KARMA
Sebelum membaca karya ini alangkah baiknya jika membaca karya pertamaku yang berjudul Aku Bukan Pelakor, agar bisa mengikuti jalan ceritanya.
Karya KARMA ini menceritakan tentang pembalasan pengkhianatan yang di lakukan julio kepada istri dan anak-anaknya.
Julio bukan hanya mengkhianati istrinya namun ia membohongi ana dengan mengaku lajang untuk mendapatkan hati dan tubuh ana, selain itu ia juga di duga menggelapkan dana perusahaan tempatnya bekerja serta perusahaan milik istrinya.
Lalu apa sajakah KARMA yang akan di terima oleh julio?
Semuanya akan di ceritakan di Novel ini.
Terima kasih, selamat membaca😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Kabar kepergian bu ratih sampai juga di telinga lyra, pagi itu lyra yang baru saja tiba di Joga setelah dirinya kembali dari Jakarta menemani kakanya merawat ana, langsung bergegas menuju kediaman retno untuk bertakziah.
"Aku turut berduka cita atas kepergian ibu mertuamu." ucap lyra sambil memeluk Retno.
"Terima kasih ya lyr." ucap retno lirih menahan tangisnya.
Meski lyra sangat membenci julio, namun dengan tulus ia mendoakan dan ikut mengaji di depan jenazah bu ratih.
Dalam benaknya timbul tanya mengapa orang sebaik bu ratih memilik anak sebrengsek julio, apa tidak bisa julio mencontoh sedikit saja sikap dan sifat ibundanya, ia juga berfikir malang sekali nasib sahabatnya di nikahi oleh pria sebrengsek Julio padahal Retno wanita yang sangat baik.
Usai mengaji lyra melihat retno nampak kerepotan mengurus dua buah hatinya yang sedikit rewel, terutama Rangga yang terys menerus menangis atas kepergian Utinya. Lyra mendekati Rangga untuk menenagkannya, sedangkan baby sitter membantu menenangkan rama.
"Keluar sebentar sama Aunty yuk!" ajak Lyra.
"Uti... uti...hiks..." Rangga menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin jauh dari jenazah neneknya.
"Ikhlas ya sayang, jika rangga bersedih seperti ini, uti juga akan sedih. Tapi jika rangga ikhlas dan mendokan uti, jalan uti akan lebih lapang di akhirat." Lyra memangku dan mengelus punggung rangga dengan lembut.
"Rangga maukan mendoakan uti?" Tanya lyra sambil menghapus air mata rangga.
"Ia aunty." Rangga menganggukan kepalanya.
"Tolong ambilkan minum." Lyra meminta ART retno mengambilkan minum untuk rangga.
"Sekarang rangga minum dulu biar tenang, habis itu kita sama-sama mengaji untuk uti." Lyra memberikan minum yang ia dapat dari ART retno.
"Yuk ambil air wudhu dulu." Lyra menggandeng rangga menuju tempat berwudhu di rumahnya.
Sementara itu dari kejauhan cakra melihat retno tengah duduk menunduk merasakan duka yang mendalam atas kepergian ibu mertuanya, ingin rasanya cakra memeluk retno memberikan suport padanya, lagi-lagi ia tersadarkan jika dirinya dan retno bukan muhrim di tambah retno masih berstatus istri julio.
"Dek, tolong temani retno." pinta cakra kepada adiknya lentera.
"Mas cakra suka ya sama retno?" Tanya lentera.
"Kamu ini ngomong apa sih dek, dalam suasana begini bisa-bisanya kamu berbicara seperti itu." Ucap cakra kesal.
"Ia, ia, tapi benerkan tebakanku? awas di tikung lagi mas!!!" Ledek lentera kemudian ia berlari menjauh dari kakaknya karena takut kena omel cakra.
"Awas kamu ya dek." Gerutu cakra.
Lentera hanya tersenyum mengejek kepada kakaknya kemudian ia menghampiri retno dan memberikannya suport agar bisa ikhlas dan tidak terlarut dalam kesedihan.
Ba'da dzuhur jenazah bu ratih di kebumikan, di pemakaman umum yang tak jauh dari kediaman retno.
Saat jenazah hendak di masukan ke dalam liang lahat, keluarga retno di kejutkan dengan kedatangan julio yang mengenakan baju berwarna orange dan di kawal oleh dua orang dari kepolisian.
Pada malam setelah dokter mengabarkan berita kematian ibunda julio, retno meminta bantuan kuasa hukumnya dan juga cakra untuk bisa menghadirkan julio di prosesi pemakaman ibundanya.
Cakra sempat ragu untuk membantunya, namun ia berfikir jika dirinya juga cukup dekat dengan ibunda julio sehingga cakra mau membantu retno.Jika bukan karena ia menaruh hormat terhadap ibunda julio rasanya ia sangat enggan membantu julio.
Julio ikut turun kedalam liang lahat untuk mengantarkan ibundanya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Usai seluruh rangkaian prosesi pemakaman ibunda julio, julio mendekat ke arah retno dan rangga. Ia sangat merindukan saat berkumpul bersama istri dan anaknya.
"Maafin abi ya." Julio berjongkok mensejajarkan dirinya dengan rangga, ia memeluk rangga dengan erat.
Rangga nampak bingung melihat abinya mengenakan pakaian orange dan di kawal oleh polisi.
"Jangan setuh cucuku dan jangan pernah kamu mendekati keluarga kami lagi, aku tidak sudi melihatmu lagi!!!" Ucap ibunda retno dengan nada tinggi sehingga menjadi pusat perhatian para pelayat yang turut hadir dalam pemakaman ibunda julio.
Ibunda retno mendorong julio hingga jatuh, kemudian ia menggendong rangga dan menarik putrinya menjauh dari julio.
"Tolong bawa rangga pergi." Ibunda retno memberikan rangga kepada cakra, cakra pun menggendong rangga dan pergi keluar dari tempat pemakaman, mengikuti retno dan ibundanya dari belakang.
Rangga masih nampak bingung dengan apa yang terjadi, ia memandangi abinya dari kejauhan, begitu pula dengan julio yang memandangi putranya yang kian menjauh dari dirinya.
Dengan mata yang berkaca-kaca julio mencoba tersenyum dan melambaikan tangannya ke arah rangga.
"Tunggu abi pulang ya nak, abi ingin menebus semua kesalah abi padamu." Gumam julio.
Tak lama julio di bawa kembali ke pusat rehabilitasi narkoba di Jakarta.
sungguh menguras air mata, tapi sangat puas n byk pelajaran yg bisa diambil dlm cerita ini
sungguh sangat terharu dgn novel ini