NovelToon NovelToon
Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Dia Sudah Full Level, Kamu Masih Cari Masalah?

Status: sedang berlangsung
Genre:Membalas dendam / Balas Dendam / Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Lestari

Keira Wulandari — gadis adopsi dari perumahan subsidi, dianggap bodoh, jelek, dan tidak berguna.
Tapi tidak ada yang tahu... di kehidupan sebelumnya, dia adalah Blood Shadow — pembunuh nomor satu dunia, hacker terhebat, dan dokter legendaris.
Sekarang dia terlahir kembali. Dengan semua kemampuan dari kehidupan sebelumnya, dia kembali untuk melindungi adiknya, membalaskan dendam, dan membuat semua orang yang pernah meremehkannya berlutut.
Dan CEO konglomerat terkaya di Indonesia — Tan Hansel — yang dingin kepada semua orang kecuali dia?
"Dia istriku. Ada masalah?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 029 - Nasi Padang dan Kebenaran

Keira datang ke warung Padang itu sepuluh menit lebih awal.

Tempatnya hampir tidak berubah. Etalase kaca berisi rendang, ayam pop, telur balado, gulai daun singkong, dan sambal hijau. Kipas angin dinding berputar dengan suara berderak. Meja-meja stainless memantulkan lampu putih yang sedikit redup. Di luar, jalan lama Megawan basah oleh gerimis tipis.

Tiga tahun lalu, ia duduk di meja pojok setelah mengirim surat anonim. Tubuhnya lebih kecil, wajahnya lebih kurus, dan di saku jaketnya ada uang yang dihitung sampai koin terakhir. Ia memesan nasi dengan kuah gulai saja, lalu pergi sebelum pemilik warung bertanya terlalu banyak.

Malam ini, ia memesan nasi Padang lengkap.

"Pakai rendang?"

"Iya."

"Sambal hijau?"

"Sedikit."

Pemilik warung mengangguk. Ia tidak mengenali Keira sebagai gadis kecil tiga tahun lalu, atau mungkin mengenali tetapi memilih tidak bertanya. Orang warung yang baik sering punya kemampuan itu.

Keira duduk di meja pojok yang sama.

Jam tujuh tepat, Tan Hansel masuk.

Ia tidak membawa rombongan. Tidak ada Tan Yannic, tidak ada pengawal yang terlihat. Hanya setelan gelap yang terlalu rapi untuk warung kecil, dan mata yang membuat ruangan sempit terasa lebih tajam.

Beberapa pelanggan menoleh. Hansel mengabaikan mereka dan duduk di depan Keira.

"Kau pesan?"

"Nasi Padang."

"Untukku?"

"Untukmu pesan sendiri."

Hansel menatapnya dua detik, lalu memanggil pelayan. "Sama."

Keira hampir bertanya apakah ia tahu apa yang dipesan, tetapi menahan diri.

Pelayan membawa dua piring nasi. Setelah pergi, suara warung kembali mengisi ruang, tetapi meja mereka seperti memiliki dinding tipis sendiri.

Hansel mengeluarkan amplop cokelat dari dalam jas.

Keira tidak bergerak.

"Tiga tahun lalu," kata Hansel, "seseorang mengirim surat ke kantorku. Surat itu mencegah patient #0047 menerima dosis kedua dari protokol yang sudah disabotase."

Ia membuka amplop. Di dalamnya ada salinan surat lama, dilindungi plastik bening.

Tulisan tangan itu muncul di bawah lampu warung.

Keira menatapnya.

Tidak ada kilatan terkejut di wajahnya. Hanya sesuatu di matanya yang perlahan menutup, seperti pintu besi ditarik dari dalam.

Hansel meletakkan foto esai Bahasa Indonesia di samping surat.

"Tulisan tanganmu."

Keira mengambil sendok. "Banyak orang punya tulisan mirip."

"Ahli grafologi bilang kecocokan awal tinggi."

"Ahli bisa salah."

"Bisa." Hansel menatapnya. "Karena itu aku bertanya padamu."

