menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.
akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.
apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HUKUMAN 3 SKOP ES KRIM
Keluarga kecil itu menghabiskan sore di kedai es krim favorit mereka. Akira, seorang profesor terkenal di dunia akademis, kini duduk pasrah di bangku pojok dengan bando kelinci melingkar di kepala nya karya putri kecilnya, Sena.
Yuki segera mengabadikan momen langka tersebut dengan kamera ponselnya. "Seorang profesor terkenal ternyata kalah sama princess kecil," godanya sambil tersenyum manis.
Sena yang sedang menikmati es krimnya tertawa gembira melihat sang papa. "Papa kelihatan sangat konyol!"
"Ini bukan konyol, Sayang. Ini menjalankan perintah dari Princess Sena," sahut Yuki lembut sembari mencubit pelan pipi putrinya.
Dering notifikasi tiba-tiba terdengar. Akira merogoh saku dan menatap layar ponselnya—sebuah pesan masuk dari laboratorium. Namun, sebelum jemarinya sempat membalas, Yuki dengan sigap menyambar ponsel tersebut dan melesakkannya ke dalam tas.
"Pak Profesor, hukumannya termasuk penyitaan barang," ujar Yuki tegas namun jahil. "Hari ini tidak ada pekerjaan. Yang ada hanya es krim, aku, dan Sena."
Akira hanya bisa terkekeh menyerah. Ia mengambil sendok dan mulai menyuapi Sena. Tawa renyah bertiga bertaburan di sudut kedai, menarik perhatian pengunjung lain. Beberapa berbisik mengenali sang profesor papan atas dan Yuki, model cantik yang tak kalah tersohor, sementara yang lain sibuk gemas melihat tingkah lucu Sena.
Perjalanan berlanjut ke taman kota. Angin sore berembus pelan di antara pepohonan saat Sena asik berlarian mengejar gelembung sabun. Di bangku taman, Akira dan Yuki duduk bersisian dengan jemari yang saling bertautan. Yuki menyandarkan kepalanya ke bahu Akira, menikmati rasa manja yang sudah lama dirindukan sejak kehadiran buah hati mereka.
"Papa, Mama! Ayo main gelembung bareng!" panggil Sena riang.
Kedua orang tuanya bangkit menghampiri. Yuki kembali merogoh ponselnya, kali ini untuk merekam tawa Akira yang sedang berlarian mengejar gelembung bersama Sena di bawah naungan dedaunan.
Saat berjalan menuju parkiran mobil, Sena tiba-tiba menyelip di antara mereka dan menggenggam tangan papa-mamanya sekaligus. Akira tersenyum, lalu refleks mengangkat Sena dan memangkunya di atas bahu sepanjang jalan menuju mobil.
Malam harinya, suasana rumah terasa begitu hangat dan tenang. Sena sudah tertidur lelap di kamarnya. Akira yang sedang bersantai di ruang tamu mendongak saat Yuki berjalan mendekat dengan pakaian tidurnya. Tanpa ragu, Akira meraih pinggang sang istri, membimbingnya duduk di pangkuannya di sofa, lalu mengelus lembut rambutnya.
"Sayang, kamu kok cantik banget malam ini?" bisik Akira tepat di telinga Yuki.
Yuki terkekeh pelan, menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. "Kan aku istrinya Akira, jadi harus tetap cantik."
Usapan lembut di kepalanya berlanjut, menciptakan keheningan yang sarat akan kasih sayang. Tak lama, Yuki memutarkan tubuhnya, menatap dalam manik mata Akira. Ia mendaratkan kecupan hangat di bibir suaminya sebuah ciuman penuh kerinduan yang langsung dibalas penuh kelembutan oleh Akira, melengkapi malam mereka yang begitu damai.
Keesokan paginya, suasana tenang di rumah itu mendadak pecah. Dering ponsel membangunkan Akira lebih awal dari biasanya. Sebuah pesan mendesak dari laboratorium memaksanya bergegas sebelum Sena terbangun.
Yuki yang sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur dibuat kaget melihat suaminya turun tangga dengan terburu-buru seperti dikejar hantu.
