Janji Jari kelingking...??
It's a True..
"In My World, You are be Mine."
Zen Mahendra, memendam Cinta pada adik kecilnya Zoya Vidette Wijaya. Perasaan cintanya pada gadis itu, membuatnya terpaksa pergi meninggalkan keluarga yang membesarkan dirinya.
Hingga akhirnya, 11 tahun kemudian saat ia merasa sudah cukup pantas bagi gadis kecilnya dulu, ia datang kembali membawa seluruh hati dan cintanya pada gadis itu. Bagaimana perjuangan Zen setelah 11 tahun berpisah dengan Zoya? bisakah Zoya membalas cintanya? atau sudah adakah orang lain yang mengisi tempat kosong di hatinya..?
Jangan lupa ikuti terus Love story ZenZoya..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DADDY REHAN
...ENJOY...
.......
.......
.......
"Kalian...! Apa yang kalian lakukan..?"
Suara Keras Rehan menginterupsi Zen dan Zoya. Zoya segera berbalik menghadap ke arah suara. Dady nya berdiri di sana, tepat melihat marah ke arah mereka. "Dad.. Daddy.. it...itu..,"
"Diam lah Angel! Dan kau Zen, ikut ke ruangan Dady..!!" Tubuh Zoya bergetar. Ia terlalu takut melihat ekspresi di wajah Dady nya. Ia belum pernah melihat ayah nya seperti saat ini. Daddy nya pasti sangat marah sekarang.
Setelah meninggalkan kamar putri nya, Rehan langsung menuju ruang kerja nya. Sementara Zen,
"Aku akan menemui Daddy. Semua akan baik-baik saja. Tunggulah disini." ucap Zen menenangkan Zoya.
Apa otak kakak bermasalah..? bagaimana ia bisa mengatakan semuanya akan baik-baik saja..? Daddy pasti sangat marah.. Oh God,
Zoya melihat punggung Zen menghilang dari balik pintu kamar nya. ia mencoba menenangkan diri, tapi tidak bisa. Ia sangat takut terjadi apa-apa pada Zen.
Lima menit berlalu,
Zoya masih terus mondar-mandir di kamar.
Sepuluh menit berlalu,
Zoya mulai gelisah. Apa yang di bicarakan Daddy-nya. Semoga saja Zen tidak apa-apa.
Lima belas menit kemudian,
Tidak. Zoya tidak bisa lagi menunggu. Ini sudah terlalu lama, bagaimana kalau..? Arrrggghhh... Ini sangat membuat Zoya frustasi.
Zoya berlari dari kamarnya, menuruni tangga, menuju ruang kerja Dady nya.
Tuhan. Semoga semuanya baik-baik saja di balik pintu itu.. Zoya memberanikan diri hendak mengetuk pintu yang berdiri kokoh di depan nya.
"Bagaimana kalau..? Tidak. Tidak. Ini bukan salah kak Zen, aku, Ahh, tapi, - Lupakan, jangan pikirkan itu Zoya, yang pertama harus kau lakukan adalah memastikan jika Kak Zen tidak terluka."
Zoya bergumam pada dirinya sendiri.
Hati dan juga pikiran nya sedang berperang sekarang. Dengan tekat yang bulat, Zoya memberanikan diri akan mengetuk pintu yang berdiri kokoh di depan nya.
"Masuklah angel..!" Suara Rehan mengagetkan Zoya.
Apakah ia berhalusinasi...? Ia belum mengetuk pintu.
"Kau tidak ingin masuk...?" Sekarang Rehan sendirilah yang membukakan pintu untuk putri nya. "A..,Ya." Zoya langsung masuk begitu Dady nya membuka pintu, dan memberinya jalan.
Zoya langsung melihat pada Zen. Meneliti laki-laki itu dari atas sampai bawah. Kalau-kalau..? Hah.. syukurlah. Zen tidak terluka sedikitpun.
"Kau mencemaskan ku..?" Kata Zen pada Zoya dengan sedikit berbisik. Zoya hanya membuang muka. Cukup ia mendapatkan masalah karena kejadian tadi, sekarang ia tidak akan mengulanginya lagi.
"Duduklah di samping Zen sweet heart ! Perintah Rehan pada Zoya putri nya.
"Dad.. aku bisa.."
