Duniaku selalu sunyi, tetapi Kaito mengajarkanku cara mendengar melalui jemarinya. Kehadirannya adalah kepastian yang selalu kuanggap wajar—sampai sesosok warna baru bernama Haruto mengetuk duniaku dan menawarkan keindahan yang belum pernah kurasakan.
Di antara rasa penasaran dan ketulusan yang mulai terabaikan, sebuah jarak tak kasatmata perlahan membentang. Saat aku akhirnya menyadari arti kehadiran Kaito yang sebenarnya, akankah suara hatiku masih memiliki kesempatan untuk sampai padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
LARI MENEMBUS WAKTU
Satu malam yang penuh dengan air mata terasa sanggup menguras seluruh tenaga di dalam tubuhku.
Setelah kepedihan dari pengkhianatan Haruto meluap habis di kamar yang sunyi, keesokan paginya aku terbangun dengan mata yang sembap dan dada yang masih terasa begitu memar. Namun, di tengah sisa-sisa rasa hancur itu, ada satu dorongan kuat yang mendadak muncul dan bergetar hebat di dalam mataku.
Aku harus menemui Kaito.
Aku tidak bisa lagi membiarkan penyesalan ini membusuk. Aku tidak peduli sejauh apa Kaito mencoba membentangkan jarak atau sekeras apa ia berpura-pura membenciku. Aku harus mengetik seluruh kebenaran di depan wajahnya bahwa aku sudah melepaskan Haruto, bahwa aku tahu betapa besarnya pengorbanan yang telah ia lakukan, dan bahwa aku tidak ingin ia terus menyiksa dirinya sendiri demi diriku.
Dengan jemari yang gemetar dan tekad yang sudah bulat, aku merapatkan jaket tebal, melilitkan syal di leher, lalu bergegas melangkah keluar rumah.
Pagi itu, udara dingin musim dingin menusuk-nusuk kulit. Aku menyusuri jalanan gang kawasan perumahan kami dengan langkah cepat, memotong jalan melewati lima deretan rumah warga hingga akhirnya tiba di depan pintu pagar rumah Kaito di gang sebelah.
Aku menarik napas panjang, menetralkan ritme jantungku yang berdegup kencang, lalu menekan bel pintu rumahnya beberapa kali.
Beberapa saat kemudian, pintu depan terbuka. Namun, sosok yang melangkah keluar dari sana bukanlah Kaito, melainkan ibunya—wanita paruh baya yang sejak kecil selalu menyambutku dengan senyuman hangat bagaikan ibu kandungku sendiri.
Namun pagi ini, tidak ada senyuman hangat di wajah ibu Kaito. Raut wajahnya tampak amat sayu, dengan lingkaran hitam mengitari matanya yang memerah dan sembap, seolah-olah beliau juga baru saja melewati malam yang penuh tangisan.
Melihat keberadaanku di depan pagar, ibu Kaito tersentak pelan. Ada kilatan rasa sedih yang amat dalam saat matanya menatapku lekat-lekat.
Aku tidak membuang waktu. Dengan jemari yang gemetar hebat akibat udara dingin dan rasa cemas yang membuncah, aku mengangkat kedua tanganku, menggerakkan bahasa isyarat yang amat terburu-buru:
[Ibu... Kaito ada di rumah? Aku harus bertemu dengannya sekarang.]
Ibu Kaito menatap gerakan jariku. Beliau menarik napas panjang yang amat berat, mengusap sudut matanya yang kembali berair, lalu perlahan-lahan menggerakkan jarinya—membalas isyaratku dengan gerakan yang amat pelan dan penuh duka:
[Kaito sudah pergi, Hana...]
Langkah kakiku mendadak goyah. Duniaku yang sunyi seolah-olah langsung runtuh detik itu juga.
[Pergi...? Pergi ke mana, Ibu?] balasku cepat, jemariku bergerak kian liar dan panik. [Dia ada di kampus? Ke mana dia pergi?]
Ibu Kaito menggelengkan kepalanya pelan, air mata menetes menelusuri pipinya yang keriput. Beliau mengangkat tangannya kembali, menyampaikan kebenaran yang menghantam dadaku tanpa ampun:
[Dia pergi ke Italia, Hana. Kaito mengambil program kuliah di Eropa. Penerbangannya pagi ini dari Bandara Haneda. Dia baru saja berangkat satu jam yang lalu dengan taksi.]
Eropa...? Bandara Haneda...?
Kata-kata itu menghantam kepalaku bagaikan dentuman keras yang memekakkan. Seluruh aliran darah di tubuhku seketika membeku.
Kaito tidak hanya sekadar menarik diri dari kehidupanku; ia sedang melarikan diri ke belahan dunia lain. Ia membuang seluruh kehidupannya di Tokyo, meninggalkan rumahnya, dan mengasingkan dirinya ke benua yang teramat jauh semua itu dilakukan dalam keheningan total tanpa mengucapkan sepatah kata pun padaku.
Ia memilih pergi selamanya karena berpikir aku sedang bahagia bersama Haruto. Ia memilih membuang dirinya sendiri agar aku tidak perlu merasa terbebankan oleh keberadaannya.
