Mohon diharapkan sopan dalam berkomentar.
Sebelum membaca novel ini disarankan membaca perjodohan karena hutang yang pertama dulu ya, karena ini adalah cerita lanjutan perjodohan karena hutang pertama.
Disini saya akan menceritakan tentang kehidupan anak-anak mereka, yang tentunya tidak kalah seru dengan para orang tua mereka.
Danis adalah anak dari Risa dan Denis, Danis yang terbiasa hidup mewah dan tidak pernah kekurangan tapi tiba-tiba Denis mengambil semua fasilitas yang Denis berikan pada Danis.
Dan tentunya kenapa Denis mengambil semuanya, Denis punya alasan tertentu dan ingin membuat anaknya bisa menghargai apa yang dia punya bukan menghambur-hamburkannya tidak jelas.
Sampai akhirnya Danis hidup menjadi laki-laki biasa karena hukuman dari sang papa dan bertemu dengan seorang gadis yang sangat membenci laki-laki kaya.
Dan pertemuan itu membuat Danis jatuh hati pada gadis itu. Tapi bagaimana cara Danis jujur pada gadis itu kalau dirinya adalah anak orang kaya? Sedangkan gadis itu sangat membenci laki-laki kaya. Ya tentunya sang gadis juga punya alasan kenapa dia bisa membenci laki-laki kaya.
Penasaran dengan cerita cinta mereka? Dan bagaimana nanti Danis akan mengatakan kejujuran pada sang gadis.
Baca yuk karya Author
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
26.Sama-sama terlambat.
Pagi hari yang cerah, sinar matahari menembus kamar Anindiya. Ia perlahan-lahan membuka matanya, ia bangun dari tempat tidurnya lalu melihat jam beker yang ada di atas nakas dekat tempat tidurnya.
"Haahh, sudah jam setengah 8 pagi! Sial gara-gara ciuman laki-laki mesm itu, aku sampai tidak bisa tidur semalaman dan ini hasilnya aku terlambat berangkat kerja!!" Anin terus menggerutu, ia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Ani mandi dengan terburu-buru tidak ada lima menit, akhirnya ia selesai mandi sekarang ia sudah bersiap-siap untuk berangkat kerja.
Anin keluar dari rumah dengan buru-buru, ketika ia membuka pintu rumahnya ternyata Danis juga baru membuka pintu rumahnya.
"Kamu.....!!!" Kata mereka bersamaan.
Kini mereka saling menatap sengit satu sama lain.
"Gara-gara, kamu aku jadi terlambat berangkat kerja!" Anin menatap kesal Danis.
"Aku juga terlambat, gara-gara kamu." Danis tidak mau kalah.
Mereka sama-sama buru-buru berangkat ke tempat kerja mereka, sesampainya di tempat kerja bos Rifki sudah berdiri di ambang pintu, ia sengaja menunggu Anin sang pujaan hati.
Dengan nafas yang masih ngos-ngosan Anin berhenti tepat dihadapan Rifki.
"Maaf, Tuan Rifki aku terlambat." Kata Anin menundukkan kepalanya dengan sopan.
"Tidak apa-apa, kamu tidak perlu kawatir jika kamu terlambat setiap hari aku juga tidak akan memberikan hukuman padamu." Jawab Rifki dengan begitu lembut, ia mengeluarkan sapu tangan dari saku kemejanya.
"Kamu keringatankan, jangan-jangan lari makanya!" Rifki mengelap keringat di jidat Anin dengan lembut, Anin merasa tidak enak dengan sikap bosnya.
Apalagi banyak mata yang tertujuh pada dirinya dan Rifki.
"Biar saja sendiri saja, tuan." Kata Anin, ia mengambil sapu tangan yang sedang di pegang oleh Rifki.
"Lihat, coba kalau kita yang terlambat pasti sudah kena omel."
"Iya, giliran Anin yang terlambat sikap Tuan Rifki lembut sekali."
"Maklum, Anin kan pegawai kesayangan bos Rifki."
"Kalian kan tahu, dari dulu bos Rifki itu menyukai Anin."
"Sudah-sudah lanjutkan perkerjaaan kalian!!"
Semua pegawai yang melihat adegan di ambang pintu kembali melanjutkan pekerjaan mereka.
.
.
Danis yang baru datang merasa sangat kesal, ia sudah mengepalkan kedua tangannya rasanya ingin sekali menjotos wajah tampan Bosnya itu.
"Dasar bos sialan, jangan harap kamu bisa dekat-dekat dengan Anin." Danis melihat Rifki sedang mengelap keringat Anin sedang sapu tangan.
Danis berusaha mengabaikan pemandangan yang ada di hadapannya itu, ia kembali melangkahkan langkah kakinya menuju ke dalam tempat kerjanya.
"Hey berhentilah kau....!!" Cegah Rifki, dengan tatapan garang.
Danis memberhentikan langkah kakinya, ia menghadap ke Rifki.
"Ada apa Tuan Rifki?" Tanya Danis, tentu saja dengan tatapan sinis pada bosnya dan juga Anin.
"Kamu terlambat, cepat sapu halaman cafe! Enak saja kamu main masuk dengan mudah." Suruh Rifki dengan kasar, karena tidak mau sampai berdebat dengan sang bos, Danis langsung berlalu pergi menuju halaman cafe untuk menyapu halaman cafe.