"Duduklah sekarang..!" ulang Rehan yang juga langsung duduk berhadapan dengan keduanya. "Zen sudah mengatakan semuanya pada Daddy, Dan Daddy rasa kalian berdua memang akan baik-baik saja."
"Yes, Dad.. aku dan kak Zen,
"Karena itu Dady ingin bulan depan kalian bertunangan!"
"Ya Dad-- hah..Apa yang barusan,, bertunangan..? Aku dan..Tapi.." Zoya tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Itu keputusan Dady angel, dan Dady harap, kalian tidak main-main lagi sekarang..!"
Main-main?
"Tapi Dad, aku dan kak Zen tidak,"
"Baiklah Dad, aku akan mempersiapkan semuanya.." Zen menyela perkataan Zoya.
"Kak Zen, Bagaimana bisa..?"
"Aku menyetujuinya Zo'e..!" Kata Zen lagi pada Zoya.
Zoya kehabisan kata-kata. Bagaimana semuanya jadi seperti ini..? Ia dan Zen akan bertunangan bulan depan, dan itu hanya tinggal dua minggu lagi.
Bagaimana sekarang...? Apa yang harus ia lakukan..?
Zen tidak mencintainya. Jika Zen menyetujui pertunangan ini, bagaimana dengan wanita yang Zen cintai selama ini..? Akan kah Zoya bahagia sementara hati Zen milik orang lain.
"Tidak Dad. Aku menolak..!" suara Zoya lantang, namun bergetar. "Apa..?" wajah Rehan kaku. Kamu tidak bisa menolak ini Angel, Kalian sudah.."
"Dad,, itu hanya ciuman sesaat. Aku tau kami melakukan kesalahan, tidak seharusnya kami melakukan itu. Dan itu bukan kesalahan kak Zen, aku yang mengijinkan nya. Tapi aku tetap pada keputusan ku, aku tidak akan melakukan pertunangan ini!" tegas Zoya.
"Zoya!" Suara Rehan membuat Zoya semakin bergetar. Ini pertama kali Rehan membentak putrinya.
"Dad,, biar aku yang bicara pada Zo'e." Zen menengahi keduanya. "Zo'e ayo kita bicara..!" Zen menarik tangan Zoya.
"Tapi kak, Daddy harus menarik kembali,.." Zen membawa Zoya keluar dari ruangan Rehan. Mereka harus bicara berdua. Mereka tidak bisa bicara di sana.
"Sayang kalian mau kemana...?" Tanya Julie yang melihat Zen menggiring Zoya menuju pintu.
"Mollie, aku sudah bicara pada Daddy, dan sekarang aku dan Zo'e harus bicara. Kami pergi dulu." Kata Zen melewati Julie.
"Tapi.." Belum lagi Julie menghabiskan kalimatnya, kedua putra dan putrinya sudah menghilang dari pandangan nya.
...❄️❄️...
Tok..Tok..
Suara pintu ruangan Rehan kembali di ketuk, dan terbuka. "Sayang...?" Julie mendatangi ruang kerja suaminya.
"Hei ada apa,,? aku bertemu dengan anak-anak tadi,
"Kau benar Moo. Zen mencintai putri kita. Aku meminta mereka bertunangan, setelah aku," Rehan menggantungkan kalimatnya.
"Hanya saja, putri kita menolaknya..!" Rehan memijit kepalanya yang tiba-tiba terasa pening.
"Ini bukan perkara yang mudah Boo, anak-anak kita pasti akan bisa membuat keputusan. Kita hanya perlu memberi waktu pada mereka."
Istrinya, Julie. Memang lebih dulu mengatakan pada Rehan tentang perasaan Zen pada Zoya. Dan Rehan tau betul jika Zen adalah pemuda yang sangat baik, Zen anak mereka. Rehan tau bagaimana putra nya itu.
Dan kalaupun pasangan Zoya kelak memang Zen, maka Zen adalah pria yang tepat bagi Zoya. Hanya saja.. Putri nya sendirilah yang menolak.
Apa Zoya tidak memiliki perasaan yang sama seperti Zen, ataukah ada orang lain..?
Rehan tidak bisa memaksa putrinya.
Ini menyangkut masa depan putrinya. Kebahagiaan Zoya.
...❄️❄️...
"Kita mau kemana kak..?" tanya Zoya. Sejak meninggalkan rumah, keduanya hanya diam saja. Tidak ada yang ingin bicara.
