Dunia Anindya hancur ketika calon suaminya Yudhistira tidak datang ke pernikahan mereka. Rasanya seperti mau kiamat ketika tiba-tiba ayahnya memaksa untuk mengganti mempelai pria dengan Rio sahabatnya sendiri. Pernikahan tanpa cinta harus mereka jalani. Meski pada akhirnya cinta itu muncul seiring berjalannya waktu. Tapi di hadapan teman kerja ,mereka harus menyembunyikan identitas pernikahan mereka. Sampai Vino direktur perusahaan itu menyukai Anindya. Prahara mulai muncul...dan memporak porandakan biduk rumah tangganya. Mampukah mereka bertahan sampai akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lastri Azahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam yang Dingin
Ide dari Anindya benar benar gila. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan gadis itu. Rio menatap layar hape di tangannya. Menekan sebuah nomor dan muncullah nama Gendis di layar.
Mulai saat ini ia harus mendekati Gendis menuruti keinginan Anindya. Agar terhindar dari kecurigaan orang orang. Rio mengusap mukanya kasar. Jujur ia tidak mau melakukan ini semua, tapi juga tidak tega menolak keinginan Anindya.
" Aku percaya sama kamu Rio. " Anindya memasuki kamar Rio dan duduk di sebelahnya.
Rio tidak menjawab. Ia masih berperang dengan batinnya sendiri. Anindya memeluk tubuh Rio dari samping.
" Sebenarnya kamu menganggap aku ini apa? " tanya Rio geram.
" Kamu suami aku." Anindya mendongak.
" Terus apa ada seorang istri menyuruh suaminya mendekati perempuan lain? " tanya Rio kesal.
" Untuk sementara saja Rio sampai aku mendapat panggilan dari perusahaan lain. " Anindya memelas kini.
Rio membuang nafas kasar. Ia kesal dengan semua ini.
" Oke, kalau itu sudah jadi keputusanmu. " Rio akhirnya menyetujui ide gila Anindya. Entahlah apa yang akan terjadi nantinya.
Anindya bernafas lega. Sebenarnya ia juga tidak tahu apakah ini ide yang baik atau berakibat buruk nantinya, yang jelas untuk saat ini hanya ini yang bisa dia lakukan. Semoga saja akan ada panggilan dari perusahaan lain secepatnya.
*****
" Aku tidak menyangka mas Rio tiba tiba ngajak aku makan malam. " Gendis tampak sumringah. Malam ini Rio menjemputnya ke rumah. Tiba tiba saja laki laki itu mengajaknya dinner. Sesuatu yang sangat mengejutkan baginya karena selama ini Rio sedikit mengacuhkannya.
" Tapi benar kan kamu lagi free sekarang? " tanya Rio sambil tetap fokus menyetir membawa mobilnya menuju Cafe di daerah Bekasi kota.
" Aku sih free terus mas, jomblo akut. " Gendis tertawa. Dia melirik ke arah Rio yang saat itu memakai baju casual. T shirt warna hitam di balut jaket warna putih dan juga celana jeans. Gendis begitu terpesona melihatnya.
Mobil Rio tiba di sebuah Cafe yang lumayan besar. Cafe yang menyediakan tempat di ruang terbuka itu tampak sedikit ramai.
" Mau di luar apa di dalam?" tanya Rio meminta Gendis untuk memilih.
" Hmmm kayaknya di luar aja deh mendingan, Biar udaranya segar. " Gendis memilih kursi di sebelah pojok. Rio memanggil waitres dan segera memesan makanan untuk mereka.
Drrrttt
Ponselnya bergetar. Rio meraihnya segera dari saku jeansnya.
Jangan malam malam pulangnya ya suamiku
Rio mendengus. Gara gara dia sekarang ia harus bersandiwara.
" Kenapa mas? " tanya Gendis yang melihat wajah Rio mendadak begitu kesal.
" Ah, tidak apa apa Gendis. " Rio tersenyum tipis, menyembunyikan perasaannya yang merasa canggung.
Rio kok nggak balas?
Anindya mengirimkan pesannya lagi.
Iya, paling pulang jam 12
Rio membalas dengan geram.
Emoticon menangis .
Ah sudah lah Rio tidak peduli. Hatinya terlanjur marah. Dan saat ini ia juga tidak ingin merusak suasana antara dia dan Gendis. Bagaimana pun sebenarnya dia tidak ingin menyakiti hati gadis itu.
Gendis terlihat cantik malam itu. Dress selutut berwarna biru muda menambah keanggunannya. Rambut hitam panjangnya terurai lurus. Kulitnya yang kuning langsat khas wanita Jawa menambah kecantikan wajahnya.
