Reynand, begitu mereka memanggil nya. perjodohannya dengan Nayla benar-benar berusaha Ia tolak, namun rasa sayangnya terhadap sang kakek membuat Ia terpaksa menerima perjodohan tersebut.
Penasaran?
Saksikan terus kelanjutannya.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iwi Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temani Aku Tidur
****
Setelah makan malam reynand bergegas mencuci piring setelah makan. Sementara Nayla menunggu dimeja makan karena Reynand tidak menyuruhnya untuk ikut mencuci piring.
“Ayo kamu harus tidur.” Reynand mencoba mengajak Nayla bangkit dari duduknya setelah menyelesaikan semuanya.
“Aku belum ngantuk.”
“Obat yang tadi kamu minum kan ada obat tidurnya.”
“Nggak aku minum obat tidur nya. Tadi udah tidur dari siang sampai abang pulang.”
“Terus mau ngapain? Ini udah jam 10 malam lewat. Kamu harus istirahat supaya cepat pulih.” Reynand melirik jam tangannya.
“Aku mau baca buku.”
“Nggak, nggak, nggak kamu harus tidur. Supaya cepat sembuh.”
“Tapi aku udah sembuh.” Nayla masih bersikeras.
“Kamu itu masih masa pemulihan Nayla.”
Nayla terlihat cemberut. Perasaan badannya sudah merasa enakkan.
“Saya akan temani kamu tidur.” Reynand terdiam beberapa saat, sepertinya ia salah kalimat dalam berucap barusan.
“Maksudnya saya akan jagain kamu sampai kamu benar-benar tidur. Nanti setelah kamu tidur saya akan keluar dan kembali kekamar saya.” Reynand terlihat gugup karena Ia hampir salah bicara.
Nayla pun akhirnya nurut tanpa bantahan. Mereka berdua pun masuk kedalam kamar. Nayla mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur. Sementara itu Reynand mulai menyelimuti tubuhnya.
“Saya akan duduk disini sampai kamu tidur dan saya akan baca buku.” Reynand pun duduk disisi tempat tidur. Ia mulai mengambil buku yang terletak diatas meja dan mulai membuka-buka buku tersebut.
Sementara itu Nayla sudah ditutupi oleh selimut. Pandangan matanya tidak terlepas dari Reynand yang sedang membaca buku. Memperhatikan sosok lelaki yang telah memberikan perhatian kepadannya beberapa hari ini. Ia mulai memandang Reynand sebagai sosok yang berbeda. Sosok yang Ia inginkan sebagai pelindungnya, sosok yang dirinya inginkan untuk memberinya rasa aman dan kenyamanan. Ia tersentak setelah beberapa saat kemudian Reynand menoleh kearahnya dan pandangan mereka bertemu.
“Kenapa belum tidur.”
Nayla tidak menjawab. Mata gadis itu terlihat berkedip.
“Nay.”
“Abang mau temenin aku tidur?” Dengan polosnya bibir mungil itu berucap. Tatapan matanya terlihat penuh harap.
“Ha?” ucapan Nayla mendadak membuat Reynand kaget. Kenapa Nayla bisa dengan polosnya mengeluarkan kalimat tawaran seperti itu.
“Abang mau tidur disini nemenin aku.”
Deg!
“Ng-nggak Nayla sa-saya nggak bermaksud begitu. Sa-saya cu-cuma ingin memastikan kamu tidur. Saya bukannya ingin tidur bersama kamu. Kamu tau kan kamu masih dalam masa pemulihan. Jadi saya harus mengawasi kamu. Agar kamu bisa segera pulih dan bisa masuk sekolah…..”
“Abang.”
Reynand yang merasa perkataanya dipotong terdiam dan beralih menatap Nayla.
“I-iya.”
“Aku takut mimpi buruk lagi.”
“Ta-tapi Nayla mana mungkin kamu membiarkan saya tidur disamping kamu. Saya ini laki-laki normal pada umunya dan saya takut……” Reynand merasa salah selama ini telah menilai Nayla adalah seorang gadis polos.
Tiba-tiba Nayla menarik tangan Reynand dan laki-laki itu pun hampir jatuh diatasnya kalau saja tidak ditopang oleh tangannya. Wajah mereka menjadi sangat dekat.
Deg! Deg! Jantung Reynand berdegup sangat kencang. Darahnya mengalir begitu cepat. Kenapa ini. Biasanya Ia tidak akan seperti ini saat beradu akting adegan mesra bersama wanita.
“Aku merasa nyaman waktu Abang peluk aku semalam. Maksudnya aku benar-benar bisa tidur nyenyak.”
