Lelaki yang hidup berkecukupan, dan sudah dipastikan akan menjadi pewaris tunggal kekayaan orang tuanya. sudah pasti di minati para wanita, banyak wanita yang ingin menjadi pacarnya namun ia selalu menolaknya karena seseorang.
Setelah menunggu sekian lamanya, seseorang itu datang. namun, diwaktu yang tidak tepat.
Ia sudah memiliki seorang istri, yang bahkan belum ia cintai.
"Menikahi wanita usia tiga puluh tahun itu bukan keinginan ku" ucap gatra dengan tegas
Apakah seorang gatra bisa mencintai istrinya? atau malah terjadi perselingkuhan? atau perceraian?
Yuk baca, kita intip rumah tangga gatra.
ig ; diah.ifro dan ruangg rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DiahIfro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26
Marisa membuka pintu sambil terus menyeret tangan gatra agar mengikuti langkah kakinya
"Lepas sa!!!" bentak gatra menarik tangannya kasar
"Nah, duduk duduk" suruh pak dario sambil menpuk kursi disampingnya ketika melihat wajah marisa dan gatra
"Duduk loh" suruh marisa sambil berdecih kesal, ia duduk di samping pak dario agar gatra duduk disamping bu tania
"Tuh pah gak ada sopan sopannya ke atasan, buat apa sih ngasih kerjaan sama orang yang gak punya atitude gitu?" sungut gatra mengadu pada papahnya
"Kamu pikir kamu lebih baik dari marisa, duduk gatra" bentak pak dario
Akhirnya gatra menuruti perintah papahnya, ia duduk disamping bu tania sambil melirik tipis wajah istrinya.
Saat makan berlangsung hanya pak dario lah yang banyak mengeluarkan suara, bertanya banyak pada bu tania. Sedangkan, gatra dan marisa hanya terdiam saja.
Marisa menatap wajah gatra dengan heran, karena rasa rasanya gatra terlihat bosan dan bahkan ia dari tadi hanya memakan beberapa suap nasi.
"Kenapa gatra kaya orang yang gak betah ada di sini?" Pikir marisa
Handphone gatra yang berada disaku celananya terus menerus bergetar, panggilan dari maudy tentu saja.
Dalam hati ingin sekali gatra mengangkat nya tapi jawaban apa yang akan ia lontarkan kalau papahnya bertanya macam-macam.
"Pah gatra harus pergi" kata gatra bangun dari duduknya saat handphonenya sudah beberapa menit tak mendapatkan panggilan lagi dari maudy
"Pergi? Kemana?" tanya marisa menyelidik
"Saya tuh ngomong ke papah bukan ke kamu" jawab gatra kesal
"Iya bener kata marisa, mau kemana kamu?" saut pak dario sambil meneguk air putih yang ada di atas meja
Gatra melirik wajah bu tania sambil tersenyum lebar "ajak bu tania pergi, ayo bu"
Bu tania tersenyum langsung meneguk gelas air putih miliknya dan bangun dari duduknya.
"Yaudah kalo memang mau pergi" kata pak dario tersenyum lebar
Marisa menyipitkan matanya tajam sambil menatap gatra dengan bingung "aku bukan orang bodoh yang bisa dikadalin seorang gatra, ini pasti cuma alasan" gumam marisa dalam hatinya
Gatra merangkul pinggang bu tania sambil tersenyum, tak lupa tendangan pelan juga ia lakukan pada kaki marisa karena merasa kesal.
"Aduhh" pekik marisa sambil mengelus kakinya
Setelah sampai di halaman perusahaan gatra langsung melepaskan tangannya "kalau aku tinggal disini pasti dia ngadu sama papah, gimana ya?" Pikir gatra bingung
"Kamu bisa anterin aku ke kantor?" tanya bu tania sambil menggandeng lengan gatra
Gatra mengerutkan keningnya "nganter? bisa...bisa" jawab gatra setelah terpikir di otaknya kalau mengantar berarti ia hanya memastikan bu tania sampai di tempat tujuan
Mereka pun bergegas menyusuri jalan yang cukup longgar, dibawah terik matahari mereka hanya membisu di dalam mobil.
Setelah sekitar tiga puluh menit mereka sampai di perusahaan yang benar-benar besar, para satpam sudah berdiri ketika melihat bu tania keluar dari mobil.
"Mampir dulu ayo" ajak bu tania dengan niat hati ingin memperkenalkan gatra sebagai suaminya pada para pegawainya
Gatra langsung menatap jam ditangannya yang sudah menunjukkan pukul satu lewat tujuh, ia melepaskan tangan bu tania yang memegangi tangannya dengan lembut.
"Maaf bu, udah waktunya kerja" tolak gatra lembut "ibu kerja disini?" Tanyanya
"Bukan, saya...."
"Aduh bu saya berangkat ya, bye" potong gatra ketika ia merasa handphonenya kembali bergetar
Gatra segera masuk ke dalam mobil sambil mengambil handphonenya dan melaju dengan kecepatan tinggi ke apartemen tempat maudy.
"Tumben, gatra segiat itu pengen kerja" ucap pelan bu tania
Ia melangkah kan kakinya menyapa beberapa satpam yang senyum ramah padanya "dewi ada?" tanya bu tania
"Ada bu, didalem" jawabnya sambil mengangkat ibu jarinya ke arah pintu
Bu tania menganggukkan kepalanya kecil lalu pergi ke ruangan nya, dewi segera menghampiri bu tania dengan membawa beberapa map yang harus di kerjakan oleh bu tania.
