Kesedihan kadang membuat kita lupa dan menjadi gelap susah membedakan mana yang salah dan benar hingga menimbulkan kemarahan yang menyebabnya sulit tuk menyengarkan penjelasan hingga akhirnya penyesalan pun datang dan membuat kita menjadi Sadar namun semua sudah terlambat, Waktu yang dulu sudah berputar tidak mungkin bisa kembali lagi.
Ikuti kelanjutan Kisah Nadia Dan Kasih yang berjuang menjaga ibunya membalas budinya dulu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27.
"Siapa yang suruh kalian minggir? kan belum waktunya untuk pulang??" tanya anak buah Bang Barong.
"M-maaf bang tapi Kasih sedang demam boleh kan dia istirahat dulu, setidaknya biarkan dia makan dulu biar dia tidak saki parah!" jawab Ridwan memohon.
Kasih yang sedang di gandeng Ridwan terkejut mendengar bentakan dari penculiknya itu membuat ia mencengkram tangan Ridwan keras, Ridwan merilik Kasih terlihat jelas di matanya pancaran ketakutan yang sangat.
"Emang gue perduli sama kalian, mau lue sakit kek mau enggak kek, pokoknya lue cepet turun lagi cari duit yang banyak, inget loh kalo lue pada gak setoran sesuai target gak ada jatah makan!!" kata pengawas ketus tak perduli.
Ridwan tertunduk sedih ia pun tak bisa berbuat banyak selain menuruti kemauan sang pengawas, karena mau melawanpun tak mungkin karena Ridwan hanyala seorang anak kecil yang tak punya kekuatan.
Usia Ridwan dua tahun di atas kasih Mungkin masih duduk di kelas dua, dengan sanggat terpaksa Ridwan pun mengandeng tangan Kasih membantunya untuk berjalan kembali ke tenggah jalan mengejar mobil-mobil orang kaya yang berhenti karena terjebak macet.
"Kasih kamu bertahan ya! maaf kita harus kembali ke jalan untuk mencari uang agar bisa makan malam ini!" suara Ridwan berbisik.
"Tapi aku sudah tidak kuat lagi, dari semalam belum makan dan tadi juga tidak sarapan, di tambah sudah siang begini belum juga dapet makan, aku laper..." uncap Kasih meremas perutnya.
Ridwan tak bisa berbuat apa pun, walaupun ia ingin sekalu membantu tapi apalah daya ia tak mampu, melihat Kasih yang lemas tersiksa begini padahal ini hari pertama ia berada di kotak dan harus mendapat perlakuan seperti ini sungguh kejam memang dunia gelap bagi anak-anak yang tak berdosa.
"Kita harus bertahan untuk beberapa saat ini, karena hanya itu yang bisa kita lakukan, mau kabur pun tidak bisa banyak mata yang mengawasi kita, jadi harus bisa menyusun rencana dulu, karena aku tidak mau berakhir seperti Ciko," kata Ridwan berbisik lagi.
"Ciko?! siapa dia?" tanya Kasih.
"Ciko teman sekelas ku waktu sekolah dulu, kami di culik bersama saat kami sedang main di lapangan sepulang sekolah, saat itu aku bandel melawan orang tuaku, menolak untuk di anter jemput olehnya, dan memaksa untuk pulang sendiri akhirnya beginilah akhir hidupku berada disini," jawab Ridwan bercerita.
Ridwan tahu jika Kasih sedang merasakan ketakutan yang sangat besar itu ia bisa rasakan dari tangan Kasih yang gemetar mengandeng tanggannya, akhirnya ridwan menceritakan tentang dirinya yang dulu menggapa sampai bisa berada di sini dan itu sudah setahun lamanya.
Ridwan juga mulai menceritakan masalah temannya Ciko yang juga dulu di culik bersama dengannya, tapi nasib Ciko tidak seberuntung Ridwan, ia masih bertahan hingga saat ini tapi Ciko telah tiada karena berusaha untuk kabur dari tempat itu tapi hasilnya malah nyawanya yang melayang karena terus di siksa tanpa di beri makan sedikit pun, tapi tidak ada yang tahu soal kejadian ini selain Ridwan.
Mereka tahunya kalo Ciko berhasil melarikan diri dan selamat, hingga tidak sedikit yang mencoba untuk mengikuti jalannya Ciko untuk kabur karena sudah tidaj tahan dengan siksaan dari para penculik, tapi Ridwan selalu mencegahnya bukan untuk melarangnya tapi untuk keselamatan mereka juga.
