Cinta Dan Misi Rahasia
Lanjutan Become An Agent.
Di sarankan membaca Become An Agent lebih dulu.
===
⚠️Tidak Update Harian⚠️
===
Misteri - Aksi - Fiksi Ilmiah - Roman
Chelsea Nathalie, seorang agen rahasia yang dengan segenap kelebihannya bisa terbang bebas seperti burung di angkasa, tanpa takut jatuh dan terluka, tanpa harus mendengar begitu banyak tuntutan gila.
Setidaknya, semua itu sampai seorang pria dengan seluruh pesonanya datang dan membuat hidup Chelsea berubah. Dirinya terjebak dalam cinta yang mengikat. Seorang Tuan Muda menggantikan sayapnya untuk terbang dan mulai membuat rantai yang tidak bisa ia lepas
Pada saat yang sama, Chelsea mulai menemukan jalan menuju masa kecilnya yang penuh rahasia. Segala teka-teki hidupnya yang selalu menjadi tanda tanya terjawab oleh sebuah fakta yang membuatnya putus asa setelah masuk ke dalam benteng teknologi milik keluarganya sendiri.
Namun, terlepas dari segala masalah dan rintangan yang dihadapinya, Chelsea tetap bisa merasakan kebahagiaan yang membuat tawa dan senyuman tak lekas hilang dari bibir indahnya.
Hanya saja, Tuhan ternyata sedang merencanakan sesuatu yang tidak pernah dia duga ... Bahkan dalam lamunan sekalipun.
Warning⚠️
•Ada banyak adegan kekerasan di beberapa Chapter!
•Harap tanggapi kisah ini dengan bijak!
•Hanya cerita fiksi dan tak bermaksud menyinggung pihak manapun!
•Dilarang menjiplak!
Note:
-Bukan novel terjemahan.
-Happy Reading-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EijEnEs, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 26: Richenle Company's Birthday
Hari Ulang Tahun Richenle Company
Perusahaan Richenle yang menjulang tinggi itu terlihat di dekorasi sedemikian rupa untuk pesta perayaan ulang tahun yang entah ke berapa kali. Semua karyawan di liburkan sebagai bentuk peringatan akan perayaan yang terjadi.
Di lantai tiga, sebuah aula besar yang menjadi tempat pertemuan utama para tamu undangan yang hadir. Terlihat banyak dekorator yang sedang mengerjakan dekorasi pesta sesuai rancangan desainer yang berasal dari salah satu layanan penyedia jasa untuk segala macam pesta.
Bukan hanya di lantai tiga, di lobi utama pun terlihat sebuah karpet merah yang terpasang sampai menuju lift. Richenle Company menyediakan 5 lift yang di peruntukkan untuk karyawan sedang 2 lift lainnya untuk para petinggi perusahaan seperti dewan direksi, direktur utama, direktur, wakil direktur, dan lainnya.
Dekorasi juga di pasang di rooftop dan landasan pacu helikopter. Meja yang sudah di hias terlihat mulai memenuhi lokasi-lokasi yang akan di langsungkan nya pesta perayaan ini.
Yang paling mencolok adalah taman bagian depan perusahaan yang tampak indah setelah di dekorasi ulang dan di rapikan. Lampu lentera LED terlihat di pasang di beberapa spot indah yang mempercantik tampilan.
Pesta yang di usung dengan tema mewah dan glamor itu kian terbukti dari dekorasi yang mengambil warna gold dan putih yang mendominasi hiasan dengan detail-detail rinci.
Untuk para karyawan yang ingin menghadiri pesta, Richenle Company menyediakan tempat khusus di beberapa lantai untuk membuktikan bahwa mereka menghargai kerja keras para pegawainya.
Tak hanya itu, ribuan stok dan paket makanan yang di kemas dalam menu vegetarian dan makanan ringan di bagikan pada ribuan masyarakat kurang mampu sebagai bakti sosial.
***
19:00
Chelsea menatap kartu undangan yang di berikan Maurice dengan seksama. Dia terlihat berpikir keras antara mau menghadiri pesta atau tidak.
Pada akhirnya, ia menghela nafas lalu menatap kimono dress yang tergantung di pegangan pintu lemari hotel. Senyum tipis muncul wajahnya.
***
20:30
Richenle Company, New York, Amerika Serikat.
Tamu undangan khusus mulai memenuhi aula pesta lantai tiga di perusahaan Richenle. Hadirnya beberapa pejabat negara yang sering muncul di saluran berita memperlihatkan seberapa tinginya kelas perusahaan pemasok senjata legal terbesar itu.
Ella dan Maurice yang merupakan tuan rumah acara, terlihat menyambut tamu-tamu yang datang dari arah pintu yang terhubung menuju lift dalam satu lorong.
Raut wajah pasangan harmonis itu berubah saat seorang pria menghampiri sambil membenarkan jas hitam yang membalut kemeja putih.
Ford Rounalf, Direktur Utama CIA yang merupakan keturunan Prancis itu menghampiri Ella dan Maurice yang menyambut tamu-tamu acara.
Ford tersenyum meledek saat Maurice meletakkan tangannya di pinggang sang istri seperti pamer kemesraan.
"Owh, how romantic. Membuatku ingin kembali ke masa lalu dan membuat Ella menjadi istriku." Ford mengambil tangan Ella dan mencium punggung tangannya sambil membungkuk, membuat Maurice melengos kesal.
"Kau masih sama seperti dulu Ella, cantik dan memesona." Ford tersenyum menawan.
