Tan Keira bukan orang bodoh. Dia tahu dirinya bukan cucu kandung Engkong Budiman -- hasil tes DNA di tangannya sudah membuktikan itu. Dia juga tahu bahwa suatu hari, cucu asli keluarga Tan akan muncul dan merebut segalanya: rumah, warisan, nama keluarga, bahkan kasih sayang satu-satunya orang yang pernah mencintainya.
Tapi Keira tidak akan duduk diam menunggu kehancuran.
Di sebuah lounge mewah di SCBD Jakarta, dia mengeksekusi rencana pertamanya: menjebak Lim Renata -- mantan jenderal, CEO Lim Group, sahabat mendiang papanya, dan satu-satunya pria yang cukup berkuasa untuk melindunginya dari badai yang akan datang.
Renata dingin. Renata menakutkan. Seluruh Jakarta tunduk padanya.
Tapi di depan Keira yang gemetar (pura-pura) dan bermata basah (juga pura-pura), pria itu... lembek.
"Om, saya takut."
Satu kalimat itu mengubah segalanya.
Yang Keira tidak tahu: Renata bukan pria yang bisa dijebak. Dia pria yang *memilih* untuk masuk ke jebakan. Dan alasannya... jauh lebih dalam dari yang Keira bayangkan.
Saat cucu asli keluarga Tan akhirnya muncul, saat kebohongan Keira mulai terbongkar satu per satu, saat seluruh dunianya runtuh -- hanya ada satu pertanyaan yang tersisa:
*Apakah Renata akan tetap memilihnya, setelah tahu semuanya palsu?*
Jawabannya ada di dua kata yang akan menghancurkan dan menyembuhkan Keira sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olivia Renata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
"Lakukanlah. Tapi ingat, aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu."
Kalimat itu mengikuti Keira sampai malam.
Ia duduk di sofa ruang tengah Villa Awan dengan laptop terbuka, tetapi halaman spreadsheet di layar tidak bergerak. Di kolom catatan, ia sudah menulis rencana pertunangan formal: daftar undangan, posisi duduk keluarga Tan, waktu pengumuman, jalur masuk media bisnis, titik di mana Kevin harus dibuat mengakui soal saham. Semua terlihat rapi.
Namun di kepalanya, yang berulang justru suara Richard.
Aku tidak akan membiarkan dia menyentuhmu.
Keira menyentuh ujung jarinya sendiri.
Ia pernah berpikir perlindungan adalah alat. Sesuatu yang harus dicari, dipakai, lalu dijaga agar tidak berbalik menggigit. Tetapi bersama Richard, perlindungan itu mulai punya suhu. Kadang berupa lampu tidur yang tidak dimatikan. Kadang bubur hambar. Kadang pria dewasa berlutut memijat pergelangan kakinya seolah dunia tidak boleh melihat ia kesakitan.
Lalu lampu padam.
Seluruh Villa Awan tenggelam dalam gelap.
Keira membeku.
Awalnya ia mengira hanya lampu ruang tengah. Tetapi layar laptop juga mati. Pendingin ruangan berhenti. Suara mesin halus yang biasanya menjadi latar rumah besar itu menghilang sekaligus.
Gelap menekan dari semua sisi.
Napas Keira tersangkut.
Ia tahu ini tidak masuk akal. Ia sudah dewasa. Ia pernah menghadapi mobil sabotase, Pak Dharma, Kevin, Vanya, bahkan Charles. Tetapi gelap punya tangan berbeda. Gelap mengingatkannya pada lorong mimpi, pada ruang tertutup, pada saat orang-orang pergi dan pintu besi dikunci dari luar.
"Lampu..." bisiknya.
Tidak ada jawaban.
Ia meraba meja, mencari ponsel, tetapi tangannya menyenggol gelas. Air tumpah. Suara pecah kecil membuatnya tersentak mundur. Lututnya membentur sofa. Ia jatuh duduk, lalu menarik kaki ke dada.
Jangan panik.
Jangan bodoh.
Jangan jadi lemah.
Gelap tidak peduli pada semua perintah itu.
Di ruang utilitas belakang, seorang staf menatap panel listrik dengan wajah bingung. Generator cadangan tidak menyala karena sakelar manual utama sudah dimatikan. Ia baru hendak menelepon teknisi ketika Jason muncul di pintu.
"Biarkan," kata Jason pelan.
Staf itu bingung. "Tapi Pak..."
"Instruksi Pak Lim."
Di lantai dua, Richard berdiri di lorong, mendengar rumah yang tiba-tiba sunyi. Ia tahu Keira takut gelap. Ia tahu dari cara gadis itu selalu memilih lampu tidur, dari caranya tidak pernah duduk membelakangi lorong gelap, dari pertanyaan kecilnya malam itu: kalau mimpi buruk termasuk darurat?
Ia juga tahu cara ini tidak lembut.
Namun ada hal yang ingin ia lihat dengan mata sendiri. Apakah Keira akan memanggilnya ketika benar-benar takut, atau tetap memilih pura-pura kuat sampai hancur sendirian.
Panggilan itu tidak datang.
Richard turun.
