Tapi saya nggak gegabah, ditambah lagi info dari kamu barusan, membuat saya yakin untuk segera menjauh dari hal-hal yang ada hubungannya dengan dia. Tapi kira-kira apa yang bisa kita lakukan untuk membantu temanmu sekaligus menggagalkan niatnya tadi." tukas Pak Indra.
"Pertama saya ingin menolong teman saya itu lepas dari Pak Ferry. Maaf pak, Saya akan menikahi teman saya itu untuk membuat dia lepas dari Pak Ferry.?" kalimat Bagas sontak membuat Pak Indra dan Gavin terkejut. Pak Indra tersenyum, begitu pula Gavin.
"Akhirnya Mas Bagas memutuskan untuk menikah juga.!" ucap Gavin.
"Bagus itu, Gas. Saya akan dukung kamu. Tapi, kamu melakukan ini karena memang kamu cinta atau hanya ingin membantu saya.?" tanya Pak Indra.
"Hmm..dua-duanya, Pak. Memang saya suka sama wanita itu sejak pertama kali ketemu, dan juga saya ingin membantu Bapak. Bagi saya, Pak Indra sudah seperti Ayah saya sendiri." ucap Bagas.
"Makasih Gas...." ucap Pak Indra sambil memeluknya. Bagas jadi terharu saat Pak Indra memeluknya. Dia seperti merasakan pelukan seorang Ayah yang sudah tiga tahun ini tak dapat dia rasakan.
Gavin juga tersenyum dan senang melihat Kakak dari kekasihnya itu akrab dengan Papanya. Ini semakin mempererat hubungannya dengan Bu Ratih.
"Oke.. Perjuangkan cintamu, untuk yang lain-lain serahkan sama saya. Dikemudian hari nanti kita bahas lebih lanjut. Yang penting kita semua harus waspada dengan orang-orang yang sirik kepada kita." terang Pak Indra.
"Selamat, ya Mas. Aku akan selalu dukung Mas Bagas." sahut Gavin.
"Makasih Vin...." jawaab Bagas.
"Baiklah Pak, saya rasa sudah cukup yang saya sampaikan. Saya pamit kembali ke kantor." ucap Bagas.
"Iya, Gas. sama-sama, kamu tenang saja soal Pak Ferry maulana, saya yang akan beresin." jawab Pak Indra.
Akhirnya Bagas meninggalkan ruangan itu. Dia melangkah pergi menuju parkiran. Dilajukannya mobilnya menyusurui jalanan Ibu kota. Bagas secepatnya harus melamar Irene. Tak peduli masa lalunya seperti apa, yang penting dia harus menjauhkannya dari Pak Ferry.
Rencana pertama dia harus menemui Ibunya Irene. Bagaimanapun dia harus mengenal lebih jauh dengan keluarga Irene. Bagas memang sudah merasakan getar-getar itu sejak bertemu di acara nikahan Mahen. Lagi pula memang sudah saatnya dia memikirkan untuk menikah, karena usianya kini sudah memasuki tiga puluh dua tahun. Dimana usia itu sudah sangat matang buat seorang laki-laki untuk membina sebuah keluarga.
Tunggu Irene. Aku akan memjemputmu dan mengajakmu keluar dari masalah kelam yang menimpahmu. Aku tidak peduli dengan statusmu yang pernah jadi simpanan Pak Ferry. Yang jelas sekarang dia ingin menikahi Irene..
Next.................(27).