NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

Hadiah yang Ditutup Kain

Setelah album Seline dibawa Bi Zheng ke kamar Oma, suasana ruang utama tidak benar-benar kembali seperti semula.

Para tamu masih tertawa, anak-anak masih menerima angpao, dan suara ucapan Gong Xi Fa Cai terdengar dari berbagai sudut. Namun Seline bisa merasakan garis pandang yang berubah. Ia bukan lagi hanya gadis yang membantu Oma menuang teh. Untuk beberapa menit tadi, semua orang melihat bahwa Oma Mei menyimpan hadiah darinya di kamar pribadi.

Stephanie tentu melihatnya.

Vivian juga.

Dua perempuan itu tidak berdiri bersama, tetapi Seline merasakan tekanan dari dua arah yang berbeda. Stephanie tersenyum dengan keanggunan yang tidak retak. Vivian tersenyum dengan manis yang terlalu tajam. Keduanya, dengan cara masing-masing, menatap Seline seperti ia telah mengambil tempat yang tidak pernah diizinkan untuknya.

Jessica mendekat membawa dua gelas es teh.

"Minum. Wajahmu seperti baru selesai sidang."

Seline menerima gelas. "Lebih melelahkan daripada sidang, mungkin."

"Selamat datang di Imlek keluarga besar."

Di sisi lain ruangan, Stephanie sudah berdiri dekat Kevin. Ia tidak terlalu mendekat, cukup berada di jarak yang pantas bagi tamu dekat keluarga. Tangannya memegang cangkir teh. Kepalanya sedikit miring ketika berbicara. Semua gerakannya terlihat seperti lukisan yang sudah disiapkan.

Kevin menjawab pendek.

Seline memaksa dirinya tidak melihat.

Namun suara Stephanie tetap sampai ke telinganya di antara riuh tamu.

"Opa bilang proyek Surabaya berjalan cepat sekali sejak kamu turun langsung," kata Stephanie.

"Tim lokal yang bekerja."

"Tapi keputusanmu yang membuka jalan."

Kevin tidak menjawab pujian itu. Ia mengambil cangkir teh, menatap uapnya sebentar, lalu berkata, "Sampaikan terima kasih pada Opa Herman untuk data lahannya."

Stephanie tersenyum. "Kalau kamu ingin membahas lebih detail, aku bisa bantu. Aku ikut membaca beberapa dokumen."

"Tidak perlu."

Penolakan itu halus, tetapi tetap penolakan. Beberapa tamu mungkin tidak menyadarinya. Seline menyadarinya. Mungkin karena ia sudah terlalu sering mendengar Kevin menutup pintu dengan suara pelan.

Stephanie tetap tidak mundur. "Kamu selalu seperti ini. Menolak bantuan sebelum mendengar."

"Bantuan bisnis masuk lewat Anton."

Di belakang Kevin, Anton yang baru masuk membawa map kecil tampak sangat ingin tidak berada di sana.

Jessica berbisik, "Aku kasihan pada Anton."

Seline hampir tersenyum, tetapi Vivian sudah melihat arahnya.

Vivian justru melihat Seline melihat, lalu berjalan mendekat. "Stephanie memang cocok berdiri di sebelah Ko Kevin, ya?"

Jessica langsung memutar mata. "Kamu mulai lagi."

Vivian tersenyum pada Jessica, tetapi kalimatnya untuk Seline. "Mereka sama-sama dari keluarga besar. Cara bicara, pendidikan, koneksi, semuanya seimbang."

Seline menyesap es teh. "Kalau memang seimbang, Vivian tidak perlu meyakinkan aku."

Jessica hampir tersedak.

Vivian membeku setengah detik, lalu tertawa kecil. "Kamu makin berani."

"Aku cuma menjawab."

Seline tidak ingin bertengkar. Namun sejak album tadi, ia lelah terus berpura-pura tidak mengerti pisau yang diarahkan padanya.

Sebelum Vivian bisa membalas, Bryan muncul di samping mereka.

"Boleh saya bicara sebentar dengan Seline?"

Vivian langsung tersenyum berbeda. "Tentu. Seline memang sibuk sekali hari ini."

Jessica menatap Bryan dengan curiga. "Di sini saja bicaranya."

Bryan tidak keberatan. "Saya hanya ingin bertanya tentang album tadi."

Seline memegang gelas lebih erat. "Album untuk Oma?"

"Kamu menggambar semua dari ingatan?"

"Sebagian dari sketsa kecil. Sebagian dari ingatan."

"Kamu punya ingatan visual yang kuat."

"Mungkin karena saya sering menggambar."

Bryan menatapnya lebih dalam. "Sejak kecil?"

Seline teringat pertanyaan umur dan bulan lahir di taman hotel. Suara pesta di sekitarnya mendadak terasa jauh lagi.

"Sejak saya ingat," jawabnya hati-hati.

"Kamu ingat rumah pertamamu?"

Jessica langsung menyela, "Ko Bryan, itu pertanyaan berat untuk hari Imlek."

Bryan seperti tersadar. "Maaf."

Seline memaksa tersenyum. "Tidak apa-apa."

Namun tidak apa-apa bukan berarti tidak terasa. Di balik bajunya, liontin giok seperti menekan kulit.

Saat itu Anton masuk dari pintu samping, membawa sebuah bingkai besar yang ditutup kain putih. Dua pelayan membantunya karena ukurannya cukup lebar. Percakapan di ruang utama perlahan mengecil.

Oma Mei melihat bingkai itu. "Apa itu?"

Anton menunduk. "Hadiah dari Pak Kevin untuk Oma."

Semua orang menoleh ke arah Kevin.

Kevin yang sejak tadi berbicara pendek dengan Stephanie akhirnya meletakkan cangkirnya. "Untuk ruang utama."

Stephanie tersenyum. "Lukisan?"

"Ilustrasi."

Seline merasakan jantungnya berhenti sekejap.

Anton membawa bingkai itu ke depan Oma. Kain putih masih menutupi permukaannya, tetapi dari ukuran dan bentuknya, Seline tiba-tiba punya firasat buruk.

Kevin berdiri di samping bingkai, satu tangan di saku celana, wajahnya tenang seperti orang yang tidak tahu bahwa dunia kecil Seline sedang menahan napas.

Tante Liu berbisik bahwa ukuran bingkai itu cocok untuk ruang utama. Tante Chen langsung memuji Kevin yang selalu tahu selera Oma. Stephanie menatap kain putih itu dengan rasa ingin tahu yang lebih tajam, mungkin berharap hadiah Kevin akan menjadi sesuatu yang bisa ia komentari dengan anggun.

Vivian melirik Seline. "Kamu juga penasaran?"

Seline memaksa tangannya tetap diam. "Semua orang penasaran."

"Wajahmu lebih tegang dari semua orang."

Jessica cepat menyela, "Karena kamu memperhatikan wajahnya terus."

Vivian tersenyum, tetapi matanya tidak pergi dari Seline.

Seline menggenggam gelas es teh sampai telapak tangannya terasa dingin sekali.

Oma Mei menunjuk kain penutup itu.

"Buka."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!