Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rafka dan Viki
Rafka meletakkan hp yang sudah mati, menatap Viki yang duduk di sampingnya. Acara Video Call bersama Senja baru saja di selesaikan. Hampir setengah jam saling bertukar cerita, bukan. Lebih tepatnya Senja lah yang menonton perdebatan Rafka dan Viki dari seberang sana. Entah apa lah pemikiran gadis itu di sana.
“Sudah puas?” tanya nya penuh sindiran halus. Viki menyengirkan bibir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Aelah, baru begitu doang udah kusut aja tuh muka!”
Rafka merotasikan matanya malas “Kau ganggu kerjaan, ngikutin kemana aja aku pergi! Kalau sampai nanti kamu ngikutin lagi, awas aja!” sarat penuh makna yang tersembunyi rapi di belakangnya. Mengancam dan menunjuk tepat di depan muka sang teman.
“Dih, ngancam! Eh lagian ya ngga bagus nyembunyiin hubungan. Bisa jadi fitnah nantinya!” dia adalah Viki, satu-satunya rekan kerja yang tidak perduli akan ancaman atau nada mengancam yang terlontar rapi dari mulut Rafka.
“Itu kau yang kepoan!” sembur Rafka langsung hingga memantik tawa puas Viki. Rafka memandang tak peduli, mulai mengemasi sisa-sisa kotak makan siangnya. Membiarkan Viki dengan ketawanya, terserah! Ia tak peduli.
“Tapi, Rafka” panggilan serta hilangnya tawa secara tiba-tiba memaksa Rafka mengalihkan pandangan pada Viki.
Muka pria itu serius dari sebelumnya, dan Intonasi nya tadi bukan sebuah panggilan jenaka untuk mengisenginya kembali. “Bagaimana dengan Wanita itu?” pertanyaan itu sukses menarik perhatian penuh dari Rafka.
“Apa maksudmu?”
“Kau jangan melupakan begitu, Ka!. Semua orang tau kalau kau di rumorkan akan menikah dengan dia!” tegurnya denga nada dalam. Ada rasa cemas berlebih di nada Viki.
Rafka mendengus sumbang, sekarang ia paham apa yang di maksud sahabat sekaligus rekan kerja nya ini. “Kalian aja terlalu mudah percaya! Padahal aku ngga ada konfirmasi langsung”
Viki memandang tak percaya dengan apa yang di ucapkan pria di hadapannya. “Kau gila? Kalau informasi ini sampai ke telinga dia, menurutmu apa yang akan di perbuat ke Calonmu?” Rafka terpaku mendengarnya “Kau ngga bisa egois, Dude!” tonjokan halus mendarat mulus di sebelah kiri bahu Rafka “Keselamatan Mba Arunika terancam di depan sana. Wanita itu terlalu obses hanya karena omongan asbun keluarga Papa mu!”
“Aku paham” balas Rafka bernada begitu rendah “Urusan itu sudah ku pikirkan jauh dari Tindakanku menarik paksa Senja ke dalam hidupku!” kalimat mantap tanpa ada sedikitpun keraguan. Namun ia justru mendapatkan tatapan skeptis dari sahabatnya.
“Aku serius!” ucapnya kembali, sadar bahwa Viki tidak mau mempercayainya. “Jangan menatapku seperti itu!”
“Aku memang ngga ada hak buat ngatur-ngatur kamu, Ka. Tapi sebagai sahabat aku cuma mau mengingatkan, ngga selalu takdir berada di pihakmu! Jangan sakitin Mba Arunika, atau kau akan menyesal selamanya. Dia keliatan gadis baik” selepas itu, Viki meninggalkan Rafka seorang diri.
Rafka memandang punggung Viki yang kian menjauh, mulai ikut berbaur dengan rekan yang lainnya. “Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan Senja di sentuh oleh orang itu” seringai tipis muncul di tengah wajah yang semakin dingin dan rahang yang mengeras.
***
Afyah
‘Baju Bridesmaids kalian sudah ada ya, ku kirim ke rumah, kalau kurang pas bilang nanti ku ganti’
Daye
‘Wah.. kenapa ngga kirim ke tempat kerjaku aja sih Afyah! Kalau gini kan yang ada aku malah pengen cepat pulang!!’
Afyah
‘Kamu mau unboxing di kantor gitu? Dasar ngga normal!’
