NovelToon NovelToon
OUR WEDDING CONTRACT

OUR WEDDING CONTRACT

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Fio Purple

Alessia Francesca Zorzi,Sang ratu jalanan yang liar dan kerasa kepala tiba-tiba saja harus menikah dengan CEO perusahaan besar yang tegas dan berwibawa,Vellano Federico Luca.

Bahkan sebelum menikah,Vellano mempunyai kekasih cantik yang ia sembunyikan selama 3 tahun.Yaitu seorang bintang musisi yang bernama Ansley Flavia.

Tentu saja pernikahan mereka hanya di atas kertas dan sebatas saling menguntungkan.Namun batasan itu hancur ketika salah satu diantara mereka dengan suka rela menghapus garis pembatas.

Akankah Vellano berhasil menaklukkan Alessia?atau justru malah keliaran Alessia yang membuatnya menyerah?


Yuk,mari kita baca sama-sama dan terus nantikan update episode terbarunya!
Author up lebih dari 1 part/hari!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fio Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 26. Zoom Meeting ter-Gokil

Baru saja Alessia dan Vellano hendak memejamkan mata, tiba-tiba suara dering ponsel memecah keheningan kamar.

Vellano mengerutkan kening. Ia meraba ponselnya di meja samping ranjang, lalu matanya langsung membesar melihat layar.

“Gawat.”

Alessia yang sudah hampir tertidur langsung membuka mata. “Kenapa?”

Vellano menatap layar seolah baru saja melihat surat kematian.

“Aku lupa.”

“Lupa apa?”

“Zoom meeting.”

Alessia langsung bangun setengah duduk. “Sekarang?!”

Vellano mengangguk panik. “Dengan beberapa petinggi perusahaan dari luar negeri.”

“Jam segini?”

“Mereka beda zona waktu!”

Vellano buru-buru membuka kalender digitalnya. Benar saja, jadwal rapat sudah dimulai beberapa menit lalu. Lebih parah lagi, ia baru sadar satu hal.

“Maxime juga tidak tahu.”

Alessia menatapnya tidak percaya. “Kamu lupa memberi tahu Maxime?”

Vellano mengusap wajahnya. “Aku sedang demam.”

“Demam tidak membuat CEO lupa sekretarisnya.”

Vellano hendak membalas, tetapi ponselnya kembali berdering. Kali ini panggilan video dari salah satu petinggi perusahaan.

“Habislah aku,” gumamnya.

Alessia menahan tawa melihat suaminya yang biasanya selalu tenang kini terlihat panik mencari laptop.

“Cepat! Jangan sampai mereka mengira CEO kalian menghilang.”

Vellano meraih laptop dengan tergesa-gesa, rambutnya masih berantakan dan stiker kompres demam masih menempel di dahinya.

Alessia akhirnya tertawa.

“Setidaknya lepaskan dulu stiker itu!”

Vellano terdiam.

Ia menyentuh dahinya.

“Oh.”

Untuk pertama kalinya, seorang CEO siap menghadiri rapat penting dengan penampilan seperti pasien demam yang baru selesai dirawat istrinya.

Zoom meeting akhirnya dimulai. Vellano duduk tegak di depan laptop, berusaha memasang wajah setenang dan seprofesional mungkin. Sayangnya, penampilannya sama sekali tidak mendukung.

Rambutnya masih sedikit berantakan, wajahnya pucat, dan yang paling parah, stiker kompres demam masih menempel di dahinya.

Beberapa petinggi perusahaan dari luar negeri langsung memperhatikan layar.

“Mr. Vellano, are you all right?”

Vellano berdeham, lalu menjawab dengan nada dingin seperti biasanya.

“I’m fine. Just a little fever.”

Di sisi lain layar, Axel—Direktur Marketing—langsung menundukkan kepala. Bahunya bergetar menahan tawa.

Vellano menyipitkan mata.

“Axel.”

Axel segera mengangkat wajah dengan ekspresi profesional. “Yes, sir.”

“Kau sedang tertawa?”

“Tidak, sir.”

Jawabannya terlalu cepat.

Sementara itu, di belakang kamera, Alessia sudah menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia berusaha sekuat tenaga agar tidak mengeluarkan suara.

Melihat suaminya yang biasanya begitu berwibawa kini duduk dengan stiker kompres di dahi membuat bahunya bergetar.

Salah satu petinggi kembali bertanya, “Should we postpone the meeting?”

“No.”

Jawaban Vellano tegas.

“I can handle it.”

Alessia hampir tersedak menahan tawa.

Vellano mulai membahas laporan perusahaan dengan serius, seolah penampilannya sama sekali tidak aneh. Namun ketika salah satu peserta memintanya membuka kamera lebih dekat, ia langsung membeku.

