Karena kakaknya kabur tepat hari pernikahan demi bersanding dengan musuh bisnis tunangannya, Aruna terpaksa mengambil alih posisi yang bukan miliknya. Ia menikah dengan Argan, seorang pengusaha muda yang tampan, kaya raya, namun lumpuh dan duduk di kursi roda akibat kecelakaan. Dianggap sebagai pengganti sekaligus pelampiasan, Aruna tetap bertahan dengan kesabaran dan ketulusan. Ia tak hanya menuntun langkah kaki Argan yang perlahan pulih, namun juga menyembuhkan luka hatinya yang sempat membeku akibat pengkhianatan. Di antara kebohongan yang memulainya, tumbuh kasih sayang yang perlahan menyatukan dua jiwa yang saling melengkapi — hingga akhirnya mereka menyadari, pernikahan yang dipaksakan itu justru adalah takdir terindah yang pernah Tuhan berikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Memperbaiki Segalanya
Keesokan paginya, suasana di kediaman Adhyaksa terasa berbeda. Tak lagi penuh ketegangan yang mencekam, namun ada kesibukan yang teratur dan penuh tekad yang baru. Argan bangun lebih awal dari biasanya, duduk tegak di meja kerjanya sambil meneliti tumpukan berkas yang sempat terabaikan. Wajahnya masih menyimpan sisa kepedihan akibat pengkhianatan itu, namun tatapan matanya tak lagi kosong—ia kini memancarkan keinginan kuat untuk bangkit dan memperbaiki segala sesuatu yang sempat berantakan.
Aruna masuk membawa nampan berisi sarapan ringan dan secangkir kopi hitam sesuai selera Argan. Ia meletakkannya perlahan di sudut meja agar tak mengganggu konsentrasi pria itu. Saat hendak berbalik pergi, suara Argan menahannya.
“Duduklah sebentar, Aruna. Ada hal yang ingin kubicarakan denganmu.”
Gadis itu mengangguk, lalu menarik kursi dan duduk sopan di hadapan Argan.
“Aku sudah memanggil pengacara keluarga,” ucap Argan sambil menyusun beberapa lembar dokumen. “Pertama, kita akan mengumumkan secara resmi bahwa pernikahan kita sah dan dilandasi kesepakatan kedua keluarga—tanpa menyebutkan alasan sebenarnya agar skandal tak merusak nama baik perusahaan. Kedua, aku akan mengajukan tuntutan hukum terhadap Dimas Pratama dan... dan juga terhadap Aisyah atas dugaan konspirasi dan percobaan penggelapan data perusahaan.”
Aruna menelan ludah. Mendengar nama kakaknya disebut dalam konteks hukum terasa berat, namun ia tahu itu adalah langkah yang paling benar. “Saya mengerti, Argan. Apa pun keputusan Anda, saya mendukungnya. Kakak saya telah melakukan kesalahan fatal, dan ia harus bertanggung jawab.”
Argan menatapnya lekat, kagum akan keteguhan hati gadis itu yang tak memihak darah dagingnya sendiri saat kebenaran harus ditegakkan. “Kau tak perlu merasa bersalah atas perbuatannya. Kau bukan dia, dan kau tak harus menanggung dosanya.”
“Terima kasih,” jawab Aruna pelan. “Lalu... apa yang harus saya lakukan?”
“Mulai hari ini, kau akan ikut bersamaku ke kantor pusat,” ucap Argan tegas. “Kau bukan sekadar istri yang menunggu di rumah. Kau adalah bagian dari keluarga Adhyaksa, dan banyak hal yang bisa kau pelajari untuk membantuku. Terutama saat aku harus menghadiri rapat atau pertemuan yang membutuhkan perpindahan tempat yang sulit kulewati dengan kursi roda ini.”
Jantung Aruna berdegup kencang. Ia tak pernah membayangkan akan masuk ke lingkungan bisnis yang keras dan penuh persaingan seperti itu. Namun melihat keyakinan yang ada di wajah Argan, ia tak punya alasan untuk menolak. “Saya akan berusaha sekuat tenaga agar tidak mengecewakan Anda.”
“Jangan berjanji tidak akan mengecewakanku,” ucap Argan lembut namun tegas. “Berjanjilah kau akan berjuang bersamaku, meski nanti kita mungkin menemukan jalan yang terjal. Itu saja yang kubutuhkan.”
Sepanjang hari itu, mereka bekerja berdampingan. Argan mengajarkan Aruna cara membaca laporan perkembangan bisnis, cara bersikap tegas di hadapan bawahan, hingga cara menjawab pertanyaan jurnalis dengan cerdas namun tetap menjaga kerahasiaan perusahaan. Aruna menyerap semuanya dengan cepat—kecerdasan alaminya yang dulu terpendam karena ia selalu berada di bawah bayang-bayang kakaknya yang lebih cantik dan populer, kini mulai bersinar terang.
Sore harinya, saat mereka pulang bersama dalam mobil yang membawa kursi roda Argan, suasana di dalam kendaraan terasa hangat. Tak ada lagi keheningan yang kaku.
“Kau tahu,” ucap Argan tiba-tiba sambil menatap jendela yang menampakkan pemandangan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. “Dulu aku berpikir kecelakaan itu adalah akhir dari segalanya. Bahwa tak ada lagi yang bisa kulakukan selain meratapi nasib. Tapi hari ini... saat melihatmu belajar begitu cepat, berdiri begitu tegar di sampingku... aku sadar bahwa hancur bukan berarti tamat. Kita bisa menyusun kembali kepingan yang jatuh, meski bentuknya mungkin tak sama persis seperti dulu.”
Aruna menatap sisi wajah Argan yang tampak lebih tenang. “Bentuknya mungkin berbeda, Argan. Tapi justru karena itu ia akan terlihat lebih kuat, karena ia telah melewati hantaman badai yang tak mampu merobohkannya sepenuhnya.”
Argan menoleh perlahan, menatap manik mata Aruna. Untuk pertama kalinya, senyum tipis namun tulus terukir di bibirnya—sebuah senyum yang tak lagi terasa dingin atau penuh kepura-puraan.
“Terima kasih, Aruna. Kau benar-benar mengajarkanku arti memperbaiki segalanya, bukan dengan paksaan, tapi dengan ketulusan.”
Malam itu menutup hari yang penuh perubahan. Luka belum sembuh sepenuhnya, ancaman dari musuh belum hilang, namun kini mereka tak lagi berjalan sendirian. Di tangan yang saling menggenggam, tersimpan harapan baru bahwa apa pun yang rusak karena kebohongan, pasti bisa diperbaiki kembali dengan kejujuran dan kebersamaan.
Lanjut ke Bab 8?