Season 1 : BAB 1-119
Bercerita tentang suami istri beda profesi. Yakni, sang suami---Chandra Loey Abdinegara seorang Jenderal, tetapi kelewat polos, dan sang istri---Nadia Ruby Adriana seorang penyanyi sekaligus aktris yang kelewat gaul.
Mereka dijodohkan setelah para mantan masing-masing meninggalkan. Awalnya pernikahan mereka datar-datar saja(karena tidak saling mencintai). Namun, setelah melakukan LDR, tumbuhlah benih-benih rindu yang menjadi cinta.
SEASON 2 : Bab 120-?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lee Junhee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekas Luka
"Saya, mau ... kamu," ucap Chandra tersendat yang justru berhasil memunculkan rona merah sangat jelas di kedua pipi Nadia.
Nadia pun memejamkan matanya saat Chandra kembali men**um bibirnya dan mendorong pelan tubuhnya untuk jatuh ke atas tempat tidur mereka. Kedua tangan Chandra yang semula diam, kini bergerak untuk mencengkeram dengan hati-hati kedua sisi tubuh Nadia yang terasa begitu rapuh dalam dekapannya. Nadia merasakan sentuhan lembut membelai ceruk leh**nya, turun pada kedua bahunya dan lengannya. Chandra memagari tubuh mungil itu hati-hati. Nadia bisa merasakan bahwa ciuman lembut itu berubah menjadi lu**tan-lu**tan kecil yang Nadia balas dengan malu-malu.
Chandra melepas cium**nya, dan menatap Nadia dengan jarak yang amat dekat sampai keduanya dapat merasakan degup jantung satu sama lain.
Jemari Chandra membelai wajah Nadia dan menyingkirkan helaian rambut nakal Nadia yang menutupi sebagian kecil wajahnya, Chandra tersenyum tapi wajah seriusnya berusaha meyakinkan Nadia agar menyerahkan apa yang Chandra inginkan malam ini.
Nadia menelan sal**anya susah payah, dan berusaha untuk tidak bersikap bodoh saat ini, Chandra adalah suaminya dan mereka sudah menikah tiga bulan lebih, sungguh hal yang wajar jika Chandra meminta 'itu' sekarang. Mereka bukan anak kecil lagi yang bisa berbahagia hanya dengan jalan-jalan atau mengobrol. Selain melibatkan perasaan, sentuhan fisik pun pasti sangat dibutuhkan. Nadia tidak munafik, bahwa selama ini Chandra selalu berhasil membuatnya berdebar jika mereka bertatap sepersekian detik, dan saat Ini, jangan tanyakan bagaimana fungsi jantung Nadia yang berada dalam batas abnormal.
"Kenapa?"
Chandra membulatkan kedua matanya, ada sedikit perubahan ekspresi dari Chandra, yang semula datar kini menjadi terlihat tenang namun penuh dengan harapan.
"Kenapa, bagaimana?" tanya Chandra tak mengerti.
Nadia memalingkan wajahnya, menghindari adu pandang dengan suaminya itu, karena Nadia pada akhirnya kalah.
"Kenapa ... berhenti?" tanya Nadia sembari membelai dada bidang Chandra yang masih tertutup kaos dengan tangan kanannya.
Chandra merasakan belaian tangan Nadia pada dadanya itu dengan mata terpejam, dan membuat pria itu bereaksi dengan membalas sentuhan Nadia lebih jauh. Pria itu dengan berani menyentuh puncak d**a Nadia dan mer***snya dengan lembut.
Nadia cukup kewalahan saat Chandra juga kembali mengecup bibirnya dan beralih untuk menjatuhkan lu**tan-lu***an kecil pada lehernya. Nadia juga bernapas dengan memburu, baru kali ini ia merasakan kenikmatan yang berbeda dari sebelumnya. Nadia tidak pernah berpikir bahwa sentuhan tangan Chandra dapat membuatnya sesak napas begini.
Chandra tersenyum, ia melepas kaos hitam yang dikenakannya sehingga tampaklah tubuh atletis yang selama ini selalu disembunyikan di balik seragam tentaranya yang gagah.
Nadia menggigit bibir bawahnya, terkesima dengan sosok suaminya yang kaku dan datar ternyata bisa sepanas ini ketika berada di atas tempat tidur. Nadia tidak pernah melihat Chandra bertelanjang dada sebelumnya, ini pertama kalinya dan sangat dekat, bahkan Chandra menindih tubuhnya dengan ekspresi yang berbeda dari biasanya.
"Hm ....." Nadia meracau tak jelas. Dia menahan napasnya saat Chandra kembali menjatuhkan ciuman di lehernya, dan tangan Chandra tak tinggal diam, melainkan terus mer***s d**a Nadia yang masih tertutupi pakaian utuh. Nadia mengalunkan tangannya di leher Chandra, menjambak rambut tebal pria itu untuk mengekspresikan kepuasannya atas sentuhan Chandra. Nadia menahan desah***ya agar ia tidak membuat Chandra lepas kendali.
Pada akhirnya, saat telapak tangan Nadia mengusap punggung pria itu, Nadia merasakan sesuatu yang berbeda, tangan Nadia pun beralih pada lengan Chandra dan merabanya lembut. Nadia menemukan bekas luka memanjang sepertinya sangat dalam di sana. Nadia berhenti, dan justru kedua matanya mulai berkaca-kaca. Chandra yang merasakan sentuhan di bekas lukanya pun tersenyum.
Nadia dengan pelan mendorong dada Chandra agar pria itu menyingkir. Susah payah, Nadia menghapus air mata di pipinya yang mulai jatuh tak terkendali.
"Maaf. Saya, masih belum siap," ucap Nadia sembari berpaling menghindari Chandra. Chandra mengerti itu dan dia tidak mempermasalahkan sikap Nadia sama sekali. Chandra akhirnya menarik selimut dan menutupi tubuh Nadia yang baru saja dicumbu olehnya.
"Saya terlalu terburu-buru, pasti kamu terkejut."
Nadia tidak menjawab ucapan Chandra, gadis itu bergeser ke paling ujung tempat tidur dan tidak berani menatap suaminya lagi. Sementara itu, Chandra kembali mengenakan pakaiannya yang sudah ia lepaskan tanpa bicara apa pun lagi pada Nadia.
***