NovelToon NovelToon
Putri Yang Dibuang

Putri Yang Dibuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: NisfiDA

Bisu, tuli, dan dianggap aib keluarga. Amara diperlakukan lebih buruk dari hewan di mansionnya sendiri. Puncaknya, ia dibuang ke halaman belakang yang dingin membeku tanpa diberi makan sedikit pun saat pesta bisnis ayahnya berlangsung.

​Di tengah keputusasaannya, muncul Gabriel—CEO muda paling ditakuti dengan tato bunga mawar di lehernya.
​Melihat Amara yang terkulai lemas menahan lapar, pria dingin itu melepaskan jasnya dan merangkul sang gadis.

​"Mulai malam ini, siapa pun yang menyakitimu... akan kuhancurkan."

​Ketika sang Putri yang Dibuang dilindungi oleh Pria Paling Berkuasa, pembalasan dendam pun dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Usapan di Penghujung Hari

Hari sudah berganti malam. Cahaya lampu tidur yang hangat memancar lembut, menciptakan suasana tenang di kamar utama mereka.

​"Sayang, sudah selesai mandinya?" tanya Gabriel yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang saat melihat Amara melangkah keluar dari kamar mandi, terbalut piyama katun yang lembut dengan handuk kecil tergantung di bahunya.

​"I-iya, s-sudah..." cicit Amara pelan. Suaranya terdengar lembut dan jauh lebih tenang dibanding tadi siang saat di kantor.

​Gabriel tersenyum hangat, menepuk sisi ranjang di sebelahnya. "Kemarilah, aku bantu keringkan rambutmu, Sayang," ucap Gabriel dengan nada lembutnya. "Alat bantu pendengarnya jangan digunakan dulu kalau masih basah telinganya, Sayang. Nanti kurang nyaman."

​Amara mengangguk pelan. Ia melangkah mendekati ranjang, lalu duduk membelakangi Gabriel. Dengan telaten dan penuh kehati-hatian, jemari kokoh Gabriel mulai mengambil handuk kecil itu, mengusap helai demi helai rambut basah istrinya.

​"Pekerjaan di kantor tadi tidak membuatmu terlalu lelah, kan?" bisik Gabriel lembut di dekat tengkuk Amara, berhati-hati agar getaran suaranya tetap terasa menenangkan.

​Amara menggeleng kecil. Tanpa alat bantu dengar yang terpasang, pendengarannya memang sedikit berkurang, namun ia bisa merasakan kehangatan dan getaran lembut dari setiap kata yang diucapkan suaminya.

​"T-tidak..." jawab Amara jujur. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Gabriel dari sudut matanya. "A-aku... senang bisa m-menggambar di ruanganmu, Gabriel."

​Gabriel terkekeh renyah, usapan handuknya berangsur lembut menjadi belaian jemari di rambut Amara yang mulai mengering.

​"Baguslah kalau begitu," ujar Gabriel seraya mendaratkan kecupan singkat di bahu terbuka istrinya. "Mulai besok dan seterusnya, kamu akan selalu ikut bersamaku jika kamu mau. Tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu."

​Amara meremas ujung piyamanya, memutar tubuhnya perlahan hingga kini menghadap langsung ke arah Gabriel. Manik mata indahnya menatap lurus ke dalam iris hitam suaminya.

​"G-Gabriel..." panggil Amara terbata, memaksakan pita suaranya untuk melafalkan setiap kata dengan jelas. "...t-terima kasih untuk hari ini. K-kamu... selalu menjagaku."

​Tangan Gabriel terulur menangkup pipi Amara yang kini merona tipis.

"Sudah menjadi kewajibanku untuk selalu ada di sisimu, Ratu kecilku," bisiknya penuh ketulusan, lalu mendekatkan wajahnya untuk mengecup kening Amara cukup lama.

Gabriel dengan lembut mengambil alat bantu dengar milik Amara dari atas nakas, membersihkannya dengan sangat hati-hati menggunakan kain lembut khusus.

Setelah itu, ia meraih tisu kering dan mengusap sisa-sisa air di sekitar daun telinga serta bagian luar telinga istrinya dengan gerak jemari yang amat pelan.

"Jangan bergerak dulu ya, Sayang," bisik Gabriel lembut. "Harus benar-benar kering dulu biar telingamu tidak gatal saat alatnya dipasang lagi."

Amara memejamkan mata, membiarkan suaminya merawatnya dengan telaten. Sentuhan jemari Gabriel yang hangat membuat rasa nyaman merayapi seluruh tubuhnya.

"G-Gabriel..." panggil Amara pelan, membuka matanya perlahan.

"Iya, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Gabriel cepat, menghentikan gerakannya dan menatap cemas manik mata Amara.

Amara menggeleng pelan. Binar matanya memancarkan rasa haru yang amat dalam.

"T-tidak... N-tidak ada yang sakit," cicit Amara, melatih suaranya agar terdengar lebih lancar. "A-aku cuma... merasa s-sangat beruntung."

Gabriel tertegun sejenak, lalu tersenyum manis hingga lesung pipit tipis di wajahnya terlihat. Ia meletakkan tisu ke nakas, lalu memasangkan kembali alat bantu dengar Amara dengan sangat perlahan dan presisi.

"Sudah pas posisinya, Sayang? Coba dengar suaraku," ujar Gabriel pelan, memastikan kenyamanan istrinya.

Amara mengerjap, mendengar suara bariton suaminya kembali terdengar begitu jernih dan dekat.

"I-iya... sudah pas. Suaramu... d-dengar jelas sekali."

Gabriel melingkarkan lengannya di pinggang Amara, menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapannya hingga tak ada jarak tersisa.

"Bukan kamu yang beruntung, Amara," bisik Gabriel tulus di ceruk leher istrinya, mendaratkan kecupan hangat di sana. "Akulah pria paling beruntung di dunia ini karena memiliki istri sehebat dan secantik kamu."

Pipi Amara seketika memerah pasrah. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Gabriel, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan.

"T-terima kasih, Gabriel..." bisik Amara penuh kehangatan, perlahan menyusupkan kedua tangannya untuk membalas pelukan suaminya.

1
Rahmat
ayah dan ibu tiri lucknat masih gak nyadar y di penjara baru tau rass ciuh😠
Rahmat
bahagiax jd istri moga sukses ritualx🤭
Rahmat
lanjut thor
Rahmat
saking traumax sering dpt kekerasan fisik dan hinaan mpai suarax pun tdk kedengaran
Rahmat
lanjut thour ceritax bagus
Iffanaya 😽
belum sah ya Gabriel udah di klaim jd istri 🤣🤣
Soraya
lanjut
Fitria Syafei
semangat KK 👌 KK cantik kereen 😍 kereen 😍
Soraya
mampir thor lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!