Axel akhirnya berkata, “Perhaps we should respect Mr. Vellano’s… medical condition.”

Alessia langsung membungkuk, tertawa tanpa suara sampai matanya berair.

Vellano menatap kamera dengan tatapan tajam.

Dalam hati ia bersumpah: begitu rapat selesai, seseorang akan menerima ceramah panjang.

Dan orang itu kemungkinan besar adalah Axel.

Sementara Alessia? Ia sudah terlalu sibuk menahan tawa untuk merasa bersalah.

................

Akhirnya, setelah hampir satu jam menghadapi pertanyaan para petinggi perusahaan, Zoom meeting itu selesai. Vellano langsung menutup laptop dengan napas lega.

“Syukurlah.”

Alessia yang sejak tadi berada di dekatnya langsung tersenyum. “Sudah selesai, Pak CEO?”

Vellano menatapnya datar. “Jangan mulai.”

Alessia menahan tawa. “Aku cuma memastikan pasien VIP sudah selamat dari rapat.”

Vellano menghela napas panjang. Demamnya membuat tubuhnya terasa semakin lelah. Ia baru saja hendak berdiri ketika Alessia segera memegang lengannya.

“Sudah. Sekarang tidur.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

“Kalau begitu jalan.”

Vellano melangkah dua langkah, lalu berhenti karena kepalanya sedikit berkunang.

Alessia langsung menatapnya.

Vellano berdeham. “Aku hanya… sedang menguji gravitasi.”

Alessia terkekeh. “Alasan yang bagus.”

Ia kemudian menuntun Vellano kembali ke ranjang. Setelah berbaring nyaman, Vellano menarik selimut hingga dada.

“Jangan ganggu aku.”

“Siapa yang mau mengganggu?”

Beberapa menit kemudian, kamar kembali sunyi. Kelelahan akhirnya mengalahkan keduanya. Alessia dan Vellano pun terlelap berdampingan, sementara malam terus berjalan dengan tenang.

......................

Akhirnya, setelah hampir satu jam menghadapi pertanyaan para petinggi perusahaan, Zoom meeting itu selesai. Vellano langsung menutup laptop dengan napas lega.

“Syukurlah.”

Alessia yang sejak tadi berada di dekatnya langsung tersenyum. “Sudah selesai, Pak CEO?”

Vellano menatapnya datar. “Jangan mulai.”

Alessia menahan tawa. “Aku cuma memastikan pasien VIP sudah selamat dari rapat.”

Vellano menghela napas panjang. Demamnya membuat tubuhnya terasa semakin lelah. Ia baru saja hendak berdiri ketika Alessia segera memegang lengannya.

“Sudah. Sekarang tidur.”

“Aku bisa jalan sendiri.”

“Kalau begitu jalan.”

Vellano melangkah dua langkah, lalu berhenti karena kepalanya sedikit berkunang.

Alessia langsung menatapnya.

Vellano berdeham. “Aku hanya… sedang menguji gravitasi.”

Alessia terkekeh. “Alasan yang bagus.”

Ia kemudian menuntun Vellano kembali ke ranjang. Setelah berbaring nyaman, Vellano menarik selimut hingga dada.

“Jangan ganggu aku.”

“Siapa yang mau mengganggu?”

Beberapa menit kemudian, kamar kembali sunyi. Kelelahan akhirnya mengalahkan keduanya. Alessia dan Vellano pun terlelap berdampingan, sementara malam terus berjalan dengan tenang.

......................

Dua hari kemudian, suasana mansion kembali seperti biasanya. Vellano sudah pulih sepenuhnya dan pagi itu bersiap berangkat ke kantor. Wajahnya kembali dingin, rapi, dan berwibawa—sangat berbeda dari dua hari lalu ketika ia menghadiri Zoom meeting dengan stiker kompres masih menempel di dahi.

Di halaman mansion, mobil keluarga Zorzi sudah menunggu. Nicholas pun bersiap pulang.

Alessia mengantarnya sampai depan pintu.

“Hati-hati di jalan,” pesan Alessia.

Nicholas langsung memasang wajah sedih berlebihan. Ia memeluk Alessia erat.

“Kakakku… akhirnya aku harus meninggalkanmu.”

Alessia menahan tawa. “Nicholas, kamu cuma pulang. Bukan pergi perang.”

Nicholas melepaskan pelukannya lalu menatap dramatis ke kejauhan.

“Entah kapan kita akan bertemu lagi…”

“Besok juga bisa datang.”

Nicholas pura-pura tidak mendengar. Kemudian ia berbalik memeluk Vellano.