Anin tersenyum, lalu ia menyingkirkan tangan Rifki dari jidatnya.
"Maaf tuan, saya juga harus menjalankan hukuman sama seperti Danis."Anin hendak berlalu, tapi belum sempat melangkahkan kakinya Rifki sudah menarik tangan Anin.
"Kamu tidak perlu dihukum, kamu cukup buatkan aku kopi dan ayo minum kopi bersama diruanganku!" Kata Rifki, dengan nada menggoda.
Sungguh sikap Rifki membuat Anin resah.
"Aku dekat dengan laki-laki mesum itu rasanya nyaman, aku tidur di bahunya saja bisa nyenyak. Tapi sungguh kalau dengan bos Rifki aku resah sekali." Batin Anin dalam hati.
"Maaf tuan, saya tidak bisa! Saya tidak mau sampai pegawai lain berpikir yang tidak-tidak tentang saya dan tuan." Tolak Anin secara halus, ia berlalu pergi dari hadapan Rifki.
Rifki hanya menatap Anin dengan tatapan agak kesal, tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.
"Aish gagal lagi." Gumam Rifki.
Visual Rifki.
"Anin, aku akan berusaha mendapatkan hati dan cintamu." Mata Rifki terus tertujuh pada Anin.
Anin menaruh tasnya di dalam loker, lalu ia buru-buru menuju halaman untuk menyusul Danis yang sudah menyapu halaman lebih dulu.
"Maaf tuan, aku memang tidak tertarik dengan laki-laki kaya. Aku selalu ingat pesan terakhir dari mamaku sebelum dia pergi untuk selamanya." Batin Anin dalam hati.
Kenapa Anin selalu menghindar dari Rifki, itu karena Anin tidak mau sampai Rifki jatuh pada dirinya. Ia tidak mau jika harus melukai perasaan bosnya, makanya Anin lebih baik menghindarinya.
Anin sebenarnya tahu kalau Rifki menyukainya dirinya, ia tahu sudah sejak lama, tanpa orang lain bilang sorot mata Rifki selalu menunjukkan kalau Rifki itu menaruh hati padanya.
.
.
Anin melihat Danis sedang duduk di kursi panjang yang ada di halaman cafe.
"Dasar, bukannya menjalankan hukuman ini malah dengan santainya dia duduk." Anin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa sudah cukup duduknya? Sekarang ayo kita jalankan hukuman kita!" Anin menarik tangan Danis dengan kasar.
Tapi Danis tidak bangun dari tempat duduknya, ia tetap diam tidak bergeming membuat Anin menatapnya dengan tatapan Bingung.
"Dia, kenapa sih?" Batin Anin dalam hatinya.
"Kamu kenapa?" Tanya Anin dengan tegas.
Anin merasa ada yang beda dari sikap Danis, ia merasa Danis sedang cemburu dengan Rifki gara-gara kejadian tadi di pagi di ambang pintu, tapi ntahlah mungkin itu hanya perasaan Anin saja.
"Jagalah sikapmu dengan bos Rifki! Kamu itu seorang gadis tidak baik mesra-mesraan dengan laki-laki di tempat kerja, apalagi itu bos kamu." Kata Danis, ia menatap Anin dengan tatapan agak kesal.
"Apa dia sedang cemburu?" Hati Anin berbicara.
"Memangnya kenapa? Aku dan Tuan Rifki sama-sama masih sendiri, jadi kalau kita dekat apa salahnya?" Jawab Anin, ia sengaja agar Danis semakin kesal.
"Dan aku juga tahu, selama ini dia itu menyukaiku." Lagi-lagi Anin sengaja membuat Danis kepanasan.
Dalam hati Danis sungguh rasanya, Danis ingin kembali mencium bibir mungil Anin untuk membungkam mulut Anin agar tidak menyebut nama Rifki.
"Terus maksud dia apa? Dia pamer sama aku kalau dia sukai sama bosnya, Anin kamu tahu kalau dia bos. Aku juga seorang CEO." Hati Danis berbicara.
"Mulai sekarang jangan dekat-dekat lagi padanya! Kalau perlu jaga jarak lima langkah setiap kali bertemu dengan bos sialan itu, dan satu lagi jangan tebar-tebar pesona pada dia!" Kata Danis panjang lebar, sungguh Anin ternganga tidak percaya.
Dalam hati Anin, memangnya dia siapa? Seenaknya saja dia mengaturku ini dan itu.
"Tunggu, memang kamu siapa aku? Seenaknya saja kamu mengaturku?" Tanya Anin dengan sorot mata penuh rasa kesal.
Danis bangun dari tempat duduknya, kini posisi mereka sama-sama berdiri, wajah mereka juga hanya berjarak beberapa senti saja.
Danis melepaskan tangan Anin, lalu tangannya berpindah ke kedua pipi Anin.
"Mulai sekarang Anindiya, adalah kekasih Danis!!" Danis mempertegas perkataannya, ia menatap mata Anin dengan sorot mata tajam, membuat Anin semakin ternganga tidak percaya.
"Apaaaaa?"
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊
bukannya suara bayi oek.....oek...oek
dasar fani
kasian si rifki
kok sama denisnya namanya...