Karena Ridwan yang tahu apa yanf terjadi, tapi Ridwab tidak menceritakan semuanya dia hanya diam dan menyebut alasan lain, dan ini membuat ia di benci oleh yang lain karena mereka mengira kalo Ridwan bekerja sama dengan para penculik untuk menahan mereka untuk pergi.
Kasih diem terpaku mendengarkan ceritanya Ridwan yang begitu membuatnya penasaran, tak terasa hari sudah mulai petang pengawas memberi kode kepada semua anak culikannya untuk minggir dan berkumpul.
Di pinggir jalan Kasih masih di gandeng oleh Ridwan yang membantunyq untuk berjalan dan mencari setoran hari ini, saat pengawas sudah memastikan semua anak telah berkumpul semua pengawas menyuruh mereka untuk naik mobil dan segera berangkat untuk kembali ke markas.
Tubuh Kasih semakin panas mengigil kedinginan membuat Ridwan semakin tidak tega melihatnya , Ridwan terus memegang tangan Kasih memastikannya agar tetap hanggat sepanjang jalan Ridwan menjaga Kasih agar tidak terjadi hal buruk, Ridwan memang selalu baik sama siapa pun bukan hanya dengan Kasih saja, sebelumnyq ada juga anak perempuan mungkin seumuran Kasih juga di culik oleh bang Barong dan komplotannya waktu itu dia baru dateng dan merasa ketakutan sama kaya Kasih.
Ridwanlah yang menenangkannya karena ia tidak mau kejadian Ciko sahabatnya menimpa yang lain juga, hanya sebulan Ridwan bersama anak itu dan setelahnya Ridwan tidak lagi melihat anak itu entah pergi kemana, karena malam sebelumnya terakhir Ridwan melihatnya ia di panggil bang Barong dan membawanya keluar gudang saat itu.
*****
Sampainya mereka di markas mobil truk yang membawa mereka segera masuk kedalam parkiran tempat sampah dan bethenti semua anak turun dari truk dengan sangat hati-hati lalu berbaris dan maju satu persatu memberikan hasil pencariannya hari ini.
Ada bang barong dan anak buah satunya yang bertugas menghitung hasil dan yang satunya bertugas memberikan nasi bungkus jika setoran mereka memenuhin target, jumlah semua penculik ada lima empat anak buah bang barong satu bang Barong sendiri yang memimpi kelompok ini.
"Ayo sini maju, cepet berikan kalengnya setoran ayo setoran!" seru anak buah barong.
Satu persatu maju dan memberikan jaleng menunggu untuk di hitung dulu yang setoran sesua target masuk kedalam membawa nasi bungkus yang tidak memenuhin target harus siap menerima hukuman dari anak buah bang barong.
Kini tiba giliran Ridwan maju bersama Kasih saat di depan anak buahnya Ridwan hanya memberikan kaleng miliknya, dan anak buah pun meminta kaleng milik Kasih, membuat Kasih ketakutan semakin gemetar tubuhnya.
"Sini, kaleng milik dia mana cepat kemarikan!!" pinta anak buah.
"Bang, Kasih sedang tidak enak badan jadi dia tidak bida cari uang sendiri makannya saya, bantu dan itu hasilnya bareng jadi satu sama saya," jawab Ridwan membela Kasih.
"Ohj gitu, jadi setoran loe kudu dobel nih Wan, kalo enggak jangkan dia, lue juga bakalan gak dapet jatah makan malam ini," kata anak buah memperingatkan.
Bang Barong yang duduk di sebelah anak buah berdiri saat mendengar Ridwan bilang kalo Kasih sakit, dengan tekapak tangannya ia menyentuh dahinya Kasih, dan ini membuat Kasih ketakutan dan semakin mendekat memeluk Ridwan.
"Sejak kapan nih bocah sakit?" tanya bang Barong.
"Sejak tadi pagi bang, saya lihat tubuhnya gemetaran saat berdiri di lampu merah, jadi saya bantu dia," jawab Ridwan.
"Lah elu kenapa gak lapor ke pengawas kalo ada yang sakit ahh, harusnya bilang lah," kata bang barong.
"Saya udah lapor sama anak buah abang, tapi dia tidaj ininin Kasih untuk istirahat malah menyuruh Kasih cari setoran lagi ke jalan," Ridwan betcerita.
Barong melirik marah ke arah keempat anak buahnya dan semua anak buah tertunduk karena mereka tahu jika barong sudah mengawasi seperti itu berarti mereka melakukan kesalahan entah itu apa barong pasti akan bikin perhitungan.
simpen==> simpan
bagus