"Jangan menggodanya Ford, dia istriku." Maurice mendesis kesal.
"Sudahlah sayang, dia hanya main-main. Jangan terlalu serius." Ella mencium pipi suaminya yang terlihat kesal, membuat Maurice langsung tersenyum penuh kemenangan.
Ford memutar bola matanya malas. "Menyebalkan, kenapa kau harus pamer di depanku."
"Kau sendiri yang salah. Seandainya dulu kau bukan seorang playboy mungkin Ella akan menjadi milikmu, tapi aku berterima kasih karenanya." Maurice tersenyum miring, mengingat masa lalu saat mereka masih muda.
"Setidaknya aku berhasil membuat Ella cemburu saat aku menghadiri pesta ulang tahun Arvand bersama Gricella." balas Ford tak mau kalah.
"Tapi untungnya Gricella lebih memilih Arvand dari pada kau." Maurice kembali tersenyum penuh kemenangan.
"Sudahlah, tak perlu berdebat. Telingaku sakit mendengarnya. Ford, kau ingin Mocktail atau Cocktail?" Ella bertanya jengah saat dua orang waitress yang membawa dua minuman berbeda terlihat menawarkan minuman di nampan.
"Mocktail, aku ingin alkohol di bagian pesta terakhir." Ford menjawab cepat.
Ella terlihat memanggil salah seorang waitress yang membawa Mocktail. Dia menyerahkan segelas minuman tanpa soda itu pada Ford dan Maurice lalu mengambil untuk dirinya sendiri.
Dengan membawa segelas minuman di tangan masing-masing, mereka beralih ke bagian spot lain setelah Maurice menyuruh Agatha menyambut sisa tamu yang belum hadir.
"Ku dengar bisnis mu kembali meningkat saat Ziv mendirikan perusahaan di Perancis. Apa anak itu masih sama?" tanya Ford sambil meneguk minumannya.
"Mungkin sekarang tidak lagi. Dia berubah sedikit demi sedikit." Maurice tersenyum tipis. Mengingat cerita yang Valerie ceritakan padanya dan Ella tempo hari.
"Aku melihat bahwa sepertinya CIA juga mempunyai kartu As nya. Aku yakin pada awalnya kau tak menyetujui anak itu menjadi agen." Ella teringat akan Chelsea yang bisa di katakan agen berbakat saat ia mendapat informasi.
"Siapa?" Ford mengernyit tak mengerti.
"Chelsea Nathalie, dia menjadi agen saat masih 18 tahun dan mengambil misi yang melibatkan keluarga Lashwan dan Reginald. Level dengan risiko tinggi yang di ambil untuk agen baru." Maurice menaikkan alisnya.
"Ahh anak itu?! Ck aku benar-benar di buat angkat tangan dengan tingkahnya. Dia selalu berbuat seenaknya dan yang membuatku frustrasi adalah aku sendiri tak bisa mengaturnya." Ford berdecak kesal.
"Mengacaukan beberapa kebijakan yang berakibat baik, right?" Ella terkekeh ringan.
"Begitulah, tapi aku harus mengakui bahwa anak itu memang berbeda. Terlepas dari sikapnya yang semena-mena, dia selalu punya alasan yang kuat jika mengambil tindakan sepihak. He's... amazing." Ford menggeleng pelan.
"Aku sempat membaca beberapa artikel di internet tentang Yakuza dan Triad yang kembali berulah. Yang menjadi perhatianku adalah, bagaimana kau menyikapi geng Triad yang berpusat di Negeri Tirai Bambu? Aku yakin pemerintah akan menunjuk agen CIA di bawah Departemen Pengumpulan Informasi Pemerintah Asing." Maurice mengalihkan pembicaraan, mengingat kerjasama Triad dengan Yakuza yang meningkatkan kasus kriminalitas di Amerika.
"Apa yang bisa kuperbuat selain menuruti keinginan para pejabat negara itu? CIA bergerak di bawah Direktur Intelijen Nasional, jika Dewan Keamanan Nasional dan Dewan Keamanan Dalam Negeri sudah memutuskan, maka tak ada yang berani mengubahnya. Huh! Menyebalkan, aku tak suka jika terlibat politik." Ford menggerutu. Teringat perdebatan dua negara di Laut China Selatan yang membuat CIA harus terlibat dalam lingkup politik.
"Bukankah kau sendiri yang menginginkan jabatan Direktur Utama CIA?" Maurice memandang heran.
"Aku tak pernah memperkirakan bahwa badan intelijen seperti CIA akan terlibat urusan yang melibatkan para pejabat negara." Ford meneguk habis minuman di gelasnya sedang Ella dan Maurice terkekeh pelan.
Saat mereka tengah asik berbincang, seorang gadis dengan pesona warna merah masuk ke aula pesta dan menarik perhatian.
Chelsea masuk dengan gaya acuhnya tanpa membawa apapun selain ponsel di tangannya. Rambutnya di ikat satu dengan wajah tanpa riasan. Memakai sepatu jenis Gladiator sandal yang sampai ke betis dengan gaun kimono dress selutut.
"Pesona yang mengagumkan, sayangnya aku terlalu tua untuk melamarnya." Ford bergumam pelan namun masih bisa di dengar Ella dan Maurice yang kembali terkekeh.
***
Chapter ini tu mengandung spoiler lho wkwkwk. ada yang tau apa?
ILUSTRASI: PINTEREST
favorit
👍❤