Kisah seorang gadis muda nan lugu yang berprofesi sebagai guru TK ditakdirkan bertemu dengan seorang duda beranak satu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizbethsusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nathan Lemas
Begitu turun dari kereta api kelinci, Arga ikut rombongan teman-temannya dengan dikawal koleganya Kenes yang bernama Ibu Ririn karena, Kenes masih menepuk-nepuk punggungnya Nathan sambil berucap, "Kenes kan udah bilang Mas kemarin, kalau naik kereta kelinci tuh terbuka dan mas akan masuk angin karena, Mas nggak pernah naik kereta terbuka kayak gini"
Nathan terduduk lemas lalu memeluk Kenes, "tuntun aku duduk di bawah pohon itu, aku lemas nih"
Kenes lalu menuntun suaminya pelan-pelan lalu membantu Nathan duduk di atas bangku yang berada di taman Museum itu, "Mas kamu pucat banget nih , aku belikan air mineral dulu ya di sana, biar mas......."
Bruughhh Kenes terjatuh di atas pangkuannya Nathan karena, Nathan menariknya. Lalu laki-laki tampan itu segera memeluk pinggangnya Kenes dan berkata, "jangan tinggalkan aku!"
"Mas lepas! kalau ada yang lihat kan nggak enak!"
"Kenapa nggak enak? kamu kan istriku. Emang salah kalau suami memangku istrinya kayak gini?" Nathan berucap sembari menempelkan wajahnya di punggungnya Kenes.
"Mas, tolong lepas ya?! Ini tempat umum, nggak enak kalau dilihat orang"
Nathan akhirnya melepas tangannya dengan merengut dan Kenes segera bangkit, berputar badan lalu berjongkok di depannya Nathan, "Kenes hanya akan beli minum kok, nggak jauh tuh, kelihatan kan dari sini?"
Nathan mengikuti arah jari telunjuknya Kenes lalu menganggukkan kepalanya, "baiklah tapi, jangan lama-lama!"
"Iya, tunggu di sini ya. Kalau mau rebahan, pakai tas Kenes nih buat bantal" Kenes menaruh tasnya di atas bangku.
Nathan tersenyum senang karena, Kenes begitu perhatian lalu dia merebahkan kepalanya di atas tasnya Kenes. Kenes tersenyum lalu segera berlari kecil menuju ke kedai mungil untuk membeli air mineral.
Sesampainya di depan kedai, Kenes terlonjak kaget saat tangannya ditarik oleh seseorang. Dia segera menoleh dan langsung membulatkan kedua matanya, "Elang?"
Elang memeluk Kenes dengan sangat erat lalu berkata, "iya ini aku sayang. Aku sangat merindukanmu"
Kenes meronta dan berhasil melepaskan diri dari pelukannya Elang, "jangan main peluk sembarangan, Lang!"
Elang menautkan alisnya, "kenapa? kamu itu masih kekasihku karena, nggak pernah ada kata putus yang keluar dari mulut kita berdua"
Kenes menghela napas panjang, "aku masih berstatus istrinya mas Nathan dan ini tempat umum, aku kemari dengan kolega, orang tua murid, dan murid-muridku. Kalau kamu main peluk kayak tadi, bisa timbul rumor negatif dan itu nggak baik untuk Arga anakku"
Elang terus menatap Kenes, "aku sungguh-sungguh merindukanmu. Aku hampir gila menahan kerinduan ini, kau tahu itu?" pekik Elang.
Kenes hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan terus menatap wajah memelasnya Elang
Elang melangkah maju dan Kenes segera berputar badan lalu berlari kencang meninggalkan Elang.
Kenes berlari sambil menitikkan air mata dan bergumam, "maafkan aku, Lang!"
Elang mengerem langkahnya dan menatap punggungnya Kenes yang terus menjauh darinya dengan tatapan penuh cinta, kerinduan, dan penyesalan yang sangat besar.
Kenes terengah-engah lalu duduk selonjor di depan bangku tempat Nathan merebahkan diri. Nathan segera bangun lalu duduk jongkok di depannya Kenes, "kenapa napas kamu ngos-ngosan kayak gitu? habis dikejar sama siapa?"
Kenes mengibaskan tangannya dan dengan masih mengatur napasnya dia berkata, 'nggak ada yang mengejar. Ini minumnya, minumlah Mas, biar kamu nggak dehidrasi"
Nathan menerima botol air mineral dari tangannya Kenes lalu dengan cepat dia menenggak habis air mineral itu lalu dia masukkan botol kosong itu ke dalam tempat sampah.