Ia menemukan Keira meringkuk di sofa ruang tengah, lutut dipeluk, wajah disembunyikan di lengan. Laptop mati di meja, gelas pecah di lantai, air merembes ke karpet.
Semua perhitungan Richard runtuh dalam satu detik.
"Keira."
Keira mengangkat wajah. Matanya basah, tetapi tidak menangis keras. Justru itu yang membuatnya tampak lebih kecil.
"Om?"
"Aku di sini."
"Lampunya mati."
"Aku tahu."
Richard mengambil selimut dari sandaran sofa dan menyampirkannya ke bahu Keira. Ia duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, memberi ruang kalau Keira ingin menjaga martabatnya.
Keira justru bergerak mendekat.
"Jangan pergi."
"Tidak."
"Jangan nyalakan dulu kalau Om pergi setelah itu."
Kalimat itu membuat Richard menoleh.
Keira tampak malu setelah mengucapkannya. Ia menarik selimut lebih rapat. "Maksud saya..."
"Aku tidak pergi."
Richard mengeluarkan ponsel, menyalakan senter kecil, lalu meletakkannya menghadap lantai agar cahaya tidak menyilaukan. Dalam cahaya lemah itu, wajah Keira terlihat lembut, pucat, dan terlalu jujur.
"Aku yang mematikan generator," kata Richard.
Keira menatapnya, bingung dan terluka sekaligus.
"Kenapa?"
Richard menerima tatapan itu tanpa menghindar. "Aku ingin tahu apakah kamu akan memanggilku."
"Jadi Om menguji saya?"
"Iya."
Keira menarik selimut lebih rapat. "Hasilnya?"
"Aku yang gagal."
Jawaban itu membuat kemarahan kecil di dada Keira kehilangan bentuk.
"Om tidak suka gagal."
"Tidak."
"Lalu?"
"Aku tidak akan mengulangnya."
Keira menatap cahaya kecil dari ponsel di lantai. Dalam dunia Keira, orang yang punya kuasa jarang mengaku salah tanpa dipaksa. Richard mengaku dengan suara datar, tanpa dramatis, seolah itu bagian dari laporan yang harus disampaikan tepat waktu. Justru karena itu, permintaan maafnya terasa lebih berat.
"Rumah ini milikmu sekarang," kata Richard.
Keira menatapnya.
"Kamu boleh tinggal di sini selamanya."
Di luar, hujan belum turun. Jakarta hanya gelap dan berat, seolah menahan napas bersama mereka.
"Selamanya itu lama, Om."
"Aku tahu."
"Om tidak takut menyesal?"
"Aku lebih takut kamu pergi karena mengira tidak punya tempat pulang."
Keira tidak bisa menjawab.
Kali ini tidak ada akting. Tidak ada kalimat yang disusun untuk memancing. Ia hanya menatap tangan Richard di atas sofa, tangan yang pernah mematahkan pena, menahan pinggangnya, memijat kakinya, menyampirkan selimut. Perlahan, ia mengulurkan tangan.
Jari-jarinya menyentuh jari Richard.
Richard tidak menarik diri.
Keira menggenggam lebih erat. Awalnya hanya ujung jari. Lalu telapak. Lalu sepuluh jari mereka bertautan di bawah selimut, tersembunyi dari rumah, dari staf, dari semua panggilan paman yang masih menjadi tirai tipis di antara mereka.
Richard menatap tangan mereka.
"Takut?"
"Masih."
"Pegang aku."
Keira menggenggamnya lebih kuat.
Mereka duduk seperti itu sampai generator dinyalakan kembali setengah jam kemudian. Cahaya lampu ruang tengah menyala pelan, tetapi Keira tidak melepaskan tangan Richard. Richard juga tidak meminta.
Jason berdiri di ujung lorong ketika lampu menyala. Ia melihat tangan mereka yang masih bertautan di bawah selimut, lalu memilih memandang panel listrik di dinding seolah benda itu mendadak sangat menarik.
"Generator sudah normal, Boss," katanya.
"Pastikan lampu kamar Keira punya backup sendiri."
"Baik."
"Dua lapis."
"Baik, Boss."
Keira menunduk. "Saya tidak separah itu."
Richard menatapnya. "Aku separah itu."
Jason batuk kecil dan mundur.
Keira menatap profil Richard dalam cahaya yang baru kembali. Ia tiba-tiba mengerti bahwa sebagian perhatian pria itu bukan lagi soal kewajiban pada Papa Hendra. Kewajiban tidak akan membuat seseorang mengaku gagal hanya karena seorang gadis ketakutan dalam gelap.
Malam itu, Keira tertidur di sofa karena terlalu lelah. Richard tidak memindahkannya ke kamar. Ia hanya duduk di sebelahnya, punggung bersandar, tangan masih berada dalam genggamannya.
Menjelang tengah malam, Keira bergerak.
Tangannya yang semula menggenggam jari Richard merayap pelan ke dada pria itu, berhenti tepat di atas detak jantungnya.
Matanya tertutup.
Napasnya tenang.
Seharusnya ia tidur.
Richard menunduk, menatap tangan itu lama.
Ia tahu Keira tidak tidur.
Keira juga tahu Richard tahu.
Tidak satu pun dari mereka menarik diri.