"Makasih ya dewi kamu benar-benar udah banyak banget bantu saya, bahkan gaji kamu yang sekarang aja rasanya gak akan cukup buat jadi ucapan terimakasih" kata bu tania mengelus lengan kanan dewi
"Bu, almarhum pak hardi dan bu lena dulu baik banget sama saya. gak ada alasan kenapa saya harus jahat sama ibu, kalau saya disuruh nulis seberapa banyak kebaikan yang udah almarhum kedua orangtua ibu lakuin mungkin tangan saya bisa patah saking banyaknya" jawab dewi mengelus balik punggung bu tania dengan lembut
"Jangan ngerasa sungkan ya bu kalau ada masalah, kalaupun itu masalah keluarga. saya siap kok jadi temen curhat ibu" sambung dewi, karena ia tau bu tania tidak ada teman yang bisa menampung untuk mendengarkan cerita hidupnya.
almarhum pak hardiyanto dan bu lenasari memang terkenal dengan kemurahan hatinya, mereka tak pernah hitung hitungan berapa jumlah uang yang akan habis untuk membantu orang lain.
Mereka berdua memang sudah lama tidak ada, namun tak akan ada yang mampu menghapus kebaikan yang pernah dilakukan keduanya semasa hidup.
"Aku minta maaf maudy..." gatra mengetuk pintu kamar apartemen milik maudy, kalau tidak ada akses masuk mungkin gatra hanya bisa terdiam dihalaman apartemen.
"Maudy maafin aku, aku telat karena papah aku ngajak aku makan siang. aku gak bisa nolak maudy" sambung gatra terus berusaha agar maudy mau membukakan pintu karena tadi telepon maudy langsung mati setelah diangkat olehnya.
Tak lama pintu terbuka terlihat lah maudy yang sedang memonyongkan bibirnya karena kesal.
"Maafin aku ya sayang" gatra langsung menarik lengan maudy dan menciumnya
"Aku nunggu dari jam sebelas ke jam dua belas aja lama loh, tiba-tiba kamu sampe jam tengah dua gini yaampun" eluh maudy langsung menuju tepi kasur
Gatra mengejar langkah kaki maudy lalu menekuk kakinya dihadapan maudy, untuk pertama kalinya ia bahkan rela menatap wajah seseorang di bawah. seorang gatra yang bahkan dikenal tak bisa menghargai orang lain.
"Aku minta maaf ya" kata gatra sambil tersenyum manis
"Peluk" maudy melentangkan tangannya dengan senang hati gatra memeluk pinggang kecil maudy
"Jadi ke mall?" tanya gatra bangun dan duduk disamping maudy
"Gak ah udah males" jawab maudy sambil tersenyum lebar ke arah gatra
"Terus kamu kemana? udah makan? aku pesenin makanan ya" namun maudy menolaknya ia ingin makan bersama dengan gatra di rumah makan padang seperti yang dijanjikan gatra.
Mereka pun berdua pergi ke salah satu rumah padang terdekat, tempatnya masih cukup ramai untuk tempat makan yang tidak terlalu besar.
"Enak kan?" tanya gatra disela sela makan keduanya
"Enak" jawab maudy antusias
"Tuh kan..." suara seorang lelaki dengan suara kerasnya menunjuk gatra dan maudy, maudy mengerutkan keningnya sambil memutar kepalanya bingung
Gatra menghela nafas beratnya "kenapa kalian bisa kesini?" tanyanya saat raka dan haris sudah berdiri disamping tubuhnya
"Waw, cantik banget" puji raka ketika menatap wajah cantik alami dari maudy "hai" raka mengulurkan tangannya maudy menerima uluran tangan raka dengan baik
"Udah" gatra menepis-nya kasar "duduk loh pada" suruhnya
Dengan secepat kilat mereka duduk disamping meja gatra dan maudy, tak lupa juga mereka memesan makanan.
"Ngapain kalian ke sini?" tanya lagi gatra
"Oh iya kamu pasti maudy kan, aku haris dan ini raka" kata haris memperkenalkan diri pada maudy
"Iya, ko kalian bisa tau aku?" tanya maudy bingung
"Tiap hari, tiap jam, tiap detik ni orang" jawab raka menunjuk wajah gatra "selalu ngomongin maudy, maudy dan maudy sayderline. ampe bosen" sambungnya kesal "tapi kalau udah pernah liat kamu gini sih, wajar aja gatra tergila gila"
"Aduh jadi malu aku" kata maudy sambil tersenyum lebar
"Udah abis kan?" tanya gatra pada maudy yang dijawab anggukan
Gatra mengeluarkan uang dalam dompetnya beberapa lembar pecahan seratus ribuan ia taruh di meja raka dan haris.
"Ayo pergi" ajak gatra menarik pinggang maudy
"Gatra makanan kita baru sampe nih" kata raka menarik lengan gatra
"Bodo amat, mba uangnya di mereka" kata gatra memberitahukan pada pelayan tempat makan.
Maudy mengerutkan keningnya bingung "emang mereka siapa?"
"Temen aku, yang gak tau diri" jawab gatra sambil membuka kan pintu mobil
Gatra menatap mobil raka yang berada tepat di belakang mobilnya "bisa bisanya mereka hapal mobil gue" decihnya kesal
•
•
•
•
Jangan lupa like, komen, dan vote. terimakasih 🤗
-hati yang tersakiti' konflik rumah tangga
'-pemikat sukma" mistis, romansa
-kuntilanak pemakan janin" horor
karya siti H
semalu malunya dia sebagai wanita kan karakter dasar yg kuat krn srbagai dosen lalu juga bantu urus segala perusahaan walau lewat tangan kanan, kan pastinya dah siap mental kl ada hal yg buruk gitu loh ko ini mewek banget bin lembek