Kenes kemudian membuka kotak bekalnya, "Mas, makanlah sandwichnya! ini fresh dan nggak akan bikin mual, Mas habis muntah-muntah dan perut Mas pasti kosong saat ini, kalau nggak makan nanti pas pulang masuk angin lagi"
Nathan menerima sandwich pemberiannya Kenes lalu mencoba untuk memakannya dan dia tersenyum senang karena, sandwich buatan istrinya itu sungguh segar dan tidak membuatnya merasa enek.
Kenes kemudian berdiri dan berkata, "Mas, aku masuk ke dalam dulu ya sebentar, aku nggak enak sama guru-guru yang lain kalau terlalu lama mengurus kamu" ucap Kenes sambil meraih tas punggungnya.
Nathan lalu menggandeng tangannya Kenes sambil terus memakan sandwichnya dengan santai.
Kenes menoleh ke Nathan, "Mas, mau ke mana kok tangan Kenes tiba-tiba digandeng kayak gini?"
Nathan berucap sambil mengunyah gigitan terakhir sandwichnya, "masuk ke museum kan, aku ikut. Aku nggak mau kalau si duda, caper sama kamu, cih!"
"Mana ada duda caper yang caper tuh justru kamu, Mas" gumam Kenes kesal dan dengan desisan lirih.
"Kau bilang apa?" Nathan masih menggenggam erat tangannya Kenes lalu menoleh dan bersitatap dengan istrinya. Nathan menghunus sorot mata khasnya Nathan ke Kenes dan jika Kenes melakukan kesalahan maka, dengan segera, Nathan akan mencium bibirnya Kenes.
Kenes segera menggelengkan kepalanya sambil mengalihkan pandangannya ke depan dan berkata, "Kenes cuma nguap kok, nggak ngomong apa-apa"
Nathan semakin menundukkan kepalanya untuk melihat wajahnya Kenes dan bertanya, "beneran? nggak bohong?"
"Beneran!" pekik Kenes, lalu Kenes segera mengalihkan perhatiannya Nathan dengan menunjuk ke Arga yang tengah berdiri di depan sebuah rak kaca museum seni itu sambil berkata, "itu Arga, Mas"
Nathan segera menegakkan kembali tubuhnya dan melihat ke arah jari telunjuknya Kenes. Laki-laki tampan suaminya Kenes itu lalu melepas senyum ketika dia mendapati keceriaan penuh di wajah tampan putra tunggalnya itu.
Nathan lalu berkata, "putraku udah sebesar itu ternyata dan dia begitu mandiri, cerdas, dan perhatian banget sama orang lain. Emm, aku rasa sudah saatnya untuk kita kasih dia seorang adik"
"Uhuk...uhuk...uhuk" Kenes tersedak salivanya sendiri dan langsung menarik tangannya dari dalam genggaman tangannya Nathan. Kenes lalu melotot ke Nathan dengan sangat kesal.
Nathan menatap Kenes dan bertanya dengan mimik wajah tanpa dosa, "kenapa menatapku seperri itu? kamu istriku, apa salahnya aku minta anak dari kamu?" Nathan mulai meninggikan nada suaranya karena Kenes semakin melotot di depan dia.
Kenes segera berjinjit dan membungkam mulutnya Nathan dengan tangannya lalu berkata lirih dengan merapatkan gerahamnya karena, kesal, "Mas, jaga sikap! dan jangan pernah minta yang aneh-aneh. Kita ini cuma suami istri selama setahun setelah itu kita akan bercerai, jadi jangan pernah minta yang aneh-aneh!"
Kenes menarik tangannya dan sebelum Nathan sempat melepaskan protes, Kenes segera berputar badan dan melangkah lebar meninggalkan Nathan. Kenes mendekati rombongan anak-anak didiknya.
Nathan seketika itu merengut lalu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya dengan kesal.
Tanpa Kenes dan Nathan sadari, Elang terus mengekor langkah mereka dan Elang terus terbakar cemburu saat dia menatap kemesraannya Nathan dan Kenes yang tampak begitu nyata di kedua netranya.
Seseorang menepuk pundaknya Elang, "tuan muda, paman anda menunggu anda di ruangannya"
Elang tersenyum lalu mengikuti langkah orang itu menuju ke ruangan pamannya. Museum itu ternyata kepunyaannya pamannya Elang, adik dari mamanya Elang.
Elang duduk di depan meja kerja pamannya lalu bertanya, "ada apa paman memanggilku?"
"Mama kamu ingin kamu membantu bisnisnya paman karena, kita memiliki selera yang sama di bidang seni. Paman punya kafe dan studio musik yang agak terbengkalai, apa kamu mau mengurusnya sambil kamu kuliah?"
