Lintang adalah seorang gadis cantik, cerdas, mapan serta berasal dari keluarga terpandang.
Namun, segala kesempurnaannya tak lantas membuat sang Kekasih hati segera mengikatnya dalam tali suci pernikahan.
Hingga sebuah kecelakaan membawa seseorang dari masa lalunya menawarkan cinta tak yang tak bisa ia tolak.
Akankah akhirnya ia benar-benar melabuhkan cintanya pada sang Lelaki dari masa lalu? Ataukah ia akan tetap mempertahankan cintanya pada sang Kekasih?
Temukan jawabannya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candy Tohru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiriman balasan
Tidak mungkin!
Aku menatap nyalang foto-foto itu. Rasa panas menjalari dadaku. Amarah menguasai hatiku. Tapi kemudian aku melihat sesuatu yang menurutku tidak lumrah. Kuzoom foto itu berkali-kali.
Aku langsung tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa, Dek? Ada yang lucu? Bagi-bagi dong, biar yang lain juga ketawa," ujar Bang Dedi kepo.
"Gitu tuh, yang mau nikah. Bawaannya seneng mulu," giliran Eko yang menyindirku.
"Iya nih, Bang, ada yang ngajak becanda," sahutku. "Belum tahu aja dia kalau humorku buruk," kataku lagi.
Serempak mereka semua tertawa.
"Ya udah, ya. Kalau gitu aku pamit dulu. Besok ketemu lagi. Makasih atas kerjasamanya. Assalamu 'alaikum," aku menarik tas laptopku dari meja dan bergegas berjalan ke arah lift.
Sebelum keluar dari pintu, aku mendengar mereka menjawab serempak, "Wa 'alaikum salam."
Aku tidak pernah membawa masalah pribadiku ke kantor. Begitu pun sekarang. Meskipun hatiku berdebar kencang, tapi pikiranku harus tenang. Terkadang hati dan pikiran tidak berjalan seirama. Dan ini terjadi padaku saat ini.
Aku mengarahkan mobilku ke studio, meskipun aku sudah berjanji pada Mama untuk pergi ke butik saat pekerjaanku selesai. Aku harus memastikan sesuatu.
"Kak Lintang!" teriak Sasa saat Pak Samad membukakan pintu untukku.
"Apaan? Gajian masih lama," kataku cuek.
"Ih, bukan nanyain itu. Mau tanya, nanti aku sama Ratry jadi pager ayu, nggak?" tanyanya.
"Kalau kalian jadi pager ayu, siapa yang mau jadi pager betis disini?" tanyaku menggoda gadis berumur sembilan belas tahun tersebut.
"Masa bosnya nikah, studio tetep buka sih, Kak?" rajuknya.
"Nggak tahu, tanya aja Mas Dewo. Soal jadwal kan Mas Dewo yang atur," aku segera melesat ke ruang editing sebelum si Cerewet itu mulai bertanya lagi.
"Za, Kak Zay kemana?" tanyaku pada Reza yang sedang bekerja.
"Lagi bikin kopi kayaknya, Kak," jawab Reza. "Ada perlu?"
"Aku mau memastikan sesuatu, Za," kataku. "Tadinya mau minta tolong ke Kak Zay, sih. Tapi sama kamu juga nggak apa-apa. Aku bluetoothin ke laptopmu, ya."
"Siap, Kak!" katanya.
Kukirimkan foto-foto yang baru saja kuterima.
"Astagfirullah!" teriak Reza sambil menutup kedua matanya.
"Apaan sih, Za, ngagetin tahu," seruku yang terkejut karena teriakan Reza.
"Aduh, Kak, kalau soal yang beginian emang enaknya ngobrol sama Kak Zay yang udah pengalaman," katanya berambigu.
Kutepuk punggungnya keras.
"Bukan yang begituannya yang mau aku liatin ke kamu, Za," kataku gemas.
...
[Man, kamu pulang sore ini atau besok pagi?] kukirim pesan itu ke nomor Firman.
[Sore ini aku pulang, Lin. Ini udah di jalan] jawabnya cepat.
[Bisa langsung ke butik? Ada yang mau aku omongin sama kamu]
[Of course]
[Aku sharelock]
Ketika Firman tiba, aku sedang mencoba wedding dress entah yang keberapa. Mama begitu memaksa aku mencoba semua gaun yang menurutnya bagus.
Firman hanya diam terpaku melihatku mencoba gaun tulle dengan sulaman berwarna emas dan coklat dengan potongan dada rendah. Matanya nyaris tak berkedip ketika aku berjalan ke arahnya dan berputar di depannya.
"Gimana, Man? Cocok nggak?" tanya Mama sambil tersenyum di sampingku.
Bukannya menjawab, Firman malah melepaskan jas yang dipakainya dan disampirkan di kedua bahuku.
"Cocok Ma, sangat cantik. Tapi seandainya saya boleh meminta, bisakah Lintang pakai gaun yang tertutup aja di bagian dada dan bahunya? Saya nggak mau para tamu malah salah fokus liat Lintang."
Aku tergelak mendengar kata-kata Firman, sedangkan Mama malah cemberut.
"Ya udah, Mama pilihin lagi yang lain." Mama memanggil Bu Sarah, penanggung jawab butik, dan pergi ke dalam untuk mengambil gaun yang lain.
"Kamu bikin Mama keki," kataku sambil duduk di sofa yang disediakan disitu.