Reynand benar-benar terpaku beberapa saat. Ia tidak pernah mengira Nayla akan meminta dirinya untuk menemani tidur. Ia mengira-ngira gadis ini sedang bercanda atau karena sakit otaknya agak tidak benar.
“Ta-tapi Nayla….” Reynand tidak jadi melanjutkan perkatannya. Karena terlihat wajah gadis itu benar-benar terlihat penuh harap. Bola matanya yang bulat dan jernih mampu menghipnotis Reynand.
Akhirnya setelah beberapa saat Ia terpaku. Reynand pun mulai membaringkan dirinya disamping Nayla. Jantungya tak henti-hentinya berdegup. Dirinya terus berpikir kenapa gadis ini terlalu berani berada satu ranjang dengan pria normal sepertinya.
Nayla merasa senang karena Reynand mau menemaninya. Ia pun mengubah posisi tubuhnya menghadap Reynand. Tidak tahu kalau laki-laki itu sudah hampir tidak bernyawa karenanya. Dia adalah laki-laki normal pada umumnya. Laki-laki yang akan merasakan sesuatu jika tidur disamping wanita.
“Abang.”
“I-iya.”
“Aku boleh peluk Abang?”
Deg! Apalagi ini?
Ia tahu semalam dirinya memeluk gadis itu untuk menangkannya yang sedang menangis. Namun sekarang keadaannya benar-benar sangat berbeda. Gadis itu dengan beraninya meminta Ia untuk tidur bersama dan memeluknya. Tapi entah kenapa dirinya tidak bisa menolak. Akhirnya setelah beberapa saat Reynand pun mengiyakan permintaan Nayla untuk memeluknya.
Darah Reynand benar-benar mengalir kencang saat jari-jari lentik Nayla mulai menyusup ketubuhnya. Tubuhnya seperti digelitik. Gadis itu telah mengusik titik lemahnya.
“Abang.”
“Em.”
“Maafin aku.”
Terdiam sesaat.
“Maafin aku udah maksa Abang buat nemenin aku tidur.”
Hening kembali.
“Aku cuma takut. Aku takut mimpi buruk lagi. Semalam Abang benar-benar membuat aku tenang. Aku mohon malam ini saja. Temani aku tidur, sampai kesehatan aku benar-benar pulih.”
Mendengar perkataan Nayla hati Reynand pun sedikit tergugah. Ia pun mengutuk dirinya yang telah berpikir macam-macam barusan. Seharusnya Ia tidak berpikir hal-hal mesum saat ini. Nayla hanya butuh ditemani. Ia sedang sakit dan hanya meminta dirinya untuk memberikan rasa aman.
Akhirnya dengan perlahan Reynand pun mulai mengubah posisinya mengahadap Nayla. Tanganya mulai merengkuh gadis itu kedalam pelukannya.
“Tidurlah…. Aku akan temani kamu malam ini.” Ucapnya lirih.
Namun walaupun begitu Reynand semakin menegang kala Nayla mulai menyusupkan kepala kedadanya. Apa tidak bisa Ia merasa biasa saja. Tenang, Ia haru tenang begitulah yang dipikirkan Reynand.
Beberapa saat kemudian Ia bisa merasakan Nayla mulai terlelap tidur Nafas gadis itu mulai teratur. Dia benar-benar tidak menyangka gadis itu akan benar-benar cepat terlelap dipelukannya.
Namun kalau dipikir-pikir Nayla memang mempunyai jam tidur yang seharusnya tidak dilakukan oleh seorang pelajar. Gadis itu selalu tertidur disaat tengah malam bahkan lebih. Rupanya Reynand mulai memperhatikan, kenapa Ia baru menyadarinya.
Perlahan tangannya mulai menyibakkan rambut Nayla dan menyelipkannya disamping telinga merah gadis itu. Memperhatikan wajah yang terlelap itu dalam-dalam. Tangannya mulai menyentuh halus wajah Nayla. Kenapa rasanya Ia ingin mencium pipi itu lagi.
Cup! Satu kecupan dipipi Nayla.
“Eumm.” Gadis itu terlihat sedikit menggeliat. Reynand mulai was-was gadis itu akan terbangun karena ulah bodohnya.
Perlahan Ia mulai mengelus-elus punggung Nayla mencoba membuat gadis itu tertidur kembali.
Deg! Deg! Jantung Reynand benar-benar serasa mau copot. Ia pun mengutuk dirinya yang bodoh ini. Sial, dasar menjijikkan. Ada apa apa dengan otak ini. Kenapa pikiranmu kemana-mana.
*
*
*
*
*
*
cinta yang berbalas 💘
nama cewek nya kaya nama aku
tapi udah aku ulang baca berkali2