Daye
‘Dih? But, Thanks ya… lancar sampai hari H Afyah jutek’
Senja tertawa kala membaca perdebatan kecil Afyah dan Daye di grup mereka. Ah, berbicara mengenai pernikahan Afyah, acara tersebut di laksanakan lebih cepat dari keputusan awal yang di ketahui dari Afyah sendiri waktu itu.
Entah ada alasan apa di balik di majukannya tanggal yang sudah di sepakati, tidak sampai sebulan acara itu di siapkan secara rapi dan penuh teknis. Mungkin saja pelampiasan dari Mama nya Kamal yang sudah sangat menginginkan anaknya menikah, di tambah kedua orang tua Afyah yang begitu manut saja. Kombinasi yang pas bukan?
Jarinya mengetik cepat turut mengucapkan terima kasih dan doa agar di berikannya kelancaran serta Kesehatan untuk kedua mempelai.
Senja terdiam, mengingat kalau malam ini merupakan acara ulang tahun keponakan Rafka. dan dia belum membelikan kado satu pun. Si all!
Momen pertama kali ia ikut di acara keluarga laki-laki yang telah melamarnya. Meskipun bertetangga, bukan bearti Senja sering ikut di acara-acara, ia lebih senang mengirimkan hadiah saja dan berasalan sibuk pekerjaan. Dan sekarang? Ia di paksa berinteraksi dengan orang-orang itu? Good, Senja!
“Ini mau di belikan hadiah apa? Keluarga mereka kaya, semua sudah di punya. Terus hadiah apa yang harus ku berikan?” Gadis berwajah manis itu meletakkan kedua tangannya di atas kepala, memandang prustasi berkas di hadapannya. Bukan berkas itu yang menjadi beban pikirannya, melainkan barang yang cocok di jadikan kado ulang tahun.
“Cewe ya? Suka boneka ngga ya? Eh tapi terlalu klasik” monolognya masih dengan posisi yang sama. “Baju? Ah sudah banyak itu mah! Terus apa dong…”
Di tengah rasa prustasi memikirkan kado ulang tahun, dentingan hp memaksanya melihat siapa orang yang berani mengganggu di waktu yang tidak pas ini.
Rafka
‘Beli kadonya barengan aja ya nanti’
Reflek Senja terlonjak di kursinya. Memandang dengan rasa tak percaya. Apakah pria ini cenayang? Di tengah gundah nya hati memikirkannya, Rafka datang bak nya malaikat penyelamat harga dirinya. Sebagai seorang Paman sudah pasti mengetahui kesukaan keponakan, kan?
Tanpa memikirkan malu dan mengedepankan ego, Senja menerima ajakan itu secara langsung. Tidak perlu banyak mikir, yang terpenting harga dirinya bisa terselamatkan di depan keluarga mereka nanti. Prinsip Senja ‘Harga diri wajib pertama, yang lain bisa di sesuaikan nanti’
Setidaknya satu masalah terselesaikan. Walaupun sempat protes karena pulang kerja langsung berangkat. Tapi syukurlah ada adek yang tampan siap menerima perintah dari calon ratu Rafka kalau jadi, untuk mengantarkan pakaian ganti yang lebih pantas di pakai ke acara.
Ya walaupun Rafka sudah meminta untuk pakai apa adanya saja. Tapikan tidak lucu ya kalau dia datang pakai pakaian kerja. Seragam kerja loh ini, bukan baju bebas casual. Perihal membersihkan diri dia bisa menggunakan toilet kantor.
Baru saja ia bersemangat menyelesaikan pekerjaannya agar tidak telat saat Rafka datang menjemputnya. Pikiran negatif muncul tanpa bisa di cegah. “Aduh! Ini pandangan keluarganya ke aku gimana ya nanti? Kemarin kan Cuma keluarga yang dekat rumah ya, nanti pasti ada yang keluarga lain juga”
Tidak cukup galau karena kado, tampaknya overthinking semakin menggerayangi akal sehatnya. Menduga-duga hal yang akan terjadi nanti. Bukan tak mungkin dari mereka nanti ada yang tidak menyukai keberadaannya sebagai pasangan Rafka.
Entahlah, tapi perasaannya mengatakan yang tidak-tidak. Atau mungkin karena rasa khawatirnya kelewat batas hingga memunculkan presepsi buruk? “Kenapa denganku? Huh.. harusnya aku ngga mudah luluhkan hati seperti ini!”