Keira mengaduk kuah di piringnya. Rendang di depan mereka masih panas, aromanya kuat, terlalu nyata untuk percakapan yang mulai membuka masa lalu.

"Kalau itu aku," ucap Keira pelan, "apa yang akan kau lakukan?"

Hansel tidak langsung menjawab.

Pertanyaan itu bukan pengakuan, tetapi juga bukan penolakan. Ia berdiri di tempat yang hanya bisa dipahami orang yang terlalu sering hidup dengan setengah identitas.

"Pertama," kata Hansel, "aku akan berterima kasih."

Keira menatapnya.

"Kedua, aku akan bertanya bagaimana seorang gadis semuda itu tahu sabotase medis yang bahkan tim internalku hampir terlambat lihat."

"Dan kalau dia tidak mau menjawab?"

"Aku akan tetap berterima kasih."

Sendok Keira berhenti.

Di meja sebelah, seorang bapak tertawa keras pada acara televisi. Suara itu terasa datang dari dunia yang berbeda.

Hansel mendorong surat itu sedikit ke arah Keira. "Patient #0047 masih hidup karena surat ini. Aku mencari pengirimnya bertahun-tahun."

"Untuk membalas budi?"

"Untuk memastikan dia tidak dalam bahaya."

Keira tertawa kecil. Tidak ada humor di sana. "Tiga tahun terlambat."

Rahang Hansel mengeras.

Keira sadar ia telah mengatakan terlalu banyak.

Ia mengambil air minum. Gelasnya dingin di telapak tangan.

Hansel tidak memaksa. Ia justru mengeluarkan satu foto lain dari amplop. Foto CCTV buram, hampir hancur oleh garis hujan. Di sana terlihat sosok kecil berjaket gelap menunduk di dekat pagar belakang gedung Tan Group.

"Ini dari malam yang sama."

Keira menatap foto itu. Di dalam gambar, wajah sosok itu tidak jelas. Tetapi postur bahunya, cara tangan kiri memegang ujung jaket, dan kebiasaan berdiri sedikit menyamping untuk membaca pantulan kaca terlalu akrab untuk dipungkiri.

"Kualitasnya buruk," kata Keira.

"Aku tahu."

"Tidak cukup untuk membuktikan apa pun."

"Aku tidak membawanya untuk membuktikan di pengadilan."

"Lalu untuk apa?"

Hansel menatap foto itu, bukan padanya. "Untuk mengingat bahwa saat aku mencari pengirim surat di jalur bisnis, pengirimnya mungkin sedang makan di warung seperti ini dengan uang sisa."

Keira menekan ujung gelas dengan ibu jari. Ucapan itu tidak keras, tetapi mengenai tempat yang tidak ia siapkan untuk disentuh.

Tiga tahun lalu, ia memang menghitung uang sisa. Dua lembar lusuh, beberapa koin, cukup untuk nasi kuah dan ongkos kembali. Saat itu ia tidak merasa menyedihkan. Ia hanya merasa efisien. Baru sekarang, mendengar Hansel menyebutnya, meja stainless di depannya terasa lebih dingin.

"Keira," suara Hansel turun, "berapa umurmu saat itu?"

"Cukup tua untuk membaca instruksi obat."

"Itu bukan jawaban."

"Aku tahu."

Mereka saling menatap. Dua orang yang sama-sama terbiasa menyembunyikan senjata, tetapi malam ini senjata yang paling berbahaya justru adalah pertanyaan yang tidak ditembakkan.

Pemilik warung datang membawa sepiring gorengan.

"Ini bonus. Malam dingin, makan yang hangat."

Keira menoleh. "Saya tidak pesan."

"Saya tahu. Dari dulu anak muda kalau duduk di pojok sambil mikir berat, biasanya lupa tambah lauk."

Tangan Keira hampir tidak terlihat bergerak, tetapi Hansel menangkap perubahan kecil di matanya.

Dari dulu.

Pemilik warung pergi sebelum ada yang bertanya.

