Ani Almira mendapatkan kabar dari pihak kepolisian bahwa Fardan suaminya mengalami kecelakaan tunggal. Namun, ketika kecelakaan itu terjadi Fardan tidak sendirian. Ani terkejut ketika polisi mengatakan penyebab kecelakaan suaminya. Ani tidak menyangka Fardan begitu tega kepadanya.
Ardi Akram seorang perwira menengah di kepolisian. Ia merasa kecewa dengan apa dilakukan oleh Nadira istrinya. Ia mengajak Ani untuk balas dendam atas perbuatan Fardan dan Nadira. Ani menolak untuk melakukan balas dendam. Namun, berkat bantuan Ardi rahasia masa lalu Fardan terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teman Dekat Ardi.
Ardi menoleh ke pria itu. “Eh, Gam.” Ardi dan pria itu bersalaman. Mereka saling menanyakan kabar satu dengan lain lalu mereka terlibat pembicaraan yang cukup seru.
Malika sudah tidak sabar menunggu Ardi yang sedang berbicara dengan temannya. Ia menarik-narik tangan Ardi. “Papa, Malika mau itu.” Malika menunjuk ke kue-kue yang dipotong kecil-kecil dengan penampilan yang menarik. Namun, Ardi tidak mengindahkan permintaan Malika. Ia asyik berbincang dengan temannya.
Ani merasa kasihan melihat Malika, sepertinya Malika sudah lapar. “Malika.” Ani menyentuh bahu Malika. Malika menoleh ke Ani. Ani membungkukkan badan agar sejajar dengan Malika. “Malika mau kue?” tanya Ani. Malika mengangguk dengan wajah sedih.
“Tante temani ke sana, ya,” kata Ani. Malika mengangguk sambil tersenyum gembira.
“Pak Ardi.” Ani memanggil Ardi.
Ardi menoleh ke Ani. “Ada apa Bu Ani?”
“Malika mau kue. Kami ke sana dulu.” Ani menunjuk ke meja tempat kue di sajikan. Ardi menoleh ke arah yang ditunjuk Ani. Ia melihat kue-kue cantik yang tersusun rapi di tempat kue susun.
Ardi menoleh ke Malika. “Malika mau kue?” tanya Ardi. Malika menjawab dengan mengangguk.
“Malika ke sana sama Tante Ani dan Mbak Tri. Nanti Papa menyusul,” ujar Ardi.
Malika memegang tangan Ani. “Ayo, Tante.” Ia menarik tangan Ani. Ani berjalan tergesa-gesa mengikuti Malika. Malika sudah tidak sabar untuk mencicipi kue. Ardi geleng-geleng kepala melihat Malika menarik tangan Ani.
Malika mendekati meja tempat kue disajikan. Matanya berbinar-binar melihat kue dengan berbagaimana macam bentuk dan warna Ani mengambil piring kue lalu menghampiri Malika. “Malika mau kue yang mana?”
Malika menunjuk satu persatu kue yang ia mau. Jumlahnya sangat banyak. “Sudah, jangan banyak-banyak! Malika belum makan, nanti perutnya kenyang sama kue,” ujar Ani.
Malika menoleh ke Ani. “Nanti boleh tambah lagi?” tanya Malika dengan wajah yang polos.
“Boleh. Tapi kalau sudah makan nasi,” jawab Ani.
“Sekarang kita cari tempat duduk yang kosong.” Ani menuntun Malika mencari tempat duduk yang kosong. Ani berjalan sambil menyapu pandangan mencari tempat duduk. Akhirnya mereka menemukan tempat duduk yang kosong di pojok ruangan. Mereka duduk di sana.
Jam terus berputar, tetapi Ardi belum datang menghampiri mereka. Ketika Ani sedang mengambil makanan, ia melihat Ardi sedang berbincang-bincang dengan perempuan cantik. Perempuan terlihat sangat mengagumi Ardi. Terlihat dari caranya memperhatikan Ardi yang sedang bicara.
‘Kalau Ibu Nadira di sini, ia pasti akan cemburu melihat Pak Ardi bicara dengan perempuan cantik,’ kata Ani di dalam hati.
Namun, ia langsung mengusir bayangannya. ‘Nggak mungkin Ibu Nadira cemburu. Di hati Ibu Nadira hanya ada Mas Fardan.’ Ani meninggalkan tempat itu, ia kembali ke tempat duduknya.