"Ehh, kenapa pagi-pagi panik gitu, Akira?" tanya Yuki heran.
"Ada sedikit masalah di laboratorium, Sayang," jawab Akira cepat sambil menyambar kunci mobil di meja. Ia menghampiri Yuki, mendaratkan kecupan hangat di kening istrinya. "Aku pergi dulu ya. Nanti tolong antar Sena ke sekolah."
"Iya, iya... Hati-hati di jalan!" seru Yuki melepas keberangkatan suaminya.
Tidak lama setelah Akira pergi, Sena terbangun. Mengucek matanya yang masih sembap sembari memeluk boneka beruang kesayangannya, ia berjalan turun mencari sang papa.
"Papaa... Papaa..." panggil Sena.
"Papa sudah pergi, Sayang," jawab Yuki lembut dari arah dapur.
"Ke mana, Ma? Kok pagi banget?" tanya Sena sambil memiringkan kepala.
"Ada urusan mendadak di laboratorium. Yuk, mandi dulu terus sarapan. Nanti Mama yang antar ke sekolah."
Sena langsung melompat kegirangan. Jarang sekali mamanya bisa mengantar sekolah karena jadwal modelling yang padat.
Usai bersiap dan menyantap sarapan, mereka berangkat menggunakan taksi. Begitu sampai di halaman TK, kehadiran seorang model papan atas langsung menyita perhatian. Orang tua murid dan warga sekolah berdesakan mengerumuni Yuki untuk meminta foto bersama. Yuki mulai kewalahan melayani kerumunan, sementara Sena hanya bisa cemberut menunggu mamanya.
"Ternyata mama kamu model terkenal ya, Sena?" bisik salah satu teman sekelasnya.
"Aku nggak tahu apa itu model," sahut Sena polos sambil memanyunkan bibirnya.
Setelah lepas dari kerumunan, Yuki segera menghampiri putrinya. "Mama pergi kerja dulu ya. Nanti Mama jemput kalau sudah selesai. Tapi kalau enggak sempat, nanti Mama suruh Papa yang jemput," bisik Yuki sembari mengecup gemas pipi Sena.
"Iyaaa, Ma!" jawab Sena riang sambil melambaikan tangan.
Di lokasi pemotretan, sang manajer langsung meminta Yuki bersiap. Sesi photoshoot untuk produk pakaian brand ternama akan segera dimulai. Berbalut gaun putih yang anggun dipadu riasan menawan, kecantikan Yuki sukses memukau seluruh staf di studio.
Sementara itu di laboratorium, Akira tampak fokus mengamati sebuah partikel kecil di bawah mikroskop bersama asistennya. Ketika jarum jam menunjukkan pukul 11.20, Akira mendadak membeku. Ia teringat jam pulang sekolah Sena. Bayangan putri kecilnya yang bakal ngambek jika terlambat dijemput membuat sang profesor panik.
"Kok terburu-buru, Pak Profesor?" tanya asistennya bingung melihat Akira merapikan jas labnya dengan tergesa-gesa.
"Ada hal yang sangat penting dan genting!" sahut Akira cepat.
Ia bergegas keluar dari laboratorium, masuk ke dalam mobil, dan menancap gas menuju sekolah Sena. Namun sesampainya di sana, helaan napas lega keluar dari mulut Akira. Di depan gerbang, ia melihat Yuki sudah berdiri di samping Sena istrinya sudah menyelesaikan pekerjaan lebih cepat untuk menjemput putri mereka.
Akira menghentikan mobil tepat di depan keduanya, lalu menurunkan kaca jendela.
"Selamat siang, Bu... Mau diantar ke mana?" goda Akira sambil terkekeh.
Yuki melipat tangan di dada. "Kok lama banget sih datangnya, Pak Profesor?"
"Tau tuh, Papa lama!" timpal Sena menirukan gaya mamanya.
Akira tertawa melihat kompaknya kedua wanita kesayangannya itu. Keduanya pun masuk ke dalam mobil, lalu melaju bersama menuju kafe terdekat untuk menikmati makan siang keluarga.