"Kamu cantik, cantik banget. Tapi aku nggak mau laki-laki lain juga liat tubuh kamu yang seharusnya cuma aku yang boleh liat," ujarnya sambil mengikutiku ke sofa.
"Semua gaun yang aku coba tadi modelnya kalau nggak backless ya off shoulder. Rata-rata gaun pengantin kan gitu," kataku.
"Iya, tapi aku yakin tanpa gaun-gaun macam itu kamu tetap akan terlihat cantik. Cuma aku yang nantinya berhak liat semua tubuh kamu."
"Mulai posesif," sindirku. "Apa itu juga berlaku untuk kamu?"
"Iya lah. Cuma kamu yang berhak atas tubuhku," jawabnya.
"Terus ini apa?" kusodorkan handphoneku dengan foto-foto tidak senonoh itu di layarnya.
"I.. ini ...," dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Bukannya kamu bilang cuma aku yang boleh liat tubuh kamu?"
"Ini fitnah, Lin! Aku nggak pernah deket sama perempuan lain, apalagi sampai berhubungan intim kayak gini," katanya membela diri.
"Liat pesannya!" perintahku. "Apa kamu pikir aku masih mau melanjutkan pernikahan ini kalau begini ceritanya?"
"Lin, ini bohong! Ini nggak seperti apa yang kamu liat! Dia sengaja fitnah aku biar kita membatalkan pernikahan kita!"
"Dia siapa maksudmu?" tanyaku penuh selidik.
"Angela. Waktu aku ngajuin cuti menikah, dia datang ke ruanganku sambil berteriak histeris. Dan dia bersumpah nggak akan biarin kita menikah."
"Mak Lampir itu gila, ya? Emangnya apa hubunganmu sama dia sebelumnya?" aku masih penasaran.
"Nggak ada. Dia terus ngejar-ngejar aku, tapi aku nggak pernah ada rasa sama dia. Apalagi sampai hubungan spesial," jawabnya, dan aku tahu dia berkata jujur.
"Aku berani bersumpah, Lin. Ini bukan aku!" tegasnya.
"Heh, nggak boleh bawa-bawa sumpah. Pamali," kataku sambil menutup bibirnya dengan jari telunjukku.
"Tapi kamu percaya, 'kan sama aku?" tanyanya sambil menggenggam jemariku.
"Ya iya lah, aku percaya. Kalau aku lebih percaya sama foto itu, udah dari kemarin aku batalin pernikahan ini."
"Maksudmu? Kamu tau kalau foto itu bukan aku?" tanyanya dengan kening berkerut.
"Ya, butuh sepuluh detik buat menyadari kalau itu cuma editan," jawabku santai.
"Lalu kamu bikin aku hampir jantungan dengan pernyataan kamu tentang kelanjutan pernikahan ini, sedangkan kamu tahu kalau ini editan?"
"Aku kan nggak bilang kalau aku batalin pernikahan ini. Aku cuma bilang apa kamu pikir aku akan melanjutkan pernikahan ini, gitu 'kan?"
"Lintang ...," giginya sudah bergemeretuk menahan kesal karena kelakuanku. "Kamu ngeprank aku?"
"Nggak, aku cuma mau tahu apa hubungan kamu sama perempuan menjijikan itu. Kamu tahu? Itu foto asli. Cuma muka kamu doang yang diedit. Apa kamu pikir aku nggak marah, nggak kesal, nggak kecewa, waktu pertama aku liat foto itu? Seandainya kejadian ini nimpa aku dan kamu yang dikirimi foto beginian, apa kamu akan tetap percaya sama aku?" ujarku panjang lebar.
Firman terdiam.
Flashback on
"Aku bukannya mau ngeliatin yang begituan sama kamu. Aku cuma mau mastiin kalau itu cuma editan," ujarku pada Reza yang masih menutup matanya.
Pelahan dia menurunkan tangan dari matanya. Sambil sesekali beristigfar, dia menggerakkan kursornya.
"Iya, Kak, ini editan. Kayaknya ada yang nggak suka sama rencana pernikahan Kakak," kata Reza.
"Halus banget kerjaannya, kalau orang awam pasti nggak ngeuh kalau ini palsu."
"Tadi aku sempet kaget, tapi terus aku ngeuh kalau itu editan," kataku pada Reza yang terus membuka-buka foto yang aku kirim.
"Ini fotonya asli, Kak. Cuma muka Mas Firman aja yang diedit. Siapa yang ngirimnya? Mantannya Mas Firman atau cewek yang suka sama dia?" tebaknya.
"Aku nggak tahu," jawabku bohong.
"Orangnya nggak tahu kerjaan Kak Lintang, ya? Masa tukang jeruk dikasih jeruk?" Reza tertawa terkekeh.
Flashback off
Kukembalikan jasnya.
"Peluk aku," pintaku.
"Apa?"
"Peluk aku," ulangku.
"Kamu yakin?"
Aku mengangguk.
Firman memelukku erat. Kuambil handphoneku dari tangannya.
"Liat ke layar, Man," kataku.
"Selfie?"
"Aku mau ngasih hadiah buat Angela," kuambil gambar sebanyak-banyaknya dari berbagai sudut.
Kupilih beberapa foto yang memperlihatkan betapa romantisnya kami. Kukirim ke nomor Angela.
[Maaf rencana Anda gagal. See.. dia masih ada di pelukan saya. Dan ini bukan EDITAN!"
Aku tersenyum smirk.
"Anda memilih lawan yang salah, Nona."
ceritanya selalu seru seperti biasanya