"Kita perlu bicara Zo'e." jawab Zen singkat.
"Kita bisa bicara di rumah kak, lagi pula ini masalah kecil. Dady juga tidak akan memaksa kita, dan kakak, kakak tidak perlu memenuhi permintaan Daddy..!" kesal Zoya.
Zen tidak menanggapi kata-kata yang Keluar dari mulut gadis kecilnya. Ocehan serta kesal Zoya, Zen senang mendengarnya.
Sampailah keduanya di parkiran kondominium Zen.
Ya, disinilah mereka, Zen membawa Zoya kerumah nya. "Ayo, masuklah. Kita bicara di dalam..!"
Zen lebih dulu berjalan disusul dengan Zoya yang mengikutinya masih dengan perasaan kesal.
Sejak tadi gadis kecilnya masih berwajah masam.
Setelah sampai di lantai tempat kondominiumnya berada, Zen membukakan pintu dan membiarkan Zoya masuk. Setelah nya Zen masuk ke kamarnya.
Zoya hanya duduk menunggu Zen diruang tamu.
Lima menit kemudian..
"Mandilah dulu, aku sudah menyiapkan air hangat untuk mu." kata Zen pada Zoya. "Baju gantimu ada di lemari, setelah mandi kita akan bicara."
Zoya menuruti perkataan Zen. Sementara Zoya mandi di kamar Zen, seperti sebelumnya, Zen mandi di kamar yang lain.
sepuluh menit kemudian, Zen sudah berganti pakaian dengan kaos polos yang mencetak bisep-bisepnya, serta celana denim selutut. Seperti biasa, Zoya selalu lama saat berada di kamar mandi.
Seraya menunggu Zo'e nya, Zen membuatkan dua gelas coklat hangat untuk mereka.
Dua puluh menit berlalu..
Akhirnya Zoya keluar dari kamar Zen, masih dengan handuk yang menggulung di kepalanya. Zen sudah menunggu Zoya di ruang tamu.
"Kak..?" Zoya melangkah ragu. "Duduklah Zo'e. Kemari.. "Zen menepuk sofa nya.
Zoya duduk di sebelah Zen. Zen memutar tubuh Zoya agar membelakanginya, kemudian membuka handuk di atas kepala Zoya, ingin mengeringkan rambut gadis itu.
"Kak, aku bisa.."
"Duduklah, dan minum coklat hangat mu..!" ucap Zen. Dengan perlahan Zen mengusap pelan rambut Zoya, agar rambut gadis itu kering. Untuk sesaat keduanya larut dalam keheningan.
"Apa kau benar-benar menolak pertunangan ini Zo'e..?"
"Kak..?"
"Apakah karena laki-laki yang bernama Jordan itu..? Kau menyukainya..? Karena itukah...?"
"Kak, bukan begitu.." Zoya membalik tubuhnya.
Maniknya berbinar menatap Zen.
"Aku tidak bisa melakukan nya Kak. Kita tidak akan bahagia kalau..'
"Bagaimana kau tau..?" tanya Zen dengan suara yang semakin dalam.
"Kita tidak memiliki perasaan yang sama kak, kakak mencintai wanita lain..
"Lalu kau..?
"Aku mencintai kak..-
"Begitupun aku..!"
"Apa..?"
"Aku bilang aku pun sama seperti mu..!"
...❄️...
...❄️...
...❄️...
tapi mendingan selesai kan dulu cerita Zen dan Zoya supaya jangan bingung Thor..
terus kalau cerita Ken biar aja dilapak baru supaya kita baca fokus Zen sama Zoya..
Dan setelah baca lagi....
Aku benar-benar masih ngerasa jahat..😭😭
Mampir kuy di cerita aku !
Belenggu Cinta Sang Penguasa ❤️
Ada yang lain lagi juga.
Hello Daddy, Im Sugar Baby !
Klik Profil aku dan liat yang mau kalian baca !
Follow juga ige aku @amelia_falisha1511 ❤️
Kuy lah yok, Mampir di cerita aku !
Hello Daddy, Im Sugar Baby !
Ada Om Damian dan Istri muda nya Baby.
ada juga bang Alex dan Risa di, Belenggu Cinta Sang Penguasa ❤️
Follow juga ige aku @amelia_falisha1511 ❤️
Lope Lope Sekebon Anggur 🍇🍇🍇