Hansel melihat Keira. "Kau pernah ke sini."

"Banyak orang pernah."

"Tiga tahun lalu?"

Keira mengambil satu gorengan. "Rasanya masih sama."

Itu bukan jawaban.

Namun bagi Hansel, itu cukup untuk membuat ruang di dadanya menegang.

Ia membayangkan seorang gadis remaja duduk di meja ini, sendirian, dengan informasi yang bisa menyelamatkan nyawa dan bahaya yang mungkin mengejarnya. Membayangkan ia makan kuah gulai karena tidak punya cukup uang. Membayangkan surat yang ia pegang bertahun-tahun sebagai misteri, ternyata ditulis oleh seseorang yang malam ini duduk di depannya, masih terlalu muda untuk membawa mata setua itu.

"Kenapa tidak menuliskan nama?" tanya Hansel.

"Karena nama membuat orang bisa menemukanmu."

"Aku tetap menemukanmu."

"Terlambat."

Kata itu muncul lagi.

Hansel menundukkan pandangan ke surat. "Aku tidak tahu."

"Itu bukan salahmu."

"Kau yakin?"

Keira terdiam.

Untuk pertama kalinya, Hansel tidak terdengar seperti pria yang selalu mengendalikan ruangan. Ia terdengar seperti seseorang yang baru menyadari ada pintu terbuka di masa lalu, dan di balik pintu itu ada anak yang tidak sempat ia tolong.

Keira meletakkan sendok. "Surat itu sampai. Pasiennya selamat. Itu cukup."

"Untukmu mungkin cukup."

"Untuk siapa lagi?"

"Untukku tidak."

Keira menatapnya. Ada sesuatu yang berbahaya dalam kalimat itu. Bukan bahaya yang menyakiti. Bahaya yang ingin masuk terlalu dekat ke tempat yang selama ini dijaga.

"Apa yang kau inginkan dariku?" tanyanya akhirnya.

Hansel menatapnya lama. "Kebenaran, kalau kau bersedia memberikannya."

"Dan kalau tidak?"

"Maka malam ini cukup sampai di sini."

"Kau akan berhenti menyelidiki?"

"Tidak sepenuhnya."

Keira hampir tersenyum, tipis dan lelah. "Jujur juga."

"Aku tidak akan membongkar hidupmu untuk memuaskan rasa ingin tahu. Tapi kalau bahaya yang sama masih mengikutimu, aku tidak akan pura-pura tidak melihat."

"Kau suka mengambil tanggung jawab yang tidak diminta."

"Kau suka menolak bantuan sebelum orang sempat mengulurkan tangan."

Kalimat itu membuat Keira menatapnya tajam. Hansel tidak mundur.

Di antara mereka, rendang mulai dingin. Kuah merah mengental di tepi piring. Warung tetap ramai, tetapi meja pojok itu terasa seperti ruang interogasi tanpa polisi dan tanpa lampu sorot. Hanya dua orang yang sama-sama tahu cara menutup luka, tetapi salah satunya mulai menolak membiarkan luka itu dianggap tidak ada.

"Jika itu aku," kata Keira pelan, "aku tidak menyesal menulis surat itu."

Hansel menahan napas.

"Jika itu aku, aku juga tidak menyesal tidak menulis nama."

"Karena nama membuat orang bisa menemukanmu," ulang Hansel.

"Karena saat itu, ditemukan berarti mati."

Kata terakhir jatuh pelan.

Tangan Hansel di atas meja mengepal. Tidak cukup keras untuk menarik perhatian orang lain, tetapi cukup untuk membuat urat di punggung tangannya muncul.

"Siapa yang mengejarmu?"

Keira mengambil tisu dan mengelap ujung sendok yang sebenarnya tidak kotor. "Mereka yang tidak ingin patient #0047 hidup."

"Nama."

"Belum."

"Keira."

"Hansel, kalau aku memberi satu nama malam ini, kau akan menarik seluruh Tan Group masuk ke lubang yang belum kau lihat dasarnya."

"Mungkin aku sudah berdiri di tepinya."

