Gue Alana Pradipta. Kalau lu liat penampilan , gue yakin lu bakalan berpendapat gue cewek gak bener, preman dan cewek kasar. Gue maklum sih kenapa lu bisa mikir gitu.
Sampe hari gue ketemu malaikat kecil yang gue jamin bikin lu yang sekeras batu karang bisa leleh kayak es krim kepanasan.
Angel minta gue jadi ibu sambungnya.
Yang bikin gue binggung adalah gue sayang sama Angel tapi gak sama bapaknya. Belum lagi sosial ekonomi kita yang nge jomplang banget.
Apa siap Angel punya ibu sambung preman kayak gue gini? Terus pernikahan tanpa cinta sama Pak Ricard gimana? Masa iya ngabisin hidup gue sama orang yang gak gue cinta dan mencintai gue?
cover source : wallbox. ru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Darl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Enam
Gue mencoba melepaskan pelukkan Richard. Badan gue rasanya sakit semua terutama dibagian bawah. "Kamu kemana, sayang?" bukannya melepaskan, Richard justru mengeratkan pelukannya.
"Aku mau ke kamar mandi." Richard membenamkan wajahnya ditanggung gue.
"Apa tidak sakit?" Richard memberikan ciuman dipundak gue.
"Lumayan. Tapi aku tetap harus bangun."
Gue mencoba bangun, memang perih tapi gue pernah merasakan luka yang lebih sakit dari ini. Ini bukan apa - apa dibanding luka tusuk yang gue dapat saat ikut uwak Madin menggrebek sarang pembuat senjata rakitan.
Masih jam lima pagi, gue udah bisa bangun jam segini. Jam berapa pun gue tidur, jam. lima gue akan bangun tanpa alarm.
Gue membuat kopi dengan mesin kopi yang ada di mini bar. Dengan membawa rokok dan kopi panas gue duduk di balkon kamar menikmati pemandangan pagi.
Asap mengembur keluar dari bibir gue, sesekali gue menyesap kopi dari cangkir. "Apa yang kamu lakukan disini sayang? Ini masih terlalu pagi.
Richard mencoba mencium gue tapi gue menolak. " Hey? Ada apa? Kamu tidak ingin mencium suamimu?"
"Appa, aku sedang merokok. Nanti saja setelah aku mandi."
"Tidak apa - apa. Kemarilah dan berikan aku ciuman selamat pagi." Gue menekan ujung rokok gue ke dalam asbak dan bangkit dari duduk. "Mau kemana?"
"Mandi." Gue meninggal Richard sendirian di balkon.
Ternyata Richard membuntuti gue hingga ke kamar mandi, bahkan ikut masuk. "Appa, aku mau mandi."
"Aku juga." Richard mendekat, melepaskan tali kimono tidur gue membuat gue langsung polos. Gue sengaja tidak memakai lagi gaun tidur karena memang hendak mandi setelah merokok.
Richard mengisi bath tub dengan air, menuangkan sabun aroma lavender yang menenangkan.
Richard menuntun gue masuk ke dalam air setelah ia juga polos. Gue menelan saliva melihat pusat gairah Richard yang mulai bangkit.
Gue duduk membelakangi Richard. Dengan lembut Richard menggosok punggung gue. "Embrace your weirdness, appreciate your uniqueness" Richard menyebutkan bunyi dari tato yang ada di pundak sebelah kanan gue ketika sedang menggosok bagian itu.
**rangkul keanehan Anda, hargai keunikan Anda
"Aku suka tato ini. Sederhana tapi artinya sangat dalam."
Richard berpindah menggosok pundak kiri gue. "Gift from God. " katanya lagi. Sesuai dengan tato dipundak sebelah kiri gue.
"Aku juga suka yang ini." katanya.
"Tapi aku paling suka ini... " Richard membelai tato bunga teratai yang ada dipunggung gue. "Kenapa teratai, sayang?"
"Sederhana, appa. Teratai tetap terlihat indah walaupun ia tumbuh dilumpur." Gue memejamkan mata ketika merasakan tangan Richard sudah berada dibagian depan tubuh gue.
"Iya kamu benar, sayang."
"Dan ini? Taurus? Kamu taurus?" tanyanya membelai tato di rusuk kanan gue. Gue mengangguk lemah. Jari Richard sedang berseluncur dibukit kembar gue.
"Apa ada lagi tato mu yang tersembunyi sayang?" godanya sambil memainkan jari - jari nakalnya.
"Coba periksa dengan baik appa. Apa ada tato yang aku sembunyikan?" Gue sudah terbawa permainan Richard
"Tentu sayang, aku akan memeriksanya dengan baik."
Richard mulai memeriksa setiap inci tubuh gue dengan jari dan bibirnya. Sehingga waktu mandi yang biasanya hanya lima belas menit molor menjadi satu jam karena sesi pemeriksaan yang dilakukan Richard.
*****
"Ayo sayang, semua orang sudah menunggu di restoran." Richard sedang merapikan pakaiannya sedang gue sedang mengeringkan rambut.
"Siapa yang membutuhkan banyak waktu untuk memeriksa ku?!" gue kesel banget. Richard hanya terkekeh.
"Maaf, sayang. Aku hanya mau memeriksanya dengan teliti." Richard menggigit telinga gue.
"Appa hentikan"
"Maaf sayang." Richard kembali terkekeh. "Kamu merubah gaya berpakaianmu?" Richard mengambil handuk dari tangan gue dan membantu gue mengeringkan rambut.
"Jelek, ya?" Gue memakai tank top pink dengan cardigan putih panjang bergaris. Sedang bawahannya gue pakai ankle panta berwarna hitam.
"Kamu cantik dengan pakaian apapun, sayang. Apalagi tanpa pakaian." canda Richard. Sontak gue berbalik dan memukul lengan Richard.
Kemana Richard yang cuek dan dingin? Kenapa Richard jadi mesum begini?
"Aku tidak mau membuatmu malu dengan penampilanku, appa."
"Pakai apapun yang membuatmu nyaman, sayang. Jangan paksakan dirimu untuk menjadi orang lain bahkan untuk ku sekalipun"
Gue tersenyum dan memberikan kecupan pada Richard. Gue gak menyangkan dia menerima gue apa adanya.
...🌼🌼🌼 Jangan lupa masukin list favorit ya, Like dan komen. Ngasih gift seiklasnya ajah 🌼🌼🌼...
Kasian Angel pengen ortu yg lengkap..