NovelToon NovelToon
Analepsis

Analepsis

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: aytysz_

Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan

Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.

Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Analepsis ^ 25

...Bukan kesempatan, tapi memanfaatkan apa yang telah ditawarkan!...

...- Yumnallasha -...

Mendapat job di luar pekerjaan wajibnya itu tidak membuat Yudha merasa lelah. Karena saat ini, yang diutamakan Yudha hanya ingin mendapat uang. Dengan uang Yudha bisa melakukan apapun yang dia mau. Dan tanpa uang, hidup Yudha akan lebih sengsara.

Tersenyum untuk menyapa beberapa anak kecil yang melambaikan tangan mereka ke arah Yudha. Hanya bisa membalasnya dengan senang hati. Hingga kedua mata Yudha tidak sengaja melihat kearah sosok familiar yang duduk sendiri di atas baru dengan wajah lelahnya itu.

"Kenapa dia bisa sampai di daerah sini?" Tanya Yudha dalam hati.

Yudha melihat sekitarnya sebentar dengan jari telunjuk mengusap sekilas ujung hidungnya. Sebelum melangkah mendekat dengan napas gusar. Dan seharusnya Yudha menahan diri untuk tetap diam. Karena hadir dihidup seseorang itu mungkin akan mendatangkan rasa kecewa dijiwa Yudha.

Tapi entah kenapa Yudha ingin sekali berjalan mendekat kearah wanita itu. "Takdir Tuhan tidak ada yang tahu."

Berdiri disisi kanan wanita yang perlahan mengalihkan pandangannya dari layar handphone itu ke arah Yudha, spontan menyunggingkan senyumannya. Yang mampu membuat sang wanita membulatkan kedua matanya sesaat. Dan itu menghadirkan rasa sendiri dibenak Yudha.

"Oh__" gumam Yumna secara spontan. Menurunkan kaki kanannya yang berada diatas batu depan wanita itu.

"Apa yang kau lakukan disini? Siapa yang kau tunggu?" Dua kalimat tanya yang keluar dari mulut Yudha. Membuat Yumna seperti seorang kekasih yang kepergok selingkuh. Apalagi Yudha duduk di hadapan Yumna, tanpa menghilangkan lingkungan sempurna itu dari wajahnya.

"Aku__" rasa gugup yang menyerang sukma Yumna, tidak membuat Yudha mengalihkan pandangannya dari wanita di depan matanya saat ini. Malahan, Yudha dengan tenang mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Yumna.

"Seharusnya kau langsung pulang ke rumah. Apa kau tidak lelah? Karena pekerjaan mu tidak mudah." Cetus Yudha yang terus menatap Yunma. Tanpa peduli jika rasa ingin memiliki itu tumbuh di benak Yudha. Karena, entah kenapa Yudha begitu nyaman saat bersama Yumna seperti ini.

"Lelah itu pasti. Tapi aku juga butuh memanjakan mataku." Yumna memberi balasan, sembari merubah posisi duduknya untuk melihat kearah para pejalan kaki. Karena jantung Yumna tidak sanggup jika terus-terusan berhadapan seperti ini dengan Yudha. Yumna harus menyelamatkan dirinya terlebih dahulu, sebelum sang lawan membuka pintu untuk Yumna. Agar masuk lebih dalam kehidupan Yudha.

Tanpa mengubah posisinya, Yudha membuka suara dengan nada yang masih sama. Lembut, hangat, begitu menenangkan menyapa telinga. "Aku harus menepati janjiku padamu, bukan?"

Kalimat yang Yudha cetuskan, mampu membuat Yumna kembali menatap Yudha. Dengan kening mengerut samar. "Janji? Kau punya janji padaku?" Raut wajahnya Yumna terlihat seperti tengah memikirkan suatu hal yang tidak kunjung Yumna dapatkan jawabannya.

"Tidak masalah jika kau tidak ingat." Yudha masih menarik sudut bibirnya. Kepalanya mengangguk kecil, sebelum berdiri dari duduknya. Refleks membuat Yumna mengadahkan pandangannya untuk menatap dua bola mata hitam pekat milik Yudha.

"Kau ingin ikut dengan ku?" Tawar Yudha tanpa berpikir dua kali. "Jika kau mau, janji itu akan terbayar luas."

Diam sejenak, Yudha menelan ludah getirnya. Dan kembali berucap. "Bantulah aku untuk meringankan beban itu."

"Jika aku ikut dengan mu malam ini. Itu berarti, kau tidak lagi memiliki janji padaku?" Entah kenapa rasa kecewa itu sedikit singgah di benak Yumna.

"Kau ingin aku menbuat janji lagi dengan mu?" Satu kalimat itu tercetus begitu saja dari mulut Yudha.

"Oh__" spontan Yumna. Benar-benar tidak tahu harus merespon seperti apa. Karena Yumna juga tidak paham dengan apa yang dikatakan Yudha.

Apalagi saat uluran tangan itu mengarah pada Yumna, yang masih diam melihat telapak tangan kanan itu. Tapi dengan keberanian yang diselimuti keraguan. Yumna menerimanya. Karena Yumna tidak mau menyia-nyikan kesempatan yang diberi oleh semesta malam ini.