Vellano yang tidak siap langsung kaku.

“Kakak iparku…” suara Nicholas dibuat bergetar. “Jaga kakakku baik-baik.”

Vellano menghela napas. “Aku akan coba.”

“Bukan coba. Harus.”

Alessia langsung tertawa.

Nicholas kemudian menepuk bahu Vellano dengan sok bijaksana. “Dan jangan sakit lagi. Aku tidak mau menyuapi bubur CEO dua kali.”

Vellano langsung menyipitkan mata.

“Pergilah sebelum aku berubah pikiran.”

Nicholas tertawa dan berlari menuju mobil.

Namun sebelum masuk, ia kembali berteriak, “Kak Alessia! Kalau Kak Vellano mulai menyebalkan, telepon aku!”

“SIAP!”

Vellano menatap mereka berdua dengan wajah tidak percaya.

“Aku dengar itu.”

Nicholas hanya melambaikan tangan sambil tertawa.

Mobil pun pergi, meninggalkan Alessia yang masih tertawa dan Vellano yang mulai mempertanyakan mengapa adik iparnya selalu membuat hidupnya kacau.

......................

Dua hari kemudian, suasana mansion kembali seperti biasanya. Vellano sudah pulih sepenuhnya dan pagi itu bersiap berangkat ke kantor. Wajahnya kembali dingin, rapi, dan berwibawa—sangat berbeda dari dua hari lalu ketika ia menghadiri Zoom meeting dengan stiker kompres masih menempel di dahi.

Di halaman mansion, mobil keluarga Zorzi sudah menunggu. Nicholas pun bersiap pulang.

Alessia mengantarnya sampai depan pintu.

“Hati-hati di jalan,” pesan Alessia.

Nicholas langsung memasang wajah sedih berlebihan. Ia memeluk Alessia erat.

“Kakakku… akhirnya aku harus meninggalkanmu.”

Alessia menahan tawa. “Nicholas, kamu cuma pulang. Bukan pergi perang.”

Nicholas melepaskan pelukannya lalu menatap dramatis ke kejauhan.

“Entah kapan kita akan bertemu lagi…”

“Besok juga bisa datang.”

Nicholas pura-pura tidak mendengar. Kemudian ia berbalik memeluk Vellano.

Vellano yang tidak siap langsung kaku.

“Kakak iparku…” suara Nicholas dibuat bergetar. “Jaga kakakku baik-baik.”

Vellano menghela napas. “Aku akan coba.”

“Bukan coba. Harus.”

Alessia langsung tertawa.

Nicholas kemudian menepuk bahu Vellano dengan sok bijaksana. “Dan jangan sakit lagi. Aku tidak mau menyuapi bubur CEO dua kali.”

Vellano langsung menyipitkan mata.

“Pergilah sebelum aku berubah pikiran.”

Nicholas tertawa dan berlari menuju mobil.

Namun sebelum masuk, ia kembali berteriak, “Kak Alessia! Kalau Kak Vellano mulai menyebalkan, telepon aku!”

“SIAP!”

Vellano menatap mereka berdua dengan wajah tidak percaya.

“Aku dengar itu.”

Nicholas hanya melambaikan tangan sambil tertawa.

Mobil pun pergi, meninggalkan Alessia yang masih tertawa dan Vellano yang mulai mempertanyakan mengapa adik iparnya selalu membuat hidupnya kacau.

......................

Kantor utama, suasana kembali serius. Vellano sudah duduk di balik meja kerjanya, meninjau tumpukan laporan yang sempat tertunda selama ia sakit.

Pintu ruangan tiba-tiba terbuka dengan cepat.

“TUAN!”

Maxime masuk dengan wajah tegang dan napas sedikit terburu-buru.

Vellano langsung mengangkat kepala. “Ada apa?”

Maxime berjalan mendekat dengan ekspresi seperti baru menerima kabar bencana nasional.

“Ini sangat penting, tuan.”

Vellano spontan menutup berkas di tangannya. “Masalah perusahaan?”

Maxime menggeleng.

“Keadaan darurat?”....

...****************...

 Apa lagi yang akan di sampaikan Maxime????

1
Verawati Naycyl
penasaran nich thor.....Axel kamu blak blak abis..karen sampai malu tuch🤣🤣
Rho Fioca Purple: Wkwkwk,sabar ya kak Nanti ada part khusus untuk Axel dan Karen.Pantengin terus ya kak😁
total 2 replies
Verawati Naycyl
itu pasti vellano dan Axel...
Verawati Naycyl
lanjut thor
Enz99
Bagus
Rho Fioca Purple: Trimakasih kak🥰
total 1 replies
Rho Fioca Purple
Good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!