NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

Bab 15: Lari Pagi Bareng

Kebohongan orang dewasa akan diuji oleh DNA.

Setelah menetapkan aturan itu, Arya tidak membiarkan ancaman Karina menghentikan hidupnya. Pukul enam keesokan pagi, ia sudah berdiri di depan gerbang Vila Kusuma dengan pakaian lari.

Udara Surabaya masih cukup sejuk. Jalan kompleks basah oleh siraman taman, dan langit baru berubah dari abu-abu menjadi biru pucat.

Arya memulai pencatat waktu pada jamnya.

"Tunggu!"

Ia menoleh.

Anindya berlari kecil dari pintu utama. Rambutnya diikat tinggi, sepatunya belum terpasang sempurna, dan jaket tipisnya masih terbuka.

"Kamu benar-benar bangun?" tanya Arya.

Anindya membungkuk sambil mengatur napas. "Aku bilang akan ikut."

"Kamu tidur hampir pukul satu."

"Aku pasang lima alarm."

"Kasihan seluruh rumah."

"Yang penting aku bangun."

Anindya mengikat tali sepatu, lalu berdiri di sampingnya. Wajah tanpa riasannya terlihat lebih muda dan lembut.

"Rambutmu cocok begitu," kata Arya spontan.

Anindya menyentuh ikatannya. "Cocok?"

"Kelihatan segar."

"Kalau begitu setiap lari aku begini."

Arya berdeham dan mulai berjalan. "Pemanasan dulu. Target hari ini tiga kilometer. Jangan memaksa kalau nggak kuat."

"Aku kuat."

Lima menit pertama, Anindya masih bisa mengobrol. Ia bercerita tentang seorang direktur yang salah mengirim laporan. Pada menit kesepuluh, jawabannya berubah menjadi satu kata. Pada kilometer kedua, ia mulai tertinggal dua langkah.

Arya menurunkan kecepatan.

"Aku nggak perlu dikasihani," kata Anindya di antara napas.

"Aku juga sedang membangun stamina."

"Tadi langkahmu lebih cepat."

"Aku mau melihat taman."

"Bohong."

Meski berkata begitu, Anindya tersenyum.

Mereka melewati pasangan lansia yang berjalan pagi dan dua petugas kebersihan kompleks. Tidak ada mobil mewah, staf, atau meja panjang di antara mereka. Hanya dua orang dengan napas berat dan langkah yang perlahan menemukan irama sama.

Pada kilometer terakhir, Anindya hampir berhenti.

Arya mengulurkan tangan. "Pegang kalau perlu."

"Kalau aku pegang, nanti dibilang curang."

"Ini bukan lomba."

Anindya menggenggam tangannya. "Kalau begitu jangan dilepas sampai garis akhir."

Mereka berlari berdampingan. Tangan yang bertaut membuat ayunan lengan tidak sempurna, tetapi tak satu pun mengeluh.

Ketika jam menunjukkan tiga kilometer, Anindya mengangkat kedua tangan seperti memenangkan maraton.

"Selesai!"

"Waktunya buruk."

"Tapi selesai."

Arya menyerahkan air dan handuk. "Besok kita ulang dengan kecepatan lebih stabil."

"Kita?"

"Kamu mau ikut lagi, kan?"

Anindya menerima botol itu, matanya terang. "Mau."

Di ruang makan, Pak Darto melihat keduanya masuk dengan wajah memerah dan pakaian berkeringat.

"Lari pagi bersama?"

"Tiga kilometer," jawab Anindya bangga.

"Dua kilometer lari, satu kilometer menyeretku," kata Arya.

Anindya mencubit lengannya. "Aku menyelesaikan semuanya."

Pak Darto meletakkan dua mangkuk sarapan. "Besok saya siapkan air tambahan di gerbang."

"Dan sarapan lebih banyak untuk Mas Arya," kata Anindya. "Dia terlalu kurus."

Arya menatap porsinya. "Kalau sebanyak ini, olahraga kita sia-sia."

"Nggak. Otot Mas Arya perlu makan."

Arya mengangkat alis. "Otot apa?"

"Yang akan muncul nanti."

Pak Darto berbalik agar mereka tidak melihat ia tertawa.

Pada waktu yang sama, Karina duduk bersama Sherly di meja makan apartemennya. Di depan mereka ada hasil pemeriksaan awal kehamilan dan daftar biaya rumah sakit Pak Suryanto.

"Arya tetap menolak?" tanya Sherly.

"Dia memblokir nomor yang kupakai."

"Orang tuanya?"