"Apa aku boleh membuka kursus drum di studio itu?" tanya Elang.
"Boleh saja"
"Kalau boleh, maka aku akan mengurus kafe dan studionya paman dengan sangat baik"
Pamannya Elang tersenyum bahagia. Dia senang melihat Elang bisa tertawa riang kembali dan dia senang Elang akan memiliki kegiatan bahkan akan menjadi sangat sibuk. Pamannya Elang akhirnya bisa bernapas lega karena, Keponakan kesayangannya itu tidak akan bermurung diri lagi tinggal diam di rumah sepanjang hari.
Elang hampir melompat kegirangan karena, impian dia memiliki tempat untuk membuka les drum menjadi kenyataan. Elang akan mencoba mencari murid di sekolahan tempat Kenes mengajar terlebih Arga. Elang akan mendekati Arga untuk les di tempatnya agar dia bisa sering berjumpa dengan Kenes
Nathan menelepon Dion, "Yon, kirim supir untuk menjemput aku, istri dan anakku! Aku ada di museum seni" Klik, Nathan memutus begitu saja sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Dion.
Lalu Nathan melangkah di belakangnya Kenes sambil bergumam, "aku nggak mau naik kereta itu lagi pas pulang"
Kenes menoleh ke belakang dan bertanya, "Mas ngomong apa?"
Nathan berlari kecil lalu berdiri di sebelahnya Kenes, "aku nggak mau pulang naik kereta kelinci lagi. Aku udah telpon Dion untuk kirim supir ke sini"
Kenes menghela napas panjang, "Iya emang lebih baik Mas pulang, aku dan Arga di sini dulu"
"Mana ada kayak gitu?" Nathan tanpa sadar meninggikan suaranya dan membuat berpuluh-puluh pasang mata memandang ke arah dia dan Kenes.
Kenes kembali membungkam mulutnya Nathan lalu meminta maaf ke semua pasang mata yang mengarah padanya.
Semua melanjutkan kembali langkah mereka sembari mengulas senyum sedangkan Kenes kembali melotot ke Nathan.
Nathan memegang tangannya Kenes lalu dia genggam dan dia tarik tangan itu dari atas mulutnya lalu Nathan berkata, "kalau aku naik mobil maka anak dan istriku juga harus naik mobil, titik nggak pakai koma!"
Kenes mendesah kesal, "tapi suamiku........"
"Kau panggil aku suamiku? apa kau marah saat ini?"
Kenes memejamkan kedua matanya sambil merapatkan bibir, mencoba untuk bersabar lalu dia membuka kembali kedua matanya untuk memandang wajah di depannya yang seringkali membuatnya kesal itu, "aku tidak marah, Mas"
"Kau marah, ngaku aja!"
Kenes merapatkan keras-keras bibirnya dan dengan mendengus kesal dia kembali berucap, "nggak marah"
"Marah. Iya kan?"
"Cukup Mas!" Kenes memekik kesal lalu berkata, "aku masih harus mengabsen anak-anak pas pulang nanti dan masih harus mampir ke sekolahan kalau aku naik mobil lalu gimana........."
Nathan menarik tangannya Kenes untuk dia cium lalu dia menyeringai, "mau ngeyel lagi? mau aku kasih hukuman saat ini juga, di sini?"
Kenes segera menarik tangan yang berada di dalam genggaman tangannya Nathan lalu dengan segera dia menutup bibirnya sendiri dengan tangan itu sambil terus menggelengkan kepalanya.
Nathan dan Kenes kembali mengekor barisan anak muridnya Kenes. Suaminya Kenes itu terkekeh melihat tingkah polosnya Kenes dan sambil terus mengayunkan langkahnya, dia berkata, "pokoknya kamu dan Arga pulangnya naik mobil bareng aku. Kalau mau ngabsen, aku akan tunggu sampai selesai. Kalau mau mampir ke sekolahan dulu ya aku akan anter, nggak boleh ngeyel, titik nggak pakai koma!"
Kenes hanya bisa mendesah panjang dan menyerah untuk mengalah.
Mampir juga dong di novel aku
"Pernikahan impian"
Makasih
salam dari Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
ditunggu feedbacknya 👋
salam dari Sekretaris Pilihan Milik Ceo Tampan
Sehat, bahagia & semakin sukses ya 🥰
Semangaaaatt ⭐❤️❤️❤️❤️❤️⭐
Sehat, bahagia & sukses selalu ya 🥰
Semangaaaatt ⭐❤️⭐❤️⭐❤️⭐