Tepukan tangan dari pengunjung tempat itu membuat Yumna tersenyum bangga. Merasa bangga melihat seseorang didepan sana yang kini tengah meletakkan gitar di tangannya itu.

Tanpa melunturkan senyumannya, Yudha berjalan mendekat kearah Yumna berada. Duduk di hadapan Yumna yang masih menatap kagum pada penampilan Yudha. Suara nyanyian itu benar-benar membuat Yumna ingin mendengarnya setiap malam, sebelum manik matanya tertutup untuk tidur.

"Apa Tirtha tidak pernah menawari mu untuk menjadi artis di perusahaannya?" Sangat hati-hati Yumna bertanya pada Yudha. Karena Yumna tidak ingin meninggalkan bekas luka tanpa goresan di hati Yudha.

"Tawaran itu aku tolak sebelum Tirtha yang mengelola perusahaan ayahnya." Jawab Yudha tanpa menyembunyikan apapun dari Yumna. Karena hal itu memang fakta. Jika pun tawaran itu bukan Tirtha yang memberikannya. Tapi dengan jelas, ayah Tirtha pernah meminta Yudha untuk menjadi artis pertama di perusahaannya.

"Kenapa? Bukankah itu sangat disayangkan?" Keingin tahu yang ada di benak Yumna perlahan menjauh besar. Bukan penasaran, hanya ingin tahu!!

"Menjadi publik figur tidak seenak apa yang kau lihat dilayar televisi. Mereka tidak bisa melakukan apa yang mereka sukai. Karena itu pasti akan langsung menjadi kontroversi. Apalagi jika penggemar mereka begitu posesif dengan idola mereka." Sekilas Yudha menaikan kedua alisnya. Menatap Yumna dengan senyumannya.

"Bekerja dibawa artis yang mendapat komentar buruk dari berbagai tuduhan tidak benar, itu pasti membuatmu ingin meneriaki satu-persatu telinga mereka, bukan?" Yudha menambahkan perkataannya.

"Bekerja didepan layar ataupun di balik layar itu pasti ada plus minusnya. Jadi yang bisa kita lakukan sekarang hanya bersyukur, menerima apa yang telah kita punya." Yudha menelan ludahnya untuk menjeda suaranya sejenak. "Tanpa harus menyesal dengan keputusan yang kita ambil."

Dengan segera Yumna menyimpan handphonenya, karena pesan baru dari Tirtha maupun Tama membuat Yumna menipiskan bibirnya. Tanpa merutuki dirinya sendiri, karena telah memposting foto Yudha di media sosialnya.

Yumna mengingat ulang akan foto yang dia posting. Wajah Yudha terlihat blur, tapi mereka langsung tahu. "Wahh, itu yang dinamakan teman." Tanpa sadar Yumna berguman, dan telinga Yudha mendengarnya sangat jelas.

"Kenapa? Mereka mengirim mu spam pesan?" Cetus Yudha yang entah kenapa selalu menarik sudut bibirnya saat berbicara pada orang lain.

Dan Yumna membenarkan sebentar posisi duduknya. "Kenapa kau sangat murah senyum? Apa kau juga akan tersenyum saat orang lain membuat mu kesal?" Rasa ingin tahu itu kembali muncul di benak Yumna.

"Rama mengirim ku pesan, aku harus mengantar mu pulang sekarang." Alih Yudha yang masih saja mengukir indah senyumannya. Itu membuat Yumna sedikit merasa kesal.

Bukan kesal karena mimik wajah Yudha, ataupun perkataan pria itu. Melainkan Yumna begitu kesal dengan saudaranya. Kenapa dia selalu menyuruhnya pulang saat bersama teman laki-lakinya?

"Berhentilah membalas pesannya. Itu akan membuang waktu mu." Sedikit cepat Yumna mencetuskannya, seraya beranjak dari duduknya. Yang diikuti oleh Yudha.

"Tidak hanya Rama, Tirtha dengan Tama pun juga mengirim ku pesan untuk mengantar mu pulang secepat mungkin. Jika tidak aku akan mendapat saksi dari mereka esok hari." Bukannya mengadu, Yudha hanya ingin melihat reaksi Yumna seperti apa.

"Kau terlihat seperti orang penurut. Padahal kau bisa melawan mereka. Karena kau tidak wajib mengikuti apa yang mereka katakan. Jadi_" Yumna diam sejenak, menelan ludahnya. Mengadahkan sedikit pandangannya untuk menatap Yudha. "Kau tidak perlu mengantar ku pulang. Aku bisa pulang sendiri."

1
Lepidoptera
Penulisannya unik, semangat jugaaaa❤️
najmun_huda
ganba kakak
Storyginal Finger
izin mampir. mau baca cerita kamu ya👍
dilla11
semangat kak 💪
Maru De Hehe
Makasih kakak, saling support, mantap
Agung Khan: ceritanya bagus kak, terimakasih sebelumnya sudah mengunjungi profil saya, mohon bimbingannya ya, saya belajar menulis.🙏
total 1 replies
Adelia Putri
semangat kk,saling support yaaa
yupiana
lanjuttt saling support 💪😍
Kiara Maulida Aizaaa
saling support ya kk💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!