" Anindya memangnya belum punya pacar mas? " tanya Gendis di sela makannya.
" Tidak tahu. " Rio terlihat cuek dia meneruskan makannya seolah tak peduli.
" Pak Vino sepertinya menyukai Anindya loh "
Rio terdiam. Dia menaruh sendok yang ia pegang sedikit kasar hingga menimbulkan suara yang cukup membuat Gendis tersentak.
Gendis melihat wajah Rio dengan raut wajah yang tampak tidak suka kalau dia membahas Anindya. Entahlah kenapa Rio segitu marahnya. Gendis terlihat sedikit ketakutan. Ia tidak berani lagi berkata apa apa.
Rio akhirnya menyadari kalau Gendis ketakutan melihat sikapnya barusan. Hatinya yang sedang gundah dari tadi tak bisa ia pendam lagi. Raganya memang bersama Gendis tapi hatinya tidak tahu di mana. Dia merasa bersalah pada gadis di depannya yang hanya di jadikan alat untuk menutupi kebohongannya.
" Maaf Gendis, tak bisakah kalau kita tidak membicarakan Anindya saat ini? " ia menatap tajam dua bola mata Gendis yang tengah terpaku.
Gendis mengangguk. Rasanya jadi takut berbicara saat ini. Ia takut salah bicara lagi. Jadi ia lebih memilih diam. Sungguh makan malam yang berat bagi dia saat ini.
Rio pun tidak tahu harus bicara apa, pikirannya benar-benar buntu saat ini.
Mereka menyelesaikan makan malamnya tanpa ada sepatah katapun. Gendis masih enggan untuk memulai percakapan. Sikap Rio tadi membuatnya sedikit takut.
" Maaf Gendis, pikiran ku lagi tidak konsen, kamu jangan marah ya. " Rio merasa bersalah telah menjadikan makan malam mereka berantakan.
" Tidak apa apa mas, aku maklum kok. " Gendis berusaha untuk tetap bersikap manis di depan Rio.
" Lain kali kalau kita makan lagi aku janji kejadian ini tidak akan terulang lagi, itupun kalau kamu masih mau ngasih aku kesempatan. " Rio tersenyum manis membuat Gendis tak bisa mengedipkan matanya oleh pesona Rio.
" Tentu saja mas, dengan senang hati aku akan menunggu." Gendis tersenyum sambil menunduk malu.
*****
Anindya membuka pintu saat terdengar deru mobil Rio memasuki pekarangan. Gadis itu seperti tidak sabar menunggu kepulangan Rio.
" Gimana makan malamnya Rio? " tanya Anindya penasaran.
Rio tidak menjawab, dia ngeloyor masuk tanpa memperdulikan Anindya yang menyambutnya dengan sejuta tanya.
Anindya menyadari kalau Rio sedang marah kepadanya. Dia pun mengikuti langkah Rio ke dalam kamar. Dilihatnya laki laki itu membuka dan melemparkan jaketnya ke sembarang arah. Anindya memungutnya dan menggantungnya di dalam lemari.
Rio merebahkan dirinya di atas kasur. Anindya beringsut menghampirinya, dia tidak ingin Rio marah pada dirinya.
Anindya menaruh kepalanya diatas dada bidang suaminya. Memainkan jemarinya disitu.
" Maafkan aku Rio. " Anindya berkata lirih.
Rio tidak menjawab ia hanya terdiam tanpa kata. Hanya terdengar detak jantungnya yang terdengar jelas di telinga Anindya.
" Kamu marah?" tanya Anindya lagi.
" Ngapain aku marah, seharusnya aku bersyukur sudah jelas jelas aku di suruh kencan dengan wanita cantik oleh istri sendiri,harusnya aku berterima kasih sama kamu loh. " Rio menyindir Anindya.
Anindya terdiam, kenapa hatinya begitu sakit mendengar pengakuan Rio barusan walaupun ia tahu kalimat itu bermaksud untuk menyindirnya.
" Sayang, jangan marah dong, ini cuma sementara aja kok. " Anindya menatap wajah Rio yang masih dingin.
" Aku tidak menjamin kalau ini hanya sementara" Jawab Rio ketus.
" Rio... " Anindya terpojok dia tidak tahu lagi harus berkata apa. Dia hanya mematung memandang wajah Rio yang begitu dingin membuat hatinya terasa membeku. Sementara Rio memalingkan wajahnya dia masih merasa jengkel dengan keputusan yang Anindya ambil.
BERSAMBUNG. . .
mungkin karakter othornya gitu(•‿•)
izin pm thor, mampir yuk ke ceritaku judul nya
Aku Tetap Cinta