"Belum gue hubungi lagi. Papa dan Mama baru tiba besok. Biar mereka yang menekan keluarga Arya."

Sherly membuka akun media sosial Anindya. Tidak ada unggahan pernikahan. Tidak ada foto Arya.

"Bagus," katanya. "Berarti Anindya masih menyembunyikan pernikahan itu. Mungkin dia cuma butuh dokumen."

Karina menatap foto lama dirinya dan Anindya. "Dia selalu bilang anti-nikah. Gue kenal dia bertahun-tahun. Dia nggak mungkin tiba-tiba cinta sama Arya."

"Tapi mobil itu atas nama Arya."

"Buat meyakinkan notaris. Orang kaya sering berlebihan."

"Dan dia datang menjemput Arya mabuk?"

Karina berhenti menggeser layar. Informasi itu ia dapat dari kenalan yang melihat kejadian di warung.

"Mungkin takut suami palsunya bikin masalah."

Sherly menatapnya lama. "Lo yakin, atau lo cuma butuh percaya itu?"

"Gue yakin." Karina menyandarkan punggung. "Anindya nggak suka laki-laki. Begitu urusan warisan selesai, dia akan membuang Arya. Saat itu Arya pasti pulang."

"Kalau dia nggak pulang?"

Karina meletakkan telapak pada perutnya. "Ada anak ini. Ada Papa yang sakit. Ada orang tuanya di kampung. Gue punya banyak jalan."

Sherly mengangguk, lalu menunjuk hasil pemeriksaan. "Jangan bicara soal DNA kepada orang tua lo. Bilang saja Arya menolak tanggung jawab. Biar mereka marah dulu."

Karina menyimpan lembar itu ke dalam map. "Setelah Papa operasi, gue paksa Arya duduk bareng. Dia nggak akan berani menolak di depan orang tua."

Di Vila, Arya menyelesaikan sarapan dan membuka jadwal hari itu. Latihan, memperbarui portofolio, menghubungi dua mantan rekan, lalu mengantar Anindya makan siang.

Anindya mengintip jadwalnya. "Makan siang sama aku masuk agenda?"

"Kamu bilang mau menemani semua rencanaku. Aku juga bisa menemani rencanamu."

Sebelum Anindya menjawab, sebuah pesan masuk dari mantan rekan kantor Arya.

Maaf, Arya. Aku cek lowongan di sini. Atasan lamamu sudah menyebarkan kabar bahwa proyek gagal karena kamu. HR tidak berani memproses namamu.

Anindya membaca perubahan wajahnya. "Ada masalah?"

Arya menunjukkan pesan itu.

"Mereka menjadikanmu kambing hitam?"

"Sepertinya begitu. Proyek itu sudah bermasalah sebelum diserahkan kepadaku. Aku punya salinan laporan dan surel peringatan, tapi kantor menghapus aksesku sebelum aku sempat mengambil semuanya."

"Masih ada salinan lokal?"

"Sebagian di laptop lama."

"Kalau kamu mau, tim hukumku bisa—"

Arya menggeleng. "Belum. Aku ingin merapikan bukti sendiri. Kalau ada pelanggaran, baru kita putuskan jalur yang tepat. Aku nggak mau memakai nama Grup Kusuma hanya karena sakit hati."

Anindya tidak memaksa. Ia justru mengangguk bangga. "Baik. Aku bantu sebagai orang yang membaca, bukan sebagai pewaris grup."

"Kamu yakin punya waktu?"

"Untuk rencana Mas Arya, aku buat waktu."

Arya menambahkan satu tugas pada jadwal: memulihkan arsip proyek lama dan menyusun kronologi PHK.

Latihan pagi membangun tubuhnya kembali. Pekerjaan itu akan membangun namanya.

Pak Darto yang lewat di belakang mereka sempat melihat judul kronologi pada layar. Ia tidak ikut campur, hanya menyimpan informasi itu. Selama puluhan tahun mengurus urusan Grup Kusuma, ia mengenali orang yang sekadar mengeluh dan orang yang mengumpulkan bukti. Arya jelas termasuk jenis kedua.

Anindya menatapnya beberapa detik, lalu menambahkan satu catatan pada jadwal digital.

Lari pagi bersama, setiap hari.

"Ini juga masuk," katanya.

Arya tidak menghapusnya.

Sementara Karina menyusun jalan untuk memaksa masa lalu kembali, Arya dan Anindya mulai membangun kebiasaan yang mengarah ke masa depan.

Setiap langkah kecil mereka kini bergerak ke arah yang sama.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!