"Tepi bukan dasar."

Mereka saling diam lagi. Kali ini, Hansel tidak menang karena ia lebih berkuasa. Keira tidak menang karena ia lebih tahu. Percakapan itu tidak punya pemenang. Hanya ada jarak yang berubah bentuk, dari tembok menjadi pintu tertutup yang sudah terlihat gagangnya.

Ponsel Keira tiba-tiba bergetar keras.

Bukan nada biasa.

Layar menyala merah.

Yves:

RED ALERT. Patient #0047 cardiac event. Tim kehilangan stabilitas pasca reaksi protokol. Masuk sekarang.

Di bawahnya, panggilan terenkripsi mencoba masuk.

Tubuh Keira berubah sebelum wajahnya berubah. Bahunya lurus, matanya dingin, napasnya memendek. Gadis SMA di warung Padang lenyap dalam satu kedipan, digantikan seseorang yang sudah terbiasa melihat angka hidup dan mati bergerak di layar.

Hansel melihat perubahan itu.

"Keira."

"Aku harus pergi."

"Patient #0047?"

Keira berhenti sepersekian detik. Terlalu cepat bagi orang lain, cukup lama bagi Hansel.

Ia memasukkan ponsel ke saku, mengambil tas, lalu berdiri. "Lupakan yang kau lihat malam ini."

Hansel juga berdiri. "Tidak bisa."

"Maka jangan ikut."

"Aku tidak bilang akan ikut."

"Hansel."

Itu pertama kalinya malam itu Keira menyebut namanya tanpa marga, tanpa jarak formal.

Hansel menatapnya.

"Jangan masuk ke dunia ini hanya karena penasaran."

"Aku tidak penasaran."

"Lalu?"

Ia tidak menjawab dengan cepat. Di luar, gerimis berubah menjadi hujan yang lebih rapat. Lampu jalan memantul di aspal seperti garis-garis patah.

"Aku takut," kata Hansel akhirnya.

Keira terdiam.

"Bukan padamu." Suaranya rendah. "Pada dunia yang membuatmu harus berubah secepat itu."

Panggilan terenkripsi kembali bergetar. Keira tidak punya waktu.

Ia berbalik dan keluar dari warung. Hujan langsung menyentuh rambut dan bahunya. Hansel tidak mengejar, tetapi matanya mengikuti sampai sosok Keira hilang di balik tikungan.

Di meja, surat anonim tiga tahun lalu masih tergeletak di samping piring nasi yang belum habis.

Hansel mengambil surat itu dengan jari yang menegang.

Takut pada dunia yang membuat Keira harus berubah secepat itu.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
bayu sama kakak nya ini seumuran apa gmna dia anak kandung bu Sri apa anak angkat
falea sezi
bagus
falea sezi
ini novel al kah
Erna Fkpg
makin misterius dan menegangkan
Erna Fkpg
ceritanya menarik dan menegakkan
Erna Fkpg
wah makin mantap ceritanya 💪💪💪
Erna Fkpg
pada akhirnya tetap ditakdirkan pd jalan yg selalu dihindari untuk mencari kenyamanan
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
ni sebenarnya Bu Sri orang kaya bukan sih kok selalu memerintah dengan uang
Cty Badria
/Rose/
Erna Fkpg
nah Lo malu sendiri GK tu Bu Sri ngomongnya ngurusin keyra padahal dijadikan babu
Erna Fkpg
harusnya Laras dapat nilai dibawah Bayu biar kalah telak dan mati kutu dengan kesombongannya 💪💪💪
Cty Badria
👍👍👍
Erna Fkpg
secangkir kopi untuk semangat up💪💪💪
Cty Badria
ayo semangat up lg ni hadiah /Rose/
Cty Badria
jgn lm2 up nya thor ni hadiah biar semangat /Rose/
Erna Fkpg
GK sabar nunggu hasilnya 💪💪💪🙏🙏🙏
Anne Soraya
lanjut 👍
Erna Fkpg
lanjut thor tetap semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!