Setelah Ani, Malika dan Tri kenyang menikmati hidangan yang disediakan, barulah Ardi datang menghampiri mereka. “Saya cari ke mana-mana, ternyata ada di sini,” kata Ardi. “Sudah pada makan?” tanya Ardi.
“Sudah, Pak,” jawab Ani.
“Malika sudah kenyang,” jawab Malika sambil mengusap perutnya.
“Malika makan apa?” tanya Ardi.
“Malika makan ….” Malika menyebut satu persatu makanan yang ia makan.
“Banyak sekali,” ujar Ardi setelah mendengar apa saja yang dimakan oleh Malika.
“Papa lapar. Papa belum makan.” Ardi mengusap perutnya yang lapar.
“Masih ada makan, nggak?” Ardi menyapu pandangan ke sekeliling tempat makan, mencari makanan yang masih ada.
“Saya ambil makan dulu. Kalian jangan ke mana-mana!” Ardi berjalan menuju ke meja prasmanan untuk mengambil makan.
Beberapa menit kemudian Ardi kembali sambil membawa piring yang berisi makan. Ia ditemani oleh perempuan cantik yang tadi Ani lihat.
“Nah, ini anak saya namanya Malika.” Ardi menunjuk ke Malika.
“Malika salam dulu sama Tante Indri,” ujar Ardi. Malika mendekati Indri lalu mencium tangan Indri.
“Dan ini Ibu Ani, teman dekat saya.” Ardi menunjuk Ani.
“Bu Ani, ini Indri adik atasan saya,” kata Ardi. Ani menyalami tangan Indri.
Setelah memperkenalkan Indri, Ardi duduk di sebelah Ani. Indri duduk di sebelah Ardi. “Saya makan dulu, ya,” kata Ardi kepada Indri sambil menunjuk piring yang ia pegang.
“Silahkan Mas Ardi,” jawab Indri. Ardi pun mulai makan. Selama Ardi makan Indri duduk manis di sebelah Ardi, sedangkan Ani mengajak Malika bermain agar Malika tidak kesal menunggu papanya.
Namun, Malika mengucek-ngucek matanya berulang kali. “Malika ngantuk?” tanya Ani. Malika menjawab dengan mengangguk.
“Sini bobo di pangkuan Tante.” Ani menepuk kedua kakinya. Malika kembali mengangguk. Ani menggendong Malika lalu ia mendudukan Malika di atas pangkuannya. Malika merebahkan kepalanya di lengan Ani. Ani menimang-nimang Malika sambil menepuk-nepuk tubuh Malika yang bagian belakang.
Ardi merasakan tangan Ani yang bergerak-gerak. Ia menoleh ke samping. Ia melihat Ani sedang memangku Malika. Mata Malika terlihat merem melek.
“Malika kenapa?” tanya Ardi.
“Ngantuk,” jawab Ani sambil mengusap rambut Malika.
“Tunggu sebentar, saya habis makanan dulu. Sesudah itu kita pulang,” ujar Ardi. Ia pun melanjutkan makan.
Beberapa menit kemudian Ardi selesai makan. Indri masih duduk di sebelah Ardi, dari tadi ia mengajak Ardi bicara. Ardi mendengarkan sambil makan. Ardi bangun dari tempat duduk lalu menggendong Malika. Malika merebahkan kepalanya di pundak Ardi. “Ayo kita pulang,” kata Ardi. Ani dan Tri bangun dari tempat duduk.
“In, saya pulang dulu.” Ardi berpamitan kepada Indri.
Indri bangun dari tempat duduk. “Kalau besok Mas Ardi bisa pergi telepon Indri, ya,” kata Indri.
“Kayaknya nggak bisa, In,” jawab Ardi. “Saya sudah janji mau mengajak Malika ke Kebun Binatang Ragunan.”
Wajah Indri terlihat kecewa. “Mas pergi dengan siapa saja?” tanya Indri.
“Saya pergi berempat. Malika, Ani dan pengasuh Malika.” Ardi menunjuk ke Ani dan Tri.
Indri terlihat tambah kecewa mendengar jawaban Ardi. Ani diam saja ketika dirinya ditunjuk Ardi. Padahal ketika di mobil Ani sudah jawab kalau ia tidak bisa ikut pergi ke Jakarta.
“Sudah, ya. Assalamualaikum.” Ardi berjalan meninggalkan tempat itu. Ani dan Tri mengikuti Ardi.