[Dia... tidak memberi tahu kamu, Hana?] isyarat ibunya kaku, menatapku dengan tatapan penuh rasa iba. [Kaito bilang... ini satu-satunya cara agar kamu bisa hidup bahagia tanpa perlu mengkhawatirkannya lagi.]
Lututku seketika lemas. Air mata yang sejak tadi kucoba tahan mendadak pecah meluap-luap.
Rasa sakit, penyesalan, dan rasa bersalah yang teramat besar menyatu menjadi sebuah hantaman yang meremukkan dadaku hingga tak tersisa. Kaito menghancurkan masa depannya sendiri demi sebuah kebohongan dan salah paham. Ia mengasingkan dirinya ke Eropa demi melindungiku dari bayang-bayangnya.
"Tidak... Kaito... tidak..." cicitku kaku tanpa suara, tenggorokanku menyempit hebat.
Aku tidak boleh membiarkan ini terjadi. Aku tidak boleh membiarkan Kaito melangkah naik ke atas pesawat itu dengan membawa luka dan prasangka yang salah seumur hidupnya.
Tanpa membalas isyarat ibu Kaito lagi, aku mendadak berbalik arah.
Aku mulai berlari.
Aku berlari sekuat tenagaku menyusuri jalanan gang yang licin oleh salju tipis. Kakiku menapak keras di atas aspal dingin, napas memburu menghantam tenggorokan hingga terasa terbakar. Syal di leherku hampir terlepas, tetapi aku tidak peduli.
Aku berlari menembus kerumunan pejalan kaki di sepanjang jalan menuju stasiun kereta terdekat. Pandanganku buram oleh air mata yang terus menetes tanpa henti. Setiap kali mataku terpejam sekejap, bayangan senyum Kaito kecil, bayangan Kaito yang basah kuyup di bawah hujan, dan Kaito yang mengepalkan tangannya hingga berdarah terus berputar menghantuiku.
Jangan pergi, Kaito! Tolong jangan pergi! jerit batinku penuh keputusasaan.
Tiba di depan stasiun, aku langsung menerobos pintu masuk, melompati anak tangga menuju peron kereta jurusan Bandara Haneda dengan jantung yang memukul dadaku tanpa ampun. Pintu kereta otomatis sedang bersiap untuk tertutup saat aku melemparkan tubuhku masuk ke dalam gerbong. Pintu bergeser rapat, dan kereta densha itu mulai melaju kencang meninggalkan peron.
Selama tiga puluh menit perjalanan yang terasa bagaikan siksaan abadi, aku bersandar pada dinding kereta, memegangi dadaku yang naik-turun menahan napas yang hampir putus. Jemariku yang membeku meremas erat tali tas di bahuku, sementara air mata terus menetes membasahi pipi.
Begitu kereta berhenti di stasiun terminal Bandara Haneda, aku langsung menghambur keluar.
Aku berlari menaiki eskalator, menembus lautan manusia di aula keberangkatan internasional yang amat luas. Langkah kakiku terseok-seok, mataku melirik liar ke sekeliling, mencari sosok pria berpostur tinggi dengan jaket tebal yang teramat kukenal.
Aku berlari menuju papan jadwal penerbangan elektronik raksasa di tengah terminal. Tanganku yang gemetar menunjuk baris demi baris teks digital yang terus berganti.
Lalu, mataku terpaku pada satu baris teks berwarna merah:
[AZ 789 - MILAN - DEPARTED / TELAH LEPAS LANDAS - 09:30]
Pesawat itu sudah terbang.
Jadwal keberangkatannya baru saja berlalu sepuluh menit yang lalu.
Langkah kakiku terhenti seketika. Seluruh tenaga yang tersisa di dalam tubuhku seolah-olah disedot habis tanpa sisa. Ponsel yang kupegang terlepas dari genggaman, jatuh menghantam lantai marmer bandara yang dingin.
Aku mendongak perlahan, melangkah lemas menuju kaca jendela besar yang menghadap langsung ke arah landasan pacu.
Di balik kaca bening itu, jauh di atas langit kota Tokyo yang tertutup awan kelam musim dingin, aku melihat sebuah titik besi raksasa perlahan-lahan menembus awan, membawa pergi sosok yang selama ini menjadi pelindung terbesarku. Membawa pergi Kaito—bersama seluruh perasaan, pengorbanan, dan luka mendalam yang tak sempat kusembuhkan.
Aku mematung di depan kaca jendela besar itu. Duniaku yang sunyi kini terasa makin kedap, hampa, dan hancur berkeping-keping.
Lututku tak sanggup lagi menopang beratnya rasa putus asa. Aku merosot, terduduk di atas lantai bandara yang dingin di tengah lalu lalang pejalan kaki yang tak memedulikanku. Aku menundukkan kepala sejadi-jadinya, merengkuh kedua lututku, dan menangis histeris dalam keheningan.
Bahuku bergetar hebat. Isak tangisku pecah tanpa suara di tengah riuhnya terminal bandara. Air mata menetes begitu deras, membasahi lantai marmer tempatku terduduk.
Aku telah terlambat. Aku membiarkan pria yang paling mencintaiku pergi melintasi benua dengan hati yang hancur berantakan. Dan di bawah naungan langit Tokyo yang membeku pagi itu, aku menyadari bahwa aku telah kehilangan rumah tempatku pulang untuk selama-lamanya.